07 January 2008

Panggilan Kematian di Aceh

Senin, 06 Mei 2002
Simpang Lima, jalur paling sibuk dan ramai lalu lalang kendaraan di Banda Aceh tiba-tiba macet. Semua mata tertuju ke sekelompok demonstran yang sedang unjuk kekuatan di bundaran itu. Untuk ke sekian kalinya kami dari mahasiswa IAIN menggelar aksi demonstrasi menuntut ditariknya militer dari Aceh. Para mahasiswa ini meminta RI dan GAM kembali menuju meja dialog bagi terciptanya perdamaian komprehensif di Aceh. 

Jumlah kami hanya 12 personil namun menarik simpati warga yang melintasi jalur terpadat di Banda Aceh itu. Bahkan dalam sekejap mampu membuatnya macet. Hanya selang beberapa menit, telah hadir ratusan personil Brimob dan Burgab Polresta Banda Aceh dengan tampang seram. Tanpa rasa takut kami mengibarkan bendera GAM, PBB, Referendum dan bendera RI. Di spanduk juga terukir dua buah bendera (RI dan GAM). Semua mata tertuju ke arah kami. Wartawan baik dalam maupun luar negeri tak henti-hentinya mengabadikan adegan yang aneh ini. Hanya beberapa menit aksi itu berjalan, aparat keamanan segera menangkap saya yang kebetulan memegang bendera GAM. Saya segera “diamankan” petugas. Tas digeledah dan baju saya dibuka. Wartawan lalu lalang mewawancarai saya. Tidak berapa lama saya langsung dibawa ke Mapolresta Banda Aceh di Jambo Tape. Saya dituduh sebagai anggota GAM yang memperalat mahasiswa. Dari pukul 10.30 sampai 16.00 saya disiksa dengan berbagai cara dan dipaksa mengaku GAM. Badan saya semakin lemas dan sesekali dari bibir keluar kalimat Lailahaillalah, Allahu Akbar dll. Anehnya, Saya semakin disiksa dan sempat kudengar ucapan yang keluar dari mulut serdadu, “Jangan ucap nama itu disini.” Saya penasaran. Bukankah katanya mereka yang dikirim ke Aceh beragama Islam?

Rabu, 22 Mei 2002

Saya kembali bisa menghirup udara segar setelah 16 hari mendekam dalam sel Mapolresta. Hari itu Saya bahagia sekali. Walaupun bekas penyiksaan masih belum sembuh sempurna. Tetapi, Saya kembali menikmati kemerdekaan yang selama beberapa minggu tidak pernah kudapatkan. Kawan-kawan seperjuangan denganku menyambut pelepasanku dengan terharu. Mereka tidak henti-hentinya memberi semangat bahwa hal itu biasa bagi seorang pejuang. Harus siap menerima risiko apapun. Karena apa yang sedang kami perjuangkan adalah sebuah kebenaran. Aku lihat juga rekan-rekan wartawan tidak ketinggalan untuk mewawancarai kami. Didepan kamera aku bicara blak-blakan tentang berbagai penyiksaan yang aku alami. Aku tidak sadar kalau statusku belum bebas murni, masih dikenakan wajib lapor. Jangan-jangan ditahan lagi.

10 Agustus 2002

Pertama kalinya aku menginjak kaki di ibukota Indonesia, Jakarta. Aku tercengang, betapa megahnya bangunan dan jalan-jalan begitu banyak dan luas. Dua puluh satu tahun aku sebagai warga Indonesia tidak pernah melihat kehebatan Ibukota Negara. Bayangkan! Tidak ada kebanggaan sedikitpun dengan kemegahan itu. Bahkan aku bersedih, Aceh yang kaya raya dengan hasil bumi yang melimpah tidak sehebat Jakarta. Itu semakin membuatku penasaran, ada yang salah dengan negeri ini.

Kami ke Jakarta berjumlah 25 orang lebih yang khusus datang dari Aceh untuk mengetuk hati saudaranya di Jakarta, khususnya penyelenggara negara. Bahwa kami rakyat Aceh ingin damai, aman dan hak untuk menentukan nasib sendiri. Kami tidak minta TNI/Polri. Kami ingin bebas. Tujuan kedatangan kami pertama karena melihat perilaku aparat yang tidak lagi becus di Aceh. Coba bayangkan, mereka ke Aceh hanya untuk berbisnis. Backing tempat maksiat dan merampas harta masyarakat. Dalam berbagai komentar petinggi mereka menyangkal melakukan hal itu. Mereka kemudian menuduh GAM yang melakukannya. Di Jakarta kami berencana akan melancarkan aksi tepat pada saat peringatan hari kemerdekaan RI bersama masyarakat Papua. Berbagai persiapan telah kami siapkan. Ketika RI memperingati kemerdekaannya yang ke 57 kami ingin mengingatkan mereka bahwa masih sebagian rakyat Aceh dan Papua yang tidak pernah menikmati nikmatnya merdeka. Bahkan mereka terus dikorbankan untuk sebuah imperium besar “Indonesia Raya.” Tiap hari darah tumpah dan mereka menjadi tumbal kebuasaan aparat negara.


22 Agustus 2002

Aku dan seorang kawan mendarat di bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin. Aku akan mengikuti “Diklat jurnalis kampus” se-Indonesia. Sambutan kawan-kawan begitu istimewa bagi kami.
“GAM udah datang!”
“Pue haba Aceh?” tanya seorang wanita yang kemudian kuketahui bernama Adriani, dia pernah tinggal 10 tahun di Aceh.
“Ada bawa ganja, ngak?” tanya yang lain
“Kenapa Aceh berontak?” pertanyaan serupa terus saja diberondong, padahal kami baru sampai, belum sempat meletakkan tas.

Aku tercengang diberondong dengan aneka pertanyaan seperti itu. Aku merasa mereka tahu apa yang tengah terjadi di Aceh. Kenapa mereka mendakwaku? Aku hanya tersenyum. Kusalami satu persatu tangan ramah itu. Kuharap mereka dapat menerimaku, walau aku berasal dari daerah yang mungkin menurut mereka “keras kepala.” Kehadiranku disana mungkin bisa menjelaskan kondisi yang sebenarnya tentang Aceh. Aku ingin membangun komunikasi dengan mereka. Aku tidak ingin timbul kemudian sak wasangka dan salah menilai Aceh. Aku disini ingin memposisikan diri sebagai sebagai duta Aceh. Ya Duta dari negeri yang sedang bergolak.
“Aceh ingin merdeka!” jawabku seenaknya.
Mereka diam dan tidak menyangka aku akan jawab seberani itu.
“Aceh dijajah!” sambung ku lagi. Mereka terpana dan menatapku kaku.
“Kami di sana bosan dengan Jakarta, kami selalu ditipu dan dianiaya. Kami ingin bebas,” sambungku lagi.

Jum’at, 8 November 2002

Kusaksikan sendiri parade kemunafikan di depan Mesjid. Aparat dengan wajah bengis dan kejam membangun pagar betis di pintu Mesjid. Seolah-olah mesjid itu milik mereka dan hanya orang yang sehaluan mereka yang bisa masuk ke mesjid. Bukan hanya itu, mereka menggeledah siapa saja yang ingin masuk. Semua orang diperiksa. Hari itu orang-orang dilarang masuk ke dalam mesjid. Padahal hari itu adalah hari jum’at dan umat dalam keadaan berpuasa. Persis seperti adegan yang sering dilakonkan oleh serdadu Yahudi terhadap bangsa Palestina.

Aku melihat, ratusan orang dengan Yasin di tangan hendak berdo’a di dalam mesjid. Mereka ingin memohon kedamaian untuk Aceh. Do’a yang sering diucapkan oleh semua orang di Aceh. Tapi kenapa Aparat tidak membolehkan mereka? Bukankah tidak ada aturan apapun dan siapapun yang melarang berdoa? kenapa polisi-polisi itu begitu alergi dengan doa. Siapa yang memerintahkan mereka untuk menghalangi orang berdoa?

Pikiranku terus bergejolak. Massa mulai membaca ayat demi ayat dari surah Yaasin. Aku melihat suasana keharuan terpencar di sana. Mereka begitu kusuk dan khidmat. Tapi, polisi kembali membuat ulah dengan membunyikan musik dari mobil patroli mereka dengan mikrofon ke arah massa supaya bacaan kalam suci itu tidak terdengar. Mereka takut karena suara itu mampu menggetarkan dan membangkitkan semangat warga yang melihat massa membaca Yaasin. Mereka takut dengan bangkitnya militansi rakyat. Atau memang mereka tidak kuat mendengar kalam ilahi!! Apa mesjid sudah menjadi monopoli kalangan berpangkat?

9 Desember 2002

Langit Aceh tidak seperti biasanya. Hari itu nampak cerah. Masyarakat kulihat begitu gembira. Mereka ceria dan bahagia. Di mesjid-mesjid terdengar bacaan Yaasin dan Doa. Mereka yakin, kondisi negeri mereka akan berubah. Di Jenewa sedang berlangsung sidang antara RI dan GAM. Aku berharap ada sebuah keputusan politik penting dari pertemuan itu. Sorenya, dari hasil fax yang kami terima dari perwakilan HDC Banda Aceh kami mengetahui hasil yang dicapai. RI dan GAM setuju menghentikan permusuhan dan gencatan senjata. Bukan hanya itu, kedua belah juga setuju akan menyerahkan persoalan Aceh kepada rakyat Aceh sendiri melalui mekanisme All Inclusive Dialogue (AID) dan Pemilu Lokal. Aku yakin sejarah Aceh segera akan berubah. Darah dan air mata akan berhenti mengalir dari “sungai” Aceh.

Besoknya di media Massa penuh dengan ucapan selamat kepada RI dan GAM. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada HDC yang telah berhasil memaksa kedua belah pihak untuk menyetujui penghentian permusuhan (CoHA). Entah apa dorongan yang membuat sebagian kawan saya khususnya dari perempuan untuk melakukan aksi. Hari itu dilancarkan sebuah aksi yang menyambut baik hasil CoHA. Aku sempat berorasi sekitar 15 menit setelah lama tidak kulakukan lagi. Pokoknya aksi hari itu benar-benar aman, tidak ada gangguan yang berarti dari aparat keamanan. Dalam CoHa ada sebuah pasal yang memberikan kebebasan kepada sipil untuk mengekpresikan hak demokrasi mereka tanpa dihalang-halangi.


12 Februari 2003

“ Ngon soe nyoe?” tanya seseorang setelah telepon kuangkat.
“ Taufik?” jawabku singkat. “nyoe soe?”
“ Lon” aku segera tahu kalau yang telepon itu adalah kawanku.
“ Nz ditangkap!” Aku terkejut. Jam masih pukul 3 malam. “Pelakunya Tim Intel Polresta.” Aku langsung lemas. Segera terbayang kondisi terburuk yang bakal dialaminya. Namun segera kuhibur diri, beliau tidak apa-apa. Karena ini malam lebaran, tidak mungkin orang akan berbuat sesuatu yang tidak disukai oleh Allah. Aku berdo’a beliau akan baik-baik saja dan selamat. Tapi entah kenapa bayangan Musliadi selalu terbayang, dia dijemput ketika selagi berbuka puasa oleh orang yang tak dikenal yang kemudian diketahui dari tim elite TNI dan SGI. Tiga kemudian kemudian dia ditemukan jadi mayat. Aku berharap, Nz tidak mengalami nasib serupa. Masih banyak tugas yang harus beliau perjuangkan untuk masa depan Aceh. Aku sempat mengomel, malam-malam hari raya kok ada penculikan? Dasar tidak punya adab dan rasa kemanusiaan. Aku segera menghubungi kawan yang bisa kuhubungi. Besoknya kawan-kawan banyak datang untuk mengetahui hal yang sebenarnya.

Minggu, 19 Mei 2003

Tepat pukul 00.00 WIB, Pemerintah memutuskan untuk memberlakukan darurat militer di Aceh. Sontak masyarakat Aceh terpana. Besoknya ratusan prajurit payung diturunkan di Aceh dari Medan. Aceh yang damai tiba-tiba menjadi bergejolak. Langit Aceh mendung dan orang-orang duduk termenung. Trauma DOM terlintas dibenak masing-masing. Akankah Aceh bakal banjir dengan darah manusia untuk kesekian kalinya? Aku berkali-kali meludah dan mengeluarkan sumpah serapah mengutuk kebijakan Darurat Militer. Solusi untuk Aceh bukan militer. Militer sama sekali tidak bisa menyelesaikan Aceh melainkan membuat Aceh bertambah runyam. Sejarah telah membuktikan itu. Militer hanya menghasilkan perlawanan rakyat. Darurat Militer akan melahirkan ribuan GAM-GAM baru di Aceh. Dan itu artinya pemerintah sedang merakit bom waktu sekaligus menyiapkan aktor baru di Aceh. Kemudian akan banyak cucu pejuang yang akan jadi korban. Belum puaskah pemerintah dengan angka kematian pada masa DOM?

Aku berniat mengajak kawan-kawan untuk demo. Tetapi ternyata, semua aktivitas mobilisasi massa di larang. Itu maklumat penguasa darurat militer. Ancamannya minimal ditangkap dan maksimal di tembak. Aku pasrah. Aku tahu negara ini lebih kuat dari teriakan demokrasi.


Minggu, 25 Mei 2003

Pukul 06.30 WIB
“Fiek! Bangun…bangun! PKM digrebek, Falevi ditangkap! Mereka dibawa ke Polres semalam.” Teriak suara Fuad Abdullah, kawan satu organisasi denganku. Aku terkejut dan penasaran. Aku tak menyangka kalau ratusan aparat keamanan semalam untuk menyatroni tempat kami berkumpul selama ini. Pantas aku sempat mendengar suara orang menangis. Aku bersyukur, mungkin Allah tidak meridhai tubuh dirusak oleh mereka. Padahal biasanya aku tidur di tempat itu. Dalam kondisi bingung aku bergegas ke PKM untuk melihatnya. Benar saja, banyak orang berkumpul di situ dan suasana kantor itu begitu berantakan. Semua mata menuju ke arahku. Aku kaget. Ada apa kok melihatku begitu. “Falevi ditangkap!” teriak mereka. “Sekarang mereka di Polres.”
“siapa lagi yang dibawa?” tanyaku
“pak Harun, pengungsi dan anak-anaknya.”
“berapa orang?”
“semuanya dibawa ke polres.” Aku pun lemas. dari kawan yang tidak sempat di bawa kuketahui kalau sasaran operasi ternyata aku dan dua orang kawanku. Kalau saja aku ada bersama mereka entah apa yang akan terjadi. Besoknya dikoran lokal ditulis:
“Dalam operasi tegak rencong, aparat berhasil meringkus belasan GAM dan simpatisannya. Sementara lainnya masih buron! Mereka kini diamankan di mapolresta Banda Aceh.”

Oleh teman-teman, aku disarankan pergi menghindar dari kawasan kampus untuk sementara waktu sampai kondisi normal. Akupun pergi entah kemana, tidak ada tempat yang aman untukku sekarang dan juga rakyat Aceh tentunya. Aku harus mengorbankan kuliah dan meninggalkan kawan-kawan yang selama ini amat baik padaku. Aku menjadi terasing di negeriku sendiri. Aku terbirit-birit dan terkatung-katung ditanah yang ditinggalkan oleh indatuku. Padahal aku punya hak untuk hidup tenang dan damai disini karena ini merupakan tempat kelahiran dan tanah airku. Ingin aku keluar dari Aceh tapi itu sangat tidak mungkin. Dimana-mana rakyat Aceh dicurigai, di sweeping dan dipantau. Padahal moyang mereka adalah bidan kelahiran republik ini. Di Aceh, orang-orang kemudian pasrah dan menanti panggilan kematian yang mulai diproklamirkan Jakarta melalui aparatnya. Hari ini, besok atau entah sampai kapan darah akan terus mengalir di sini. Orang-orang menemui ajalnya dengan sadis.

Besoknya, media massa melaporkan, ratusan orang rubuh di Aceh! Innalillahi wainna ilaihi raji’un.


Note:

Pue haba Aceh = apakabar Aceh
Ngon soe nyoe? = Dengan siapa ini?
Nyoe soe?=Ini siapa?
Lon = saya atau aku
HDC= Henry Dunant Center (sebuah LSM Asing berkantor pusat di Swiss)
GAM= Gerakan Aceh Merdeka
CoHA= Cessation of Hostilities Agreement (perjanjian penghentian permusuhan)
DOM=Daerah Operasi Militer

Artikel Terkait