15 July 2008

Ayat

Masih ingat Salman Rusdhie? Seorang Muslim keturunan India yang menerbitkan novel The Satanic Verses tahun 1988. Karena Novelnya, pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Ruhullah Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati dan menghalalkan darahnya pada tahun 1989.

Khomeini bahkan menawarkan hadiah untuk siapa saja yang bisa menangkapnya hidup atau mati dengan jumlah yang cukup banyak.

Yayasan Khordad XV, badan kebudayaan di Iran, menyediakan hadiah 2,8 juta dolar Amerika Serikat (sekitar 25,2 miliar rupiah) bagi kepala Rushdie. Sementara Yayasan lain, Markasbesar untuk Penghormatan bagi Pahlawan Gerakan Islam Dunia, meningkatkan hadiah awal 2004 senilai 100.000 dolar Amerika Serikat (lebih kurang 900 juta rupiah) untuk kematian Rushdie menjadi 150.000 dolar Amerika Serikat (kira-kira 1,3 miliar rupiah).

Umat Islam seluruh dunia mengutuk Rusdhie. Respon yang sama juga terjadi atas peredaran film Fitna karya Geert Wilders. Sampai-sampai Quraish Shihab menerbitkan buku Ayat-ayat Fitna untuk melawan tuduhan-tuduhan Geert.

Tapi, jangan heran jika beberapa hari ke depan sampai Pemilu dilaksanakan bakal banyak beredar ayat-ayat, tak hanya di Aceh tapi di tempat lain. Soalnya, ayat-ayat masih mujarab untuk dijual dalam kampanye. Jangan berharap yang dijual nantinya “Ayat-ayat cinta” melainkan “ayat-ayat politik”.

Saya masih ingat tahun 1992 atau 1997, ketika para jurkam Golkar menjual ayat dari satu panggung kampanye ke panggung kampanye yang lain. Bibir para jurkam ini sangat fasih menggunakan ayat-ayat Al Quran dan Hadist Nabi untuk mendulang suara dari rakyat. “Kupue kapileh jih, nyan kon awak publoe ayat untuk saboh keurusi,” ujar orang tua-tua di Kampung yang fanatik sama PPP.

Orang Aceh ada juga yang bilang begini, “Hadist keu tungkat, ayat keu belanja.” Pokoknya untuk para jurkam ini, konotasinya jelek. Meskipun mereka fasih membacakan ayat, tapi menurut masyarakat mereka adalah munafik.

Tapi, fenomena adu ayat, pasti akan lebih semarak nanti. Para jurkam pasti mencari ayat-ayat yang cocok untuk nomor urut partainya. Menurut mereka, menggunakan ayat juga salah satu strategi memenangkan pemilu. Moment ini sebenarnya bagus juga, artinya para jurkam kembali mau membuka Al Quran, meski tujuannya untuk kekuasaan. Tak perlu heran, memang sekarang lagi zamannya orang menjual ayat. Semua akan dilakukan, yang penting bisa duduk di parlemen.

Tahu Partai Golkar kan? Partai ini dulunya sangat kencang menggunakan ayat dalam setiap kampanye.

Biasanya mereka menggunakan Surat Ibrahim ayat 24, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” Para jurkam Golkar menganggap ayat ini diperuntukkan untuk partai Golkar. Artinya, secara agama keberadaan Golkar direstui.

Hadist juga sering digunakan, yaitu “Khairul umuri au tsatuha (Sebaik-baik urusan adalah pertengahan).” Tapi sekarang Hadist ini sudah tidak bisa digunakan lagi, karena sekarang jumlah partai sudah sangat banyak. Sementara pada Tahun 1992 dan 1997, jumlah partai hanya tiga, di mana Golkar mendapatkan nomor urut 2. Jadi, dari Hadist ini, para jurkam Golkar meyakini Hadist ini sebagai bentuk justifikasi untuk partainya.(HA 150708)

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far