End of History

Meski agak sedikit terlambat terbitnya dari rencana semula, edisi 8 ini, punya banyak keistimewaan dan juga makna bagi kru SUWA. Khusus bagi kami, terbit sampai 8 edisi merupakan prestasi yang luar biasa. Bayangkan, meski tanpa suntikan dana khusus, hanya mengandalkan iklan dan juga semangat, SUWA masih bisa menyapa pembaca. Ini tentu berbeda dengan media lain, di mana pihak donatur menanamkan modalnya sampai milyaran rupiah.



Untuk saat ini, kami tak melihat modal sebagai suatu persoalan serius. Toh, tanpa dana besar, kami mampu terbit sampai delapan edisi. Dan edisi 8 ini, seperti telah disinggung punya makna khusus bagi kami para kru SUWA. Kenapa edisi 8 begitu istimewa?

Dulu, ketika masih bernama SUWA SIRA, tabloid ini sudah pernah sampai delapan edisi. Setelah itu mati. Jumlah itu pula yang membuat kami tak patah semangat, karena apapun yang terjadi, kami mesti harus melampaui jumlah itu. Dan sekarang kami bisa berlapang dada, karena kami mampu mencapainya.

Meski jumlah ini bukanlah ukuran bahwa kami bisa berhasil. Karena banyak tantangan yang meski kami lalui. Kami semua kru SUWA sudah bertekad, ingin agar media ini terus terbit dan dapat menyapa pembaca, tak hanya dua minggu sekali, melainkan (kalau bisa) seminggu sekali (tak meleset) ataupun setiap hari (jika bisa).

Jika pun di tengah jalan, banyak tantangan dan hambatan yang membuat kerja kami berantakan, kami sudah pasrah. Karena kita manusia hanya bisa merencanakan. Sementara keputusan akhir selalu ada dari yang di Atas. Jika sampai SUWA tak terbit lagi selepas ini, itu sama sekali bukan keinginan ini. Pembaca harap maklum.

Kita tentu saja berharap media ini dapat terus terbit. Tapi, kita juga sudah siap jika selepas ini media kita tak terbit lagi. Karena bagi kita, bukan lamanya terbit media jadi ukuran keberhasilan. Bagi kita, mau terbit berapa edisi tak jadi soal, yang penting kita pernah menorehkan sejarah. Itu saja. Diakui atau tidak, media ini pernah berjasa dalam kampanye pemilihan kepala dan wakil kepala pemerintahan Aceh. Begitu pengakuan rekan-rekan di lapangan.

Lalu, begitu kepala dan wakil kepala pemerintahan Aceh sudah terpilih dengan sendirinya tugas media ini selesai? Jelas bukan begini alasannya. Seperti komitmen awal penerbitan media ini untuk mencerdaskan masyarakat Aceh dan menjadi media pembelajaran politik yang santun. Meski kami belum mampu (setidaknya belum berhasil), tapi kami sudah mencoba. Lalu, apa karena itu kami jadi pesimis? Sama sekali bukan.

Setidaknya, beban untuk kami sudah tak ada lagi. Dari awal, target minimal kita bisa melampaui 8 edisi. Sekarang, kita sudah mampu mencapai 8 edisi. Ke depan tentu tugas kita semakin ringan, tak ada lagi yang harus dikejar. Tinggal bagaimana memperbaiki (secara perlahan) mutu berita. Kami akui bahwa kami masih sangat kurang dalam hal mutu berita. Hal itu karena jaringan berita kami belum berfungsi sebagaimana diharapkan. Tak semua reporter kita aktif. Karena, mereka yang kita rekrut juga punya tugas masing-masing. Jadi, belum bisa total memerankan diri sebagai reporter media ini.

Kelemahan itu yang coba kami perbaharui. Karena, media dikenang dan digemari pembaca, karena mutu berita dan apa yang ditawarkan media. Kita akui, selama ini respon yang luar biasa terhadap media ini karena ikatan emosional pembaca. Rata-rata pembaca media ini adalah pendukung setia Irwandi-Nazar. Ikatan itu yang membuat kami tak merasa kewalahan memasarkan media ini. Bagi mereka, yang penting SUWA. Tak aneh, jika setiap terbit, SUWA sangat digemari. Kehadirannya selalu ditunggu-tungu pembaca.

Ikatan emosional itu perlu dijaga dan dipelihara. Itulah asset kita yang tak ternilai harganya. Meski kadang-kadang kami sedih, jika suatu saat kami tak bisa menjumpai mereka lagi. Kami tak bisa membayangkan, bagaimana media yang ditunggu-tunggu ini tak terbit, bukan hanya terlambat melainkan juga tak terbit selamanya.

Prediksi ke arah itu, sudah jadi pertimbangan kami. Karena kita yakin, tak selamanya sebuah media akan langgeng. Pasti semakin dikenal media ini, semakin banyak tantangan yang dihadapi. Jika semakin sering, tentu akan melemahkan kinerja. Dan itu yang kami takutkan.

Hanya saja, sampai sekarang kami kru redaksi, berjanji akan merawat media ini. Kami semua telah berkomitmen menerbitkan media ini. Jika pun suatu saat pembaca mendapati bahwa media ini tak terbit lagi, berarti kami semua para kru redaksi telah kalah. Kami sudah dikalahkan oleh tantangan yang datang bertubi-tubi itu.

Yang kami jaga hanya, bagaimana media ini tak terbit bukan diakibatkan oleh ketiadaan dana dan semangat. Karena dari awal kami tak melihat dana sebagai masalah besar. Sejak awal media ini tak memiliki dana besar. Karena itu, perlu kami jelaskan kepada pembaca setia kami bahwa, jika suatu saat media ini tak terbit, sama sekali bukan karena factor dana dan kami tak semangat. Sama sekali bukan.

Perlu kami tegaskan, bahwa ada alasan lain yang menghantam kami sehingga kami tak terbit lagi. Karena, dalam pandangan kami, dunia ini belum bersih dari orang-orang yang dengki dan iri. Dunia ini belum terbebas dari hal-hal demikian.

Jika kami tak terbit lagi, itulah yang terjadi: End of History. Entahlah! (fiek)

Post a Comment

Previous Post Next Post