15 January 2008

Pelayanan Perpustakaan Nasional dengan Sistem Online

(Memperingati 25 Tahun Perpustakaan Nasional RI Th 1980-2005)
Oleh Taufik Al Mubarak

Tanggal 17 Mei 2005 kemarin, usia Perpustakaan Nasional genap 25 tahun. Usia yang terus beranjak dewasa ini tentunya perlu memantapkan diri dalam segala hal, baik dalam bidang kelengkapan buku-buku, perbaikan mutu pelayanan, maupun perekatan hubungan dengan perpustakaan-perpustakaan wilayah.

Dalam peringatan 25 tahun, pihak Perpustakaan Nasional mengadakan lomba penulisan artikel yang dimaksudkan untuk menggali ide-ide dan saran-saran dari anggota masyarakat, mahasiswa dan para anggota terhadap pengembangan peran dan pelayanan perpustakaan di masa mendatang (tulisan ini dibuat dengan tujuan yang sama seperti itu). Hal ini merupakan kegiatan yang cukup postitif untuk membangun hubungan yang kokoh antara masyarakat dan pihak pustaka. Dengan adanya hubungan ini diharapkan akan tumbuh kesadaran untuk mencintai dan mengakrabi perpustakaan sebagai medium pengembangan masyarakat.

Sejak pertama kali didirikan pada 17 Mei 1980, kehadirannya sudah banyak memberikan andil bagi pengembangan dan pencerdasan masyarakat. Perpustakaan Nasional semakin diminati oleh masyarakat yang haus akan pengetahuan. Perpustakaan tidak lagi menjadi monopoli kalangan atas, mahasiswa atau kalangan terpelajar saja, melainkan juga masyarakat. Hal ini karena masyarakat semakin sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan dan kemajuan. Karena itu, masyarakat yang maju dapat dilihat dari berapa besar animo masyarakatnya mengunjungi perpustakaan. Atau berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mengunjungi perpustakaan dalam sehari.

Besarnya minat masyarakat terhadap perpustakaan haruslah direspon dengan pelayanan yang semakin canggih dan profesional oleh pihak pengelola perpustakaan. Apalagi bagi Perpustakaan Nasional yang menjadi rujukan perpustakaan di daerah. Jika pelayanan Perpustakaan Nasional masih seperti era kemerdekaan: sederhana, kuno, maka ke depan kesan itu harus dihilangkan dengan cara perbaikan dalam hal pelayanan yang semakin modern berbasis teknologi, sekaligus membangun integrasi dengan perpustakaan-perpustakaan wilayah secara lebih nyata. Hal ini untuk menegaskan bahwa Perpustakaan Nasional berbeda dengan perpustakaan daerah.
Ukuran ini dapat dilihat dari kelengkapan buku dan juga sistem pelayanannya. Kedua hal ini menjadi barometer untuk menilai kemajuan sebuah perpustakaan.

Kelengkapan Buku
Hasil survey tahun 2004 lalu, yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional menarik untuk disimak. Diketahui persoalan buku menjadi sorotan dari pengguna layanan perpustakaan. Di mana buku-buku yang ada di Perpustakaan Nasional kurang mutakhir, atau terbitan lama. Dari 3.055 judul atau 6042 exsemplar hasil pengadaan tahun 2004, yang dikirim untuk layanan berjumlah 2.419 judul atau 4.421 eksemplar. Dari jumlah itu yang memiliki nomor induk dengan angka tahun 2004 hanya 731 judul (perpusda jateng online, 30/12/04)
Sebagai gambaran, jumlah koleksi Perpustakaan Nasional RI berdasarkan hasil stockopname tahun 2004 adalah 306.191 judul, atau 1.897.597 eksemplar. Jumlah ini sudah termasuk monograp, audio visual, manuskrip majalah dan surat kabar.

Kenyataan ini mau tidak mau harus menjadi bahan evaluasi khususnya dari pihak yang selama ini bertanggungjawab terhadap perpustakaan. Perlu segera dibenahi dengan cara menambah koleksi buku dengan berbagai tema, serta buku-buku yang lebih bermutu, tidak ketinggalan zaman. Meski buku-buku zaman juga tidak kurang mutunya, tapi penyediaan buku yang terbit belakangan perlu disediakan.

Dengan jumlah buku yang terbatas, dan kebanyakan buku kurang mutakhir, sudah menunjukkan bahwa perpustakaan belumlah dikelola secara sempurna untuk pencerdasan masyarakat. Apalagi bagi Perpustakaan Nasional yang menjadi rujukan bagi perpustakaan daerah.

Singkatnya, jika masyarakat atau anggota perpustakaan atau mahasiswa yang sedang membuat penelitian atau masyarakat yang membutuhkan buku terapan tidak menjadi bimbang ketika berkunjung ke pustaka, karena buku yang dibutuhkannya tidak tersedia. Buku-buku yang dibutuhkan mereka tersedia dan bisa didapatkan di perpustakaan.

Hal-hal seperti ini juga harus menjadi bahan pertimbangan bagi pihak perpustakaan dan juga pihak yang memiliki kebijakan dalam masalah perpustakaan seperti Menteri Pendidikan. Semua pihak harus ikut memikirkan bagaimana buku-buku yang digemari dan dibutuhkan oleh masyarakat seperti buku terapan harus tersedia, meskipun buku tersebut sudah berumur.
Selain itu, perlu diberikan kemudahan kepada pengunjung atau anggota perpustakaan. Dalam arti sarana penelusuran katalog kartu dan OPAC harus disesuaikan dengan jumlah pengunjung yang cukup banyak. Agar pengunjung atau pengguna tidak menghabiskan waktunya hanya menunggu pengguna lain selesai. Hal ini akan mengganggu kenyamanan pengunjung.

Selama ini, anggota Perpustakaan Nasional yang ingin meminjam buku banyak mengalami kesulitan, serta harus mengikuti aturan perpustakaan yang kadang-kadang berbelit-belit, misanya, untuk meminjam buku harus terlebih dahulu memesan buku yang dimaksud, tidak langsung dapat diambil. Hal ini semakin diperparah, jika buku yang dibutuhkan tidak tersedia di perpustakaan (atau sudah dipinjam oleh anggota lain), sementara dia sangat membutuhkan buku itu.

Pelayanan Modern
Beberapa toko buku/penerbit buku memanfaatkan jasa internet untuk memasarkan buku mereka secara online. Sebut saja misalnya Toko Buku Gramedia Online, Gunung Agung atau Inibuku.com (Indonesia) atau Amazon.com yang sudah terlebih dahulu populer, dan banyak lagi. Masyarakat yang ingin membeli buku terlebih dahulu mempelajarinya tentang buku yang ingin dibeli dengan mengakses internet seperti isi buku, harga dan penulis atau pengarang buku. Buku-buku itu bisa langsung dipesannya secara online, dengan sistem pembayaran yang sudah dibuat oleh pihak toko buku online tersebut.

Memang sekarang Perpustakaan Nasional memiliki website yang bisa diakes oleh masyarakat, namun informasinya masih terbatas yang bisa digunakan oleh pengguna. Belum ada informasi yang utuh tentang buku-buku yang ada di perpustakaan, hanya gambaran sekilas. Yang banyak tentang profile perpustakaan dan program-program yang dilakukan.
Untuk itu, sistem yang dipraktekkan oleh beberapa toko buku online dapat diterapkan oleh Perpustakaan Nasional.

Ada beberapa kemudahan yang akan didapat. Pertama, memudahkan para anggota atau pengguna jasa pustaka untuk mengetahui beberapa informasi tentang buku yang dibutuhkannya sebelum melakukan peminjaman atau mengunjungi pustaka untuk mendapatkan buku tersebut. Yang ingin meminjam buku, terlebih dulu tahu apakah buku yang dia cari itu ada di pustaka tersebut atau tidak. Dia tidak perlu membuang-buang waktu mencari buku tersebut di perpustakaan, di mana kadang-kadang tidak didapatkannya atau karena buku tersebut tidak tersedia di perpustakaan tersebut.

Kedua, Perpustakaan Nasional dapat menggunakan sistem pelayanan online dengan pustaka-pustaka wilayah (seperti sistem yang dijalankan oleh Bank sekarang). Sistem online seperti ini akan membantu anggota pustaka di tempat lain mengetahui kelebihan dan kekurangan pustaka tempat dia berdomisili dan dengan tempat lain.

Karena itu keanggotaan perpustakaan harus diperbaharui (keanggotaan tak terbatas) dalam arti anggota pustaka suatu wilayah juga sekaligus dapat menjadi anggota Perpustakaan Nasional, di mana bisa mengakses dan dapat meminjam buku di berbagai pustaka wilayah yang sudah memiliki pelayanan online. Biaya pengiriman buku dibebankan kepada pihak peminjam, jika perpustakaan tidak mampu menyediakan jasa sejauh itu.

Cara seperti ini akan memudahkan anggota pustaka di wilayah lain dalam arti tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengunjungi pustaka yang dimaksud karena buku yang dicari ada di situ. Memang cara seperti ini rawan menjadi alasan kehilangan buku, tetapi jika disikapi dengan arif, kekhawatiran seperti itu tidak perlu terjadi. Ini bisa disiasati dengan mengeluarkan peraturan bahwa buku yang dipinjam seperti ini harus dikembalikan ke pustaka tempat dia berdomisili begitu batas waktunya habis.

Saya kira dengan sistem pelayanan seperti disebutkan di atas, maka pelayanan perpustakaan kita akan semakin maju dan profesional. Budaya membaca buku di kalangan masyarakat kita yang rendah dapat ditingkatkan. Hal ini memberikan arti positif bagi kemajuan masyarakat.
Maka tidak ada hal penting yang harus difikirkan segera oleh pihak penanggung jawab Perpustakaan Nasional selain menyiapkan berbagai perangkat dan sistem untuk memudahkan pelayanan kepada anggota dengan sistem pelayanan modern. Semoga bermanfaat.

(NB: Artikel ini semula dibuat untuk diikutkan pada lomba yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional tentang kepustakaan nasional, tapi karena satu dan lain hal, tak jadi dikirim. Sebagai arsip, aku tampilkan saja di media ini, siapa tahu bermanfaat, atau ada yang ingin memberikan saran dan masukan, untuk kesempurnaan penulisan tentang kepustakaan di masa mendatang)

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon