06 February 2008

Orang Aceh Lebih Senang Bangun Daerah Lain

Kalau lihat sekilas, orang pasti mengira Silvie seorang model. Wajahnya cantik dan memikat siapa pun. Dulunya Silvie memang pernah menggeluti dunia modeling, meski tak lama. Dunia itu yang kini coba dirintisnya kembali. Kebetulan photographer SUWA, Chaideer, sukses memancing gadis cantik ini untuk bergaya di depan kamera. Meski awalnya agak malu-malu, tapi ternyata Silvie tau posisi dan gaya yang bagus untuk di foto. Salah satu hasil jepretannya kami tampilkan di rubrik sosok SUWA ini.

Pembaca tentu penasaran tentang gadis yang punya hobby menari, menyanyi dan olah raga ini. Nama lengkapnya Silvie Yunara. Ia lahir di Bandung, 23 September 1981. Meski lahir di Bandung, putri Yaya Sunarya ini tak asing dengan Aceh. Umur enam tahun sudah dibawa oleh bapaknya ke Aceh. Bapaknya, dulu bertugas sebagai surveyor dan banyak menangani proyek-proyek pembangunan jalan. Karenanya, semua keluarga Silvie diboyong ke Aceh.

Silvie Yunarsa
Pendidikannya juga lebih banyak di Aceh. Ia tercatat sebagai siswa SD 3 Sigli. Tamat dari SD 3 Vie, begitu ia biasa dipanggil kawan-kawannya, melanjutkan ke SMP 10 Banda Aceh. Sehabis dari SMP, ia melanjutkan di SMU 6 Lamjabat, Banda Aceh. Tamat dari SMA tahun 2000, Silvie tak melanjutkan lagi pendidikannya. Keputusan ini yang sekarang disesalinya. 

Tapi, Silvie tak mau menjadi pengangguran. Bermodal nekad dan keberanian, Silvie memutuskan mengadu nasib di negeri orang. Negeri yang dituju adalah Taiwan. Di di Provinsi yang hendak memisahkan diri dari China ini, Silvie bekerja sebagai pramuniaga. Di Taiwan Silvie hanya satu tahun. Setelah itu, gadis yang juga senang berbelanja ini pergi ke Singapura. Di sini, dia menjadi baby sister. Di Singapura juga hanya 1 tahun.

Sepanjang 2003-2005, kehidupan Silvie boleh disebut sebagai pengembara. Pulang dari Singapura, dia menghabiskan waktunya di Batam dan bekerja di perusahaan elektronik. Di batam juga, ia pernah menjadi Custumer Service untuk F.I.F Finance, perusahaan mitra Astra yang memberikan layanan kredit untuk pembelian Honda.

Bagaimana ceritanya sampai terdampar lagi di Aceh, yang pernah membesarkannya? Kepada SUWA, Silvie mengaku, dia kembali lagi ke Aceh, setahun pasca tsunami (2006). Setelah kembali ke Aceh, mula-mula ia bekerja di CV. AQ. Smart Mediakom. Di sini ia hanya betah bekerja 1 Bulan. Selepas itu, dia masuk ke Aceh People Forum (APF), Lembaga yang dipimpin oleh seorang aktivis Aceh, Tarmizi (Wak Tar).

Di lembaga yang bergerak di bidang kemanusiaan ini, Silvie tak lama juga, tidak sampai satu bulan. Dia lalu mengadu nasib di Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh (BRR). Posisi terakhir di lembaga pimpinan Kuntoro Mangkusubroto ini, Silvie tercatat sebagai Staff Benefecary yang juga sebagai staff Administrasi di lembaga rekonstruksi itu. Tapi, Silvie tak betah juga jadi orang kantoran, buktinya, sesekali dia juga turun ke lapangan dan bergaul dengan masyarakat korban tsunami.

Kerja ini, sebut Vie memberikan kesenangan tersendiri baginya. Meski dia keturunan Jawa, tetapi kehadirannya bisa diterima oleh rakyat Aceh. Kuncinya, sebut Vie, kita harus pandai-pandai bergaul. Orang Aceh, sebutnya, jika didekati dengan baik, akan sangat menyenangkan. Karenanya, Silvie berharap, dengan pemerintahan baru ini, yang berasal dari orang Aceh sendiri, kehidupan orang Aceh menjadi lebih baik. Hal lain yang dikaguminya dari Aceh adalah kuar dalam memegang tradisi Islam.

Tak hanya itu, menurut Silvie, Aceh itu kaya dengan dengan hasil alamnnya. “Sepertinya orang Aceh kaya semua. Beda dengan orang Jawa. Di sini, tak ada orang yang tidur di kolong jembatan, sementara di Jawa banyak orang tidur di kolong jembatan.” jelas cewek yang menguasai bahasa Inggris dan Mandarin ini.

Silvie Yunarsa
Cewek yang punya zodiak Libra ini mengaku terpikat dengan dengan Aceh. Ia sangat menggemari tari Saudati, dan juga senang dengan rencong. Soal makanan, dia suka dengan asam keu-eung. Sesuatu yang khas Aceh, sebutnya sangat memikat hatinya.

Dalam bincang-bincang dengan SUWA, (20/03/07), Silvie juga berkomentar tentang budaya warung kopi. Menurutnya, banyak pemuda Aceh menghabiskan waktunya nongkrong di warung kopi. Hal itu menunjukkan budaya yang malas. Baginya, hal itu aneh. “Tapi asyik juga duduk di warung kopi, banyak hal yang bisa didengar. Di tempat lain, tak ada warung kopi seperti di sini. Itu nilai lebihnya Aceh. Unik.” ujarnya, yang juga sering menghabiskan waktunya di Warung Kopi Jasa Ayah Solong.

Hal yang disesali Silvie dari orang Aceh adalah, orang Aceh itu lebih banyak berkarir di luar Aceh. Orang Aceh lebih senang membangun daerah lain, ketimbang Aceh. “Mungkin di sini, tak diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat.” sebutnya beralasan. “Padahal, jika orang Aceh yang sudah jaya di luar Aceh pulang membangun Aceh, tentu perkembangan Aceh sangat luar biasa.” tambahnya lagi.

Ngomong-ngomong, ada rencana menikah dengan orang Aceh? “Kenapa tidak, jika sudah jodoh. Yang penting orangnya baik dan mengerti Silvie.” ujarnya sambil ketawa. Tapi serius. (fiek)

Photo: chaideer
Sudah dimut di tabloid suwa edisi 9

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak