07 January 2008

Menjadi Penulis Produktif

Sudah siapkah anda menjadi penulis? Atau anda ingin menjadi penulis produktif? Anda tak perlu harus menulis kontinue di media nasional minimal 4 artikel per bulan. Anda tak perlu menjadi kolumnis sebuah media massa cetak/online atau sebuah jurnal. Anda hanya cukup menulis saja, minimal 1 halam per hari, dan tak perlu harus dimuat di media. Karena dimuat di media bukan ukuran produktif tidaknya kita. Apalagi jika tulisan kita sulit menembus media seperti Kompas, TEMPO dan media nasional lainnya. Sebab jika dimuat di media menjadi ukuran produktif kita, maka kita tak akan pernah menjadi penulis produktif (jika tulisan kita jarang dimuat di media). Atau jika anda masih malu-malu menyebarkan tulisan anda di media.

Jika anda masih malu-malu untuk mempublikasikan tulisan anda ke media lain, atau terlalu seringnya tulisan anda ditolak denga berbagai alasan, anda mesti berfikir realistis. Anda-lah orang yang paling bertanggungjawab terhadap diri anda sendiri, bukan pengelola media atau redaktur opini sebuah media. Anda tak perlu bersedih tulisan anda ditolak, karena itu hal yang wajar. Tak ada penulis besar yang langsung namanya melejit tanpa melewati rintangan seperti yang anda alami. Mereka menjadi terkenal karena berulangkali tulisan mereka ditolak oleh media. Tapi mereka tak pernah patah semangat. Karena kewajiban penulis (jika anda memproklamirkan diri sebagai penulis) adalah menulis, tugas redaktur media memuatnya. Jika toh tak dimuat itu hak mereka dan tugas anda sebagai penulis selesai.

Sekarang ini, berbagai fasilitas dari situ penyedia blog patut anda lirik. Anda tak perlu ragu mencobanya. Cobalah anda buat blog sendiri sebagai media anda belajar melatih menulis. Nikmati keasyikan ber-blog ria. Anda akan terbius dengan kehebatan yang ditawarkan kepada anda. Di blog ini anda asah terus kemampuan menulis anda. Jika di media lain, tulisan anda diseleksi oleh redaktur, maka di blog ini anda sendiri sebagai redaktur sekaligus sebagai penulisnya.

Anda akan merasakan kepuasan begitu tulisan anda muncul di blog yang anda rancang sendiri. Di mana tulisan anda terpampang dengan baik laiknya sebagai dimuat di media lain. Kita akan senang seperti halnya tulisan kita dimuat di media lain.

Jika anda serius menekuni bidang ini, saya yakin masa depan anda akan cerah. Apalagi jika ada rajin mengisi blog anda per hari minimal satu tulisan yang anda buat sendiri. Anda tak perlu menulis panjang-panjang cukup satu halaman saja asal sebuah tulisan utuh, dalam arti ciri sebuah tulisan ada di dalamnya. Bayangkan saja jika anda rutin menulisnya per hari, di samping blog anda akan penuh dengan gagasan anda, juga semakin menunjukkan bahwa anda semakin produktif. Jika produktifitas anda bisa dipertahankan, maka tak salah jika anda juga berhak disebut sebagai penulis produktif? Gampang bukan.

Saya sendiri sewaktu masih kuliah di IAIN Ar Raniry (kira-kira semester II), pernah memiliki bulletin di www.boleh.com, dengan nama “Rencong Aceh”. Secara iseng-iseng saya coba mendaftarkan diri di rubrik reporter, di mana kita menjadi reproter atas bulletin kita yang diberikan oleh www.boleh.com. Tak semuanya bisa memiliki bulletin di www.boleh.com. Asyiknya lagi, ketika buletin kita sudah tampil di www.boleh.com, kita akan dikirimi bingkisan menarik dari PT. boleh.net, penyedia layanan bulletin itu berupa topi, tas, boneka lucu dan tali pinggang berlogo www.boleh.com.

Pihak penyedia bulletin itu menyebutkan bahwa bulletin menjadi media kita mempromosikan keahlian menulis kita kepada media-media lain. Siapa tahu ada yang tertarik dengan tulisan kita, dan merekrut kita menjadi salah satu wartawannya. Sebenarnya yang lebih penting adalah media itu dapat kita jadikan sebagai media latihan menulis untuk kita.

Sekarang saya sedang senang-senangnya ber-multiply ria. Situs ini termasuk belakangan saya ketahui, dari seorang teman yang kebetulan di email-nya selalu memakai signiture dengan alamat link web-nya. Ketika saya buka, coba liat-liat dan saya buka alamat web penyedia home page gratis itu. Ternyata, semua orang bisa memiliki home page di situ. Asyiknya lagi, kita bisa mendesain sendiri, meski ada menu-menu yang tak bisa ubah. Setelah tanya sana-sini, saya mencoba merancang web itu, dan akhirnya saya memiliki web, yang cukup sederhana, tapi bisa menjadi media belajar untuk saya.

Di home page ini, saya terus belajar menjadi penulis. Apalagi banyak tulisan saya yang ditolak oleh media sepanjang tahun 2004. Bayangkan saja, tulisan saya hanya dimuat satu artikel di Sinar Harapan, dan ada beberapa lagi di koran lokal Serambi Indonesia. Sementara untuk Kompas, meski saya rajin mengirimnya tetapi selalu tak lolos seleksi. Tapi saya tak pernah menyerah, saya terus belajar menulis dengan meningkatkan produktifitas sambil memperbaiki kelemahan saya dalam menulis. Kelemahan ini saya tahu dari komentar redaktur media yang saya kirimi tulisan atau dari para penulis yang sudah memiliki nama yang saya minta komentarnya.

Saya mengakui, bahwa kemampuan menulis saya sangat kurang sekali, meski saya sudah sering mengikuti pelatihan jurnalistik. Tetapi sebenarnya, kelemahan terbesar saya adalah kurangnya sumber referensi yang saya miliki. Sekarang saya sangat jarang membaca, dan hanya sesekali membaca jika buku tersebut menarik untuk saya baca.

Memang, sejak Madrasah Aliyah Negeri (MAN) saya rajin membaca buku, dan saya habiskan waktu di Pustaka Wilayah sekedar untuk membaca. Tapi semenjak kuliah, kebiasan membaca seperti di MAN menjadi berkurang. Selain itu, saya paling malas membeli buku (ini yang saya sesali sekarang). Bahan-bahan saya menulis banyak saya dapatkan dari hasil membaca koran, dan jarang yang saya kutip dari buku. Jika pun ada saya baca buku, hanya untuk pengetahuan saya sendiri, tak berani saya bagi kepada pembaca, karena ketakutan saya atas tidak lengkapnya kutipan saya itu.

Boleh dibilang saya malas membeli buku. Dan hal itu yang saya rasakan sekarang, dan coba saya tebus dengan mencoba membeli buku minimal satu per bulan. Saya telat insyaf, mungkin ini yang cocok untuk saya. Kurangnya referensi membuat tulisan kita kurang berbobot, akibatnya pihak redaktur kesulitan untuk memuatnya, karena tak ada hal baru yang kita tawarkan. Yang kita tulis hanya mengulang-apa yang ditulis oleh media.

Karena itu, jika anda ingin menjadi penulis, maka hal pertama yang harus anda perhatikan adalah membaca. Kita mesti memiliki referensi sebanyak mungkin. Anda harus tahu segala hal meski sekilas. Anda perlu membekali diri anda dengan berbagai bahan bacaan agar tulisan anda berbobot. Dengan begitu, syarat pertama menjadi penulis telah anda penuhi.

Dengan membaca, anda akan semakin tahu sejauhmana perkembangan anda dalam menulis. Membaca akan menuntun anda dalam menulis. Karena itu, bacalah sejarah kehidupan para tokoh besar dunia. Kemudian tulislah sejarah hidup anda sendiri! (saya yang sedang belajar menjadi penulis)

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak