08 February 2008

Gadis-Gadis Tanpa Kampung Halaman

Lima menit bukan waktu yang lama mengenal seseorang. Dalam waktu lima menit semua bisa terjadi. Seperti dua gadis berseragam sekolah yang sedang nongkrong di Bukit Gundaling, Berastagi (20/06) langsung bisa menebak, ”Abang dari Aceh ya?” ucap mereka, serempak. Aku kaget. Bengong. ”Tahu dari mana kalau aku dari Aceh?” tanyaku tak kalah penasarannya. Tak perlu menunggu lama, mereka menjawab, ”Logat bicara abang mirip logat Aceh.” ujar mereka. Aku hanya mengangguk pelan. Pembicaraan kami pun mengalir.

Salah seorang di antara gadis itu bernama Selfa Apriani (16). Anak pertama dari empat bersaudara ini tercatat sebagai siswi kelas satu SMU 1 Berastagi. Ia sering nongkrong di Bukit Gundaling, apa lagi pada hari libur. Menurutnya, Bukit Gundaling nyaman, indah dan adem. ”Di sini kita bisa melihat kota Berastagi yang padat. Juga dua buah Gunung yang tinggi menjulang,”
Selfa berasal dari Kutacane, Aceh Tenggara. Di Berastagi, dia tinggal dengan saudaranya. Ia mengaku sekolah di sini karena ingin cari pengalaman. Ingin punya teman baru. ”Jika liburan baru pulang ke Kutacane,” ujarnya. Alasannya, jika tinggal di Kutacane, sekolahnya bisa terganggu. Karena ia harus menempuh lima jam perjalanan untuk sampai di sekolah.

Seorang lagi, namanya Evi Hasmayani (16), juga siswi kelas satu SMU 1 Berastagi. Gadis hitam manis ini asli Lawe Desky, Aceh Tenggara. Namun, kedua orang tuanya sudah lama tinggal di Berastagi. ”Kami sudah menjadi warga sini,” ujarnya saat ditanya apakah masih merasa sebagai orang Aceh.

Pernah ke Banda Aceh? Selfa dan Evi saling menatap, seolah menunggu siapa yang duluan harus menjawab. ”Cuma sekali, Bang. Itu pun ketika lulus SMP,” suara Selfa parau. Selfa masih beruntung, sudah pernah sekali ke Ibukota Aceh. Tak demikian halnya dengan Evi. Ia malah tak tahu di mana persisnya kota Banda Aceh. Ia hanya mendengar namanya saja.

Di antara mereka, ada seorang gadis lagi yang juga masih dengan seragam sekolah. Bedanya, jika Selfa dan Evi menggunakan rok panjang dan berjilbab, maka gadis ini cukup nyaman dengan rok pendek dan tak berjilbab. ”Kamu muslim?” tanyaku seperti penasaran. ”Iya, Bang. Aku muslim,” jawabnya singkat. ”Trus, kenapa ga pake Jilbab seperti mereka?” aku menunjuk ke Selfa dan Evi. ”Hmm...belum ada niat aja,” jawabnya sambil membenamkan wajah ke pundak Evi.

Seperti teman-temannya, ia juga memperkenalkan diri. Namanya Diana Sari. Umurnya masih sangat muda, 15 tahun. Namun kedua orang tuanya berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah. Diana juga sudah merasa seperti orang Karo. Dia mengaku belum pernah pulang ke kampung orang tuanya, di Jawa.

Meski lahir di Karo, Diana mengaku sama sekali tak bisa bahasa Karo. Ia hanya mengerti jika ada orang bicara. Demikian juga dengan bahasa Jawa. Di sini dia terbiasa dengan bahasa Indonesia. Apalagi kawan-kawannya juga lebih banyak orang Karo.

Obralan kami terhenti dengan suara anak kecil yang menjajakan strawberry. ”Strawberry bang, cuma 5000 satu bungkus,” begitu dia menawarkan jajanannya kepada kami yang sedang asyik ngobrol. Ucapan serupa dia ulangi lagi ke setiap orang yang ditemuinya. []

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far