21 May 2008

Akan

Banyak pejabat kita, kalau berbicara sering menggunakan kata “akan”. Ada juga yang lebih sering menggunakan kata "mungkin", bahkan sering pula kedua kata itu digunakan bergantian. Menggunakan kedua kata ini, sebenarnya tidaklah salah, tapi ketika dipadankan dengan janji dan keinginan, orang yang mengatakan itu jelas sedang bermaksud menipu.

Sampai tulisan ini ditulis, sudah tak terhitung janji yang tak ditepati, baik itu janji para pejabat, politisi, pekerja LSM dan lain-lain. Mereka, ketika berbicara, lebih-lebih di hadapan khalayak, pasti cukup sering menggunakan kata “akan” dan “mungkin”

“Jika saya terpilih, saya akan membangun jembatan dan jalan, dan akan membangun ini, itu dan lain-lain,” begitu janji politisi setiap musim kampanye.

Para pejabat begitu juga. Setiap meninjau ke suatu tempat, pasti mengumbar janji. “Mungkin tahun depan, masyarakat petani akan makmur. Pemerintah mungkin akan membantu para petani dengan modal usaha,” janji seorang pejabat dari Dinas polan.

Selain itu, para pejabat itu kalau berpidato umumnya menggunakan konsep, yang disiapkan khusus oleh tim humas. Pidato tersebut bukan sepenuhnya pemikiran si pembaca pidato (baca:pejabat). Dia hanya tukang baca saja. Padahal, seorang pejabat publik, harus punya kecerdasan komunikasi, dan menyesuaikan dengan lingkungan di mana dia berbicara. Konsep pidato hanya sebagai pegangan saja, jangan melulu terpaku pada teks tersebut.

Maaf saja jika para pejabat begitu saya sebut sebagai pembaca teks pidato. Soalnya, memang begitulah kenyataannya sekarang. Malah, para khatib Mesjid di kota-kota besar sekarang juga ikut-ikutan menggunakan teks. Hal itu menunjukkan kedangkalan ilmu dan pemikiran. Memang, kalau ditelisik lebih jauh, ada peran Orde Baru di dalamnya. Untuk mengontrol para khatib, para penguasa Orde Baru meminta siapa pun yang akan menyampaikan pidato untuk melaporkan dulu isinya, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan.

Tak heran, jika sehabis pidato, sang pejabat atau khatib kadang-kadang tidak tahu apa yang sudah disampaikan. Ini tentu bermasalah, karena janji-janji yang diucapkan itu sama sekali tidak teringat lagi, karena bukan berasal dari pemikiran dia melainkan dari konsep yang ditulis oleh tim khusus.

Makanya, jangan heran, jika dalam setiap pidato, kita mendengar kata-kata “akan” dan “mungkin”. Yang disampaikan itu, sering tidak mampu diwujudkan dalam kenyataan. Kondisi ini sering disebut oleh rakyat di gampong dengan “Uet Jalo Toh Kapai” (Menelan boat, mengeluarkan kapal), sesuatu yang tidak mungkin.

Ingat, rakyat tak pernah kenyang makan kata "akan" dan "mungkin". Perubahan jarang dimulai dengan kedua kata itu! (HA 210508)

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far