11 January 2007

Menang atau Kalah: Sebuah Tragedi

There are two tragedies in life. One is not to get your hearts’s desire, the other to get it. (George Bernard Shaw)

Orang selalu saja beranggapan bahwa ketika sebuah impian dicapai, merupakan pertanda suatu keberhasilan. Karena impiannya menjadi kenyataan. Kita semua sependapat dengan anggapan ini.

Sementara, ketika orang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, kita menyebutnya sebagai suatu kegagalan. Sederhananya: suatu tragedi.

Jika kita mau jujur, baik bagi mendapatkan maupun yang tidak atas suatu keinginan dan cita-cita, keduanya sama-sama suatu tragedi.

Kenapa demikian? Bagi yang mendapatkan, tentu saja ia menghadapi banyak tantangan, tanggung jawab dan juga tugas yang menumpuk. Apalagi, ada warisan masa lalu yang mesti diselesaikan.

Dalam kasus Aceh, misalnya, memenangkan Pilkada bukan akhir dari segalanya. Memenangkan Pilkada dan mendapatkan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur belum dapat disebut suatu keberhasilan.

Meski sanggup mengatasi lawan politik yang sudah berpengalaman, punya modal dan juga lihai bermain triks dan intriks politik. Juga belum dapat disebut suatu keberhasilan. Memenangkan Pilkada bagi kita merupakan tragedi. Apalagi, kondisi Aceh yang begitu carut marut, banyak problem, serta baru saja keluar dari konflik dan tsunami.

Ketika di awal-awal pemerintahan tidak mampu menciptakan perubahan, atau setidaknya menjadi lebih baik dari sebelumnya tentu akan mengundang kecaman, cemoohan dan hujatan. Karena itu, bagi yang terpilih perlu memikirkan bagaimana menciptakan perubahan, bukan malah menciptakan suatu tragedi baru.

Para kandidat yang terpilih itu patut merenungi kembali sebait pidato terkenal Abraham Lincoln saat berpidato di Clinton pada 8 September 1858 dan mendapatkan sambutan yang luar biasa dari warga Amerika: “You can fool all the people some of the time, and some people all of the time, but you cannot fool all the peole all of thetime” (Anda dapat membodohi seluruh rakyat selama beberapa waktu, dan beberapa orang rakyat buat selama-lamanya, namun Anda tak dapat membodohi seluruh rakyat buat selama-lamanya).

Pesan Lincoln ini perlu direnungi agar menjadi cermin atau setidaknya pengingat dalam memperlakukan masyarakat. Apalagi, para kandidat yang menang langsung dipilih oleh rakyat. Berbeda dengan sebelumnya, yang dipilih oleh segelintir anggota dewan.

Kepercayaan rakyat yang sudah diberikan ini perlu dijaga dengan baik. Karena, ketika kepercayaan ini tak dijaga, rakyat akan berpaling. Rakyat bisa mencabut kepercayaan dan dukungan kapan saja. Mereka punya kuasa melakukannya.

Sementara bagi orang yang tidak mendapatkan keinginannya, kita sudah bersepakat menyebut mereka mengalami sebuah tragedi. Setidaknya ada 7 pasang kandidat yang tidak mampu mewujudkan keinginan menjadi gubernur. Bagi mereka itulah sebuah tragedi, meski ada juga yang menyebutkan sebagai pengalaman.

Disebut tragedi, karena mereka sudah mengeluarkan banyak dana untuk biaya kampanye, membeli calon Wakil Gubernur, membayar tim sukses, dan lobby ke partai politik supaya mencalonkan dirinya sebagai salah satu kandidat gubernur.

Meski sudah mengeluarkan banyak dana dan membagi-bagikan kepada masyarakat sesaat sebelum pemilihan, toh sama sekali tak mempengaruhi pilihan rakyat. Rakyat tetap memilih kandidat yang disukainya. Ketika rakyat berpaling, bayangan tragedi seperti di depan mata. Apalagi esoknya diperparah dengan pengumuman sementara di Koran, bahwa kandidat lain yang unggul, tentu saja dunia seperti runtuh.

Terbayang kemudian sejumlah uang yang tak bakal kembali, tagihan utang dan kwitansi yang menumpuk, baik pada masa pra maupun saat kampanye. Belum lagi biaya kontrak dengan perusahaan atau kontraktor, yang berbentuk perjanjian pemberian proyek jika terpilih tak dapat dipenuhi. Bagi yang tidak siap tentu saja langsung pingsan. Tak sedikit tim sukses yang jatuh sakit dan stress.

Dalam suatu kesempatan, seorang teman menceritakan nasib tim sukses seorang kandidat yang paling diunggulkan memenangkan pilkada, terpaksa membaca judul koran sehari setelah pemilihan berulang-kali. Dia seperti tak percaya, bahwa kandidat yang dijagokan olehnya “KO” alias gugur. Dia bersikap tak biasanya, membolak-balik, menutup dan meletakkan Koran kemudian membaca lagi.

Orang-orang di sampingnya memperhatikan tak percaya. Sesaat Koran diambil, dan dibaca lagi. Diletakkan kemudian dibaca lagi dan seterusnya. Entah apa yang ada di kepalanya. Bisa jadi dia berharap, judul Koran yang menempatkan berita kemenangan Irwandi-Nazar di halaman depan segera berubah.

Sampai tulisan ini dibuat, belum diketahui berapa jumlah kandidat yang jatuh stress dan kena stroke. Begitu juga dengan nasib tim sukses mereka, atau para kontraktor yang mendukung dana kampanye mereka. Boleh jadi, pascapilkada angka orang gila di Aceh meningkat tajam. Ini tentu saja memiriskan hati.

Kita atau siapa saja, hendaknya menghibur mereka untuk tertawa. Karena bisa jadi dapat menjadi obat penawar menghilangkan stress. Guyonan-humor atau cerita lucu perlu diperdengarkan, misalnya: “Biarpun kita kalah, tapi kita sudah memenangkan Pilkada dalam hal jumlah spanduk dan baliho”; atau bisa juga, “Biarpun kalah, kita sudah menipu para kontraktor yang sudah mendukung kita, sehingga kita tak kekurangan dana”; bisa juga, “Kita sudah memenangkan dalam hal jumlah dana kampanye, sehingga kita mampu beramal untuk masyarakat sebelum pemilihan,” dan lain-lain.

Atau, jika jurus itu tak mempan, kita gunakan jurus kedua yang diberikan Guree saya Tgk Ilyas Bada: kita sampaikan pada tim sukses dari kandidat yang kalah bahwa, “Sebagai tim sukses jangan pernah mengucapkan kandidat anda kalah. Bilang saja kandidat anda kurang suara atau tak cukup suara, jadi bukan kalah.” Ini lebih terhormat.

Terlepas dari semua itu, baik yang menang maupun yang kalah—terpilih atau tak terpilih—perlu kita ingatkan pada pesan yang disampaikan oleh George Bernard Shaw seperti diktutip di awal tulisan ini bahwa, ada dua tragedi dalam hidup ini: Pertama, kalau anda tidak mendapatkan apa yang anda dambakan, dan Kedua, kalau anda memperolehnya.

Jika sama-sama tragedi, berarti baik yang menang maupun yang kalah harus kembali ke komitmen awal: siapa menang siap kalah. Karena selama ini, sulit mencari orang yang siap menang siap kalah. Yang banyak, siap menang tapi tak siap kalah. Sehingga yang kalah tidak menjadi pengacau dan mencari celah mengacaukan jalannya pemerintahan, begitu juga yang menang, tidak membusungkan dada. Entahlah!

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far