Prosa Kematian

(Sekelumit cerita dari negeri tertindas)

Ketika menulis tentang Aceh, aku seakan sedang menulis tentang kematian, tentang darah dan kepala terpenggal serta gadis-gadis tanpa perawan. Menulis tentang Aceh adalah menulis tentang darah dan kepiluan. Karena Aceh adalah kematian dan kematian. Semua orang bisa mati di Aceh. Tidak peduli jabatan dan pangkat karena disini tidak berlaku keegoan dan keakuan. Disini hanya ada kekuasaan dan kekuatan. Sehingga yang punya kekuasaan dan kekuatan bisa membunuh siapa saja tanpa perlu vonis hakim. Ya Aceh telah menjelma menjadi negeri rambo.!

Aceh ! ya Aceh…di negeri ini aku dilahirkan. Akan tetapi aku tak dapat hidup disini karena gejolak dan perang. Sejak kecil aku harus meninggalkan negeriku untuk menyelamatkan diri. Orang-orang asing yang berlagak tuan menganggap musuh rakyat negeri ini dan membunuh siapa saja yang menentang mereka. Sehingga untuk menyelamatkan diri banyak dari rakyat negeri ini yang memilih merantau ke negeri seberang. Bertahan dinegeri sendiri sama saja dengan bunuh diri. Akhirnya aku dengan pasrah melihat negeri ini jatuh dalam genggaman orang-orang asing tanpa bisa melakukan protes. Protes bagi mereka adalah pemberontakan dan ganjarannya adalah kematian. Mereka hidup dengan senang diatas penderitaan rakyat negeriku.

Negeri ini bagaikan kota mati, kota yang tidak berpenghuni. Kota terasing setelah tragedi pembantaian. Kota yang menyisakan seribu tanda tanya. Kota dimana kerangka manusia berserakan dimana saja. Jangan tanya siapa pelakunya, karena itu bukan solusi. Tapi cobalah berdialog dengan nurani karena itu adalah cinta dan pengabdian. Ya Aceh perlu orang-orang yang punya nurani.

Memandang negeri ini tersirat kepiluan yang mendalam. Karena kini negeri ini hanyalah pemandangan suram. Puing-puing yang musnah terbakar. Negeri ini adalah arena perang produktif yang menghasilkan ribuan syuhada dan mayat tanpa kepala. Negeri adalah bayangan hitam yang semakin mengerikan. Karena disini, dimana saja telah dihuni oleh hantu dan iblis-iblis yang serakah dan kejam. Ya…negeri ini memang tempat mangkal sejumlah pemangsa-pemangsa liar yang haus darah!

Pengembaraanku ini bukanlah perjalanan riset, bukan pula study ilmiah dan bukan pula rekreasi. Pengembaraanku adalah perjalanan sejarah. Perjalanan mencari jejak-jejak sejarah yang benar untuk kebenaran penulisan sejarah kelak. Sehingga nantinya tidak ada lagi pemalsuan sejarah dimasa yang akan datang.

Sekarang! Aku akan mengembara dinegeri ini sebagai seorang hakim agung atau wartawan (atau terserah siapa yang pantas anda sebutkan). Aku akan mengembara disini karena aku bagian dari komunitas ini. Negeri yang telah lama kutinggalkan dalam luka dan prahara.

Aku kembali dari pengasingan dan mampir disini untuk menyaksikan wajah-wajah elok yang dulu begitu dekat denganku. Aku ingin menyaksikan sejarah yang telah menggemparkan dunia karena heroisme penghuni negeri ini. Aku ingin melihatnya. Mencari jejak-jejak sejarah yang mungkin masih tersisa. Aku ingin melihat para penjajah dan penjarah. Aku ingin melihat orang-orang serakah yang menjadi tuan dinegeriku. Aku ingin melihat semuanya karena aku juga adalah anak negeri ini. Jangan salahkan aku karena aku punya hak bertanya dan menjawabnya.

Aku mulai mengembara…..

Kutelusuri semua sudut kota. Kujelajah dan berjalan di atas tanah-tanah yang penuh darah. Hatiku terbakar dan terkoyak oleh pemandangan yang begitu menyeramkan. Negeriku hancur begitu rupa. Yang nampak hanyalah kerangka-kerangka manusia yang berserakan. Gedung-gedung terbakar. Kuburan massal terhampar kaku dihampir setiap sudut kota dan….tak mampu rasanya kulukiskan dengan kata-kata. Karena sungguh sangat tidak beradab. Bara dendam dan api kebencian membakar hatiku. Hatiku terluka dan kian tergores. Orang-orang asing membuat hatiku hancur sedemikian rupa. Air mata membasahi wajahku dan aku hanyut dalam keharuan.

Aku sudah menelusuri hampir seluruh sudut kota. Aku ingin membuktikan kebenaran sebuah berita. Tentang ikrar setia sejumlah anak negeri yang kembali kepangkuan ibu pertiwi. Aku tak mau terjebak dengan komentar militer. Aku ingin mendengar langsung dari nurani rakyat Aceh, rakyatku yang tertindas. Apakah rakyatku yang dulunya kukenal dan kupelajari dari buku-buku sejarah kaum yang pantang menyerah tiba-tiba mengucapkan ikrar setia kepada rezim penjajah. Aku ingin mencari kebenaran diantara musuh kebenaran. Aku ingin mendengar langsung jeritan pilu rakyat kecil yang hatinya tertekan. Ingin kulihat langsung popor senjata yang memaksa rakyat mengucapkan ikrar. Ya…ikrar tentang kesetiaan.

Aku terus berjalan menyusuri sudut-sudut kota yang tak berpenghuni itu. Kota yang tak bertuan. Kota dimana setiap orang harus dianggap musuh negara. Kota tempat setiap orang bebas ditembak, dibunuh dan dibantai. Bersalah atau tidak. Kota, dimana hukum hanya boleh diinjak-injak oleh penegak hukum sendiri. Disini tidak berlaku sikap oposan atau kritis. Karena disini demokrasi telah mati. Ya…demokrasi sudah mati disini.

Aku terus berjalan. Tak banyak kujumpai orang yang lalu lalang, mondar mandir. Atau orang yang duduk berkelompok, ngobrol diwarung-warung kopi atau bersantai di rakit-rakit atau balai-balai seperti dulu ketika persaudaraan adalah hukum yang santun.

Aku terus berjalan. Menelusuri seluruh sudut kota. Tak banyak orang yang kujumpai. “apakah etnis minoritas ini sudah punah oleh program terselubung genocide?” aku terus berjalan ditengah keterasingan, diantara kerangka-kerangka manusia. Aku tak peduli dengan bau amis darah dan bau busuk yang menyesakkan dada. Karena bagiku itulah saksi bisu pembantaian itu yang bisa menggugat sejarah!

“Apakah pengembaraanku akan sia-sia?” aku seakan bertanya pada diriku sendiri. “Tidak……! Aku akan terus mengembara, mencari jejak-jejak sejarah walau etnis minoritas ini telah punah!” tekatku melawan keputusasaan.

“Jangan putus asa! Teruslah mencari kebenaran sejarah. Niscaya pengembaraanmu tidak akan sia-sia. Kelak sejarah akan mencatat pengembaraan ini dengan tinta emas dan kemuliaan” seakan seisi negeri ini memberiku semangat untuk terus mengembara. “yakinlah! Kelak cucumu akan memuji pengembaraanmu sebagai sebuah perjalanan yang penuh sejarah.”

***
Di persimpangan jalan aku menangkap suara kegaduhan warga. Ada keganjilan dan misteri yang belum terjawab. Aku melihat orang-orang berjalan beriring-iringan seperti menghadiri sebuah perhelatan akbar atau mirip sebuah aksi unjuk rasa. Jalan-jalan penuh sesak dengan orang-orang yang lalu lalang. Massa datang dari berbagai penjuru desa. Jalannya tertib dan seolah-olah tidak ada kegaduhan dan konsentrasi massa. Sepertinya ada yang mengomandoi. Karena tidak mungkin massa akan datang dalam jumlah besar karena militer tentu saja tidak suka. Aku kembali penasaran. Dengan cekatan aku menyelinap masuk dalam rombongan itu. Aku ingin tahu banyak ada apa gerangannya?

“Akan kemana orang-orang ini, pak?”

“Ssst…sssat…jangan berbisik. Ikuti saja. Akan ada acara ikrar!”

“Ikrar!” aku kebingungan. Sementara orang yang kutanya tadi sudah berjalan kedepan. Aku kemudian terus berjalan mengikuti rombongan itu.

Aku perhatikan jalan-jalan dijaga dengan ketat laksana ada tamu besar. Kulihat orang-orang berbaju loreng lalu lalang dengan menenteng senjata. Kulihat para serdadu itu mondar-mandir serta siaga penuh. Dengan mengendap sembunyi-sembunyi aku berbaur dengan masyarakat supaya serdadu asing itu tidak menaruh curiga dan menganggapku mata-mata.

“Bagaimana bisa dikumpulkan orang-orang sebanyak ini, pak?” kuberanikan diri bertanya pada seorang massa.

“Sssat…ssst…jangan berbisik. Ikuti saja” jawaban yang kuterima masih sama dengan orang yang pertama. “ kok bisa sebanyak ini, Pak?” aku ulangi lagi pertanyaanku.

“Nggak baca pengumuman dari Bapak Camat?” bapak itu balik bertanya padaku.

“Pengumuman!?” aku kaget setengah bertanya.

“Ya….pengumuman dari mereka……?” jawab orang tadi sembari menunjuk kearah orang-orang yang berseragam loreng lengkap dengan peralatan tempurnya. “kalau nggak ikut dianggap musuh dan……..? Bapak itu tidak melanjutkan lagi kata-katanya.

“Berkumpul semua dalam Meunasah!” perintah salah seorang dari serdadu.

Orang-orang kemudian menuju ke Meunasah. Sedang aku masih penasaran antara mau ikut dan melanjutkan pengembaraan. Aku menjadi begitu terasing diantara orang-orang itu.

Dengan hati-hati aku keluar dari rombongan itu. Aku ingin kabur dan tak mau terjebak dengan skenario bohong yang penuh rekayasa itu. Aku tidak ingin sejarah akan terulang kembali dan kelak orang-orang akan memperdebatkan keikutsertaan itu sebagai keputusan resmi seluruh rakyat negeri ini. Aku tak mau kelak cucuku menggugat pengembaraanku sebagai sebagai sebuah pengkhianatan bersejarah.

Kemudian aku terus berjalan menelusuri negeri ini yang kian tercabik-cabik dengan rekayasa dan ketidakmenentuan. Mencari jejak-jejak sejarah leluhur yang hilang. Tapi….tiba-tiba sebutir peluru menembus kepalaku dan kemudian tersungkur ke bumi menjadi benda mati. Ya…aku mati dalam pengembaraan ini. Kuharap kelak orang-orang akan menganggap pengembaraanku ini sebagai perjalanan yang bersejarah. Sekurang-kurangnya kuburanku akan diberi tanda merah……………!?

Trueng Campli, 7 April 2000
Sumber: www.cybersastra.net (Minggu, 07 Juli 2002)

Note: Saat membuka google dan mencari tulisan-tulisan yang pernah saya tulis, saya menemukan cerpen ini yang pernah dimuat di cybersastra.net. Supaya tidak hilang, sebagai arsip saya posting di blog ini. Saya sebenarnya bukanlah seorang penyimpan arsip yang budiman, soalnya ada puluhan artikel yang pernah saya kliping hilang tidak tahu ke mana. Selain itu, banyak juga artikel yang tersimpan di komputer-komputer yang sempat saya 'kencani' dan tak tahu ada di mana sekarang dokumen itu. Baru-baru ini saya kehilangan sekitar 50 artikel yang pernah saya tulis selama di Jakarta...sedih memang!! Selamat menikmati aja.

Post a Comment

Previous Post Next Post