Kamuflase

Kemarin saya menulis tentang sosial. Hari ini, saya juga menulis tentang sosial, tapi dengan kemasan berbeda. Jika kemarin saya menulis tentang sifat sosial masyarakat Aceh yang ikhlas, maka hari ini kebalikannya: sosial kamuflase.


Tahun 2009 kan sebentar lagi. Memasuki tahun tersebut, khusus di Aceh (di tempat lain mungkin sama juga), pasti kita banyak menemui orang-orang yang murah hati, tapi juga berharap sesuatu. Selain itu kita juga akan menemui para politisi yang sok merakyat. Setiap hari, sepertinya ingin hidup dan dekat dengan rakyat. Tujuah hari dalam seminggu seperti tidak cukup. Mereka mau seminggu jadi sepuluh hari, karena berharap bisa lebih dekat dengan rakyat. Harapan mereka dipilih oleh rakyat juga membesar.

Pada tahun 2009, kita akan melihat proses perederan uang yang cukup besar di Aceh. Para politisi tak sungkan-sungkan menghambur-hamburkan uang percuma: cetak sticker, poster, kaos, baliho, spanduk, dan lain-lain. Selain itu, masih dibarengi juga dengan sumbangan kepada masyarakat, memasang iklan di media. Pokoknya, kita akan menyaksikan para politisi berlomba-lomba masuk syurga karena gemar bersedekah.

Para pemuda di kampung pasti senang, sebab mereka tak perlu lagi membuat proposal permohonan bantuan bola kaki dan bola volley. Karena pasti ada politisi yang langsung berkunjung ke perkampungan sambil membawa bantuan. Bantuan itu diberikan ‘ikhlas’ tanpa perlu proposal. Masyarakat tak perlu teken kuitansi atau tanda terima lainnya.

Para politisi ini juga sangat ramah, dan menyapa siapa saja yang ditemuinya. Jika kebetulan berada di sebuah kampung, masyarakat bisa berbondong-bondong ke warung kopi, karena pasti mendapat traktir kopi, rokok atau makanan apa saja yang dijual di warung tersebut. Kita masyarakat bisa juga bercengkrama dengan mereka, karena mereka sama sekali tak peutimang mbong. Kita juga dapat menemui mereka di mana saja, di kantor atau di tempat lain. Jika kebetulan kita berada jauh dari perkotaan, kita dapat mengirim short message service (SMS), karena SMS kita pasti dibalas, malah jika dia tidak sedang menelepon orang, kita pasti akan diteleponnya.

Begitu mereka terpilih, jangan berharap kita akan dikunjunginya lagi. Malah, nama kampung kita juga tak akan dihafalnya. Jangan pula berharap, kita bisa menemui mereka, karena jawaban yang akan kita terima pasti menyakitkan: “Bapak sedang meeting.” kata ajudannya.

Kita juga tak perlu berharap SMS kita akan dibalasnya, karena bukan hanya nomor kita tak lagi disimpannya, melainkan mereka pasti sudah ganti nomor. Saat mengganti nomor, mereka tak perlu memberitahukan kita, karena kita tidak dibutuhkan lagi. Apalagi, berharap akan ada bantuan bola kaki dan bola volley, karena ajudannya meminta kita membuat proposal. Dan proposal tersebut pasti jadi langganan Recycle Bin (tong sampah). (HA 280508)

Post a Comment

Previous Post Next Post