Petani

Monday, June 30, 2008

Hari Sabtu (28/6) kemarin, saya duduk di warung kopi Jasa Ayah di Solong. Ternyata di sana sedang ada diskusi yang dibuat Trade Union Care Center Foundation dan FES Aceh. Temanya menarik, “Menggugat Eksistensi Negara di Era Globalisasi.” Sebelum diskusi dimulai, saya ketemu dengan kawan yang dulu pernah membantu kami ketika dalam masa safety house di Jakarta. Dia tanya, kenapa di Aceh, orang suka berkumpul di warung kopi? Saya kaget juga ditanya dengan pertanyaan demikian, karena di Aceh orang sudah biasa berkumpul di warung kopi.



“Di Aceh, banyak ide-ide besar dan brilian lahir di warung kopi,” jawab saya seenaknya saja. Dia hanya menggangguk saja. “Di warung kopi, berkumpul berbagai macam latar belakang orang, ada pejabat, politisi, GAM, pengusaha, dan aktivis mahasiswa,” sambung saya lagi. Warung kopi, sudah menjadi semacam tempat buat bertukar pendapat dan pikiran.

Beberapa kontraktor dan pengusaha menyelesaikan masalah di antara mereka di warung kopi. Ada juga beberapa wartawan menulis berita tentang suatu isu dimulai dari warung kopi. Skandal beberapa pejabat, lebih cepat beredar dan terbongkar dari warung kopi ketimbang dari tempat lain. Makanya, warung kopi sekarang tak lagi dianggap sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang tak punya kerjaan, melainkan tempat melancarkan pemberontakan, tempat berbagai ide dipertandingkan.

Beberapa kasus korupsi pejabat juga terbongkar dari sebuah obrolan ringan di warung kopi, lalu kemudian menjadi bola salju ketika diback-up oleh media. Di warung kopi, diskusi tak pernah dibatasi, karena sudah mirip dengan dunia maya. Orang yang duduk di warung kopi, modalnya jika tidak pandai ngomong, ya…telinga harus selalu dibuka. Karena, informasi bisa datang bertubi-tubi, tanpa mampu kita saring, mana yang penting dan mana yang tidak. Tak heran, jika banyak orang lebih memilih meng-update informasi dari warung kopi, ketimbang membaca Koran. “Membaca Koran membutakan,” ucap beberapa orang yang sudah alergi sama berita koran.

Kawan saya semakin yakin, karena beberapa tokoh partai ternyata duduk minum kopi di warung ini, seperti Thamren Ananda, Taufik Abda, Ridwan H Mukhtar, dll. Bagi sebagian orang, warung kopi seperti rumah, tempat untuk melepaskan penat dan beban kerja yang menumpuk. Di sini orang bisa rileks, dengan saling tukar pendapat sesama kawan atau orang yang baru dikenalnya.

Tapi, yang membuat saya menarik, bukan itu, melainkan sebuah pernyataan yang dilontarkan seorang panelis diskusi tersebut. “Petani tidak butuh Negara, sementara Negara butuh para petani,” ujar Andito dari GMII. Pernyataannya sangat provokatif.
Menurutnya, para petani yang menggarap sawah sama sekali tidak pernah memikirkan Negara. Mereka sudah puas hidup sebagai petani. Keberadaan Negara juga sama sekali tidak banyak memberi manfaat untuk mereka. Bagi mereka, tanpa Negara juga mereka masih bisa bertani.Tetapi, tanpa padi dan beras hasil produksi petani, bisakah Negara bisa hidup?

Saya hanya mengangguk-angguk saja. Pernyataan itu memang benar. Karena sebagian besar masyarakat petani menganggap Negara tidak pernah hadir dalam kehidupan mereka. Mereka merasa seperti tidak memiliki Negara. Negara hanya butuh mereka ketika datang masa Pemilu. Saat itu, semua orang ingin dekat dengan para petani. Tidak dekat dengan petani, berarti keinginan berkuasa laksana jauh panggang daripada api.

Makanya, sang panelis tadi heran, ketika ada rakyat (sebagian besar petani) senang dekat dengan Negara. Dia mencontohkan, ada rakyat yang senang memakai baju TNI/Polri dan jadi PNS. Ada juga orang yang memotong rambut cepak, biar keliatan mirip aparat, sehingga membuat orang takut. Kondisi ini sering kita temui saat kondisi Aceh sedang panas-panasnya. Dekat dengan aparat, di satu sisi jadi kebanggaan, tetapi banyak juga yang jadi sumber malapetaka. Karena tak semua orang Aceh saat itu suka sama aparat, lebih-lebih bagi tentara GAM. (HA 300608)
Petani

Read More......

Seu-iet

Friday, June 27, 2008

Harian Aceh kemarin (27/6) melansir berita tentang anggota DPRK Aceh Utara yang dinilai beu-o seu-iet, karena hanya memikirkan gaji, sementara kerja seenaknya saja. Tudingan beu-o seu-iet dilontarkan karena dalam rapat III masa persidangan pertama tahun 2008 tentang pembahasan rancangan kebijakan umum anggaran (KUA), dari 40 anggota dewan, hanya 18 orang yang hadir. Lalu, yang lain kemana?


Tak ada yang tahu, kemana. Tapi, harap maklum saja, sekarang lagi musim bola, dan musim tender. Bagi yang senang bola, pasti paginya mereka malas tidur, karena bergadang larut malam. Sementara yang senang tender, pasti mereka sedang sibuk lobi sana-sini agar dapat proyek. Ada juga yang bersembunyi, takut jika proyeknya bertabrakan. Jadi, menghindar solusi yang bijak, meski tugasnya sebagai wakil rakyat terabaikan.

Istilah beu-o seu-iet sebenarnya sering dilakabkan untuk ayam yang keunong ta-uen. Ayam kalau sudah kena penyaket ta-uen, sering terlihat sungkuep (lemah-lesu), tidak bergairah, dan seperti pepatah, hidup segan mati pun tak mau. Beu-o seu-iet sering juga diterjemahkan malas-jinak. Artinya, ketika dilakabkan untuk anggota dewan, berarti maksudnya, malas kalau diminta ikut sidang (kerja), tetapi akan bersikap jinak dan penurut saat masa ambil gaji tiba.

Lalu, apakah hanya anggota DPRK Aceh Utara saja yang beu-o seu-iet? Saya harus hati-hati menjawabnya. Karena, sebenarnya, perilaku seperti ini sudah umum dilakukan oleh para anggota dewan. Jika tidak percaya, silahkan lihat saat sidang di DPR Pusat, berapa jumlah kursi yang kosong? Sangat banyak, karena tak bisa kita hitung dengan jari. Malah, bagi anggota yang hadir dalam ruang sidang juga tak terlihat rajin dan bersemangat memperjuangkan nasib rakyatnya, mereka sering disorot oleh kamera sedang tertindur pulas.

Tetapi, bagi sebagian anggota dewan enjoy saja, karena masuk TV. Bagi mereka, yang penting hadir di dalam sidang meski hanya ‘datang, duduk, diam, dengar, dan duit’. Wajar jika setiap peraturan, kebijakan atau undang-undang yang dilahirkan, sering menjadi UUD (ujung-ujungnya duit). Lihat saja saat pembahasan APBN, APBA, adan APBK, semua anggota dewan setiap tingkatan sibuk berdebat ketika masuk pembahasan wuek tumpok. Sementara ketika masuk agenda tentang program kesejahteraan rakyat, mereka pasti bersepakat: “Rakyat cukup kita kasih angen syuruga, kalau mereka protes, paling cuma demo dan jadi senang kalau sudah masuk media. Besoknya pasti akan diam lagi.” Begitu guman mereka dalam hati.

Masalah kinerja atau perilaku beu-o seu-iet juga pernah dimuat di harian ini beberapa waktu lalu tentang kinerja pegawai kantor Bupati Pidie, dan beberapa dinas lainnya. Malah, jika pada hari Jumat dan Sabtu (di Pidie hari Sabtu masuk kantor), jam 10 belum nampak batang hidung pegawai ke kantor (yang nampak cuma sedikit). Sebagian malah lebih enjoy cang panah di warung kopi, dan mendiskusikan jalannya pertandingan Bola.

Tapi, jangan coba-coba memangkas gaji atau honor mereka. Mereka pasti melawan, dan tak sungkan-sungkan membeberkan ke media. Itulah wajah pejabat dan abdi rakyat di negeri kita, sering beu-o seu-iet lagee manok keunong ta-uen. Tetapi bersemangat ketika masuk dalam perkara asoe pruet dan umpuen takue. (HA 280608)

Read More......

Partai

“Sekarang lagi musim partai bos!” Begitu ucap seorang kawan menyadarkan saya. “Semua kebaikan yang dilakukan, ujung-ujungnya untuk kepentingan 2009,” sambungnya lagi. Lalu, dia bercerita panjang lebar, tentang sepak terjang seorang mantan pejabat, menampilkan citra positif seolah-olah peduli dengan nasib tahanan yang masih mendekam di penjara-penjara di pulau Jawa.


Karena sekarang lagi musim politik, semua orang kemudian jadi sibuk. Mendekati pemilu 2009, citra masih terlalu ampuh menarik massa. Tanpa citra yang baik, sulit mendapatkan suara. Meski ada yang bilang uang masih sangat ampuh, tetapi untuk kondisi sekarang tidak lagi menentukan. Apalagi orang Aceh sudah punya resep mujarab, “Di peukhem takhem, tatem yang bek. Dijok tacok, taculok nyang bek.”

Ya…rakyat Aceh sudah sangat berpengalaman. Mereka jarang yang mau diperlakukan sebagai massa, apalagi massa mengambang. Lalu, apakah berbeda antara rakyat dan massa? Menjawab ini, saya harus merujuk Eep Saifullah Fattah (2001). Eep membedakan secara nyata dan jelas antara rakyat dan massa. Menurutnya, jika rakyat percaya diri di atas kesepakatan tentang hak dan kewajiban, massa biasanya membangun surplus percaya diri atas nama jumlahnya, dan dengan itu, menularkan virus ketakutan sambil menuntut kepatuhan, bahkan sikap tunduk tekuk lutut.

“Jika rakyat adalah pendesak yang sehat, massa adalah kerumunan besar yang suka bertabiat buruk: meletupkan kekecewaan dan kemarahan lewat terror,” tulisnya.

Tetapi, apakah di Aceh ada massa yang suka bertabiat buruk? Dan lalu suka menebar kemarahan lewat teror? Kita menyangsikannya, meski ke depan hal seperti itu bukan mustahil terjadi. Belum lagi jika gesekan antar massa tak bisa dibendung, karena beberapa partai pasti memperebutkan basis massa yang sama. Kita pasti akan menonton parade politik yang berdarah-darah. Politik, jadinya tak lagi dipahami seperti sering dikatakan oleh Mao Tse Tung, sebagai perang yang tidak menumpahkan darah. Politik penuh darah bakal berlangsung di Aceh.

Saya begitu terkejut ketika membaca statemen juru bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) di harian ini beberapa waktu lalu, bahwa tidak boleh satu partai pun mengklaim diri sebagai partai eks awak GAM. Menurutnya, partai eks awak GAM hanya satu: Partai Aceh. Sementara kita tahu, banyak awak GAM sekarang tersebar di berbagai partai seperti Partai Gabthat, Partai SIRA, PAAS, dan lain-lain.

Saya jadi bertanya-tanya, jika Partai Aceh tampil begitu eksklusif, apakah bisa menjadi partai yang memberikan banyak harapan untuk orang Aceh? Apalagi, banyak rakyat Aceh sekarang begitu antipasti dengan GAM. Jika hanya mengandalkan awak GAM, bagaimana Partai Aceh bisa menjadi pemenang di Aceh? Padahal, suara rakyat Aceh (awak nanggroe), cukup besar, dan diperebutkan oleh banyak partai: Lokal dan Nasional.

Ekspektasi rakyat Aceh untuk ikut pemilu juga diyakini bakal berkurang. Karena, rakyat semakin sadar bahwa Pemilu tak banyak memberikan perubahan bagi rakyat Aceh. Pemilu hanya mampu mengganti kulitnya saja, sementara isinya sama. Orang-orang yang duduk di Parlemen boleh saja berbeda, tetapi kebijakannya tetap sama, bahkan lebih buruk. Lalu, kita harus bertanya, untuk apa rakyat ikut Pemilu?

Bukankah, setiap Pemilu, rakyat selalu disuguhi tampilnya politisi-politisi munafik, yang hanya pandai berjanji? Rakyat boleh saja terpana sesaat mendengarkan kemampuan para jurkam berkampanye, dengan retorika memukau, tetapi, begitu pulang ke rumah, rakyat pasti sadar, bahwa retorika tak bisa mengubah apapun. Hanya sebuah baju sareng kopi yang sempat mereka terima saat dilempar dari atas panggung kampanye, lainnya tidak. (HA 270608)

Read More......

Bungkam

Tuesday, June 24, 2008

Bungkam tak hanya dilakukan pemerintah. Kalangan swasta atau orang berduit juga sering melakukannya. Ada yang melakukannya secara kasar, seperti menggunakan tangan besi, ada juga yang menempuh cara halus. Dan pihak media, diakui atau tidak sering menjadi objek yang dibungkam.


Tulisan atau berita yang dimuat di sebuah media, sering berakhir dengan persidangan di pengadilan, dan lalu di Penjara. Meski banyak juga sebuah berita menjadi ter-ralat dengan sendirinya, setelah si wartawan dipanggil untuk menghadap.

Ya…mereka punya banyak uang, sementara si wartawan tidak. Tapi, meskipun tidak punya banyak duit, kita masih punya nurani. Itu yang penting. Sebab, tanpa nurani, kita tak pantas menyebut diri manusia. Karenanya, jangan sampai nurani yang ada sama kita, lalu kita gadaikan. Wartawan yang bisa dibeli sering tak punya harga diri, dan lalu tak bermartabat.

Saat tak lagi punya martabat, kita bisa mengkritisi apa saja, dan menulis tentang semua hal. Tetapi, tulisan kita tetap sudah bisa diukur dengan nilai mata uang. Tulisan yang begini, jika dikasih duit Rp200 ribu pasti tidak lagi seperti itu. Akibatnya, martabat sebuah tulisan menjadi hilang. Dia kehilangan daya kritisnya, dan lalu tak memberi pengaruh apa-apa.

Sering juga ketika sebuah media memberitakan tentang kebobrokan suatu lembaga, kantor atau malah sebuah Bank, mereka langsung mempersiapkan jurus maut agar si wartawan tidak lagi menulis berita tentang kebobrokan bank tersebut. Semua orang tahu, keuangan sebuah bank tidak terbatas, meski uang tersebut milik nasabah. Tetapi, bunga atau keuntungan dari simpanan nasabah cukup untuk membayari seorang wartawan untuk membungkamnya.

Saya mendengar dari seorang kawan, bagaimana takutnya beberapa pimpinan Bank, saat kasus raibnya uang Pemda Aceh Utara terpampang di halaman media ini. Berbagai upaya shock therapy disiapkan seperti menyediakan penasehat hukum untuk mensomasi media ini, meski kemudian upaya tersebut tidak jadi dilakukan, karena polisi berhasil membongkar kasus tersebut.

Tapi, upaya Bank ternyata tak hanya berhenti di situ. Karena beberapa hari kemudian, dengan perantara seseorang, pimpinan Bank mencoba menawarkan kerjasama, baik berupa pariwara atau sesuatu yang bisa membuat media ini tidak lagi menulis tentang kasus Bank tersebut. Beruntung, upaya ini belum berhasil.

Para wartawan di lapangan saya kira juga menghadapi dilema seperti ini. Sering si wartawan menulis suatu penyelewengan di sebuah kantor, dinas atau kantor pemerintahan, tetapi besoknya, berita tersebut langsung diralat oleh si wartawan yang bersangkutan. Upaya ralat tersebut, meski dalam dunia jurnalistik, ada aturannya, tetapi sering terasa janggal. Bisa jadi si wartawan sudah dibungkam dengan sejumlah uang (memang tidak terlalu banyak).

Jika dulu, saat pers dikontrol oleh penguasa, ketika sebuah media menulis berita yang buruk-buruk tentang penguasa, si penguasa cukup hanya duduk di kantor dan menelepon si pemilik media. Besoknya, pasti media tersebut akan lebih hati-hati dan menulis yang baik-baik saja. Si wartawan akan melawan istilah yang sering dikenal di dunia jurnalistik: bad news is good news dan cenderung setuju dengan good news is news. Jika pihak media membandel, dan tetap bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah, yakinlah usia media tersebut tidak bakal lama, karena pasti dibredel.

Beruntung sekarang, hukum rimba berupa main bredel tidak dikenal lagi. Tetapi, jangan salah, pihak media pun menghadapi tantangan yang tak kalah berat, yaitu upaya suap agar si wartawan dan media tidak bebas menulis. Makanya, jika si wartawan sudah bisa di-jengkal isi perutnya, apapun berita yang ditulisnya tidak punya pengaruh lagi. “kasih duit Rp50 ribu, dia pasti tidak akan menulis lagi,” begitu ucapan yang sering kita dengar dari mulut si pemilik kuasa. (HA 250608)

Read More......

Sulet

Kata sulet, punya dua arti. Tergantung cara penggunaan kalimatnya. Ada yang mengartikan sulet bohong, dusta, suka menipu atau mengatakan sesuatu yang tidak benar. Sering juga diartikan dengan sukar, payah, sesuatu yang tidak mudah. Misalnya, pejabat nyan sulet, hanjuet pileh le ukue. Arti sulet di sini berarti suka bohong, tidak bisa dipercaya, suka menyia-nyiakan amanah. Sementara jika dalam kalimat berikut: Proyek nyan sulet untuk ta peu gol, berarti kata sulet di sini berarti sukar.



Tapi, jangan pernah untuk meu-sulet, karena sekali saja meu-sulet, sampe ditimoh neungkee mie tidak dipercaya. Jika sudah dicap sulet, selamanya orang tidak akan percaya lagi sama kita. Saking seriusnya perkara sulet, dalam agama pun mendapat porsi tersendiri, sampai Nabi pernah bersabda, al khizbu la ummati, orang yang berdusta itu bukan umat Nabi.

Nah, jangan suka bergaul dengan orang sulet. Karena tiep uroe geutanyoe akan dipasoe lam itoken. Jika ada yang tidak tahu apa arti itoken, tanya sama orang yang suka pakai sepatu. Itoken sama dengan kaus kaki. Tapi, jangan bayangkan itoken yang baru dibeli, melainkan itoken yang sudah sebulan tidak pernah disentuh air. Bisa dibayangkan bagaimana aroma baunya. Pasti menyengat.

Dalam masyarakat Aceh, orang sulet sering disamakan juga dengan orang paleh (orang jahat). Artinya, orang sulet itu bisa menimbulkan pengaruh luar biasa, termasuk mencelakakan orang lain. Pengalaman saat DOM, DM dan operasi-operasi militer lainnya di Aceh, banyak orang Aceh meninggal sia-sia karena haba sulet, atau seseorang memberi informasi yang tidak benar. Makanya, sulet sangat berbahaya.

Endatu kita juga sudah pernah mengingatkan, “bek ta meungon ngon urueng paleh (baca ureung sulet), hareuta teuh abeh geutanyoe binasa.” Makanya, kita perlu berhati-hati dengan orang-orang sulet ini. Sebab, lebih banyak mudharatnya, ketimbang manfaat.

Lalu, jika penguasa sulet bagaimana? Itu memang sudah kerjaannya Penguasa. Bagi penguasa, sulet sudah hal biasa. Kalau tidak bisa meu-sulet, tidak bisa jadi penguasa. Saat kampanye juga mereka sudah meu-sulet. Mereka berjanji yang muluk-muluk, tetapi ketika berkuasa, janji tersebut tak pernah mampu ditunaikan. Makanya, ada yang bilang, penguasa itu lebih dekat ke orang munafik ketimbang kita rakyat miskin.

Memang sih, sekarang sudah ada cara meu-sulet profesional. Artinya, ketika mereka menipu, terlihat sangat berwibawa, sehingga pengemis pun tidak tahu kalau sang penguasa sedang meu-sulet. Tahu kenapa tidak ada yang tahu? Karena mereka jago ‘olah’. Orang sulet itu kan dikenal jago olah!

“Kita sangat peduli terhadap nasib rakyat. Kita akan berusaha membuka lapangan kerja, dan meningkat kesejahteraan untuk rakyat miskin,” begitu biasa bunyi pidato penguasa jika sedang berada di tengah-tengah rakyat. Rakyat yang tidak tahu bahwa mereka sedang di-olah penguasa, pasti memberi applus berupa tepuk tangan meriah. Namun, ada juga yang diam-diam, berkata dalam hati: nyan ka diolah lom geutanyoe!

Makanya, rakyat harus cerdas. Sehingga tidak setiap Pemilu bisa diolah oleh juru kampanye atau penguasa! Bek sabe ek dipasoe lam itoken. Rakyat harus mampu berkata seperti bunyi ceramah Abraham Lincoln saat berpidato di Clinton pada 8 September 1858 yang mendapatkan sambutan luar biasa dari warga Amerika: “You can fool all the people some of the time, and some people all of the time, but you cannot fool all the peole all of thetime” (Anda dapat membodohi seluruh rakyat selama beberapa waktu, dan beberapa orang rakyat buat selama-lamanya, namun Anda tak dapat membodohi seluruh rakyat buat selama-lamanya). (HA 240608)

Read More......

Lumpoe

Monday, June 23, 2008

Lumpoe atau geulumpoe sering dialami oleh orang yang sedang tidur. Tetapi, tidak semua orang yang sedang tidur mengalami geulumpoe atau lumpoe. Karena ada juga yang tidak pernah mengalaminya (atau tidak sering). Namun, sekarang, lumpoe tak hanya milik mereka yang sedang tidur, orang jaga pun mengalaminya. Untuk orang seperti ini, sering disebut dengan, “cot-cot uroe timang pih geulumpoe,” atau sesuatu yang tidak mungkin terjadi.


Tapi jangan salah, dewasa ini, orang ‘jaga’ pun sering geulumpoe. Mereka bukan geulumpoe cilet-cilet, tapi geulumpoe raya panyang. Harapan yang terlalu berlebihan, sementara kemampuan terbatas. Banyak juga orang yang merenda masa depan dari sebuah mimpi. Einstein, Newton, Edison, dll memulai penciptaan dan penemuan mereka dari sebuah mimpi. Orang tidak pernah percaya terhadap sesuatu yang mereka mimpikan, tetapi ketika berhasil, mereka pun dipuja.

Tetapi, hati-hati, jika terlalu banyak geulumpoe, bisa berbahaya. Apalagi jika tidak didukung dengan kemampuan atau peluang. Mimpi bisa berakhir di sebuah rumah sakit jiwa.

Saya menduga, orang Aceh sekarang banyak hidup atau terbuai dengan mimpi-mimpi. Sering bukan mimpi mereka sendiri, melainkan mimpi orang lain. Tetapi, mimpi tersebut tak pernah jadi kenyataan. Anehnya, meski jarang jadi kenyataan, besok-besok jika mereka diajak bermimpi lagi, orang Aceh tak pernah membantahnya. Mereka mau saja diajak terbuai oleh mimpi lainnya.

Kita sudah pernah diajak untuk geulumpoe perubahan, geulumpoe hidup sejahtera, geulampoe untuk merdeka, tapi kenyataannya kita tetap masih terjajah, miskin dan terbelakang. Kita juga sering dikasih lumpoe bakal ada kereta api bawah tanah, kebun sawit rakyat, tetapi rakyat sendiri tidak pernah tahu bagaimana kereta api bawah tanah itu, serta bagaimana bentuk kebun sawit rakyat.

Ada yang mengatakan, lumpoe merupakan setengah dari kesuksesan. Orang yang bisa bermimpi berarti orang tersebut sudah mempersiapkan peluang untuk sukses. Atau setidaknya, tahu apa yang hendak dicapai ke depannya. Bisa jadi benar, bisa jadi salah. Namun, untuk kondisi sekarang, mimpi saja tidak cukup.

Saya punya contoh bagus. Ada seorang pengrajin madu (bisa saja pengrajin pemula). Suatu hari dia melihat sebuah pohon besar yang punya sarang madu. Dengan sedikit kemampuan magic, dia berhasil mengusir lebah dan mengambil madunya. Dia mengisi madu tersebut dalam botol yang jumlahnya puluhan. Dia sangat senang ketika melihat jumlah botol di hadapannya, dan dalam hatinya berkata: Saya akan jadi orang kaya. Per botol akan saya jual Rp35 ribu. Uangnya nanti saya pergunakan membeli Ayam. Ketika ayam berkembang biak dan banyak, saya jual, lalu saya beli kambing. Ketika kambing jadi banyak, saya menjualnya, dan uangnya saya pergunakan membeli Kuda.

“Wow, saya senang sekali. Keinginan saya membeli kuda akhirnya jadi kenyataan. Saya akan memacu kuda dengan kencang, dan kalau perlu saya ajak melompat tinggi,” gumannya dalam hati. Tanpa sengaja, ketika memperagakan gaya kuda meloncak, satu kakinya terkena botol Madu, akhirnya, menimpa yang lain dan jatuh…madu tumpah. Saat itu dia sadar, bahwa mimpinya tinggal hayalan.

Jika ini yang terjadi, jangan marah ketika Bang Joni menyindir: Eh Malam! (HA 230608)


Read More......

Martunis

Saturday, June 21, 2008

Saya tidak tahu, apakah semalam saat laga Jerman versus Portugal, Martunis sempat menonton atau tidak. Tapi, jika Martunis sempat menonton laga tersebut, saya yakin dia akan menangis. Soalnya, ‘abangnya’ Ronaldo dibantai panser Jerman 3-2. Mimpi Portugal melaju ke babak selanjutnya pun tertahan. Penonton tak bisa lagi melihat aksi indah Ronaldo saat mengolah si kulit bundar.


Saya sendiri, saat menonton laga tersebut langsung terbayang pada sosok Martunis, seorang bocah Aceh 9 tahun (sekarang 12 tahun), yang selamat dari amukan tsunami, dan bertahan hidup di tengah puing-puing bekas tsunami selama 19 hari. Martunis hanya minum air atau makanan yang lewat dari laut. Saat ditemukan, Martunis hanya memakai pakaian sepak bola timnas Portugal.

Pakaian ini pula yang membuatnya menjadi sosok terkenal, dan bisa melanglang buana ke Portugal, menyaksikan pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2006. Potretnya, dimuat secara besar-besaran di media massa, baik dalam maupun luar negari. Martunis pun mendunia. Banyak wartawan asing lalu tertarik mewancarainya.

Malah, Ronaldo yang sudah dianggap ‘abang’ oleh Martunis khusus datang ke Aceh menjumpainya. Padahal, Ronaldo seorang bintang terkenal, yang memiliki harga Rp1,1 triliun. Tapi itulah kekuatan sepakbola. Ronaldo saat itu tak lagi melihat Martunis sebagai seorang korban yang patut ditolong, melainkan faktor nasionalisme. Baju yang dipakai Martunis sangatlah berarti ketika muncul di TV luar, di mana Negara Portugal mendapat promosi gratis, apalagi dipakai oleh seorang korban tsunami, bocah lagi.

Saat Ronaldo melihat Martunis di televisi, baju yang dipakainya bukan lagi sekedar pakaian untuk digunakan, melainkan sudah menjadi symbol nasionalisme, apalagi bagi masyarakat Eropa yang terkenal gila bola.

Wajar jika baju timnas Portugal yang digunakan Martunis menjelaskan banyak hal. Karena, di baju Martunis, sudah mengandung nilai-nilai nasionalisme, prestise, kebanggaan, kekayaan dan malah sebuah kekuatan lobi yang luar biasa. Tak hanya itu, baju yang dipakainya ternyata mampu mengubah nasibnya.

Tetapi belakangan, namanya tenggelam, bersama orangnya. Saya sendiri tak pernah lagi mendengar kabar bocah ‘ajaib’ tersebut. Padahal, pascatsunami namanya bak selebritis terkenal. Kemana Martunis? Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Tak ada yang tahu.

Laga Jerman versus Portugal membuat saya teringat lagi pada sosok ajaib tersebut. Saya, bertanya-tanya dalam hati, bagaimana perasaan Martunis saat tim Portugal digilas Jerman? Menangiskah dia? Juga tak ada yang tahu.

Namun, melihat banyaknya penonton yang menangis, wajar saja jika seandainya Martunis juga ikut menangis. Karena secara emosional antara Martunis dan Timnas Portugal sudah terjalin sebuah hubungan yang sangat erat, tak lagi terpisah oleh sekat-sekat nasionalisme sempit. Karena, Sepakbola mengajarkan keterbukaan.

Jika pun Martunis tidak menangis, bisa jadi, dia sudah lupa dengan Sepakbola, dan sama sekali tidak tertarik lagi pada perhelatan Euro yang digelar empat tahun sekali itu. (HA 210608)

Read More......

Masjid

Thursday, June 19, 2008

Saya menulis pojok tentang Masjid hari ini tak bermaksud apa-apa. Bukan karena saya sudah alergi dengan Masjid. Sama sekali bukan. Entah benar, entah tidak saya tidak tahu, bahwa Masjid Raya sekarang selain menjadi tempat ibadah juga tempat bercengkrama/pacaran. Tak sulit menemukan sepasang remaja berbeda jenis kelamin duduk di halaman Masjid sambil tertawa dan sesekali dengan ‘colekan-colekan’ ringan.


Malah, saya mendengar seorang kawan bercerita, kebetulan dia duduk berdekatan dengan sepasang kekasih yang sedang merenda “masa depan.” Bagi kawan saya terasa aneh saja, ketika Masjid dijadikan saksi resminya mereka berpacaran. “Jika adik tidak percaya kalau abang sangat cinta sama adik, Masjid Raya ini jadi saksi, bahwa Abang sangat mencintai adik,” ujar si Pemuda sambil berdiri dan menujukkan ke arah Masjid.

Mendengar cerita kawan tadi, saya jadi berfikir bahwa Masjid tak hanya menjadi tempat ibadah, atau tempat memuja Tuhan, melainkan berfungsi sebagai saksi bagi orang yang berpacaran. Kita akui, kalau Masjid Raya belakangan ini tak hanya dikenal sebagai Masjid termegah di Asia Tenggara, atau symbol ke-Acehan, melainkan juga sebagai tempat berbagai aliran bertarung, menanamkan pengaruhnya. Masjid Raya juga sudah “dilegalkan” sebagai kawasan wisata. Entahlah, apakah Masjid Raya juga menjadi objek wisata seperti kampanye Pemerintah Kota Banda Aceh, yang menjadikan Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami. Saya tidak tahu pasti.

Ada juga yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa di Masjid Raya masih digunakan plang nama untuk para “pembesar” (bukan besar perut tentunya) atau para pejabat yang shalat di shaff terdepan. Saya tidak tahu, apakah hal itu masih ada sekarang atau tidak, karena sudah lama saya tidak pernah ke Masjid Raya lagi. Jika masih ada, itu sangat disayangkan, karena pengurus Masjid sudah menyelewengkan fungsi Masjid.

Padahal, seharusnya Masjid berfungsi sebagai tempat semua manusia dinilai sederajat, tidak dibeda-bedakan berdasarkan status sosial. Karena saat beribadah kepada Allah, tidak ada lagi yang namanya Gubernur, Kapolda, Pangdam, dan atau Kajati. Yang ada hanya hamba-hamba Allah.

Soal penyelewangan, sebenarnya, sejak dulu sudah terjadi. Misal, ketika Aceh sedang gawat-gawatnya. Saya sempat melihat beberapa bendera Merah Putih berukuran besar dinaikkan di beberapa bagian Masjid (bukan di tempat biasa). Kita akui, tindakan itu tidaklah salah, tapi, kita menangkap kesan politis di sana. Ada pertarungan nasionalisme yang kuat, dan sudah memasuki areal Masjid. Seolah-olah dengan menaikkan bendera berukuran besar di Masjid sudah menunjukkan bahwa orang Aceh sudah ditundukkan, dan satu pihak sudah dikalahkan.

Tapi homlah, itu sudah masalah politis, saya tidak mau terjebak. Hanya saja, saya ingin sampaikan bahwa fungsi Masjid sudah banyak berubah sekarang. Malah, saya pernah menanyakan kepada seorang kawan, ketika bergegas dan buru-buru memasuki Masjid. Saat saya tanyakan mau kemana, dengan enteng kawan saya menjawab: “Lon jak toh iek dilee.”
Dalam hati saya berfikir, kok toh iek harus ke Masjid? Bukankah Masjid tempat untuk orang beribadah memuja Tuhan!

Saya yakin, perilaku kawan saya tidak hanya terjadi di Banda Aceh, malah, Masjid di sepanjang jalan Banda Aceh-Medan sudah menjadi tempat toh iek. Pengguna jalan, yang menempuh perjalanan jarak jauh, pasti sering berhenti di Masjid, kadang-kadang bukan karena mau Shalat, melainkan sekedar rhah muka dan toh iek (ada juga yang toh ek).
Tetapi kita tetap berharap, agar tidak ada Masjid di Aceh yang berubah menjadi Masjid Drirar yang pernah dibakar oleh para sahabat Nabi karena sudah menjadi tempat berkumpulnya kaum munafik yang berniat mennggagalkan dakwah Nabi. (HA 190608)

Read More......

HP

Wednesday, June 18, 2008

HP yang saya maksud di sini bukanlah sebuah merek dagang, melainkan Handphone, sejenis alat komunikasi yang menggunakan sinyal. Hampir sebagian besar manusia sekarang menggunakan Hp sebagai alat berkomunikasi. Hp tak lagi merupakan barang mewah yang sulit dijangkau, karena anak SD juga sudah memilikinya.


Malah, sekarang fungsi Hp tak lagi sekedar alat untuk menelepon atau SMS, melainkan juga berfungsi sebagai kamera, mendengar musik, atau alat untuk mencatat pesan-pesan penting. Tak jarang juga digunakan sebagai alat menonton film biru (BF), yang banyak beredar itu. Ada juga yang iseng merekam sendiri adegan porno di Hp-nya.

Pokoknya, alat tersebut sudah menjadi semacam kebutuhan akan tuntutan hidup modern. Tak memiliki Hp dianggap kuno, kampungan atau belum pantas hidup di dunia yang serba modern ini. Hanya saja sekarang, merek atau modelnya yang menunjukkan seseorang berkelas atau tidak. Dulu, misalnya, semua pejabat sangat bangga memiliki Nokia 9500, meski fasilitas yang digunakan hanya untuk SMS dan menelepon.

Tapi sekarang, para pejabat, atau yang ingin tampil prestise, sudah cukup bangga punya Nokia E90. Sepertinya, jika belum memiliki Hp merek tersebut belum layak disebut berkelas atau punya koneksi bisnis yang luas. Aneh-aneh saja orang sekarang.

Namun, yang ingin saya sampaikan bukan itu. Hp diakui atau tidak sudah membuat silaturrahmi (secara fisik) berkurang. Tak jarang, dengan Hp juga membuat orang semakin mudah berbohong, atau menyembunyikan kebohongan. Misal, ada seorang wartawan yang ingin mengonfirmasi tentang suatu kasus penyelewengan, karena kasus tersebut layak diketahui oleh masyarakat, tetapi si pelaku dengan enteng mematikan Hp, atau mengaku sedang tidak berada di tempat.

Meski sebenarnya, orang tersebut tidak kemana-mana, tetapi siapa yang bisa memastikan tempat yang dia sebutkan benar atau tidak? Misalnya saja, saat kita telp, dia mengaku sedang berada di Medan, Jakarta atau di kota-kota besar lainnya, tapi apakah ucapannya benar? Bisa saja dia sedang berada di salah satu kota di Aceh, atau malah di kantor. Jika kita tidak bisa memastikan atau menangkap tangan, maka dia sudah berbohong.

Makanya, Hp juga berfungsi sebagai alat untuk berbohong. Ada juga si suami yang selingkuh, tetapi Hp-nya tidak boleh dipegang oleh isterinya, atau isterinya mengetahui isi Hp suaminya. Karena, jika diketahui sebuah hubungan keluarga bisa hancur. Jika pun ada SMS masuk, dan kebetulan si isteri melihatnya, si suami dengan gampang mengatakan, “ah…itu rekan bisnis papa,” meski sebenarnya adalah SMS dari selingkuhannya.

Selain itu, dengan berbicara melalui Hp, lebih bisa menyembunyikan kebohongan, karena saat menyampaikan sesuatu, kita tidak bisa memastikan bahwa ucapannya berbohong atau tidak, karena kita tidak bisa melihat mimik wajahnya. Sementara kalau berbicara langsung, dari kedip atau gerak matanya kita bisa tahu, bahwa dia berkata benar atau tidak. Tak hanya itu, dengan berbicara lewat Hp, seseorang dengan gampang mengatakan tidak tahu. Padahal, jika berhadapan langsung, bisa jadi dari jawabannya, kita bisa mempertanyakan lagi, dan tak bisa dipotong, sementara jika lewat Hp bisa langsung dimatikan. Kiban? (HA 180608)

Read More......

Pungo

Tuesday, June 17, 2008

Pungo. Saya yakin, orang Aceh sangat paham dan mengerti tentang arti dari kata Pungo ini. Malah, saking Pungo-nya, orang Belanda memberi label untuk orang Aceh dengan istilah Aceh Moorden. Kata Pungo, kalau diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia berarti gila, tidak waras, atau mengalami penyakit saraf.


Bagi orang Aceh sendiri, sebutan Pungo tak hanya karena seseorang terganggu saraf, melainkan juga melihat perilakunya. Misalnya, orang tua yang terkenal sangat kejam dan suka memukul anaknya, sering diberi label oleh tetangga dengan istilah ureung syik pungo bui. Istilah pungo juga diberikan oleh masyarakat terhadap suatu perbuatan yang mengganggu ketentraman orang lain.

Contohnya, jika ada anak muda yang membawa sepeda motor dengan kencang di jalan Gampong, juga disebut pungo. “Jeh si Gam pungo, di kampung pih balap Honda teuga-teuga,” begitu teriak orang Gampong yang sedang duduk di bale jaga. Malah, untuk anak muda seperti ini, sering didoakan beubagah mate. “Nyan misue cot reuda u langet, bek tatem peubudoh, bah bagah wabah kireuh.

Sementara untuk orang yang benar-benar terganggu sarafnya, orang Gampong hanya mengatakan, “Si Gam nyan saket ulee.” Jika saket-nya sudah pada taraf yang cukup parah, orang tersebut biasanya di-noh (dipasung). Itu pun jika perilakunya sudah sangat mengganggu warga kampung.

Tapi, sekilas memang benar, kalau orang Aceh pungo. Kita boleh sepakat dengan julukan yang diberikan orang Belanda ini. Dulu, katanya, label Pungo untuk orang Aceh diberikan karena satu orang Aceh berani menyerang konvoi atau pasukan Belanda yang sedang operasi. Ada juga yang mengatakan, orang Belanda memberi label pungo untuk orang Aceh, karena ketika pasukan Belanda sedang jalan-jalan melihat orang Aceh naik pohon kelapa sambil mengikat kakinya.

Orang Belanda sebenarnya pungo juga, karena tidak tahu bahwa yang digunakan orang Aceh untuk mengikat kakinya adalah singkreut atau seuringkuet atau tali yang dipergunakan untuk menahan kaki ketika sedang memanjat kelapa.

Sekarang, ketika sedang musim tender, saya mendapati banyak orang tergila-gila ingin naik mobil mewah merek Harrier. Keinginan tersebut lebih tinggi dari tahun lalu, yang hanya ingin bisa memiliki mobil Honda CRV atau New CRV. Pantas, jika ada orang di kampung saya menyebut untuk orang-orang ini dengan istilah Pungo Moto.

Tentang keinginan ini, saya jadi teringat saat-saat awal reformasi. Saat itu, orang Aceh hanya meminta pelanggaran HAM diadili, tetapi tak juga digubris oleh pemerintah pusat. Lalu, orang Aceh menaikkan permintaannya, dengan meminta agar Aceh diberikan perimbangan keuangan, 70% untuk Aceh, dan 30% untuk pusat, serta minta Negara federal. Permintaan ini juga tidak digubris, lalu Aceh meminta Referendum. Tuntutan ini juga tak kunjung diberikan. Karena marah, orang Aceh serentak meminta Merdeka.

Dari sinilah terlihat, bahwa orang Aceh dalam meminta sangat Pungo, dan selalu menaikkan penawaran. Bagi orang Aceh, itulah gensi. Tetapi, ternyata Indonesia lebih bisa pungo lagi, orang Aceh minta Merdeka, yang diberikan malah darurat militer! Biet-biet pungo. (HA 170608)

Read More......

Politik Bola

Monday, June 16, 2008

Laga Perancis versus Belanda, Sabtu (14/6) dinihari, tak hanya menarik ditonton. Banyak hal yang bisa kita nikmati dari laga tersebut, seperti permainan bola indah dan menyerang. Pecinta si kulit bundar benar-benar dibuat terlena, tak hanya oleh gol-gol yang lahir dari kejeniusan si pemain, melainkan bagaimana kedua tim ingin tampil menjadi yang terbaik dalam laga tersebut. Meski, pada akhirnya, Perancis harus mengakui keunggulan total football yang diperagakan anak-anak Belanda. Belanda masih terlalu tangguh, dan sukses memukul Perancis dengan score telak, 4-1.


Tapi, ada yang kita lupakan dari laga tersebut. Bahwa, apa yang terjadi dalam laga Perancis versus Belanda juga sering terjadi di dunia nyata, bahkan sangat nyata. Laga tersebut, seperti membenarkan kembali teori Machievalli yang diproklamirkan ratusan tahun silam, bahwa “Tak ada lawan atau kawan sejati, yang ada hanya kepentingan abadi.”

Ya…teori Machievalli tersebut begitu nyata, dan menjadikan sepakbola tak hanya sebatas pertandingan. Sepakbola juga berarti pertarungan politis, menegakkan gensi, ideologis dan semuanya. Sepakbola seperti mengajarkan kita untuk lebih hati-hati dalam memilih teman, khususnya terkait urusan politik. Machievalli benar ketika mengatakan, bahwa tak ada yang abadi dari sebuah hubungan pertemanan, karena yang selalu tampak nyata adalah kepentingan.

Teman dalam politik, kata Machievalli, tak pernah abadi, demikian juga musuh. Semuanya hanya berjalan begitu saja, karena pada akhirnya, kepentinganlah yang membuatnya retak atau menyatu. Lihatlah, bagaimana Patrice Evra berjuang menjebol gawang Edwin van Der Sar. Padahal, ketika bersama Manchester United, baik Van Der Sar maupun Evra saling bahu membahu menjaga agar gawang klubnya tidak kebobolan.

Hal yang sama juga terjadi antara William Gallas dan Van Persie. Saat di Arsenal, kedua pemain ini bersama-sama menjebol gawang lawan, tetapi dalam laga Perancis versus Belanda, jiwa nasionalisme yang menuntun mereka untuk saling menundukkan, mengalahkan, dan mempermalukan. Tak jarang, antara keduanya terlibat tekel keras, padahal aksi seperti itu tak pernah kita temui saat mereka membela kepentingan Arsenal.

Ke depan, di perempat final, hal-hal seperti itu akan semakin sering kita saksikan, saat kawan satu klub saling bunuh membunuh ketika membela kepentingan negaranya. Masing-masing, termotivasi menjaga marwah bendera negaranya. Artinya, begitu mereka menggunakan kostum yang berbeda di lapangan, mereka yang sebelumnya berteman, akan bertarung mati-matian sebagai musuh.

Realitas demikian sangat gampang ditemukan di dunia nyata, bahkan malah sangat dekat dengan kita. Apalagi, tahun depan di Aceh akan digelar pemilu yang melibatkan partai politik lokal. Kita akan melihat bagaimana kawan-kawan dari Partai Aceh yang dimotori awak GAM bekerja mati-matian mengalahkan partai lokal lainnya seperti Partai SIRA. Kenapa bisa terjadi? Bendera yang membuat mereka berubah. Padahal, kita tahu, dulunya kawan-kawan SIRA-lah yang mengakui GAM sebagai Pemerintah Neugara Aceh, ketika organisasi lain bungkam dan takut berhadapan dengan TNI.

Tapi, itulah politik. Sebuah kebersamaan dalam sekejab bisa hancur, saat kepentingan berbelok. Makanya, saya selalu sarankan, untuk siapa saja yang sudah terjun ke dunia politik, “Jangan pernah percaya teman yang kamu temui dalam politik!” Karena, kawan dalam politik hanyalah kawan semu, atau kawan kamuflase.(HA 160608)

Read More......

Sabang

Saturday, June 14, 2008

Beberapa waktu lalu, saya diajak ke Sabang oleh Wakil Bupati Aceh Timur. Sampai di sana, saya melihat belum banyak yang berubah. Meski, untuk berangkat ke sana, saya bisa menumpang kapal cepat Ekpress Bahari, yang baru saja diresmikan. Tapi, saya tak melihat hal-hal yang membanggakan dari Sabang, meski beberapa ruas jalan di sana sudah sangat bagus.


Dari obrolan singkat dengan Wakil Walikota Sabang di sana, Tgk Islamudin, saya menangkap banyak sekali keinginan untuk membenah Sabang menjadi lebih baik, agar kenangan tahun 1980-an bisa terulang kembali. Misalnya, bagaimana pemerintah kota Sabang menarik minat investor untuk menanamkan investasinya di sana.

Sebenarnya, di Sabang sudah ada Badan Pengelola Kawasan Sabang (BPKS), tetapi sampai saat ini belum menunjukkan taringnya. Belum terlihat kinerja yang patut dibanggakan. Padahal, seharusnya, Sabang sudah bisa menjadi pelabuhan bebas, yang benar-benar bebas. Artinya, berbagai komoditas yang ada di Sabang, dan juga dari Aceh sudah bisa diekport ke luar, begitu juga dengan barang-barang keperluan masyarakat bisa diimpor bebas ke Aceh.

Tetapi kenyataannya, hal itu belum bebas dilakukan. Malah, saya melihat masih banyak mobil eks Singapura di Sabang. Mobil tersebut belum boleh dibawa ke daratan Aceh, karena tersangkut dengan izin. Akibatnya, sebagian mobil tersebut malah hampir karatan.

Namun, saya sedikit mendapat pencerahan atau optimisme bahwa Sabang bisa maju ke depan. Pencerahan ini saya dapatkan ketika di penginapan, Sabang Hill, beberapa investor dari Malaysia memberi saran bagaimana mengembangkan Sabang. Memang, usulannya sederhana saja, dan sangat gampang dilakukan, tetapi keinginan untuk bisa diimplementasikan sepertinya agak sedikit sulit.

Menurutnya, jika Sabang ingin menggaet investor atau setidaknya mengembangkan potensi wisata, pemerintah Sabang harus bisa menyediakan koneksi internet di seluruh kawasan Sabang. Hal itu katanya untuk memenuhi tuntutan kehidupan modern dari para wisatawan atau juga kalangan lainnya. Karena, ketika mereka datang ke Sabang, tidak hanya bisa menikmati keindahan yang ditawarkan kawasan Sabang, melainkan mereka masih bisa melakukan komunikasi dengan kawan-kawan atau jaringan bisnisnya di tempat lain. Jadi, ketika mereka pergi ke Sabang, jalinan komunikasi mereka tidak terputus, atau informasi terbaru selalu ter-update.

Selain itu, ada optimisme lain yang disampaikan, bahwa saatnya Sabang atau pelabuhan lainnya di Aceh melakukan kontak langsung dengan Penang, karena salah seorang timbalan menteri (atau pejabat di Penang), merupakan orang yang sangat mencintai Aceh. Malah, seperti disampaikan beberapa pengusaha China Malaysia saat obrolan santai itu, Prof. Rama Sami (seorang menteri di Penang) menyatakan ingin membangun hubungan perdagangan dengan Aceh. Jika angen syuruga ini benar-benar bisa diwujudkan, Sabang atau pelabuhan lain di Aceh akan kembali hidup.

Ada lagi cara membuat Sabang diminati oleh investor atau pengusahan lainnya, seperti disampaikan Wakil Walikota, bahwa kendala dan hambatan yang membuat wisatawan beu-o berkunjung ke Sabang karena sarana transportasi darat yang sangat kurang. Jika pun ada, beberapa mobil kondisinya sudah saket sehingga para bule merasa takut menumpanginya. Islamudin, berharap Pemerintahnya bisa mewujudkan memperbaharui sarana transportasi tersebut.

Tapi, sepulang dari Sabang, saya justru terbebani dengan pertanyaan, apa yang sudah berubah di Sabang? Pertanyaan ini muncul karena sampai saat ini, Wakil Walikota Sabang masih sendiri, alias jomblo! Muah beh (HA 140608)

Read More......

Efek

Friday, June 13, 2008

Meski tak ada data kongkrit, diyakini banyak PNS yang malas masuk kantor akhir-akhir ini. Tidur terlalu larut, sering jadi kambing hitam. Lagi-lagi Bola yang disalahkan. Ya…tak bisa dibantah, bahwa permainan si kulit bundar menghipnotis siapa saja, termasuk PNS. Semua terkena dampak ‘demam’ bola.


Pihak media massa, baik cetak maupun online, berlomba-lomba manyajikan informasi menarik, terbaru, dan unik dari perhelatan yang digelar setiap empat tahun ini. Tak jarang pula, pihak media menyediakan lomba tebak score, juara euro, pemain terbaik dan lain-lain, agar medianya diminati.

Sementara di kampung-kampung, ajang pertandingan sepak bola, menjadi sumber penghasilan. Banyak anggota masyarakat yang bermain tebak score dengan nilai uang dari ratusan ribu sampai jutaan. Mereka seperti hendak menguji teori kemungkinan, apakah berpihak padanya atau pada orang lain. Meskipun, ketika tim yang dijagokannya kalah, sumpah serapah yang keluar. Tetapi, kemungkinan menang, dan mendapatkan uang menjadi motivasi untuk selalu berjudi, siapa tahu dewi fortuna memihaknya.

Semua sepakat, bola memang tak lagi memandang usia, status sosial, atau antara orang orang kampung dengan kota. Bola menjadi permainan yang sangat manusiawi. Dunia menjadi bersatu karena bola. Perang bisa berhenti karena bola. Perpecahan dalam negeri bisa reda karena bola. Konflik rumah tangga juga bisa reda karena bola. Sebab suami tak perlu memarahi isterinya, karena terlalu asyik menonton bola.

Efek dari bola juga luar biasa. Kejadian di Laweung, misalnya, seorang pria nekat memasuki kamar isteri orang lain, karena si suaminya asyik menonton bola. Kajadian ini, pasti banyak juga terjadi di tempat lain, meski tidak masuk media. Jadi, musim bola juga menjadi sarana memudahkan segala perbuatan maksiat terjadi.

Maling juga semakin bebas beraksi, karena banyak lelaki memilih memelototi TV, daripada berada di rumah. Sementara si isteri pasti tertidur lelap, dan tak berharap suaminya kembali. Karena, jadwal bola sudah sangat larut. Pagi sang suami baru pulang ke rumah.

Pokoknya, banyak hal yang terjadi, di samping banyak hal pula yang bisa diambil dari bola. Untuk para politisi, agar dekat dengan rakyat pemilihnya, bisa menggelar kegiatan nonton bareng, untuk mendengar aspirasi atau keluhan yang dialami rakyatnya. Karena bola, bisa menjadi sarana mendekatkan kembali rakyat dan pejabat yang sudah dipilihnya. Hal ini tak terlepas, karena bola sering menjadi ajang menyatukan hati yang sedang koyak. (HA 130608)

Read More......

Fanatisme

Thursday, June 12, 2008

Orang Aceh benar-benar gila bola. Hampir di semua warung kopi sekarang memasang layar tancap, agar menarik minat masyarakat menonton bola. Pemilik warung kopi tentu saja untung, karena berjubel warga menonton. Datang musim bola, seperti pesta untuk pengusaha warung kopi. Tapi, meski masyarakat sangat gila bola, pihak pengusaha warung kopi tidak ikut-ikut gila dengan menaikkan harga segelas kopi, melainkan pelayanan yang diusahakan sebagus mungkin, sehingga warungnya jadi tempat favorit.


Ternyata antusiasme masyarakat Aceh menonton bola, tak jauh berbeda dengan yang terjadi di Eropa. Di Belanda dan Portugal, misalnya, tayangan piala Eropa mendapatkan share penonton 80 persen. Hal yang sama juga terjadi di Negara-negara lain, khususnya yang timnya lolos ke perhelatan 4 tahunan tersebut. Seperti dikutip situs detiksport, pihak UEFA mengaku puas dengan antusiasme masyarakat yang menonton bola.

Mungkin pihak UEFA akan terkejut jika mengetahui masyarakat Aceh juga menggilai bola. Karena dari kota sampai Gampong, warung kopi selalu penuh. Tak peduli tua, muda, semua rela memelototi TV sampai larut malam. Karena, sepertinya inilah fanatisme yang tidak bisa ditandingi oleh hal apapun. Bola benar-benar mengglobal.

Jangan tanya, tentang klub favorit yang didukung oleh masyarakat Aceh. Karena soal yang satu ini, orang Aceh dijamin punya pendapat beragam. Orang Aceh sangat demokratis, dan punya tim favorit masing-masing. Sangat beragam. Tak ada tim yang didukung mayoritas orang Aceh.

Dalam mendukung, orang Aceh juga tidak fanatik buta atau taklid buta. Karena dalam mendukung sebuah tim, orang Aceh punya alasan, yang kadangkala membuat kita geli mendengarnya. Misal, ada orang Aceh mendukung tim Perancis. Saat ditanya kenapa, dia langsung memberi alasan, “Perancis dulu menentang agresi AS ke Irak.”

Ada juga yang mendukung Turki. Hal itu bukan karena faktor Islam atau hubungan sejarah. “Saya mendukung Turki, karena benderanya hampir sama dengan bendera GAM,” ujar seorang kawan.

Tak sedikit juga yang mendukung tim Belanda. Saat ditanya kenapa, ada yang menjawab ‘kangen’ dengan masa penjajahan dulu, sebab ada kereta api. Ada juga yang menjawab, Belanda menyimpan arsip sejarah Aceh. Kalau kita tidak mendukung Belanda, arsip Aceh akan dihancurkan, dan kita kehilangan sejarah.

Banyak juga masyarakat Aceh mendukung tim Jerman, karena Jerman banyak membantu program rehab-rekons di Aceh. Malah, sebuah rumah sakit di Banda Aceh sedang dibangun oleh Pemerintah Jerman. Yang aneh dan mungkin karena fanatisme terhadap perjuangan GAM, ada orang Aceh mendukung tim Sweden. Saat ditanya kenapa, jawabnya: Wali Neugara Hasan Tiro tinggal di Sweden.

Jangan anggap tim Italia tidak ada pendukung di Aceh. Ada juga pendukung Italia di sini, karena Italia menawarkan permainan indah. Tapi, kita berharap jangan sampai ada orang Aceh mendukung tim Italia karena alasan Paus tinggal di sana (Roma). Nyan kabrat sange. (HA 120608)

Read More......

Pemerintah

Wednesday, June 11, 2008

Kemarin saya melihat sebuah foto di sebuah media. Di foto tersebut terlihat beberapa personil polisi yang berjaga-jaga di sekitar Istana Negara, Jakarta merapikan kawat berduri yang dipasang di sekitar jalan masuk Istana. Kawat berduri tersebut selalu menjadi sasaran kemarahan para pendemo, karena menghalangi mereka masuk dalam Istana.


Foto tersebut, setidaknya, memberikan gambaran, betapa takutnya pemerintah terhadap aspirasi yang dibawa rakyat, yang bertamu ke Istana. Para polisi yang berjaga-jaga juga melihat dengan tatapan penuh kemarahan, seolah-olah para pendemo adalah anjing yang mengganggu stabilitas dan keamanan Istana. Berkali-kali, sumpah serapah dikeluarkan: “Setiap hari demo, membuat kita harus selalu berjaga-jaga. Sepertinya kita tidak ada pekerjaan lain, hanya mengurusi orang-orang yang selalu mencaci dan mencerca.” Begitu kira-kira kata-kata yang selalu keluar dari mulut mereka.

Padahal, andai saja pemerintah punya nurani, tipis kemungkinan masyarakat atau rakyat mendatangi langsung Istana. Kedatangan rakyat ke Istana, membuktikan bahwa pemerintah selalu absen terhadap urusan-urusan masyarakat. Artinya, pemerintah tidak pernah memperhatikan nasib rakyat, dan selalu mengeluarkan kebijakan tanpa berkonsultasi dengan rakyat, apakah suatu kebijakan patut dikeluarkan atau tidak.

Nah, ketika suatu kebijakan tidak dikonsultasikan dengan rakyat, jangan heran kalau kebijakan tersebut selalu ditolak. Dan penolakan rakyat ini jangan dipahami bahwa rakyat tidak menyukai pemerintah. Rakyat hanya saja ingin mengingatkan pemerintah, bahwa tanpa rakyat, tidak ada pemerintah. Tanpa rakyat, tak ada Negara.

Jadi, jika kondisinya demikian, kenapa pemerintah takut menemui rakyatnya sampai Istana pun dipasang pagar berduri? Padahal, rakyat yang datang ke Istana sama sekali bukan pengemis, hanya saja mereka ingin agar segala sesuatu dimusyawarahkan, apalagi terkait dengan urusan rakyat.

Saya jadi ingat masa kecil, saat main pet-pet (petak umpet) atau perang-perangan, begitu mendengar pemerintah (Camat atau Bupati) datang ke kampung, kami anak-anak berlari pulang ke rumah masing-masing. Menurut orang tua kami saat itu, pemerintah digambarkan sangat jahat dan suka membunuh. Kami sebagai anak-anak tentu saja terpengaruh dengan pikiran tersebut. Apalagi, saat itu, kondisi kampung kami sedang masa konflik, kehadiran pemerintah sebagai suatu bencana.

Sementara kondisi sekarang, berbeda. Pemerintah (Bupati) yang takut menemui rakyatnya. Padahal, mereka dipilih oleh rakyat, dan saat kampanye sering berada di kampung berbicara dengan rakyat. Namun, begitu duduk di jabatan Bupati atau yang lebih tinggi, mereka enggan bertemu rakyatnya. Memang, dunia berputar, jika dulu rakyat yang takut menemui Pejabat pemerintah (Bupati, Gubernur, dan Presiden), sekarang merekalah yang takut kepada rakyatnya. (HA 110608)

Read More......

Kekuasaan

Tuesday, June 10, 2008

Ketika menulis tentang kekuasaan, mau tak mau, nama Guru Besar Sejarah Modern Universita Cambridge, Lord Acton, harus dilibatkan. Sejak awal abad ke-19, Acton sudah mempopulerkan istilah power tends to corrupt. Lord Acton seperti menyadari bahwa kekuasaan sangat paradoksal. Sesuatu yang saling bertolak belakang.


Kekuasaan cenderung korup, sementara kekuasaan mutlak cenderung korupsi dengan mutlak. Demikian Acton menyampaikan khutbahnya. Semua pakar politik sepakat dengannya. Kekuasaan dan korupsi, selalu dipandang sebagai dua hal yang sangat sulit untuk dipisahkan. Hal itu karena, tindakan korup, atau korupsi itu sendiri hampir selalu mengiringi setiap kekuasaan, sementara kekuaasaan diyakini sebagai pintu terbaik dan mudah melakukan korupsi.

Tak hanya itu, kekuasaan memudahkan semua hal. Teman, yang tak dikenal sekalipun akan mendekat tanpa diundang. Penghormatan akan kita dapatkan, meski kita tidak gila hormat. Malah, orang tergila-gila menghormati kita. Tapi, sering pula, kekuasaan menyilaukan mata. Dengan kekuasaan, kita sering lupa sama kawan, saudara, atau orang-orang yang pernah membantu kita. Meski sering pula, kekuasaan juga membuat kita lupa sama orang lain, dan merangkul saudara sendiri dan memberi mereka jabatan-jabatan strategis.

Soeharto, dalam hal ini, cocok dijadikan sebagai contoh. Dengan kekuasaan yang melebihi kekuasaan siapapun di Indonesia, sukses membangun kroni-kroni yang terdiri dari saudara, famili, kawan dan orang-orang yang mau dijadikan sebagai budaknya. Makanya, selama 32 tahun berkuasa, Soeharto sukses membangun kerajaan Cendana dan menanamkan paham soehartoisme. Tak ada siapapun yang lebih berkuasa, kecuali kekuasaan Soeharto.

Tapi, di akhir masa jabatannya, Soeharto sangatlah rapuh. Kekuasaan yang begitu besar ambruk oleh pekikan heroic dan keberanian para mahasiswa. Kawan-kawan yang dulu dekat dan menyembahnya satu persatu menjauh darinya, dan berusaha menjadi penumpang gelap kendaraan baru. Dekat dengan Soeharto saat itu, pertanda karir bakal tamat. Meski ada juga orang yang mati-matian membela Soeharto, karena Soeharto sudah menjelma menjadi dewa yang patut dipuja.

Karenanya, tak ada alasan lain, jika harus kaya maka mutlak kita harus memiliki kekuasaan. Jika kita gila hormat, juga bisa didapatkan melalui kekuasaan. Dengan kekuasaan pula, semua bisa dibeli. Hakim bisa dibeli, kekayaan bisa dibeli, penghormatan bisa dibeli, kawan bisa dibeli, bahkan termasuk harga diri bisa dibeli. Lewat kekuasaan pula, kita bisa membangun citra, di hadapan rakyat. Meski kita seorang penjahat, tetapi dengan modal kekuasaan, kita mampu mengubah tampilan jahat menjadi seorang ratu adil yang ditunggu-tunggu.

Tak hanya itu, kebenaran juga bisa dibeli. Tapi, yang perlu diingat tak semua hal bisa dibeli dengan kekuasaan. Sebab, kekuasaan juga punya keterbatasan. Kekuasaan tak bisa membeli hati nurani. Berbahagialah orang-orang yang punya kekuasaan dan memiliki hati nurani. Sebab, itulah sebenarnya modal kita hidup, bukan kekuasaan. Dengan hati nurani pula, kita masih pantas menyebut diri manusia. Nyan ban kekuasaan! (HA 100608)

Read More......

UT

Monday, June 9, 2008

Saat menulis pojok tentang UT ini, saya terpaksa harus membuka situs Wikipedia. Saya tidak ingin orang-orang mendapatkan informasi yang salah tentang tema yang saya tulis ini. Di situs ensiklopedi virtual ini, UT atau Universitas Terbuka diberi definisi sebagai perguruan tinggi negeri yang menerapkan sistem belajar jarak jauh dan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memperoleh pendidikan tinggi kepada mereka yang karena sesuatu hal tidak dapat mengikuti pendidikan tinggi tatap muka (konvensional.


Universitas Terbuka atau biasa disingkat dengan sebutan UT diharapkan mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air, tanpa membatasi usia, kondisi sosial ekonomi, dan waktu.

UT diresmikan pada tanggal 4 September 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 41 Tahun 1984.UT telah memperoleh Sertifikat Kualitas dan Akreditasi Internasional dari Internasional Council for Open and Distance Education (ICDE) Standard Agency (ISA) tanggal 12 Agustus 2005. Pada tanggal 14 Maret 2006, UT juga memperoleh Sertifikat ISO 9001:2000 untuk bidang Layanan Bahan Ajar dari Badan Sertifikasi SAI Global.

Informasi di atas setidaknya sudah memberi gambaran kepada kita, apa sebenarnya yang disebut UT. Tapi saya tidak tahu, ada berapa UT di Aceh yang benar-benar UT. Saya belum begitu update informasi tentang keberadaan UT ini. Hanya saja, setiap ke kampus Darussalam, saya justru melihat Kampus sangat terbuka sekarang. Pagar yang pernah dijanjikan sampai sekarang belum dibangun, padahal, soal pagar sudah pernah didemo oleh mahasiswa.

Memasuki areal kampus, saya mendapati kesan, inilah UT yang sebenarnya. Kondisi IAIN benar-benar mirip UT. Di sana tak hanya manusia yang belajar, melainkan binatang juga belajar di sana. Malah, binang seperti lembu atau kambing sering masuk ke kampus bersamaan dengan mahasiswa lainnya. Bedanya, mahasiswa belajar dalam ruang, sementara lembu atau kambung hanya meurot di samping ruang belajar mahasiswa.

Saking terbukanya, menurut pemberitaan Harian ini beberapa waktu lalu, sepasang mahasiswa dan mahsiswi dari Unsyiah ditangkap sedang berbuat mesum di Musalla Fakultas Tarbiyah. Mungkin kedua manusia yang sedang dimabuk asmara ini menduga, IAIN sudah sangat terbuka sekarang. Semua hal bisa dilakukan termasuk mesum.

Tak hanya itu, di IAIN juga masuk isme-isme dan partai politik dengan agenda tertentu. Ada yang berkedok dakwah, ada juga yang berkedok memperjuangkan kesejahteraan. Semua mereka mencoba meracuni otak mahasiswa yang masih bersih dengan utopia-utopia dan ilusi yang tidak jelas.

Iya, memang IAIN sangat terbuka sekarang. Siapa saja boleh masuk kampus, termasuk maling sekalipun. Dari maling berdasi atau terhormat, sampai maling cilet-cilet. Buktinya, beberapa fakultas pernah kehilangan computer atau peralatan kantor lainnya. Mahasiswa juga sempat kecurian sepeda motor. Nah! (HA 090608)

Read More......

Lupa

Saturday, June 7, 2008

Dulu, seorang kawan saya dari Subang, Jawa Barat melontarkan sebuah pernyataan yang menurut saya cukup menohok: Orang Aceh tidak pandai berterima kasih ya? Orang Aceh cepat sekali melupakan bantuan orang! Saya tentu saja kaget. Soalnya, selama ini dia tidak pernah menampakkan sikap tidak suka untuk orang Aceh. Malah, selama kami dalam safety house, dia termasuk banyak membantu.


Saat saya tanya, kenapa bisa membuat kesimpulan secepat itu? Lalu dia cerita, saat awal-awal Darurat Militer, rumahnya di kawasan Ciputat jadi tempat persembunyiaan aktivis Aceh sebelum diungsikan ke tempat yang aman. Ada aktivis Aceh, menurut cerita dia, tinggal di rumahnya selama 2 Minggu. Makan di sana, minum di sana, termasuk mandi dan tidur.

Tetapi, setelah beberapa bulan berpisah, dan bertemu lagi dalam suatu kesempatan, si aktivis Aceh ini sama sekali tidak mengenal lagi nama orang yang sudah menampungnya selama ini. Si aktivis Aceh, cerita kawan saya ini, ketika bertemu dengan dia hanya mampu memanggil dengan sebutan aneh: Eh…Pak Bos! dengan suara terputus-putus sambil mengingat nama yang sebenarnya. Meski, kemudian tak juga berhasil.

Tak hanya itu, katanya, semenjak aktivis Aceh kembali pulang ke Aceh pascadamai, jarang kawan-kawan yang dulu akrab dengannya mengirim SMS atau mengabarinya tentang kondisi di Aceh. Aktivis Aceh, kata dia lupa, bahwa mereka pernah jadi kawan berdiskusi dulunya.

Cerita tersebut saya ingat kembali, dalam perjalanan pulang dari Sabang ke Banda Aceh dengan kapal cepat yang baru diresmikan, Ekspress Bahari, kemarin. Kebetulan di sebelah saya duduk seorang kawan, yang sekarang memimpin sebuah Partai Lokal di Sabang. Dari ceritanya, terlihat bahwa dia cukup kecewa terhadap kawan-kawan yang pernah dibantu dulunya. Saat mendengar cerita dia, saya hanya terpikir satu kata saja: Lupa.

Dia sampai bercerita kepada saya, bahwa dirinya pernah mengirim sms untuk seorang kawan agar disampaikan kepada seorang pejabat yang pernah didukungnya: Neutulong pugah siat bak gobnyan, lon hana perle keu gobnyan, tapi misue ukue gobnyan perle suara lom dari Sabang, lon siap bantu.

Ya…saya jadi terfikir kemana-mana, bahwa benar orang Aceh cepat sekali lupa. Malah, seratus kali perbuatan jahat bisa dilupakan hanya dengan sekali janji manis. Orang yang dulu begitu dibenci, sekarang menjadi orang yang sangat dipuja. Kawan-kawan yang dulu satu perjuangan, kini malah dicurigai macam-macam, dan diperlakukan sebagai musuh.
Berapa banyak kasus pelanggaran HAM terjadi di Aceh, tapi siapa yang masih mengingatnya sekarang, dan memusuhi pelakunya? Sangat sedikit sekali. Kita orang Aceh, selalu lupa, termasuk lupa mencatat orang yang pernah berbuat jahat kepada kita. (HA 070608)

Read More......

NAD

Friday, June 6, 2008

NAD. Ya…sebuah singkatan yang sepatutnya kita benci, tidak hanya sekarang, tetapi sejak dulu. Kalau kita tidak mengetahui singkatan dari “NAD”, sungguh kita tidak tahu bahwa singkatan tersebut merupakan nama yang diberikan kepada Aceh sesuai dengan UU No.18/2001 tentang Otonomi Khusus. Lebih aneh lagi, orang asing juga tidak tahu bahwa NAD sebenarnya adalah Aceh. Misal, ada sebutan ‘masyarakat NAD’, ‘rakyat NAD’, ‘penduduk di NAD’, dsb. Sama sekali kita tidak tahu bahwa sebutan itu semua merujuk untuk rakyat Aceh.


Istilah “NAD” sama sekali tidak mencerminkan khas Aceh. Pemberian nama “NAD” untuk Aceh lebih terkait dengan kepentingan politis, mengaburkan sesuatu yang berbau Aceh. Dengan hadir istilah “NAD”, dengan sendirinya sebutan Aceh menghilang, kecuali kalau istilah NAD tersebut ditulis menggunakan kepanjangan. Tapi, yang sering terjadi, penyebutan untuk istilah tersebut hanya singkatan saja, sementara kata Aceh tenggelam di dalam istilah NAD.

Yang lebih aneh lagi, istilah tersebut masih dipergunakan sampai sekarang. Penggunaan tersebut tidak hanya monopoli media nasional, karena media lokal juga sering mempergunakannya. Lebih parah lagi, kop surat kantor Gubernur sampai sekarang masih menggunakan provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam ucapan-ucapan selamat di media, juga masih ditulis dengan sebutan Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Padahal, begitu Undang-undang Pemerintah Aceh (UU PA) disahkan, secara de jure penyebutan Aceh dikembalikan kepada Provinsi Aceh. Sementara pemerintahnya, disebut dengan Pemerintah Aceh. Itu bukan saya yang menyampaikan melainkan UU No.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. Undang-undang dibuat bukan untuk berlaku enam tahun lagi, melainkan sudah berlaku sejak diundangkan atau ditetapkan.

Sudah dua tahun (kalau saya tidak salah), Undang-undang tersebut berlaku. Tetapi, kok masih ada orang-orang di Aceh menyebut Aceh dengan NAD. Padahal, sudah sejak dulu (khususnya elemen perjuangan) menolak UU No.18/2001. Bagi elemen perjuangan, pemberian UU tersebut untuk Aceh lebih karena faktor politis meredam perjuangan GAM saat itu. Jadi, hanya sebagian kecil saja orang menerima UU tersebut, sementara sebagian besar rakyat Aceh saat itu menolak.

Sementara UU PA, meski masih banyak kekurangan di sana-sini, tapi itulah produk hukum yang sah untuk Aceh sekarang sebagai provinsi yang memiliki kekhasan di banding provinsi lain di Indonesia. UU PA juga merupakan produk politik yang diperjuangkan bersama-sama. Karena itu, sudah sepatutnya UU tersebut digunakan, lebih-lebih pada penyebutan Aceh. Kita orang Aceh harus melawan sekuat tenaga terhadap pihak-pihak yang mencoba menghilangkan sebutan Aceh.

Jadi, sekali lagi, khususnya untuk kalangan pemerintah Aceh, berhentilah menggunakan istilah NAD. Sudah saatnya istilah Pemerintah Aceh dipopulerkan, karena di samping sesuai dengan UU, juga sudah mencerminkan kharakteristik ke-Aceh. Kiban, na pakat? (HA 060608)

Read More......

Tender

Wednesday, June 4, 2008

Hari Selasa (3/6) lalu, sebelum ke kantor, saya menyempatkan diri duduk di ruang tunggu kantor Wakil Gubernur Aceh. Saya melihat tamu yang datang lumayan ramai. Dari orang biasa, pengemis, sampai pengemis professional. Orang yang datang tanpa henti. Keluar satu masuk satu (ada juga yang berkelompok). Ada yang minta diluluskan proposal progam, ada juga yang minta rekom untuk menang sebuah tender.


Masa awal-awal pengesahan APBA memang seperti uroe raya kleng, bermacam-macam urusan orang datang ke kantor Gubernur. Kalau istilah orang mancing, inilah saatnya orang “jak rhueng kawe.” Dulu memasukan proposal ke kantor Gubernur, sekarang saatnya melihat dan memantau apakah proposal tersebut disetujui atau tidak.

Saya tak sempat melihat suasana di ruang kerja Gubernur, jadi saya tidak bisa menggambarkan bagaimana suasananya. Tapi, menurut kawan-kawan saya, suasananya juga sama. Orang tak pernah berhenti menemui Gubernur, dari persoalan batas Gampong sampai masalah kayu.

Sementara kemarin saya hanya melihat sekilas suasana di ruang kerja Wakil Gubernur. Di ruang tamu, saya menemukan macam-macam urusan orang menemui Wagub. Saya juga melihat orang yang keluar dari kamar Wagub, semua wajahnya cerah. Saya tak tahu, apa masalah dia selesai atau tidak. Yang saya lihat, seutas senyum tersungging di bibir, dan pulang dengan sejuta harapan.

Saya sempat menangkap kesan tak ramah dari beberapa karyawan di sana. Wajahnya kaku, dan tak ada kesan bersahabat. Saya melihat setiap tamu yang datang ditatapi dengan sinis. Ada kesan penjajahan dari mata mereka. Saya sendiri merasakan kesan seperti itu. Dari tatapan yang diarahkan kepada saya, saya seperti divonis sebagai pengemis, atau orang yang meminta-minta sumbangan.

Padahal, saya lihat sekilas, mereka seperti karyawan baru, atau malah belum punya SK pengangkatan. Saya sempat bertanya dalam hati: apa semua karyawan di kantor pemerintahan sombong-sombong, meski gaji pas-pasan? Apa yang mereka banggakan? Apakah bekerja di kantor pemerintah sesuatu yang luar biasa?

Tapi saya tak terlalu mempersoalkannya, itu hak mereka. Cuma kita berharap, kita ada tamu yang datang (bukan hanya yang sudah dikenal), sapalah dengan ramah, lemparkan seutas senyum sebagai tanda persahabatan. Itu saja.

Saya memperhatikan mobilitas orang menemui Wagub (begitu juga dengan Gub), sangat tinggi. Saya maklum, sekarang lagi musim tender. Orang yang menemui Wagub (dan juga Gub) pasti terkait dengan tender. Kondisi serupa kita temui juga pada tahun anggaran sebelumnya, orang-orang juga ramai menemui Wagub, meski pada akhirnya, begitu semua proyek selesai, yang keluar sumpah serapah. Karena target untuk menjadi orang kaya baru (OKB) tidak kesampaian. Jak lom!(HA 050608)

Read More......

Inspirasi

Seorang teman meminjamkan sebuah buku bagus untuk saya. Judulnya menyentuh dan teduh, The Art of Worldly Wisdom, yang kalau diterjemahkan berarti: Titian Kebijakan Duniawi. Buku tersebut diterbitkan oleh Terawang Press.


Dalam buku ini, berisi pepatah-pepatah bijak (si penulis buku menyebutnya dengan inspirasi), yang disesuaikan dengan tanggal setiap bulannya, selama setahun. Per tanggal, memiliki pepatah tersendiri yang berbeda dengan pepatah per tanggal di bulan lain. Sekilas, pepatah yang terdapat di buku ini mirip dengan isi ramalan bintang.

Di antara pepatah yang ada, saya tertarik dengan satu pepatah yang berbunyi, Free yourself from common foolishness. Karena pepatah ini berisi ajakan untuk berkembang, bagi siapa saja, kaya-miskin, pintar-bodoh, orang biasa sampai untuk orang terkenal sekalipun. Ajakannya biasa saja, tetapi punya pengaruh luar biasa: Free yourself common foolishness (Bebaskan diri dari kebodohan khalayak).

Inspirasi atau pepatah yang terdapat dalam buku ini, sangatlah bagus untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, karena ditulis oleh seorang bijak pencinta ketenangan. Tak sembarang orang bisa mengamalkan pepatah di buku ini. Untuk mengamalkannya, orang tersebut haruslah punya pikiran dan jiwa yang sehat. Artinya, nasehat di buku ini tidak diperuntukkan bagi orang gila.

“Kebodohan didukung oleh adat kebiasaan yang melembaga, dan orang-orang yang menentang penjajahan individu tak bisa menghindari arus orang banyak." Itu nasehat pertama. Pengaruh lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang. Demikian juga, kita tidak bisa menghindari berhadapan dengan orang banyak ketika melakukan sesuatu termasuk saat melakukan perlawanan terhadap penjajahan. Karena pasti, banyak orang siap melawan kita.

Selain itu disebutkan pula, "orang berjiwa rendah tak akan bahagia dengan keberuntungannya sendiri sekalipun keberuntungan terbaik, atau tak pernah kecewa dengan keadaan kecerdasannya, sekalipun pada kondisi kecerdasan terburuk." Kondisi begini sering kita temui dalam kenyataan sehari-hari, di mana banyak orang tidak merasa bahagia meski kondisi saat itu sangat mendukung. Beginilah nasib orang yang tidak mampu menggunakan kesempatan.

Kita juga banyak menemui orang yang tidak senang melihat kesenangan orang lain, yang sekarang sering disebut dengan istilah SMS (susah melihat orang senang atau sebaliknya, senang melihat orang susah). Hal ini dipicu oleh "ketidakbahagiaan dengan kehidupannya sendiri menjadikan mereka iri hati terhadap kebahagiaan orang lain.”

Selain itu, “manusia sekarang memuji segala sesuatu yang berbau masa lalu, dan manusia suka memuji segala sesuatu yang jauh.” Bagi mereka, “masa lalu tampak lebih baik, dan apa-apa yang jauh lebih dihargai.” Saya percaya, kenyataan seperti ini yang menghipnotis rakyat Aceh puluhan tahun lalu, sehingga mereka lupa memproyeksi masa depan secara lebih baik. Padahal, masa lalu seharusnya tidak membuat kita terlena, melainkan bagaimana masa lalu itu kita jadikan sebagai cermin bagi kita melangkah ke depan.

Sementara, di akhir pepatah yang saya kutip di atas disebutkan, “Orang yang mentertawakan sesuatu sama bodohnya dengan orang yang merasa sedih karena sesuatu." Entahlah, apakah kita sekarang termasuk dalam golongan seperti ini atau tidak, saya sendiri tidak tahu. Mudah-mudahan tidak. (HA 040608)

Read More......

FPI

Tuesday, June 3, 2008

Saya sempat menonton film Fitna yang menghebohkan itu, malah sampai habis. Meski, setelah menontonnya, saya merasa seperti berdosa, karena sudah melegalkan aksi kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam di beberapa tempat di dunia, sebagaimana dituduhkan Geerts Wilders, si pembuat film Fitna itu.


Tapi, apakah semua tuduhan Geerts Wilders salah? Saya ragu menjawabnya. Saya pernah belajar agama, dan tahu bagaimana Malaikat berdebat dengan Tuhan ketika hendak menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Malaikat tidak setuju dengan kebijakan Tuhan, karena menurut Malaikat, manusia suka menumpahkan darah dan membunuh antar sesama.

Tuhan memotong protes Malaikat melalui firman-Nya, “Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Apa yang terjadi? Protes Malaikat benar-benar terjadi, ketika anak Adam, Qabil membunuh Habil saat memperebutkan Iqlima (adiknya), serta karena zakatnya tidak diterima oleh Tuhan.

Membaca berita di media dalam dua hari terakhir ini, membuat saya kembali ingat film Fitna dan protes Malaikat tersebut. Menurut saya, penyerangan massa Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) di Monas Jakarta seperti melegalkan tuduhan Geerts Wilders dan protes Malaikat kepada Tuhan.

Tindakan FPI, sama sekali tidak mencerminkan sebagai perilaku Islam. FPI seperti membenarkan wajah Islam penuh darah. Padahal, citra Islam sama sekali tidak seperti yang ditunjukkan oleh FPI. Islam itu damai dan mendamaikan. Islam itu anti kekerasan. Lalu, apakah FPI pantas memosisikan dirinya sebagai salah satu ormas Islam?

Saya semakin ragu. Karena, sejak dulu saya berkeyakin bahwa FPI merupakan gerakan provokator yang sengaja dibentuk oleh intelijen untuk memecah persatuan umat Islam. Aksi-aksi yang diperlihatkan FPI semakin membenarkan keyakinan saya, bahwa FPI memang benar dibentuk oleh intelijen. Karena itu, saya berpendapat, sudah selayaknya FPI dibubarkan.

Saya sering mendengar, jika kalangan militan Islam didukung oleh militer. Kalangan militer perlu membangun network dengan kalangan Islam, sebagai alat melakukan bargaining dengan pemerintah. Kedua pihak sama-sama saling menguntungkan, kalangan militan misalnya mendapat dukungan dari militer, sementara militer butuh kelompok militan menekan pemerintah. Diakui atau tidak, pascapemisahan TNI dan Polri, terjadi persaingan ketat antara dua institusi ini.

Hasil laporan International Crisis Group (ICG) beberapa tahun lalu juga membenarkan adanya jaringan tertutup antara kelompok Islam radikal dengan militer. Soalnya, banyak tokoh-tokoh militan Islam itu dekat dengan kalangan militer. Jadinya, bisa dimaklumi, kenapa aksi kekerasan massa FPI terhadap AKK-BB tidak ada yang melerai. Polisi juga hanya diam saja. Bukankah, ada permainan intelijen di sini?

Terserah benar atau tidak keyakinan saya di atas, tapi saya percaya jika FPI tidak dibubarkan, orang-orang akan semakin percaya bahwa Islam identik dengan kekerasan. Meskipun kekerasan itu cuma dilakukan oleh FPI saja. Karenanya, pemerintah tak perlu ragu dan lemah, untuk membubarkan FPI, karena banyak pihak setuju FPI dibubarkan. Jadi, tunggu apa lagi? Bubarkan FPI atau citra Islam akan rusak akibat ulah anarkis FPI. Kiban, ka meupat? (HA 030608)

Read More......

Donya

Monday, June 2, 2008

Dunia ini aneh. Ada yang bilang juga berputar. Tapi, memang benar demikian. Tak selamanya nasib kita hari ini akan sama dengan besok, lusa atau dua tahun mendatang. Hari ini boleh saja kita hina, tapi dua atau tiga tahun ke depan, kita akan menjadi orang yang sangat mulia.


Dulu, Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar punya kawan terbatas, termasuk yang mendukung cita-cita perjuangannya. Mereka hanya punya kawan dari kalangan mereka sendiri. Sementara orang lain, katakanlah, para pejabat atau pegawai, memandang rendah perjuangan yang mereka lakukan, sebagai tindakan bodoh.

Pokoknya, bisa diibaratkan, orang-orang yang se-ideologi dengan mereka mengidap penyakit kusta. Orang-orang tak mau bergaul atau dekat. Keberadaan mereka menjijikkan. Kondisi seperti ini juga terlibat saat masa kampanye Pilkada dulu. Tak banyak pejabat yang menyokong mereka berdua, karena dinilai tak punya peluang untuk menang. Malah, pejabat sebuah Bank saat diminta membantu pasangan yang naik lewat jalur independen ini berkali-kali angkat tangan, diselilingi janji: pasti kita bantu. Sampai Pilkada selesai bantuan tersebut tak pernah datang.
Hanya saja, begitu dipastikan memenangi Pilkada, si Pejabat Bank ini menurut cerita kawan-kawan dari SINAR (tim sukses Irwandi-Nazar) menawarkan diri membantu melunasi utang-utang kampanye. Hah…begitu cepat sebuah dukungan berbalik.

Saya sering ditanya kawan-kawan, kenapa Irwandi-Nazar terkesan melupakan tim kampanye-nya? Saya tak tahu harus menjawab apa. Mereka bahkan menantang saya dengan pertanyaan: siapa yang bisa menjamin, bahwa kawan Irwandi dan Nazar sekarang adalah teman-teman yang dulu berjuang bersamanya? Kawan mereka sekarang banyak abu-abu. Tak hanya itu, mereka juga mempertanyakan sikap lunak para pejabat yang sekarang tak memandang rendah mereka berdua. Saya hanya bisa mengatakan bahwa Irwandi-Nazar sekarang sudah menjadi pemimpin bagi mereka.

Sekali lagi, dunia ini memang aneh. Dulu tak hampir tidak ada (kecuali beberapa orang saja para pejabat yang mendukung perjuangan mereka) pejabat yang memuliakan mereka. Malah, mereka berdua (termasuk ideologi perjuangan yang mereka anut) dikecam sebagai virus yang merusak kemapanan posisi para pajabat dan pegawai. Saban hari, ideologi yang mereka perjuangkan dituding sebagai racun yang bisa membunuh.

Apa yang terjadi sekarang? Keduanya diperlakukan bak raja: disembah, dihormat, dan dimuliakan. Kemana saja mereka pergi selalui diikuti. Di berbagai kesempatan, orang-orang berdesak-desakan ingin berfoto untuk kenangan dipajang di rumah, agar menambah power (kekuatan), atau dipandang sebagai orang dekatnya.

Saya sering melihat, bagaimana ‘tabiat budak’ melekat pada para pejabat, PNS atau orang-orang yang berharap mendapat keuntungan dari hubungan pertemanan dengan mereka (Irwandi-Nazar). Kalau ada suatu acara, dan kebetulan kedua orang ini suka, para pejabat lain ikut-ikutan menikmati acara tersebut, walau dalam hati sering ngomel, “Kalau bukan karena pimpinanku nonton, aku ga bakalan nonton. Dari dulu, aku paling ga suka acara seperti ini.” omelnya.

Jangan tanya soal kawan baru Gubernur dan Wakil Gubernur? Setiap hari ratusan kawan baru bertambah. Karena berteman dengan seorang pejabat tinggi seperti Gubernur atau Wakil Gubernur punya nilai tersendiri: marwah terangkat, status sosial semakin tinggi, kesejahteraan meningkat, dan punya kesempatan diajak kemana-mana. Pokoknya, serba wah.
Lalu, apa modal bergaul dengan pejabat? Modalnya mudah saja: buang rasa malu, gunakan perangai budak. Selain itu, jangan suka membantah, harus selalu nurut. Kalau si pejabat bilang ‘taik’ sebagai makanan, anda sebagai bawahan harus bilang itu sebagai ‘makanan’. Pue na rencana bantah? (HA 020608)

Read More......