20 May 2008

Manajemen

Seorang kawan, Hasrul yang sedang berada di Medan membeli sebuah buku untuk saya. Judulnya: La Politica (Politik), karya monumental Aristoteles (384-322). Saya belum selesai membaca semuanya. Tapi isinya menarik, meski ditulis ribuan tahun yang lalu.


Ada beberapa pemikiran Aristoteles, khusunya Bab XII dari Buku Pertama menarik untuk dikaji. Dalam bagian ini, Aristoteles menulis tentang manajemen rumah tangga, unsur terkecil dari sebuah Negara. Menurutnya, dalam manajemen rumah tangga, ada tiga aturan yang berlaku: Pertama, aturan majikan terhadap budaknya (baca: pembantu), Kedua, aturan seorang Ayah, dan Ketiga, aturan seorang suami.

Aturan sang majikan yang diterapkan terhadap budak merupakan bagian daripada ilmu, berupa penguasaan. Meski ada juga yang menyebutkan, aturan yang diterapkan tersebut berlawanan dengan alam. Pembedaan antara budak dan majikan, disebutkan, hanya ada di dalam hukum, bukan secara alamiah. Berlawanan dengan alam, menurut Aristoteles, adalah tidak adil.

Budak atau disebut juga pelayan adalah alat sang majikan, yang dapat digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang optimal, atau bisa juga digunakan untuk mengantisipasi keinginan yang lain. Artinya, budak adalah milik sang majikan yang bisa digunakan menurut selera majikan. Karena budak tidak memiliki diri sendiri sepenuhnya.

Sementara seorang suami dan ayah, mengatur isteri dan anak-anak, keduanya bebas, tetapi aturannya berbeda. Aturan untuk anak-anak disesuaikan dengan aturan di rumah tangga, sedangkan aturan untuk isteri merupakan aturan konstitusional, karena meski ada beberapa pengecualian terhadap tata aturan alam, sang laki-laki secara alamiah lebih sesuai untuk posisi komando daripada perempuan, sama seperti yang tertua dan dewasa lebih superior terhadap yang lebih muda dan belia.

Dalam Negara yang paling konstitusional, sambung Aristoteles, warga masyarakat memerintah dan diperintah secara bergantian, karena ide Negara konstitusi berarti bahwa kedudukan warga masyarakat adalah setara dan tidak berbeda sama sekali. Yang penting bagaimana antara yang memerintah dan yang diperintah saling menghargai satu sama lain.

Begitu juga halnya dengan aturan seorang Ayah kepada anak-anaknya, yang lebih banyak bersifat kerumah-tanggaan, karena sang ayah memerintah lebih dilandasi oleh perilaku mencintai dan menghormati sesuai dengan usia. Jika aturan begitu indahnya, sangat disayangkan ketika ada ayah yang tega mengorbankan anak-anaknya, lebih-lebih jika sampai merusak anak gadisnya seperti menghamili atau menjualnya. Hal ini jelas salah.(HA 200508)

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far