31 January 2008

Politik Blukoh

Penulis: el camply

Pesta demokrasi baru saja usai, terlepas masih banyak kekurangan dan kelemahan. Rakyat sudah memberikan suara, dan memilih orang-orang yang ‘pantas’ dipilih. Sekarang, sepertinya seluruh rakyat Nusantara ini sedang menunggu hasil pemilu legislatif 5 April lalu. Partai-partai calon pemenang sudah samar-samar diketahui. Tetapi ini semua tidaklah begitu penting. Ada yang lebih penting lagi: seberapa besarkah hasil pemilu ini memberikan perubahan sosial politik di Negeri ini?


Setidaknya, pertanyaan ini yang hangat dibicarakan oleh masyarakat. Masyarakat tidak sedikitpun peduli, siapa yang menjadi pemenang. Karena bagi rakyat, yang penting adalah, bagaimana dapat hidup tenang, aman dan cukup bahan makanan serta bebas mencari rezeki tanpa diliputi rasa takut. Tak banyak tokoh politik yang secara jelas memahami keinginan rakyat ini. Padahal, andai saja elite politik melakukan survey tentang kehidupan rakyatnya sebelum melaju ke Gedung Rakyat DPRD, sungguh sangat mulia. Setidaknya, ia mengetahui persoalan yang tengah dialami dan dihadapi rakyat yang bakal diwakilinya. Andai saja, elite politik (Caleg, Capres, pejabat, dll) sesekali mengunjungi desa terpencil, tertinggal, terisolir, terpinggirkan, terbelakang, dll serta tinggal di sana, ngobrol dengan masyarakat di warung-warung kopi, balai desa, atau di Blukoh akan sangat banyak masukan yang didapatkan serta dapat diperjuangkan di parlemen. Tetapi, nampaknya tugas ini tidak banyak dilakukan, di samping mentalitas elite politik yang tidak merakyat juga ketokohan mereka sama sekali tidak mengakar dan memiliki basis sosial yang kuat pula. Praktis bisa ditebak, mengapa berbagai aspirasi rakyat tidak mampu ditangkap dan diperjuangkan? Jawabannya, karena mereka sama sekali tidak mengetahui, bagaimana aspirasi masyarakat yang diwakilinya.

***

Blukoh dalam pengertian sehari-hari berarti tempat berkumpul, santai, pertemuan informal antar berbagai macam lapisan masyarakat di desa (kampung) atau kemukiman. Hampir mirip dengan warung kopi (biasanya di warung kopi masyarakat biasa ngobrol apa saja dari persoalan kegetiran hidup, panen padi, bisnis ala masyarakat sampai politik—lahir kemudian istilah politik warung kopi), Blukoh juga sering digunakan oleh masyarakat untuk membicarakan apa saja. Tidak ditentukan tema, melainkan lintas topik dan persoalan, tetapi mengandung pesan penting bahwa masyarakat sedang membicarakan kondisi, nasib dan persoalan yang sedang dihadapi. Kadang-kadang topiknya bercampur-campur dan tidak karuan, kalau dihimpun memiliki sebuah tema sentral dan nampak sistematis. Pembicaraan kadang-kadang dilakukan dalam kondisi sangat santai, akrab dan mendalam walaupun mereka berbicara sesamanya, kadang-kadang penuh ketegangan dan tak karuan. Tidak ada tokoh yang khusus diundang untuk membicarakan atau membahas sesuatu persoalan. Yang banyak mengetahui biasanya lebih mendominasi pembicaraan.

Jika istilah Politik Keude Kupi sudah cukup populer dan sangat banyak dibahas, praktis istilah politik Blukoh belum banyak dibicarakan. Padahal, sama-sama memiliki nilai kekhasan dan keunikan serta memiliki arti penting untuk memahami masyarakat. Politik Blukoh adalah ciri khas masyarakat kampung.

Sebenarnya inilah yang disebut pendidikan politik bagi rakyat secara tidak langsung: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (masyarakat). Di dalam forum ini, tidak lahir istilah-istilah ilmiah yang sama sekali tidak dekat dengan masyarakat, tetapi lebih banyak lahir istilah khas masyarakat yang memiliki sebuah makna filososif yang mendalam.

Sebelum pecah konflik, di setiap kampung ditemukan balai-balai istirahat (di Pidie sering dikenal Blukoh atau Bale—penulis tidak tahu apakah di tempat lain juga sama). Praktis jika kita berkunjung ke kampung-kampung, sangat banyak ditemukan anggota masyarakat berkumpul di tempat ini, dari sekedar santai sampai membicarakan sesuatu yang hangat terjadi. Kehidupan yang penuh keakraban terhidang sangat rapi dan kompak. Kondisi sekarang mungkin sudah banyak barubah. Jarang ditemui, anggota masyarakat berkumpul. Jikapun ada mungkin hanya khusus di siang hari. Tetapi bukan ini yang menjadi tema kajian kita. Melainkan, bagaimana sebenarnya apresiasi masyarakat kita dalam memandang sebuah persoalan politik. Tidak berlebihan jika kita katakan, bahwa masyarakat sebenarnya sudah mengadakan sebuah forum kajian politik secara tidak langsung di Blukoh ini.

Kalau sekarang sedang hangat-hangatnya pemilu, otomatis tema pembicaraan rakyat di Blukoh tidak bisa dilepaskan dari Pemilu. Mereka lebih banyak membicarakan siapa kira-kira calon presiden mendatang. Masyarakat—khususnya yang sering membaca koran /nonton TV di warung kopi—mengetahui secara pasti siapa saja yang bakal mencalonkan diri menjadi presiden. Nama-nama calon, sikap calon, perilaku dan kiprah politik sang calon sudah cukup terhafal di memori masyarakat. Di samping itu, mereka juga mampu memetakan kekuatan masing-masing calon, peluang calon dan hal-hal lain. Sehingga sekilas, pembicaraan ini ibarat obrolan tim sukses, pakar atau pengamat. Bedanya, rakyat sama sekali tidak menggunakan analisi ilmiah atau analisis SWOT (Kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan), walaupun sebenarnya apa yang mereka bicarakan dan perdebatkan tidak jauh bedanya dengan analisis SWOT. Tetapi beginilah potret masyarakat kita, pintar secara alami tanpa pernah mengecap pendidikan tinggi dan gelar macam-macam.

***

Sangat banyak manfaat adanya Blukoh ini. Tidak banyak tokoh atau pakar pendidikan yang meneliti secara khusus tentang ini. Fungsinya hampir mirip dengan Meunasah (surau), yang digunakan oleh masyarakat untuk shalat. Sedangkan Blukoh tidak di gunakan untuk shalat. Tidak dipungkiri juga, jika ada masyarakat yang menggunakan Blukoh untuk shalat. Meunasah sering juga digunakan oleh masyarakat untuk mengadakan pertemuan, rapat, atau membahas berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Sifat pertemuannya formal karena melibatkan seluruh perangkat desa dan biasanya secara khusus diundang/dibuat oleh pimpinan desa/mukim (keuchik atau imum mukim). Sedangkan pertemuan yang berlangsung di Blukoh tidak formal, hanya pertemuan biasa dan tidak mengenal jadwal/waktu, kapan saja masyarakat bisa duduk dan ngobrol di sana.

Dalam blukoh ini, rakyat sebenarnya belajar memberdayakan diri. Di sana mereka belajar menyelesaikan sebuah persoalan lewat diskusi atau kajian. Artinya, sebuah persoalan dihadapi dengan rapat dan dengan sikap rasional. Sering, sebuah persoalan yang sulit diselesaikan sebelumnya menjadi mudah karena proses pemecahan yang akrab dan rasioanal ini. Jika kita mau jujur, sebenarnya banyak persoalan masyarakat yang bisa mereka selesaikan sendiri.

Yang ingin kita sampaikan di sini adalah dengan adanya Blukoh sebenarnya memudahkan bagi elite-elite politik untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung. Sesekali berkunjunglah ke kampung dan bergaul dengan masyarakat biasa. Tak usah bawa pengawal atau seperti kunjungan dinas, karena jika begini bakal tidak mampu berbicara dengan rakyat secara langsung. Rakyat sebenarnya sangat ingin berbicara dengan elite yang mewakilinya untuk menyampaikan keluhan secara langsung. Tapi jarang ada pejabat yang mau berbicara dan mengunjungi rakyatnya secara sendirian. Padahal, jika benar ia mewakili rakyat, sudah pasti dia tidak merasa takut dan malu berjumpa dengan rakyat.

Berkacalah pada Khalifah Umar Bin Khattab, seorang khalifah yang tidak bisa tidur nyenyak di malam hari jika belum melakukan ronda dan mengunjungi rakyatnya untuk memastikan apakah mereka sudah tidur atau masih memikirkan makanan untuk anaknya.

Mengapa tidak ada sesekali tokoh politik terjun ke kampung dan duduk ngobrol dengan masyarakat tanpa membawa pengawal dan protokoler yang berbelit-belit. Tinggalkan kesan elitis dan tidak merakyat. Agar tenang ketika berbicara dengan rakyat. Setidaknya, kondisi masyarakat kita tidak seburuk ini jika ada wakil rakyat yang berjiwa seperti ini. Sesekali berbicaralah dengan rakyat di Blukoh!

Taufik Al Mubarak
Direktur Eksekutif Center for Conflict Resolution Studies (CCRS)

Blukoh, tempat berkumpul masyarakat dalam adat Aceh, atau sering di sebut balai


Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak