07 December 2008

Selamat Hari Raya Idul Adha

Kawan-kawan semua pecinta blog ini, izinkan saya mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Adha 1429 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin”. Sebagai manusia, saya tak luput dari khilaf. Siapa tahu ada tulisan-tulisan saya atau komentar saya yang menyinggung perasaan pembaca blog ini, atau juga ada komentarnya yang tidak sempat saya balas. Jadi, saya mohon maaf atas segala silap, mudah-mudahan kita dibersihkan dari noda dan dosa.


Kepada kawan-kawan yang diberi kemudahan berkurban, semoga amalnya diterima dan bermanfaat untuk mereka-mereka yang membutuhkan. Saya percaya, semua kita pernah merasakan hidup dalam kesusahan, dan berharap dibebaskan dari kesusahan tersebut. Tetapi, yang namanya kesusahan, kadang-kadang juga menghantui siapa saja, meski yang berkecukupan sekali pun.

Setiap tiba hari-hari besar seperti ini, kita kadang-kadang dibuat sibuk. Sibuk belanja keperluan rumah tangga (bagi yang sudah berkeluarga), termasuk beli daging Meugang (khusus di Aceh), atau belanja baju baru untuk anak-anaknya (bagi yang sudah kawin dan memiliki anak).
Pokoknya serba sibuk. Seolah-olah inilah hari yang mendebarkan dan menentukan dalam hidup kita. Tapi, kita lupa, bahwa ada juga anak manusia yang tidak mampu membeli apapun. Mereka menanti hari-hari besar ini dengan perasaan harap-harap cemas. Ada ibu yang tak henti-hentinya mencari kata-kata yang tepat untuk menenangkan anak-anaknya. Ada suami, yang musti mengutang sana-sini untuk menenangkan isterinya. Inilah fenomena di sekitar kita, dan kita tak dapat menolaknya, karena sudah mentradisi. Namun, kita berharap, anak-anak yatim yang kehilangan orang tua-nya ikut merasakan kebahagiaan meski mereka tak memiliki orang yang diharapkannya. Kita sangat percaya, dunia ini penuh dengan orang-orang baik hati, dan mau membantu untuk sesama.

Apa yang terkandung di bumi ini, saya percaya, banyak memberikan manfaat untuk kita. Meski ada sebagian orang yang berpikir bahwa apa yang ada di bumi ini tidak cukup untuk mereka, yaitu orang-orang serakah dan mementingkan diri sendiri. Saya ingat ungkapan terkenal Mahatma Gandhi, tokoh dan juga pendiri Negara India. "Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tapi tidak cukup untuk satu orang serakah," begitu ucap Gandhi yang dikenal sangat sederhana dan bersahaja.

Namun, apa hendak dikata, dunia ini memang banyak sekali orang-orang serakah. Para pejabat atau abdi Negara, tak henti-hentinya diberitakan mengkorupsi uang jatah rakyat, yang jumlahnya sampe triliunan rupiah. Padahal, banyak rakyat kita yang masih hidup dalam kelaparan, dan menganggap uang Rp20 ribu sangat berharga. Negara ini sudah merdeka 63 tahun lalu, namun belum mampu memberikan kemakmuran untuk seluruh rakyat di sini. Pemimpin negeri sudah berulang-kali diganti, kondisi tetap tidak berubah.

Kini, ada sebagian anak negeri, dengan rasa percaya diri yang besar, mencalonkan diri sebagai pemimpin yang akan membawa rakyat ini hidup sejahtera, tetapi mereka tak lebih sebagai pemimpi, dan sedang menawarkan kebohongan-demi-kebohongan kepada rakyat. Mereka menghambur-hamburkan uang untuk biaya iklan di Televisi, Radio, Koran atau media lainnya, dengan harapan rakyat memberikan kepercayaan kepadanya. Tetapi, apakah mereka yang sudah mengeluarkan ratusan miliar uang tersebut nantinya akan berfikir mensejahterakan rakyat? Bukankah mereka akan berfikir bagaimana modal yang sebelumnya dikeluarkan dapat kembali? Duh, dunia yang semakin aneh, dan kita berhadapan dengan orang-orang aneh itu.

Rakyat Sidoarjo, yang kehilangan rumah karena luapan lumpur pasti tak percaya bahwa ketika mereka berkutat dengan penderitaan ada sebagian orang yang menghabiskan uang hanya untuk memperkenalkan diri sebagai salah satu calon presiden. Ketika sebagian rakyat di sudut-sudut kampung negeri dililit kemiskinan, ada orang yang sedang menghitung berapa kekayaan yang mereka dapatkan per bulannya.

Entahlah, kita hanya bisa mengingatkan saja. Semoga setiap tiba momen lebaran atau hari-hari besar lainnya yang menuntut kepedulian antar sesama, para pejabat, tokoh, atau aparatur pemerintah, berpikir bagaimana memikirkan solusi untuk membebaskan rakyat dari lilitan kemiskinan.

Pada hari raya Idul Adha ini, mudah-mudahan mereka mau berkurban, sehingga orang-orang yang tidak diberikan keberuntungan dalam hidup dapat ikut merasakan ‘indahnya hidup dengan berkecukupan’ meski cuma sehari.

Selamat Hari Raya Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1429 H.


Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak