05 May 2008

Merawat Ingatan, Mengenang Tragedi Simpang KKA

Tanggal 3 Mei punya banyak ingatan bagi warga Aceh Utara, juga bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Tanggal tersebut selain bermakna resistensi atau perlawanan rakyat melawan negara, juga sebuah kenangan buruk, betapa negara begitu semena-mena terhadap rakyatnya. Karenanya, saban tahun—meski tak rutin karena kondisi Aceh tak selalu kondusif untuk mengenang tragedi—warga Aceh Utara khususnya para korban tragedi Simpang KKA memperingatinya.

Sekadar merawat ingatan, Senin, 3 Mei 1999 atau sembilan tahun silam, banyak darah berceceran di sekitar simpang PT KKA. Jeritan dan tangisan para korban memekak telinga siapa saja yang pernah mendengar. Saat itu, harga peluru serdadu begitu murahnya, karena bisa dihambur-hamburkan dengan sangat mudah. Setelah itu, puluhan mayat dan ratusan korban tergeletak, ada yang sudah kaku, banyak juga yang masih bernyawa sambil merintih, yang lainnya berlarian seperti dikejar air tsunami, mencari tempat yang bisa dijadikan tempat berlindung.


Saat tragedi itu, korban luka-luka tak terhitung. Data yang dikumpulkan Tim Pencari Fakta (TPF) Aceh Utara menyebutkan 115 orang mengalami luka parah, sementara 40 orang lainnya meninggal dunia. Dari jumlah itu, ada 6 orang masih sangat kanak-kanak, termasuk Saddam Husein (7 tahun) menjadi korban kebuasan aparat negara.

Sementara data yang dikeluarkan Koalisi NGO HAM Aceh, menyebutkan sekitar 46 orang meninggal (dua orang meninggal ketika menjalani perawatan di RSUZA Banda Aceh), sebanyak 156 mengalami luka tembak, dan 10 orang hilang dalam insiden tersebut.

Sabtu 3 Mei 2008 kemarin, berarti sudah sembilan tahun tragedi itu berlalu. Banyak pihak boleh melupakan peristiwa itu, tapi tidak bagi para korban. Jamaluddin, misalnya, hingga kini masih tak bisa melupakan tragedi paling kejam dalam hidupnya itu. Jamal, pria kelahiran Sawang, Aceh Utara ini mengisahkan, saat peristiwa itu terjadi, dirinya melihat banyak sekali korban tembakan yang rubuh. Jamal juga mendengar jeritan tangis dari para ibu dan bapak yang melihat warga tertembak.

Jamal mengisahkan, saat tragedi itu, tubuh-tubuh warga yang kena tembakan jatuh menindihnya. Dengan sisa tenaga yang ada, mayat-mayat tersebut diambil dan diletakkan di tempat yang layak. Jamal tak tahu harus berkata apa saat itu. Beruntung, Jamal sendiri luput dari maut. Tapi, suaranya hingga kini belum kembali normal seperti biasa.

Jamal berharap Pemerintah Aceh tidak melupakan peristiwa itu. Kalau kita sepakat ini pelanggaran HAM, pelakunya harus diadili. Karena itulah keadilan bagi korban. Jamal sendiri merupakan anggota GAM Wilayah Pase. Pascadamai, dia sibuk mengurusi para mantan kombatan GAM yang mengalami luka tembak saat konflik. Dia dipercayakan sebagai Ketua Bidang Kesehatan dalam struktur Komite Peralihan Aceh (KPA), wadah tempat bernaung para mantan kombatan GAM.

***
Pada Sabtu kemarin, puluhan korban konflik, anggota KPA dan masyarakat menggelar acara doa bersama mengenang peristiwa 9 tahun silam tersebut.

Tgk Safri Ilyas, Ketua Panitia Pelaksana kepada wartawan selepas acara itu meminta agar tidak mengaitkan acara doa bersama yang digelar pihaknya dengan kegiatan politik atau ada bumbu-bumbu politiknya. Menurutnya, kegiatan ini murni inisiatif para korban selamat tragedi Simpang KKA untuk mengenang para korban yang telah syahid.

“Kegiatan doa bersama itu bukan karena adanya unsur dendam, atau karena keinginan membalas dendam. Acara ini bukan pula kegiatan politik. Melainkan catatan sejarah yang harus diingat bersama, di mana di jalan hitam ini telah bersimbah darah,” ujarnya.

Doa bersama itu bisa juga bermakna merawat ingatan, agar siapa saja tidak melupakan noktah hitam dari sejarah Aceh. Inilah sisi gelap perjalanan Aceh yang harus diingat oleh siapa saja. Selain itu juga mengingatkan, bahwa damai bukan dicapai dengan modal kosong tanpa pengorbanan apa-apa.

Karenanya, kita ingin agar peristiwa ini tidak terulang lagi, seperti bunyi sebuah spanduk saat peringatan serupa tahun lalu: “Kasep Ubee nyang ka, bek meu ulang lee” (Sudah cukup apa yang sudah terjadi, jangan sampai terulang lagi).

Meskipun sudah cukup apa yang sudah terjadi, tapi bagi para korban, keadilan di atas segala-galanya. Para korban selamat atau keluarga mungkin bisa saja memaafkan pelaku kejadian itu, tetapi mereka tidak bisa melupakannya. Tapi, para pelaku harus tetap diadili, agar menjadi pelajaran, sehingga peristiwa serupa tidak terulang. Sementara pemerintah berkewajiban membantu para korban yang selamat, keluarga korban dengan memberikan kompensasi atau pun bantuan, sebagai bentuk pengakuan bahwa pemerintah telah bersalah mencelakai rakyatnya.

Permintaan para korban tragedi agar tanggal 3 Mei dijadikan hari berkabung untuk mengenang tragedi simpang KKA, dengan menghentikan aktivitas pada Jam 11.00 s/d 14.00 WIB patut didukung. Karena dengan cara inilah, kita mengenang sejarah hitam negeri kita. Dengan cara inilah, membuat kita selalu ingat bahwa keadilan untuk para korban belum sepenuhnya dipenuhi.

Karena itulah, tulisan ini dibuat untuk merawat ingatan, siapa saja, agar tragedi ini terus dikenang, meskipun pahit. Sama sekali tidak ada maksud apa-apa dari tulisan ini, selain merawat ingatan, bahwa perjalanan sejarah kita pernah punya babak yang sangat gelap.

------------------------------------------------------
Kronologis Tragedi Simpang KKA (3 Mei 1999)
Data Koalisi NGO HAM Aceh (Aceh N.G.O's Coalition for Human Right)

Pola kejadian : Pembantaian sipil.
Hari / Tanggal : Senin (3 Mei 1999)
Pukul : 12.30 WIB
Tempat : Simpang KKA Krueng Geukueh, Kec. Dewantara,
Aceh Utara
Pelaku : Aparat dari satuan Den Rudal 001 dan Yonif 113
Aceh Utara.
Saksi mata : masyarakat Simpang KKA Dewantara Aceh Utara


Kronologis:

1. Pra kejadian

Jumat malam, 30 April 1999
Sekitar jam 20.30 WIB masyarakat Desa Cot Murong, Kecamatan Dewantara, mengadakan rapat akbar untuk memperingati 1Muharram yang bertepatan dengan 30 April 1999. Oleh pihak keamanan, peringatan 1 Muharram yang biasa diselenggarakan oleh masyarakat Islam di mana pun di seluruh Propinsi Aceh, disebut sebagai ceramah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Lalu muncul kabar bahwa seorang anggota TNI dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berpangkat Sersan, bernama Adityawarman, hilang saat melakukan penyusupan di tengah kegiatan ceramah (Keterangan Kapuspen TNI, nama anggotanya yang hilang itu adalah Sersan Kepala Edi, dari Den Rudal 001/Pulo Rungkom, Aceh Utara).

Tidak jelas apakah anggota TNI itu benar hilang atau terjadi berbagai kemungkinan lainnya, tetapi yang pasti tidak satu pun dari penduduk yang mengetahui keberadaannya. Dan yang pasti lagi, malam itu tidak terjadi apa-apa yang berarti di Desa Cot Murong.

Sabtu malam, 1 Mei 1999
Sebuah truk militer dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berputar-putar di kawasan Desa Cot Murong dengan aktivitas yang tidak jelas, tetapi hari itu tidak terjadi apa-apa.

Minggu pagi, 2 Mei 1999
Mulai pukul 05.00 WIB pasukan Den Rudal 001/Pulo Rungkom mulai melakukan operasi di kawasan Desa Cot Murong. Pada minggu pagi itu masyarakat sedang melakukan persiapan pelaksanaan kenduri memberi makan untuk anak-anak yatim sehubungan dengan peringatan 1 Muharram yang dilaksanakan sejak Jumat malam sebelumnya. Masyarakat memotong 4 ekor lembu di halaman Masjid Al-Abror, Cot Murong.

Pada saat itulah, sekitar jam 11.00 WIB datang pasukan Den Rudal ke tempat kenduri dan dengan dalih menanyakan anggotanya yang hilang sehari sebelumnya mulai memuli warga setempat. Dilaporkan, waktu itu ada tidak kurang 20 orang yang dianiaya oleh anggota TNI tersebut. Praktek kekerasan dan penganiayaan dengan bertindak kasar, menampar dan memukuli hingga cedera, telah terjadi.

Ketika sedang melancarkan aksinya, penduduk sempat mencatat kata-kata yang dikeluarkan para anggota TNI yaitu "AKAN KAMI TEMBAK SEMUA ORANG ACEH APABILA SEORANG ANGGOTA KAMI TIDAK DITEMUKAN".

Menyadari kondisi yang mulai mencemaskan tersebut kemudian para warga dari Desa Murong dan desa-desa tetangga seperti Desa Lancang Barat, Kecamatan Nisam dan Paloh Lada, yang terdiri dari pemuda, wanita, orang tua serta anak-anak berkumpul untuk mencegah kemungkinan penganiayaan lebih lanjut, apalagi aparat militer telah mengeluarkan ancaman yang cukup menakutkan.

Tiba-tiba, pada pukul 13.00 WIB datang lagi pasukan tambahan yang terdiri dari 7 truk anggota TNI ke lokasi kenduri. Melihat itu, masyarakat yang telah berkumpul dari berbagai penjuru Kecamatan mencoba menghadang.

Tepat pukul 14.00 WIB terjadi negosiasi (membuat perjanjian) antara masyarakat Kecamatan Dewantara dengan Danramil Kecamatan Dewantara yang diketahui pihak MUI Kecamatan, yang isinya: "TNI tidak akan datang lagi ke Desa Cot Murong dengan alasan apapun".

Minggu malam, 2 Mei 1999
Masyarakat desa mengetahui adanya penyusupan anggota TNI antara jam 20.00 WIB sampai dini hari ke Desa Cot Murong dan Desa Lancang Barat. Bahkan penduduk pun mengetahui adanya sebuah boat yang diperkirakan milik militer berupaya untuk melakukan pendaratan di pantai Desa Cot Murong, namun batal karena terlanjur diketahui oleh warga setempat. Sampai waktu itu tidak terjadi apa-apa, namun kecemasan penduduk semakin memuncak, dan sejak saat itu mereka semua mulai berkumpul sampai Senin pagi.

Senin pagi, 3 Mei 1999
Tepat pada pukul 09.00 WIB, 4 truk pasukan TNI datang lagi memasuki Desa Lancang Barat, desa tetangga Cot Murong. Massa rakyat yang berkumpul merasa cemas dan mulai mempersenjatai diri dengan kayu dan parang (tanpa senjata api). Lalu datang Camat Dewantara, Drs. Marzuki Amin ke Simpang KKA dan mulai melakukan negosiasi dengan aparat TNI. Aparat bersikeras dan negosiasi mentok. Camat tetap berpegang kepada perjanjian terdahulu yang telah disepakati oleh masyarakat dengan Koramil Dewantara yang intinya pihak TNI tidak lagi melakukan kegiatan operasi di daerah mereka.

Negosiasi itu berlangsung cukup lama. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 12.00 WIB.
Untuk menunjukkan kesungguhan hati dan permohonan yang sangat besar agar pasukan segera ditarik dan pihak TNI menghormati perjanjian yang telah dibuat, Camat Marzuki Amin sempat mencopot tanda jabatan dari dadanya. Tetapi malah sang Camat kemudian dipukuli oleh tentara.

Pada saat itu tiba-tiba satu truk milik TNI bergerak dan sambil berlalu, dari atas truk para tentara melempari batu ke arah masyarakat, dan masyarakat yang terpancing balas melempari batu ke atas truk. Pada saat yang hampir bersamaan juga seorang anggota tentara berlari ke arah semak-semak dan masyarakat yang terpancing mengejarnya. Tiba-tiba dari arah semak itu terdengar satu letusan senjata. Letusan senjata itulah yang seperti sebuah "komando" disusul oleh rentetan serangan. Pembantaian segera dimulai. Tepat jam 12.30 WIB.

2. Saat Kejadian.

Pukul 12.30 WIB.
Suara gemuruh dan teriakan manusia memenuhi Simpang KKA. Ribuan orang berlarian menghindari serangan dari TNI. Dua wartawan RCTI (Umar HN dan Said Kaban) yang kebetulan sudah berada di tempat itu sempat merekam momen-momen penting yang terjadi baik dengan foto atau video. Dapat dikatakan, hasil rekamannya itu menjadi salah satu bukti yang paling akurat dan tidak mungkin dapat dipungkiri tentang bagaimana peristiwa yang sebenarnya.

Tembakan yang dilakukan tanpa peringatan terlebih dahulu dan dengan posisi siap tempur. Tentara yang di bagian depan jongkok dan yang berada pada barisan belakang berdiri. Selain itu, tentara yang berada di atas truk juga terus melakukan tembakan sambil melakukan gerakan-gerakan tempur. Saat itu penduduk yang tidak lagi sempat lari melakukan tiarap tapi terus diberondong.

Selain melakukan tembakan ke arah masa, TNI juga mengarahkan tembakan ke rumah-rumah penduduk, sehingga banyak warga yang sedang di dalam rumah juga menjadi korban. Bahkan mereka mengejar dan memasuki rumah-rumah penduduk dan melakukan pembantaian di sana.

Ketika melakukan tembakan para anggota tentara itu juga berteriak-teriak. Kalimat yang paling sering diucapkan adalah "Akan kubunuh semua orang Aceh". Banyak penduduk yang sudah tertembak dan tidak bisa lari lagi masih terus diberondong oleh tentara dari belakang. Mereka benar-benar melakukan pembantaian seperti sebuah pesta. Sumber: Koalisi NGO HAM Aceh

NB: sudah dimuat di rubrik fokus Harian Aceh, Senin 5 Mei 2008

Artikel Terkait

2 comments

Membaca tulisan ini mengingatkan saya pada banyak 'ingatan' yang mesti 'dirawat'. Bukan, bukan karena rakyat Indonesia ingatannya pendek, tapi ada terlalu banyak tragedi yang jika tidak 'dirawat' dalam ingatan, maka akan mudah terhapus tragedi-tragedi selanjutnya.

Menulis kembali kisah kekejaman hanya untuk memperingatkan generasi masa depan agar tidak mengulangi kekejaman yang sama.


EmoticonEmoticon