23 August 2008

Catur

Ketika sedang duduk di kantor, handphone Saya berdering. Seperti biasa, Saya agak malas mengangkat Hp, apalagi kalau sedang bekerja. Tetapi, karena yang menelpon seorang kawan dan namanya terecord, Saya mengangkatnya. Saya kadang-kadang ngeri juga jika sampai nggak mengangkat, sebab biasanya yang telepon itu terkait perkara penting—yang pasti bukan urusan proyek atau tender—melainkan sering terkait berita sedih. Saya masih ingat, bagaimana ketika saya matikan Hp selama dua minggu karena sedang fokus menulis skripsi, ternyata seorang kawan yang sangat saya segani dan hormati dan selalu jadi tempat saya meminta nasehat berpulang ke rahmatullah. (Semoga Allah menempatkannya di tempat yang layak).

Jangan pula dipahami, bahwa seringnya Saya mematikan Hp karena takut ancaman, seperti yang dialami para Kepala Dinas. Ini terjadi, misalnya, sehabis mengumumkan pemenang tender, para Kepala Dinas sering mematikan Hp, mengalihkan ke nomor lain, atau malah sering mengalihkan nomor telepon rumah, atau ke nomor asing di luar daerah. Pasalnya, sehabis menerbitkan pengumuman, pasti banyak pihak memprotes, kenapa perusahaannya tidak lolos, atau ada yang sampai mengancam. Makanya, Seperti saya dengar dari kawan-kawan kontraktor lokal, sehabis menempel pengumuman, selama seminggu atau kadang-kadang lebih, para Kepala Dinas (atau panitia tender) memilih ke luar daerah untuk beristirahat.

Tapi, yang pasti, bukan hal itu yang mau Saya sampaikan di sini. Saat menerima telepon, sang kawan yang berada di seberang bertanya, “Pat posisi bang?”. Pertanyaan pendek seperti itu, selalu saya jawab pendek pula, “Di Kantor.” Tak ingin dianggap cuek, Saya lalu bertanya, “Pat nyoe?”. Sang kawan bukannya menjawab lokasi di mana dia berada, melainkan mengajak ngopi. “Jak jep kupi u Romen jak,” ajaknya. Karena tak mau mengecewakan orang yang sudah menawarkan jasa baik, Saya mengiyakan, “Preh inan 7 menit teuk beh!” Saya lalu meluncur ke sana.

Rupanya, meski bukan menyangkut urusan proyek, tetapi pertemuan singkat tersebut Saya rasakan manfaatnya. Sang kawan, sebut saja namanya Hasrul, meminjami Saya buku bagus. Sudah beberapa kali dia memprovokasi saya untuk membaca buku tersebut, yang menurutnya sangat bermanfaat. Tetapi, saya selalu tidak bergairah, sebab, belakangan ini memang Saya sudah jarang baca buku. Tapi gairah Saya akan berbeda jika buku tersebut sebuah novel. Saya masih ingat, bagaimana ketika seorang kawan yang pergi ke Medan dan menanyakan mau dibawa oleh-oleh buku apa. Tanpa ba-bi-bu, saya langsung jawab, ‘Saya belum baca novel Ketika Cinta Bertasbih’. Sepulang dari Medan, si kawan membawa buku tersebut untuk Saya, dan sebuah buku lain, yang juga menarik yaitu ‘Jalan Tikus Menuju Kekuasaan’. Buku terakhir ini, sangat bagus jika dibaca oleh para caleg yang sangat menggebu-gebu ingin merasakan empuknya kursi di gedung dewan.

Langsung saja, karena tidak ingin mengecewakan kawan yang sudi meminjami buku untuk saya, tak ada salahnya jika saya menulis sedikit saja isi yang sempat Saya baca. Maklum, tugas masih banyak, dan tak sempat membaca semuanya. Dari judulnya saja, buku ini sudah menarik, Secrets of Power Negotiating (Rahasia Sukses Seorang Negosiator Ulung) karya Roger Dawson dan sudah terbit (edisi kedua), tahun 2002. Saya percaya, banyak orang sudah membacanya.

Pada bagian pertama, penulis mengajak kita untuk memosisikan power negotiating dengan seperangkat aturan seperti dalam permainan catur. Dawson berpendapat antara negosiasi dan catur memiliki perbedaan yang cukup besar. Jika dalam negosiasi, pihak lawan tidak mengetahui aturan-aturannya, dan hanya akan memberikan respons yang bisa diduga terhadap langkah-langkah yang kita buat. Sementara, dalam permainan catur, langkah-langkah atau gerakan yang sering disebut gambit (atau gerakan awal untuk mendapatkan keuntungan dengan mengorbankan bidak/pion), biasanya selalu melibatkan risiko, dan tak terduga. Tetapi, kita bisa meminimalkan risiko tersebut, ketika tahu kapan saat menyerang lawan, dan kapan bertahan, sambil mencuri kesempatan menaklukkan lawan.

Dawson mengajak kita untuk berhati-hati dalam melakukan gambit. Gambit-gambit awal, katanya, sebagai permulaan permainan, di mana kita bisa mengontrol jalannya permainan sesuai keinginan kita. Sementara pada gambit tengah, kita harus siap-siap mempertahankan negosiasi tetap berkembang sesuai kehendak kita, sambil mencari letak kelemahan lawan, dan pada saat yang tepat kita harus menggunakan gambit penutup saat kita men-skak pihak lawan, sehingga lawan tidak sempat berfikir cara mengantisipasinya. Menurut Dawson, keberhasilan kita menundukkan lawan atau lawan menundukkan kita, sebenarnya, sangat terkait bagaimana kita melakukan gambit-gambit awal. Kita perlu melakukan evaluasi atas setiap langkah yang kita lakukan, mempelajari langkah lawan termasuk susunan-susunan bidak yang hendak kita korbankan untuk memancing lawan.

Saya percaya, dalam politik juga berlaku aturan seperti dalam permainan catur. Makanya, di film-film, permainan catur sering dipergunakan sebagai adegan pendukung ketika seseorang ingin mengalahkan lawan, atau memprediksi kejatuhan sendiri (kalah). Tak salah jika permainan politik yang kita lakoni sekarang ini, tak ubahnya seperti sebuah permainan catur. Kita berharap menang, begitu juga lawan kita. (HA 230808)

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far