01 September 2008

Alasan

“Hanya dengan memiliki alasan saja kita bisa hidup.” Pepatah rakitan ini yang langsung saya ingat begitu seorang teman saya yang bekerja di sebuah Koran lokal bercerita tentang wartawannya yang selalu memiliki alasan. Sang teman memegang sebuah halaman daerah. Setiap malam, dia selalu ngomel, karena wartawannya terkenal paling telat mengirimkan berita. Jika deadline berita daerah pukul 16.00 sore, maka wartawannya sampai pukul 21 malam belum juga mengirimkan berita. Setiap diminta agar berita dikirim cepat, selalu memiliki alasan, macam-maca, dan ada juga yang dibuat-buat.

Tetapi, alasan-alasan dari wartawan itu menjadi hiburan tersendiri bagi dia, karena bisa membuatnya tersenyum. Soalnya, setiap hari harus mengedit berita yang super hancur pasti butuh waktu untuk bersantai dan ketawa-ketawa. Kadang-kadang merepet, sumpah serapah, kenapa wartawannya begitu bodoh. “Apa wartawan nggak pernah membaca berita yang sudah dimuat?” tanyanya suatu hari ketika sedang minum kopi, karena berita wartawannya tak pernah bagus-bagus.

Saya diam saja, dan berpikir, capek juga jadi redaktur, nggak punya waktu untuk bernafas. Belum lagi, jika benar berita yang dikirim sang wartawan begitu hancur. Bisa dibayangkan betapa pening kepala sang redaktur. “Itu kan yang kamu inginkan dulu,” jawab saya. Kini, giliran dia yang diam. Menurutnya, dia sama sekali tak membayangkan bahwa kerjanya bisa seribet seperti itu.

Kemarin dia terlihat begitu senang, saat ketemu sedang membeli makanan berbuka puasa. “Eh tau nggak,” kalimatnya terputus. “Ya…kalau kamu nggak cerita, mana saya tahu. Apa saya ini malaikat pencatat yang serba tahu,” jawab saya sekenanya. Saya bilang begitu, dia langsung cerita, bahwa si wartawannya mengirim pesan untuknya, plus beritanya. Agar tak hilang makna, saya kutip utuh. “Ass. Hari ini perjuangan saya sangat berat karena di waktu orang sedang melakukan ibadah shalat tarawih saya harus ke…[edited] untuk mengirim berita. Demi adanya berita…[edited] dan merupakan tanggung jawab saya" sebab jaringan telkomnet instan dan speedy untuk…[edited] rusak. Trims”

Sang teman bercerita, pesan ini merupakan yang teraneh, yang dia terima. Pesan itu, katanya, sampai membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Padahal, lanjutnya, sebelumnya, si wartawannya cukup enjoy dengan alasan klasik, “di tempat saya mati lampu”, “di sini lagi hujan”, “internet saya macet”, dan sejumlah alasan lainnya. “Saya heran, setiap mengirim berita, dia selalu menyertakan alasannya,” kata teman saya itu. Menurutnya, baru kali ini dia tahu, ada orang yang tidak pernah tidak memiliki alasan. “Mungkin dia nggak bisa hidup kalau nggak punya alasan,” jawab saya tak lupa mengutip pepatah rakitan seperti sudah ditulis di atas, “Hanya dengan memiliki alasan saja kita bisa hidup.”

Dan, yang membuat teman saya tertawa, kiriman beritanya esoknya lagi. “Dia memang benar-benar orang aneh yang saya temui,” katanya. Dia mengirim berita foto, sangat aneh dan tak biasa dengan judul, Sapi Mau ke Masjid. “Saya harus menghela nafas panjang, membacanya,” kata teman saya. Menurut wartawannya, sapi ke masjid tersebut, karena pemerintah kecamatan…(edited) tidak menerapkan tertib ternak.

Saya yang mendengarnya, tak bisa menyembunyikan senyum kecil. Gila. Tapi, saya hanya bilang ke teman saya begini: “Tak usah heran, ini kan bulan puasa. Manusia saja berbondong-bondong ke masjid untuk beribadah, dan mendapatkan kemuliaan ramadhan, serta berharap dapat Lailatul Qadar. Binatang juga perlu beribadah, dan bertaubat dari dosa-dosa binatang yang telah dilakukan,” kata saya. Binatang juga mau taubat pada bulan Ramadhan! (HA 020908)

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far