23 June 2008

Lumpoe

Lumpoe atau geulumpoe (mimpi, terj) sering dialami oleh orang yang sedang tidur. Tetapi, tidak semua orang yang sedang tidur mengalami geulumpoe atau lumpoe. Ada juga yang tidak pernah mengalaminya (baca: jarang). Namun, sekarang, lumpoe tak hanya milik mereka yang sedang tidur, sebab orang jaga pun mengalaminya. Untuk orang seperti ini, sering disebut dengan, “cot-cot uroe timang pih geulumpoe,” atau sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Dewasa ini, orang ‘jaga’ pun sering geulumpoe dan bukan geulumpoe cilet-cilet, tapi geulumpoe raya panyang. Harapan yang terlalu berlebihan, sementara kemampuan terbatas. Namun, banyak juga orang yang merenda masa depan dari sebuah mimpi. Einstein, Newton, Edison, dll, misalnya, memulai sebuah penciptaan dan penemuan mereka dari sebuah mimpi. Orang-orang tidak pernah percaya terhadap sesuatu yang mereka mimpikan, tetapi ketika berhasil, mereka pun dipuja.

Tetapi, hati-hati, jika terlalu banyak geulumpoe, bisa berbahaya. Apalagi jika tidak didukung dengan kemampuan atau peluang. Mimpi seperti ini bisa berakhir di sebuah rumah sakit jiwa.

Saya menduga, orang Aceh sekarang banyak hidup atau terbuai dengan mimpi-mimpi. Sering bukan mimpi mereka sendiri, melainkan mimpi orang lain. Tetapi, mimpi tersebut tak pernah jadi kenyataan. Anehnya, meski jarang jadi kenyataan, besoknya ketika mereka diajak bermimpi lagi, orang Aceh tak pernah membantahnya. Mereka mau saja diajak terbuai kembali oleh mimpi.

Kita sudah pernah diajak untuk geulumpoe perubahan, geulumpoe hidup sejahtera, geulampoe untuk merdeka, tapi kenyataannya kita tetap masih terjajah, miskin dan terbelakang. Kita juga sering dikasih lumpoe bakal ada kereta api bawah tanah, kebun sawit rakyat, tetapi rakyat sendiri tidak pernah tahu bagaimana kereta api bawah tanah itu, serta bagaimana bentuk kebun sawit rakyat.

Ada yang mengatakan, lumpoe merupakan setengah dari kesuksesan. Orang yang bisa bermimpi berarti orang tersebut sudah mempersiapkan peluang untuk sukses. Atau setidaknya, tahu apa yang hendak dicapai ke depannya. Bisa jadi benar, bisa jadi salah. Namun, untuk kondisi sekarang, mimpi saja tidak cukup.

Saya punya contoh bagus. Ada seorang pengrajin madu (bisa saja pengrajin pemula). Suatu hari dia melihat sebuah pohon besar yang punya sarang madu. Dengan sedikit kemampuan magic, dia berhasil mengusir lebah dan mengambil madunya. Dia mengisi madu tersebut dalam botol yang jumlahnya puluhan. Dia sangat senang ketika melihat jumlah botol di hadapannya, dan dalam hatinya berkata: Saya akan jadi orang kaya. Per botol akan saya jual Rp35 ribu. Uangnya nanti saya pergunakan membeli Ayam. Ketika ayam berkembang biak dan banyak, saya jual, lalu saya beli kambing. Ketika kambing jadi banyak, saya menjualnya, dan uangnya saya pergunakan membeli Kuda.

“Wow, saya senang sekali. Keinginan saya membeli kuda akhirnya jadi kenyataan. Saya akan memacu kuda dengan kencang, dan kalau perlu saya ajak melompat tinggi,” gumannya dalam hati. Tanpa sengaja, ketika memperagakan gaya kuda meloncat, satu kakinya terkena botol Madu, akhirnya, menimpa botol yang lain sehingga terjatuh: madu tumpah. Saat itu, dia pun sadar, bahwa mimpinya tinggal hayalan belaka.

Jika ini yang terjadi, jangan marah ketika Bang Joni (pemain film Eumpang Breuh) menyindir: Eh Malam! (HA 230608)

Artikel Terkait