19 June 2008

Masjid

Saya menulis pojok tentang Masjid hari ini tak bermaksud apa-apa. Bukan karena saya sudah alergi dengan Masjid. Sama sekali bukan. Entah benar, entah tidak saya tidak tahu, bahwa Masjid Raya sekarang selain menjadi tempat ibadah juga tempat bercengkrama/pacaran. Tak sulit menemukan sepasang remaja berbeda jenis kelamin duduk di halaman Masjid sambil tertawa dan sesekali dengan ‘colekan-colekan’ ringan.


Malah, saya mendengar seorang kawan bercerita, kebetulan dia duduk berdekatan dengan sepasang kekasih yang sedang merenda “masa depan.” Bagi kawan saya terasa aneh saja, ketika Masjid dijadikan saksi resminya mereka berpacaran. “Jika adik tidak percaya kalau abang sangat cinta sama adik, Masjid Raya ini jadi saksi, bahwa Abang sangat mencintai adik,” ujar si Pemuda sambil berdiri dan menujukkan ke arah Masjid.

Mendengar cerita kawan tadi, saya jadi berfikir bahwa Masjid tak hanya menjadi tempat ibadah, atau tempat memuja Tuhan, melainkan berfungsi sebagai saksi bagi orang yang berpacaran. Kita akui, kalau Masjid Raya belakangan ini tak hanya dikenal sebagai Masjid termegah di Asia Tenggara, atau symbol ke-Acehan, melainkan juga sebagai tempat berbagai aliran bertarung, menanamkan pengaruhnya. Masjid Raya juga sudah “dilegalkan” sebagai kawasan wisata. Entahlah, apakah Masjid Raya juga menjadi objek wisata seperti kampanye Pemerintah Kota Banda Aceh, yang menjadikan Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami. Saya tidak tahu pasti.

Ada juga yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa di Masjid Raya masih digunakan plang nama untuk para “pembesar” (bukan besar perut tentunya) atau para pejabat yang shalat di shaff terdepan. Saya tidak tahu, apakah hal itu masih ada sekarang atau tidak, karena sudah lama saya tidak pernah ke Masjid Raya lagi. Jika masih ada, itu sangat disayangkan, karena pengurus Masjid sudah menyelewengkan fungsi Masjid.

Padahal, seharusnya Masjid berfungsi sebagai tempat semua manusia dinilai sederajat, tidak dibeda-bedakan berdasarkan status sosial. Karena saat beribadah kepada Allah, tidak ada lagi yang namanya Gubernur, Kapolda, Pangdam, dan atau Kajati. Yang ada hanya hamba-hamba Allah.

Soal penyelewangan, sebenarnya, sejak dulu sudah terjadi. Misal, ketika Aceh sedang gawat-gawatnya. Saya sempat melihat beberapa bendera Merah Putih berukuran besar dinaikkan di beberapa bagian Masjid (bukan di tempat biasa). Kita akui, tindakan itu tidaklah salah, tapi, kita menangkap kesan politis di sana. Ada pertarungan nasionalisme yang kuat, dan sudah memasuki areal Masjid. Seolah-olah dengan menaikkan bendera berukuran besar di Masjid sudah menunjukkan bahwa orang Aceh sudah ditundukkan, dan satu pihak sudah dikalahkan.

Tapi homlah, itu sudah masalah politis, saya tidak mau terjebak. Hanya saja, saya ingin sampaikan bahwa fungsi Masjid sudah banyak berubah sekarang. Malah, saya pernah menanyakan kepada seorang kawan, ketika bergegas dan buru-buru memasuki Masjid. Saat saya tanyakan mau kemana, dengan enteng kawan saya menjawab: “Lon jak toh iek dilee.”
Dalam hati saya berfikir, kok toh iek harus ke Masjid? Bukankah Masjid tempat untuk orang beribadah memuja Tuhan!

Saya yakin, perilaku kawan saya tidak hanya terjadi di Banda Aceh, malah, Masjid di sepanjang jalan Banda Aceh-Medan sudah menjadi tempat toh iek. Pengguna jalan, yang menempuh perjalanan jarak jauh, pasti sering berhenti di Masjid, kadang-kadang bukan karena mau Shalat, melainkan sekedar rhah muka dan toh iek (ada juga yang toh ek).
Tetapi kita tetap berharap, agar tidak ada Masjid di Aceh yang berubah menjadi Masjid Drirar yang pernah dibakar oleh para sahabat Nabi karena sudah menjadi tempat berkumpulnya kaum munafik yang berniat mennggagalkan dakwah Nabi. (HA 190608)

Artikel Terkait