27 August 2008

Reudok

Reudok gohlom teunte ujuen. Mendung tak berarti hujan. Begitu kira-kira bunyi sebuah bait lagu. Tapi, tahukah apa itu Reudok? Demikian seorang kawan bertanya. Reudok ya suatu kondisi cuaca, di mana muncul tanda-tanda bakal turun hujan. Lalu, jika ada yang mengatakan, Reudok hana ditupue! Apakah Reudok di sini dapat disebut menggambarkan kondisi cuaca? Rasanya tidak. Sebab, bisa jadi (pasti), Reudok di sini dilakabkan untuk orang-orang yang klo prip, ureung hana peureumuen sapue. Bisa juga berarti orang bodoh.


Ada lagi kata yang selalu disebut dekat dengan kata Reudok yaitu dok. Dok, menunjukkan untuk orang-orang yang ingin melakukan semua hal sekaligus. Orang dok, biasa ditemui ketika cuaca sedang Reudok, di mana semua terlihat sibuk, lari ke sana kemari, untuk menyelamatkan padi agar tidak terkena hujan. Ada yang ambil eumpang, kertas, drom, atau semua media yang bisa digunakan untuk menyelamatkan padi.

Anehnya, saat Reudok, masyarakat terlihat sangat kompak. Orang yang lagi duduk-duduk, biasanya di bale jaga, begitu tahu Reudok, pasti bahu membahu membantu. Meski bukan padi milik sendiri, tetapi mereka cukup semangat membantu kuet pade. Semua seperti sepakat, jangan perdulikan dulu padi tersebut milik siapa, tapi yang penting padi terselamatkan dari siraman hujan.

Namun, karena semua orang terlibat dalam penyelamatan padi dari kena hujan, soal kepemilikan padi jadi simpang siur. Tidak jelas lagi mana milik Po Ramlah, mana milik Po Minah, dan mana milik Po Maneh. Sebab, sudah tradisi orang Aceh, jika adee (menjemur) pade sering berdekatan. Jadi, ketika datang Reudok, orang tidak lagi membedakan mana punya Po Ramlah, mana punya Po Minah dan mana pula Po Maneh. Akibatnya, pade yang sudah dikuet tersebut sudah bercampur baur. Padi tidak hilang, karena masing-masing ureung adee pade tahu berapa takaran pade yang di-adee-nya.

Hanya saja, dalam kondisi tersebut, penolong tadi ada yang tidak mau jerih payahnya sia-sia. Pasti, dia menyembunyikan sebagian padi, sebab, saat di-kuet tidak semua pade dimasukkan ke rumah si pemilik, karena ada yang ditaruh di Meunasah, di bale jaga. Namun, karena kondisi sedang kacau balau (dok), orang-orang tidak menaruh perhatian kemana padi diselamatkan. Orang hanya berfikir, bahwa padinya ada yang menyelamatkan, meski tidak dimasukkan ke rumahnya. Dapat kuet pade, berarti alamatnya beruntung.

Tapi, orang yang tidak membantu kuet pade, sering tidak mendapatkan apa-apa. Sebab, tak ada jatah yang diambil untuknya. Pade yang dikuet tak lagi jelas siapa pemilikinya. Pemiliknya ya orang yang membantu.

Filosofi ureung kuet pade, tak ubahnya dengan kondisi Aceh sekarang. Seorang kawan bercerita, bahwa kondisi Aceh sekarang mirip seperti ureung kuet pade Reudok. Semua orang tak hanya sibuk mengejar proyek, melainkan juga sibuk berpartai politik. Artinya, ada orang yang di satu sisi aktif di partai, namun di sisi lain juga bertindak sebagai kontraktor, belum lagi bertindak sebagai kepala dinas atau anggota dewan. Satu orang bisa ditemui dalam aktivitas yang berbeda. Tujuan akhirnya, bagaimana mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, tanpa peduli apakah semua uang itu haknya atau tidak. (HA 270808)

Artikel Terkait