10 May 2008

Aneh

Aneh! Itulah kata yang mampu keluar dari mulut saya saat mendengar cerita dari seorang teman. Teman saya itu kerja di lembaga yang gabthat (maaf, ini bukan merujuk pada nama sebuah partai lokal). Lembaga Gabthat yang saya maksudkan itu adalah BRR. Semua orang pasti sudah tahu kalau disebut BRR, lembaga yang tak pernah lepas dari masalah.

Ceritanya gini, setiap pulang kampung, dia selalu menukar ulang recehan 5 ribuan. Setiap ketemu anak yatim, dia kasih sumbangan, masing-masing Rp5 ribu. Tindakan ini selalu dia lakukan setiap pulang kampung.

Tapi, kabar tak sedap muncul: “kiban han dijok, jih kon le peng. Di kerja bak NGO kon le peng,” (bagaimana gak dikasih, dia kan banyak duit. Dia kerja di sebuah NGO, jadi banyak duit) ujar orang di kampungnya. Kabar itu sampai ke telinganya. Besok-besoknya, setiap pulang kampung, dia tidak lagi memberi sumbangan, kecuali untuk saudara dekatnya.

Tindakan ini juga memunculkan pergunjingan dari orang-orang di kampungnya. “Jih peng le, tapi handitem bantu aneuk yatim, hantom dibantu keu meunasah, rugoe na awak gampong kerja dengan gaji le,” (Dia banyak duit, tapi tidak mau membantu anak yatim, tidak pernah membantu surau. Rugi punya orang kampung yang kerja dengan gaji banyak) umpat orang kampungnya. Kabar ini, juga sampai ke telinga dia. Dia pun jadi tak enak, dan menjadi malu pulang ke kampung.

Menurutnya, sudah tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan. Dia memberi sumbangan salah, tidak memberi sumbang lebih salah. Orang kampungnya tidak pernah objektif memberi penilaian.

Cerita seperti ini, bisa saja banyak. Jika ada pekerja NGO yang memberi sumbangan untuk meunasah atau untuk tempat publik, ada saja yang mempergunjing: “Pasti peng nyan hase dari dipeungeut masyarakat.” (pasti duit itu dari hasil menipu masyarakat) Sementara jika si pekerja NGO tidak memberi sumbangan, langsung keluar ocehan: “Rugoe na gaji le, meu keu u Meunasah han dibantu, sang keuneuk eik Haji.” (Rugi aja dia punya gaji banyak, untuk Surau aja ga mau dibantu. Sepertinya mau naik haji)

Itu potret masyarakat kita yang sudah tak mampu lagi menerima perbuatan baik seseorang. Selalu ada saja celah untuk dipersalahkan. Entahlah, mungkin inilah pergeseran nilai masyarakat kita. Kita tak bisa membendungnya.(HA 100508)

Artikel Terkait

4 comments