25 November 2006

Pilihlah Pemimpin yang Merakyat?

Pesta demokrasi, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), akan segera dilangsungkan di Aceh. Rakyat Aceh untuk pertama kali akan memilih pemimpinnya secara langsung. Di antara semua calon, baik di tingkat Gubernur, Bupati dan Walikota yang sudah muncul di media, adakah yang pantas dipilih? Apakah rakyat akan memilih pemimpin yang betul-betul merakyat? Apa saja kriteria pemimpin yang merakyat itu? Lalu seberapa besarkah hasil Pilkada ini memberikan perubahan sosial politik dan ekonomi di Aceh?

Setidaknya, pertanyaan ini yang merangsang masyarakat untuk bertanya. Meski masyarakat tidak sedikit pun peduli, siapa yang menjadi pemenangnya. Bagi rakyat, yang penting adalah, bagaimana dapat hidup tenang, aman dan cukup bahan makanan serta bebas mencari rezeki tanpa diliputi rasa takut.

Di antara yang mencalonkan diri itu, adakah yang benar-benar (secara jelas) memahami keinginan rakyat ini? Apakah mereka menjadi bagian dari pemimpin yang dielu-elukan oleh rakyat Aceh yang sedang berjuang keluar dari kepahitan hidup ini? Saya tidak sedikit pun yakin bahwa mereka yang telah lolos hasil verifikasi Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh ini dapat disebut tokoh-tokoh yang merakyat dan paham pada persoalan yang dihadapi oleh rakyat yang bakal memilihnya. Pasalnya, semua mereka tak lebih tokoh-tokoh yang pandai bermain retorika dan berbasa-basi politik dengan rakyat.

Pemimpin yang merakyat
Saya selalu percaya, bahwa sebenarnya siapa saja mampu memimpin Aceh dan mengembalikan masyarakat Aceh kepada masa jayanya. Tapi sedikit sekali orang mau melakukannya. Ambisi menjadi pemimpin di Aceh, tak pernah dilandasi untuk berbuat dan melayani masyarakat. Selalu saja pemimpin itu termakan nafsu kehendak berkuasa untuk kepentingan sendiri, golongan dan kerabatnya.

Pengalaman-pengalaman masa lalu memberikan pelajaran berharga bagi kita. Bahwa sebenarnya rakyat Aceh tak pernah benar-benar punya pemimpin yang selalu memikirkan kehidupannya. Apalagi, pemimpin yang dipilih itu tak pernah dipilih langsung oleh rakyat, melainkan oleh wakil mereka yang tak pernah kenal dengan orang yang diwakilinya. Jadi, pemimpin yang terpilih itu hanyalah pilihan para wakil rakyat berdasarkan kompromi-kompromi (suap-menyuap), sementara rakyat belum tentu setuju dengan orang yang terpilih itu.

Sangat wajar terjadi, jika rakyat merasa tak pernah memiliki pemimpin. Apalagi nasib mereka tak pernah dibela. Malahan, rakyat dibiarkan sendirian berkutat dengan kegetiran hidup, dan segala persoalan yang mengancam kehidupan mereka. Rakyat sama sekali tak punya induk yang melindungi mereka. Tak ada tempat mengadu dan membicarakan setiap persoalan yang ada.

Wajar saja jika ada yang mengatakan Aceh tak butuh penguasa sekarang. Aceh hanya butuh pelayan. Aceh butuh orang yang mampu disuruh-suruh untuk selalu melayani dan memikirkan rakyat setiap saat. Aceh butuh pemimpin yang selalu akrab dengan kehidupan. Pemimpin yang selalu memiliki waktu menyapa mereka dan bahkan mendengarkan setiap keluh kesah mereka. Rakyat Aceh butuh pemimpin yang bisa diajak bercanda dan saling tertawa. Pemimpin yang bisa mendengarkan keluh kesah mereka dalam kondisi yang sangat akrab dan bersahabat.

Karena itu, seorang pemimpin ke depan haruslah beranjak dari bawah. Bukan dari kalangan elite yang “sok” paham persoalan masyarakat. Dia haruslah orang selalu dekat dengan rakyat dalam berbagai kondisi dan situasi. Dia mestilah orang yang selalu ini dipercayakan oleh rakyat untuk mendengarkan cerita-cerita dan persoalan mereka. Artinya, orang yang selalu berhubungan dengan masyarakat bawah.

Kenapa ini penting? Setidaknya, ia mengetahui persoalan yang sedang dialami dan dihadapi rakyat yang bakal diwakilinya. Karena itulah, seorang pemimpin yang merakyat, dia selalu menyempatkan diri mengunjungi desa-desa terpencil, tertinggal, terisolir, terpinggirkan, terbelakang, dll serta tinggal di sana, ngobrol dengan masyarakat di warung-warung kopi, balai desa, atau di Blukoh/Bale. Sebab dengan berbuat demikian, akan sangat banyak masukan yang didapatkan serta dapat diperjuangkan begitu dia berkuasa.

Tetapi, nampaknya tugas ini tidak banyak dilakukan oleh para kandidat yang sekarang maju dalam Pilkada ini. Di samping mentalitas yang elitis yang tidak merakyat juga ketokohan mereka sama sekali tidak mengakar dan memiliki basis sosial yang kuat pula di masyarakat. Kita hanya menyaksikan para kandidat ini rajin turun ke lapangan dan menyapa calon pemilihnya ketika datang musim kampanye saja atau karena berharap dapat dipilih oleh mereka. Jika tak ada pesta demokrasi seperti ini, kita harus bermimpi menemukan para tokoh ini berada di tengah-tengah masyarakat. Sebagian kecil saja sebagai pengecualian.

Jadi, bisa ditebak, mengapa selama ini berbagai aspirasi rakyat tidak mampu ditangkap dan diperjuangkan? Karena mereka sama sekali tidak mengetahui, bagaimana aspirasi masyarakat yang dipimpinnya.

Community worker
Pemimpin dapat disebut juga sebagai Community Worker, orang yang selalu bekerja di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, ke depan, pemimpin Aceh hendaknya bukanlah yang menampakkan sifat elite yang berlebihan, apalagi lupa pada kampung halamannya. Saya ingin katakan, bahwa ke depan kita butuh pemimpin yang bisa ditemui di tengah-tengah masyarakat, bisa ditemui sedang ngobrol dengan masyarakat di warung kopi atau sedang berdiskui di bale/blukoh atau di meunasah-meunasah. Ia bisa ditemui sedang memimpin shalat berjama’ah di meunasah suatu kampung yang jauh dari kota.

Kesan pemimpin yang begitu elite, mutlak harus ditinggalkan. Jika dulu sering ditemui pemimpin sibuk pulang-pergi Aceh-Jakarta atau luar negeri mesti ditinggalkan. Karena ke depan kita butuh pelayan, yang selalu mengabdi untuk kepentingan masyarakat. Ia yang memimpin proses rehab/rekon dan program kesejahteraan masyarakat.

Mengapa kita bercita-cita punya pemimpin yang bisa ditemui di bale-bale, meunasah atau kampung terpencil? Karena dengan demikian, dia mampu menyerap aspirasi masyarakat secara langsung. Karena itu kita butuh pemimpin yang inspiratif dan instuitif. Artinya pemimpin yang tak pernah kering dengan ide-ide brilian serta selalu mengetahui persoalan-persoalan yang berkembang dan tau cara menyelesaikannya. 


Karena itu, ketika pemimpin dipahami sebagai community worker, dia bisa ditemui di tempat-tempat berkumpulnya masyarakat seperti di Bale-bale/Blukoh, warung kopi atau di meunasah-meunasah. Dari tempat inilah, biasanya masyarakat biasa mengobrol apa saja, mulai dari persoalan kegetiran hidup, masalah musim tanam dan panen padi, bisnis sampai sistem berpolitik masyarakat (dalam masyarakat Aceh dikenal istilah yang cukup populer politik warung kopi). Di sinilah masyarakat membicarakan apa saja. Jika sang pemimpin ada di sana, dia pasti bisa menangkap apa keinginan dan persoalan yang sedang dihadapi oleh rakyatnya.

Dalam pembicaraan di tempat ini, sama sekali tidak pernah ditentukan tema, melainkan lintas topik dan persoalan, namun mengandung pesan penting bahwa masyarakat sedang membicarakan kondisi, nasib dan persoalan yang sedang dihadapi. Kadang-kadang topiknya bercampur-campur dan tidak karuan. Kalau dihimpun bisa dirumuskan sebuah tema sentral dan sistematis. Pembicaraan kadang-kadang dilakukan dalam kondisi sangat santai, akrab dan mendalam walaupun mereka berbicara sesamanya. Kadang-kadang penuh ketegangan dan tak karuan. Tidak ada tokoh yang khusus diundang untuk membicarakan atau membahas sesuatu persoalan. Yang banyak mengetahui biasanya lebih mendominasi pembicaraan.

Sebenarnya inilah yang disebut pendidikan politik versi rakyat secara tidak langsung: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (masyarakat). Di dalam forum ini, tidak lahir istilah-istilah ilmiah yang sama sekali tidak dekat dengan masyarakat, tetapi lebih banyak lahir istilah khas masyarakat yang memiliki sebuah makna filososif yang mendalam.

Sebelum pecah konflik, di setiap kampung ditemukan balai-balai istirahat (di Pidie sering dikenal Blukoh atau Bale—penulis tidak tahu apakah di tempat lain juga sama). Praktis jika kita berkunjung ke kampung-kampung, sangat banyak ditemukan anggota masyarakat berkumpul di tempat ini, dari sekedar santai sampai membicarakan sesuatu yang hangat terjadi. Kehidupan yang penuh keakraban terhidang sangat rapi dan kompak.

Ketika konflik pecah, kondisinya sudah banyak barubah. Jarang ditemui anggota masyarakat berkumpul. Jika pun ada mungkin hanya khusus di siang hari saja. Tetapi bukan ini yang hendak disampaikan, melainkan, bagaimana sebenarnya apresiasi masyarakat kita dalam memandang sebuah persoalan politik. Tidak berlebihan jika kita katakan, bahwa masyarakat sebenarnya sudah mengadakan sebuah forum kajian politik secara tidak langsung di tempat-tempat ini.

Jika ada waktu, cobalah para kandidat ini berperan sebagai community worker sejenak. Saat inilah yang tepat untuk menyerap aspirasi masyarakat, harapan mereka terhadap para kandidat dan penilaian mereka untuk kandidat. Di setiap tempat sekarang di kampung-kampung, masyarakat lebih banyak membicarakan siapa kira-kira calon Gubernur Aceh mendatang. Masyarakat—khususnya yang sering membaca koran /nonton TV di warung kopi—mengetahui secara pasti siapa saja calon Gubernur dan Bupati/walikota.

Bila para kandidat ini mau mengetahui bagaimana penilaian masyarakat terhadap dirinya tak ada salahnya jika menyempatkan diri berada di tengah-tengah masyarakat, jika perlu menyamar. Karena di sini, nama anda, sikap anda, perilaku dan kiprah politik anda sudah cukup terhafal di memori masyarakat. Di samping itu, mereka juga mampu memetakan kekuatan masing-masing anda, peluang anda dan track record anda dan hal-hal lain. Sehingga sekilas, pembicaraan ini ibarat obrolan tim sukses, pakar atau pengamat. Bedanya, rakyat sama sekali tidak menggunakan analisis ilmiah atau analisis SWOT (Kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan) para kandidat. Walaupun sebenarnya apa yang mereka bicarakan dan perdebatkan tidak jauh bedanya dengan analisis SWOT. Tetapi begini lah potret masyarakat kita, pintar secara alami tanpa pernah mengecap pendidikan tinggi dan gelar macam-macam.

Pemimpin inspiratif dan instuitif
Di tempat-tempat itulah rakyat sebenarnya belajar memberdayakan diri. Di sana mereka belajar menyelesaikan sebuah persoalan lewat diskusi atau kajian. Sebuah persoalan dihadapi dengan rapat dan dengan sikap rasional. Sering, sebuah persoalan yang sulit diselesaikan sebelumnya menjadi mudah karena proses pemecahan yang akrab dan rasional ini. Jika kita mau jujur, sebenarnya banyak persoalan masyarakat yang bisa mereka selesaikan sendiri.

Yang ingin disampaikan di sini adalah dengan selalu berada di tengah-tengah rakyat memudahkan bagi elite-elite politik untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung. Karena itu kita sarankan, sesekali berkunjunglah ke kampung dan bergaul dengan masyarakat biasa. Tak usah bawa pengawal atau seperti kunjungan dinas, karena jika begini bakal tidak mampu berbicara dengan rakyat secara langsung. Rakyat sebenarnya sangat ingin berbicara dengan elite yang mewakilinya untuk menyampaikan keluhan secara langsung. Tapi jarang ada pejabat yang mau berbicara dan mengunjungi rakyatnya secara sendirian. Padahal, jika benar ia mewakili rakyat, sudah pasti dia tidak merasa takut dan malu berjumpa dengan rakyat.

Berkacalah pada Khalifah Umar Bin Khattab, seorang khalifah yang tidak bisa tidur nyenyak di malam hari jika belum melakukan ronda dan mengunjungi rakyat untuk memastikan apakah mereka sudah tidur atau masih memikirkan makanan untuk anaknya.

Mengapa tidak ada sesekali tokoh politik terjun ke kampung dan duduk ngobrol dengan masyarakat tanpa membawa pengawal dan protokoler yang berbelit-belit. Tinggalkan kesan elitis dan tidak merakyat. Agar anda-anda ini tenang ketika berbicara dengan rakyat. Setidaknya, kondisi masyarakat kita tidak seburuk ini jika ada pemimpinnya yang berjiwa seperti ini.

Karena dengan berbuat begitu, anda-anda tak pernah kering ide serta akan melahirkan inspirasi-inspirasi yang dapat digunakan untuk membangun Aceh ke depan, yang begitu hancur karena Gempa dan Tsunami dan juga konflik yang berkepanjangan.

Sebelum memilih, teliti dulu calon dan pelajari riwayat hidupnya, agar kita tidak memilih pemimpin yang pernah menyengsarakan hidup kita. Sekarang di hadapan kita muncul-muncul—meminjam istilah Bapak Mukhlis Mukhtar—orang-orang “gila” yang mau menjadi pemimpin di tengah kondisi Aceh yang benar-benar sangat kacau, yaitu: Iskandar Husein-Saleh Manaf, Tamlicha Ali-Harmen, Djali Yusuf-Syauqas, Azwar Abubakar-Nasir Djamil, Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, Humam Hamid-Hasbi Abdullah, Ghazali Abas-Shalahuddin.

Terakhir saya ingin mengucapkan kepada rakyat Aceh, selamat menentukan pilihan, jangan salah pilih!

Catatan: Pilkada itu akhirnya dimenangkan oleh Irwandi Yusuf - Muhammad Nazar yang mendapatkan 38,20% suara. 

NB: Tulisan ini sudah dimuat di Harian Serambi Indonesia

Artikel Terkait