Akhirnya Selesai Juga

Saturday, November 29, 2008

“Akhirnya selesai juga…” kalimat pertama tersebut meluncur keluar dari mulutku setelah beberapa minggu mengedit kembali draft untuk buku ‘Aceh Pungo’. Tapi, perasaan lega segera bercampur was-was, sebab, sampai sekarang aku belum pede untuk menerbitkan buku tersebut, yang berupa kumpulan tulisan itu. Namun, desakan kuat datang dari seorang teman yang sudah menghasilkan sebuah karya “Aceh dan Romantisme Politik”. Setiap saat bertemu, si teman ini selalu menyodorkan pertanyaan, “Pajan juet ta peuteubit buku droe?”


Aku selalu bisa mengelak, bahwa tulisan aku belum cukup untuk dirangkum menjadi sebuah buku, karena terlalu sedikit. Padahal, alasan sebenarnya, aku tidak pede menerbitkan buku. Aku suka malu jika tulisan dicibir orang, dan dianggap tidak bermutu. Daripada diketawain orang, mending aku tidak menerbitkannya. Tapi, provokasi demi provokasi untuk menerbitkan buku, setiap saat kuterima. Tak henti-hentinya si teman itu memaksa saya menerbitkan tulisan yang sudah dimuat di Pojok Gampong Harian Aceh itu. Karena tak tahan terus menerus diprovokasi, akhirnya saya mengiyakan untuk menerbitkannya. “Ok, preh mantong!” kataku mantap.

“Nyan mantap!” katanya saat itu. Rencana pun kemudian dibuat. Aku sendiri juga sudah punya rencana, bahwa buku tersebut akan menjadi kado ulang tahunku yang ke-27. Aku ingin saat usiaku 27, ada sesuatu yang istimewa kupersembahkan untuk diriku sendiri. Aku pun begitu semangat setiap malam mengotak-atik Laptop mungilku memperbaiki kata-kata di draft buku yang banyak salah, dan membetulkan kalimat agar layak jadi buku. Tapi, belakangan aku sadar, bahwa menerbitkan buku itu butuh persiapan matang, seperti meminta kata pengantar, meminta komentar, layout, dan berbagai kebutuhan lainnya. Tidak mudah memang. Ya..yang terjadi kemudian, buku “Aceh Pungo” tidak terbit pada ulang tahunku.

Kawan-kawan kemudian bertanya, mana buku yang direncanakan itu. Mereka pantas bertanya, sebab, isu penerbitan buku tersebut sudah lumayan gempar, apalagi sang layouter Fauzan Yusuf, sudah merancang format cover dan membuat blog untuk buku tersebut di http://pungo.nanggroe.com, dan memposting model cover. Banyak juga yang memberi komentar. Tak tahunya, ternyata buku itu tak juga terbit seperti direncanakan.

Semangat aku kemudian kembali kendor, karena tak jadi terbit. Aku juga malas mengedit kembali tulisan yang termasuk ‘banyak’ tersebut. Sudah jadi kebiasaan, aku tak pernah lagi membaca tulisan yang sudah aku tulis. Si Kawan yang memprovokasi aku menerbitkan buku meminta draft biar dia yang membetulkan kata-kata yang salah. Sempat beberapa minggu, draft itu diotak-atik oleh dia. Ketika dikembalikan, dia bilang, bahwa draft itu sudah bisa digunakan untuk meminta komentar dari orang-orang yang layak untuk dimintai komentarnya agar membuat buku ini lebih ‘terkesan’ bermutu. Ternyata, saya tidak yakin juga bahwa semua kata-kata tersebut bisa diperbaikinya. Karena tidak ingin hasilnya mengecewakan, saya edit sedikit demi sedikit di sela-sela waktu luang. Namun, tiba-tiba muncul keinginan aneh bahwa aku tidak jadi menerbitkan buku tersebut. Si kawan mencak-mencak. Dia tetap akan menerbitkan buku “Aceh Pung” meski tanpa izin dariku. Dia pun siap jika kugugat ke pangadilan karena menerbitkan buku tanpa se-izin penulisnya. Dia malah menantang, dan akan meladeni gugatanku.

Kuatnya keinginan dia menerbitkan buku “Aceh Pungo” seperti merangsang kembali semangatku untuk mengedit dan menerbitkan buku. Apalagi, setiap ketemu dia, selalu disuguhi buku baru yang diterbitkannya seperti “Tasawuf Aceh” karya Sehat Ihsan Shadiqin, “dari Aceh ke Helsinki” karya Harry Kawilarang, dan calon buku Amrizal yang sedang waiting list. Mau tak mau, saya terprovokasi juga. Dalam hati berfikir, kapan ya bukuku jadi.

“Koleh, bukunya sudah setengah aku edit, doain dalam dua hari ini selesai,” kataku ketika ngobrol dengan dia di Yahoo! Messenger. Dia pun senang dan berharap akan mendengar kata-kata yang bagus-bagus dariku. Dia minta aku tidak heng setiap hari. Maklum, setiap hari aku stress dan kadang-kadang benci pada diri sendiri. Saya juga sudah malas menulis tulisan di kolom Pojok Gampong. Mood menulisku hilang. Saya tidak tahu penyebabnya. Mudah-mudahan, setelah terbit buku “Aceh Pungo” saya bergairah kembali, dan berharap buku itu segera punya ‘adik’.

Akhirnya, draft buku “Aceh Pungo” selesai juga aku edit. Aku merasa puas sekarang, meski belum jadi buku. Setidaknya, satu tugas sudah selesai kutunaikan. Ada yang tanya kenapa tidak menggunakan tenaga editing? Saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya merasa lebih puas jika mengedit sendiri. Ini bukan karena saya tidak percaya sama orang. Saya hanya ingin, jika ada kelemahan dari buku tersebut, semata-mata karena saya sendiri. Saya lebih puas. Sementara jika yang edit orang lain, dan terdapat kesalahan, saya tidak akan bangga, dan pasti sangat kecewa. “Jika pun salah, itulah hasil kerjaku, dan aku tidak perlu marah sama orang lain,” begitu alasan yang kuberikan.

Kini, aku berharap buku itu sudah bisa dinikmati akhir Desember ini, sebelum tahun berganti. Sebab, aku ingin menjadikan tahun 2008 ini sebagai tahun penuh kesan bagiku, seperti pada tahun ini aku bekerja di Koran Harian Aceh. Tahun ini pula aku menyelesaikan kuliah. Aku akan sangat bangga jika pada tahun 2008 ini, aku juga bisa menerbitkan buku. Sungguh tak ternilai kebahagiaan yang akan kurasakan.

Yang aku pikirkan sekarang, bagaimana respon pembaca. Aku sempat was-was juga, bahwa judul buku aku itu akan diprotes orang karena sudah memvonis “Aceh Pungo” seperti julukan yang diberikan Belanda. Judul itu akan menimbulkan kontroversial. Jadi, ada hal-hal yang membuatku tidak merasa bersalah, karena ternyata, banyak perilaku kita mencerminkan bahwa kita senang jika dipanggil “Pungo”. Jika tidak percaya, baca saja buku tersebut sampai selesai. Saya yakin anda akan menemukan banyak hal gila dalam masyarakat Aceh. Maka, wajar jika kita menulis “Aceh Pungo”. Selamat menanti.

@kata “aku” dan “saya” bercampur-baur. Bukan disengaja, tapi mengalir saja saat menulis, dan tak selera menggantinya lagi.

Read More......

Warning untuk SKPA

Thursday, November 27, 2008

Berakhir sudah era kemesraan eksekutif (Pemerintah Aceh) dengan legislatif (DPRA). Seperti dilansir Harian ini, kemarin, sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) serentak mengkritik kinerja Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA). Menurut anggota dewan terhormat itu, kinerja SKPA bobrok, terutama soal rendahnya kualitas proyek dan juga rentan penyimpangan. Kita hanya bisa mengurut dada, sebab itulah hasil dari fit and propertest.


Sebenarnya, apa yang dikritik dewan itu sudah lama tercium, bahwa ada SKPA yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan. Seperti dilaporkan, daya serap Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) di sejumlah SKPA sangat rendah. Akibatnya, ada sejumlah anggaran yang diperkirakan menjadi luncuran pada anggaran 2009. Namun, boleh tidaknya luncuran, masih menjadi perdebatan antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Pusat. Jika pada akhirnya, sikap Pemerintah Pusat sudah final dan tidak menyetujui adanya proyek luncuran, berarti para SKPA ini sudah bermain-main dengan penderitaan rakyat Aceh.

Kritik DPRA, sudah sangat jelas, bahwa sejumlah dinas teknis dan penerima dana serapan terbesar baik dari dana otonomi khusus (Otsus) maupun anggaran reguler dari APBA belum bekerja secara amanah. Mereka terbukti tidak mampu mempergunakan sejumlah anggaran yang diperuntukkan untuk peningkatan taraf hidup masyarakat Aceh. Sehingga banyak dana yang masih sisa dan tak mampu dihabiskan.

Tidak heran jika para anggota dewan terhormat kemudian memberi nilai untuk SKPA atau dinas/badan dengan nilai rapor ‘merah’. Penilaian anggota dewan ini harus dimaknai sebagai warning bagi Pemerintah Aceh, dalam menggunakan anggaran 2009. Artinya, Pemerintah Aceh khususnya Gubernur dan Wakil Gubernur perlu mengevaluasi kinerja masing-masing SKPA. Jika memang benar seperti penilaian anggota dewan, tak ada salahnya mereka diberi teguran untuk meningkatkan kinerja ke depannya. Jangan sampai kekecewaan publik terhadap kinerja Pemerintah Aceh semakin membuncah. Apalagi, jika kinerja mereka pada anggaran tahun depan tidak juga ada perubahan.

Tak hanya itu, jika kepala SKPA tidak menunjukkan kinerja yang bagus, tak selayaknya mereka dipertahankan, meskipun dulunya mereka lulus melalui fit and propertest. Sebab, proses itu ternyata tak juga menghasilkan Kepala SKPA yang benar-benar berkualitas. Mereka sudah terbukti gagal, dan tak mampu bekerja sebagaimana visi dan misi pemerintahan Irwandi-Nazar. Sebut saja seperti dicontohkan anggota dewan dari Fraksi Golkar dan Fraksi PPP, yaitu Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Dinas Mobilitas Penduduk dan Tenaga Kerja, serta Dinas Ketahanan Pangan. Kinerja mereka belum memuaskan.

Malah, seperti sering diberitakan Harian ini, Dinas Pendidikan yang seharusnya bekerja meningkatkan sumber daya manusia Aceh, ternyata berselemak ketimpangan, seperti temuan Tim Anti Korupsi Pemerintah Aceh (TAKPA). Para mahasiswa sudah berulang kali berdemo meminta agar Kepala Dinas Pendidikan tersebut dicopot karena, seperti disebut mahasiswa, tak becus dalam mengontrol kinerja bawahannya.

Kritik DPRA dan Demo para mahasiswa harus dijadikan warning bagi Pemerintah Aceh dalam melangkah ke depan. Rakyat tentu tidak ingin jika ke depan, kinerja SKPA, masih biasa-biasa saja, tanpa menunjukkan peningkatan. Sebab, ketika kinerja SKPA gagal, itu bukan semata-mata kegagalan SKPA tersebut, melainkan kegagalan Pemerintah Aceh. Kita meminta Pemerintah Aceh di bawah Irwandi-Nazar untuk mengambil sikap, jika memang ada kepala dinas tak layak dipertahankan harus segera diresuffle seperti permintaan para mahasiswa. Jangan gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga, demikian bunyi pepatah yang sering kita dengar. Beranikah Irwandi-Nazar? (HA 271108)

Read More......

Blog Investasi Masa Depan

Saturday, November 22, 2008

Tulisan ini kutulis sambil menunggu hujan reda. Aku berharap, tulisan ini menjadi bunga rampai atau semacam catatan ketika kawan-kawan Blogger berkumpul hari ini, Sabtu (22/11), dalam acara Pesta Blogger 2008 di Jakarta. Meskipun tak sempat hadir ke sana, saya ingin mempersembahkan tulisan ini untuk memberi semangat bagi para blogger bahwa melalui blog kita pasti bisa!

Dewasa ini, investasi tak hanya berbentuk uang, properti atau sesuatu yang memiliki nilai lebih (berharga). Sebab tak semua orang diberikan kemampuan untuk melakukan itu. Ada orang yang punya hasrat berinvestasi, tapi tak punya modal cukup. Haruskah orang-orang seperti ini terampas masa depannya? Kita bisa menjawab tidak. Semua orang bebas menentukan masa depannya seperti apa tanpa dipaksa pasrah atas kondisi yang dialaminya.



Saya percaya, semua orang punya plan tentang masa depan yang ingin dicapai dan digapainya. Masalahnya sekarang, bagaimana masa itu dicapai, dan modal apa yang harus disiapkannya. Bagi yang punya modal, dia bisa merancangnya dengan mudah, berinvestasi sebanyak mungkin, serta berharap bisa melipatgandakan kekayaan yang sudah dimilikinya. Tapi, bagaimana dengan yang tidak punya modal?

Anda yang tidak punya modal tak perlu sedih. Sebab, anda tak segera mati hanya karena tak punya modal. Percayalah, tak ada yang tak mungkin untuk dicapai. Jika ada niat, tekad dan nekat, dunia bisa anda bentuk sesuai keinginan kita. Anda harus belajar bagaimana Obama menjadi presiden AS, padahal sebelumnya jabatan itu tak mungkin diraih. Obama punya mimpi, dan kini mimpi itu jadi kenyataan. Jika ingin seperti Obama, anda hanya perlu meyakinkan diri bahwa, "Yes, we can!"

Kini, anda harus bangun dari mimpi anda, dan ubahlah mimpi jadi kenyataan. Saya percaya, kita bisa melakukannya. Kita bisa mengukir sejarah seperti Obama. Kita hanya butuh keberanian melakukannya, serta konsisten dengannya. Banyak orang berhasil karena setia pada bidang yang digelutinya.

"Kita hanya seorang blogger sejati, apakah bisa mengukir sejarah?" Anda tak perlu pesimis, seorang blogger juga manusia. Dia berhak mendapatkan masa depan yang layak. Berhasil tidaknya seseorang tak selalu ditentukan oleh profesinya, melainkan ketekukan, konsistensi dan kesetian pada bidang yang digelutinya.

Saya ingin katakan, sebagai blogger anda bisa juga berhasil. Profesi sebagai blogger bukan pekerjaan hina. Anda pernah dengar Budi Putra, wartawan TEMPO yang memilih berhenti sebagai wartawan dan memilih jadi blogger sejati. Jika gaji di TEMPO sampai jutaan dengan selalu terikat waktu dan deadline, sebagai blogger Budi bisa mendapatkan uang lebih besar dari gajinya di TEMPO tanpa terikat deadline. Budi tak harus berpacu dengan waktu, dan tak perlu merasa tidak enak dengan atasan, karena blogger bekerja untuk dirinya dan bebas.

Sekarang mari bersama-sama membangun mimpi kita dari dunia blog. Mari berinvestasi secara besar-besaran melalui blog. Kita ciptakan blog sebanyak mungkin, sebagai investasi untuk masa depan kita. Kita perbaharui isi blog setiap saat dengan isi-isi semenarik mungkin. Kita undang pembaca dengan tulisan-tulisan bermutu, sehingga pengunjung betah berlama-lama di blog kita.

Bagaimana kita bisa mendapatkan duit? Tenang. Anda tak perlu resah dan gundah. Pengunjung blog adalah pasar kita. Melalui mereka kita bisa meraup keuntungan besar. Caranya, kita hanya perlu memasang iklan internet yang belakangan sangat terkenal seperti Adsense, adbrite, bivertiser, text-link ads, kumpulblogger, adspeedy, kliksaya, dan sejumlah program lainnya. Setiap pengunjung melakukan klik pada iklan yang kita pasang, pundi-pundi dollar dan rupiah kita akan terus bertambah.

Jika kita punya sejumlah blog dengan isi yang berbeda-beda, kita bisa mengundang pengunjung yang punya minat berbeda-beda. Setiap blog kita akan menghasilkan. Jangan berharap kaya dulu, tetapi belajarlah sabar. Sebab, melalui blog kita sedang merancang masa depan. Uang sejumlah Rp30 juta per bulan bukan lagi masalah bagi anda. Blog anda yang akan mengantarkan uang untuk anda.

Ketika pengunjung blog anda semakin banyak, anda bisa menawarkan diri pada perusahaan untuk memasang iklan di blog anda. Bukankah investasi melalui blog sangat menggiurkan?

Read More......

Hanya Macan Ompong, Wajar Irwandi Tolak BKRA

Friday, November 21, 2008

Berita yang dilansir Harian ini, kemarin, tentang penolakan Gubernur Irwandi Yusuf terhadap kehadiran Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh (BKRA), perlu kita sikapi dengan serius. Hal ini bukan hanya karena keberadaan mandat Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias yang hanya sampai 16 April 2009, melainkan juga karena keberadaan lembaga pengganti BRR sangat menentukan masa depan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.


Penolakan Irwandi harus ‘dibaca’ dalam koridor ketakutan akan masa depan Aceh pascaberakhirnya mandat BRR. Sebab, sejumlah pihak, terutama masyarakat korban, masih berharap agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh tetap berlanjut meskipun BRR tidak ada lagi di Aceh. Karena, rehab-rekons Aceh merupakan amanah dan juga harapan para donor yang telah bersusah payah mengumpulkan bantuan untuk memulihkan kehidupan masyarakat Aceh, baik sektor fisik maupun non fisik.

Apalagi, kita yakini, sampai mandat BRR berakhir, dana yang diplotkan untuk membangun Aceh tidak terserap seluruhnya. Selain itu, agenda pembangunan Aceh berdasarkan blue print yang dibuat Bappenas, tak seluruhnya selesai dilakukan. Bukankah ke depan masih dibutuhkan lembaga yang akan melanjutkan proses tersebut? Dan, lembaga yang melanjutkannya haruslah memiliki kewenangan yang lebih besar, seperti permintaan Irwandi. Di antaranya kewenangan sebagai lembaga perencana, pelaksana, dan koordinasi berbagai program atau kegiatan yang didanai melalui APBN. Jadi, keberadaan BKRA tidak hanya sebatas lembaga koordinasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan oleh kementrian/lembaga dan perangkat Pemerintah Aceh.

Dalam dokumen Pemerintah Aceh, yang dirancang tim perumus BKRA sebelumnya, yang diserahkan ke pemerintah, sudah disebutkan bahwa dana rehabilitasi dan rekonstruksi yang sudah masuk ke dalam dokumen anggaran (DIPA) sampai tahun anggaran 2008 yang telah mencapai Rp32 triliun, sudah diprediksikan tidak akan terserap seluruhnya. Sisa anggaran dari APBN yang tidak terserap diperkirakan mencapai Rp16 triliun. Jadi, otomatis, dana tersebut harus dianggarkan lagi untuk anggaran selanjutnya, meskipun BRR tidak ada lagi di Aceh. Dana tersebut akan dipergunakan oleh lembaga pengganti BRR, yang dibentuk setelah BRR berakhir.

Namun, jika BKRA yang dibentuk tersebut hanya sebatas lembaga yang berfungsi mengkoordinasikan segala program, otomatis seperti ketakutan Irwandi, bahwa pusat masih mendominasi dalam hal rehab-rekons Aceh, sama saja nasib BKRA seperti macan ompong. Hal ini semakin membenarkan keyakinan masyarakat Aceh bahwa Pemerintah Pusat belum sepenuhnya memberikan peluang kepada Aceh untuk mengurus dan menjalankan rumah tangganya sendiri.

Karena itu, kita tetap berharap agar BKRA diberikan kewenangan penuh, seperti segala kewenangan dan tugas-tugas BKRA bersinergi dengan program Pemerintah Aceh. Hal ini akan semakin memudahkan proses rehab-rekons, karena akan lebih terjamin, efisien dan efektif. Apalagi, Pemerintah Aceh di bawah Irwandi-Nazar, yang dipilih langsung oleh rakyat, dapat membangun komunikasi dua arah, sampai ke tingkat yang paling rendah seperti desa. Selain itu, jika program BKRA sinergi dengan program Pemerintah Aceh, kepercayaan donor asing khususnya yang masih komit membantu Aceh, dapat terus ditingkatkan.

Akan tetapi, jika kewenangan BKRA masih ditahan-tahan, justru akan mengundang kebencian rakyat Aceh terhadap Pemerintah Pusat. Pemerintah dianggap masih mengganggu Aceh melalui setiap kebijakan yang dibuatnya.

Karena itu, sikap Irwandi yang menolak BKRA jika tidak diberi kewenangan penuh, sudah tepat. Sebab, jika BKRA hanya sebatas macan ompong, tentu tak akan memberi manfaat, terutama untuk para korban.(HA 221108)



Read More......

Penjilat

Wednesday, November 19, 2008

Selamat datang para penjilat. Anda berada di negeri yang tepat. Di sini, tabiat anda sebagai penjilat dihargai. Anda tak perlu takut tak mendapatkan penghargaan, sebab di sini, penjilat memperoleh tempat terhormat. Saya jamin, Anda tidak akan sendirian, karena bisa bergabung dengan para penjilat lainnya yang lebih jago dan lihai.


Namun, sebagai penjilat, anda juga harus pintar-pintar. Jika tidak, para penjilat lainnya akan menggusur anda. Karena itu, anda tak cukup hanya bermodal lidah yang panjang, melainkan juga harus terlihat seperti mafia. Anda harus selalu berhati-hati, sebab, sedikit lengah, penjilat lain akan menjatuhkan anda. Meski saya percaya, di komunitas penjilat berlaku rumus umum, seperti halnya di jalan raya. Bahwa, “sesama penjilat tidak boleh saling menjatuhkan.” Tetapi rumus ini tak pernah jadi aturan baku, karena bisa diubah setiap saat, tergantung apakah kepentingan masing-masing para penjilat terpelihara atau tidak.

Tapi, saya bukan berniat menakuti anda. Anda tak perlu takut jika posisi anda sebagai penjilat tergusur. Sebab, menjadi penjilat juga memiliki keasyikan tersendiri, meski anda lebih mirip sebagai lembu yang dicokok lehernya. Namun, soal kesejahteraan, anda tak perlu ragu. Banyak penjilat yang bisa menikmati hidup mewah, dan berkelas. Anda hanya cukup menghidupkan mesin ‘iya, siap pak!’. Itu kunci sukses anda sebagai penjilat.

Selain itu, saya juga ingin memberi saran, agar anda tidak menjadi penjilat kelas teri. Jika ingin sukses berprofesi sebagai penjilat, maka anda musti menjadi penjilat kelas kakap. Dalam menjilat anda harus selalu menggunakan kacamata, agar anda tidak salah dalam menjilat. Menjilat pejabat kecil, tak punya kuasa, dan miskin, bisa menuntun anda jadi seperti mereka. Menjilat juga butuh seni. Itu yang penting. Makanya, anda harus menjilat orang atau pejabat yang punya kedudukan hebat dan dihormati semua orang. Dengan begitu, anda akan punya nilai tawar. Orang-orang pasti akan memberi hormat pada anda.

Jika anda masih ragu bahwa profesi penjilat tidak menjanjikan masa depan anda, anda tak perlu resah. Saya ingin menceritakan kisah seorang penjilat. Sebut saja namanya Dokaha. Dia sudah jadi pegawai sebuah kantor selama 15 tahun. Namun, di rumah dia selalu dimarahi isterinya, karena tak mampu membeli sebuah mobil. Belum lagi, isterinya selalu merepet minta agar diberikan jatah untuk mempercantik diri di salon, minimal sebulan sekali.

Isterinya selalu membandingkan rumah tangganya dengan para tetangga. “Bapak gimana sih? Lihat tetangga kita, setiap bulan selalu saja ada benda baru yang dibeli,” ujar isterinya. Dokaha hanya diam saja. Karena meski sudah bekerja 15 tahun, sepeda motornya pun belum diganti. “Bapak nggak bisa diandalkan. Bapak lemah,” gugat isterinya.

Karena tak tahan terus menerus kena omelan isterinya, Dokaha pun mencari jalan pintas. Apalagi, sejak dua bulan terakhir, jatah dari isterinya juga sudah jarang didapatkan. Dokaha hanya bisa pasrah. Mau jajan di luar, Dokaha jelas tak mampu. Jika pun coba nekat, polisi syariat tak segan-segan meringkusnya. Sementara untuk ke luar daerah, pakai uang darimana. Bukan hanya karena ongkos ke luar daerah sudah mahal, melainkan juga tarif wanita penghibur sudah naik. Sejak harga BBM naik, tarif mereka juga dinaikkan. Menurut para penghibur, mereka terpaksa menaikkan tarif, karena biaya make-up sudah ikut naik.

Bingungkah Dokaha? Ternyata tidak. “Jika ada kemauan, pasti ada jalan,” begitu gumannya dalam hati. Jurus maut jadi penjilat pun dimainkan. Di kantor, atasannya didekati. Di depan karyawan lainnya, Dokaha memuji atasannya. Para karyawan pun bingung. Karena biasanya, Dokaha yang paling kritis dan vocal mengkritik atasan. Pujian Dokaha tersebut ternyata sampai ke telinga atasannya. Dokaha pun dipanggil. Dokaha sudah menduga, jika atasannya akan memanggilnya. Di dalam ruang, Dokaha memasang wajah semanis dan seramah mungkin. Dengan seksama, disimak pembicaraan atasannya, tanpa protes sedikitpun.

“Sejak hari ini, kamu saya pecat!” Ucapan atasannya membuyarkan lamunannya tentang jabatan yang bakal disandangnya. “Saya tidak butuh karyawan yang pandai menjilat. Saya butuh karyawan yang punya kemampuan dan bukan penjilat,” sambung atasannya. Dokaha tertunduk lesu, sambil teringat wajah seram isterinya. Nah! (HA 191108)

Read More......

Catok

Tuesday, November 18, 2008

Banyak hal menarik yang patut kita simak. Sebuah catok (cangkul), misalnya, tak semata-mata sebuah benda dan alat yang akrab dengan petani. Catok, bisa menceritakan banyak hal, seperti kerja keras, kemandirian, kehidupan orang kecil dan juga keikhlasan berbuat. Meskipun sekarang ini, alat produksi berupa cangkul tergusur setelah hadirnya traktor, tak membuat cangkul dilupakan. Cangkul tetap tak tergantikan, meskipun banyak alat canggih lainnya terus bermunculan. Bukankha, banyak hal yang dapat kita pelajari di sini khususnya terkait catok?


Saya jadi ingat epigram Heraklitus, seorang filsuf Yunani yang hidup sezaman dengan pemikir China Laozi dan Confusius, petapa India Sidharta Gautama, dan lebih muda dari Zarathustra, nama Nabi orang Persia. “Bila tidak ada matahari, kita bisa melihat bintang-bintang petang.” Demikian petuah kebijaksaan Heraklitus. Petuah yang penuh teka-teki, dan butuh energi untuk mengerti maknanya.

Seperti ditulis Roger von Oech dalam buku “Expectect the Unexpectect (Harapkan yang tak terduga!)”, matahari yang dimaksudkan itu hanya perumpamaan saja, yang melambangkan sifat dominan dari situasi hal atau suatu situasi. Sebut saja, seseorang yang membayang-bayangi sebuah kelompok, suatu bunyi yang menenggelamkan bunyi-bunyi yang lain, bumbu tertentu yang menenggelamkan cita rasa lain dalam sebuah hidangan, atau suatu kegiatan yang tidak menyisakan waktu untuk melakukan apa pun yang lain. Sementara bintang-bintang petang, melambangkan segi-segi yang kurang jelas dari sebuah situasi. Bintang-bintang petang itu tak terlihat karena mataharinya begitu cemerlang. Jika matahari tak ada, ‘bintang-bintang’ ini dapat dilihat.

Catok, dewasa ini sudah diperlakukan sebagai ‘bintang-bintang’ petang yang tak terlihat itu. Sementara mesin produksi modern seperti traktor, laksana matahari. Perannya begitu dominan. Orang-orang kemudian meremehkan para petani yang masih menggunakan catok, dan menyebut mereka tidak modern. Kita begitu mudah melupakan sesuatu, setelah memiliki yang lain. Seolah-olah sesuatu itu tak pernah hadir dalam kehidupan kita dan kita tak pernah mengetahuinya. Tapi, apakah orang-orang akan berfikir bagaimana membuat traktor jika sebelumnya tidak ada petani yang membajak sawah menggunakan cangkul?

Namun, itulah dunia kita sekarang. Kita selalu lupa pada apapun, setelah memiliki sesuatu yang lebih sempurna. “Seperti kacang lupa pada kulitnya,” demikian orang-orang menyebutnya. Tapi, tahukah kita, bahwa hasil dari keringat mereka ternyata tak semata-mata hanya dinikmati oleh mereka saja. Banyak orang yang mampu tersenyum, berkat jerih petani. Namun, adakah kita menghargai pengorbanan mereka? Apakah kita pernah merasa bahwa satu biji padi begitu berharga dan sangat menentukan satu biji padi yang lain? Coba kita renungkan, pernah tidak dalam kehidupan kita tak membuang sisa makanan? Tidak pernahkah kita menjatuhkan satu beras yang sudah jadi nasi saat kita makan? Saya yakin, semua orang pernah melakukannya.

Terakhir, saya ingin mengatakan, tak semua dari filosofi catok harus ditiru. Sebab, ada juga sifat-sifat dari catok yang tidak terpuji. Catok, misalnya, selalu mementingkan diri sendiri. Lihat saja, setiap kali catok digunakan petani mencangkul, selalu hasilnya ditarik ke belakang, untuk dirinya. Hal ini menyerupai salah satu tabiat manusia, yang mengumpulkan sesuatu untuk memperkaya diri. Sebagai perilaku, filosofi catok tak seharusnya kita tiru. Tapi, bukankah sekarang banyak dari kita yang mempraktikkan filosofi catok dengan tujuan memperkaya diri? (HA 181108)

Read More......

Aktivis SIRA Promosi Perdamaian Aceh di Mindanao

Monday, November 17, 2008

Mindanao | Harian Aceh
Ketua Bidang Internal Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA), Muhammad MTA, diundang International Initiative Dialogue (IID) untuk mempromosikan perdamaian Aceh sebagai model mewujudkan perdamaian berkelanjutan di Mindanao.


“Para pihak yang bertikai secara langsung menerima kami untuk mendiskusikan bagaimana mewujudkan komunikasi perdamaian antara pemerintah Philipina dan MILF,” ujar Muhammad MTA, kepada Harian Aceh, Minggu (16/11), sepulang dari Mindanao, Philipina.

Menurut MTA, demikian dia biasa disapa, selain dirinya turut serta beberapa aktivis SIRA dalam rombongan tersebut. MTA berada di Mindanao selama 13 hari, dan intens melakukan pertemuan dengan sejumlah kalangan di sana.

MTA menjelaskan, dirinya secara khusus diterima pihak International Monitoring Team (IMT) Mindanao, sebuah tim monitoring internasional yang beranggotakan empat Negara, Malaysia, Jepang, Brunei Darussalam, dan Libya. “Yang jadi ketua IMT sekarang adalah Malaysia, yang dijabat oleh Brigjend Amzah. Saya melakukan pertemuan dengan dia selama 2 jam, yang diikuti para anggota dari keempat Negara tersebut,” jelas MTA.

Dalam pertemuan tersebut, kata MTA, pihak IMT banyak bertanya tentang perdamaian Aceh, dan berharap menjadi contoh mewujudkan perdamaian di Mindanao. “Mereka ingin melakukan sharing kondisi dan pengalaman bagaimana mewujudkan perdamaian antar pihak yang bertikai,” tambah aktivis SIRA ini.

Pihak IMT, kata MTA, ingin mempraktekkan komunikasi politik antar para pihak yang bertikai di Philipina bagaimana membangun perdamaian. Apalagi, sejak konflik meletus di Philipina selatan tersebut, rakyat sipil selalu menjadi korban peperangan.

Menjawab Harian Aceh, bagaimana respon pihak IMT terhadap perdamaian Aceh, MTA menuturkan, sangat positif. Karena, kata Mereka, transformasi politik sedang berjalan di Aceh. Masyarakat mulai menikmati normalitas social politik dan ekonomi sudah berjalan cukup baik. “Keinginan mereka adalah bagaimana mewujudkan Mindanao tanpa perang, karena sudah menyengsarakan masyarakat Mindanao sendiri,” tutur MTA mengutip pernyataan pihak IMT.

Selama berada di sana, sebut MTA, dirinya yang mengelilingi pusat perang, melihat kondisinya mirip dengan kondisi Aceh pada tahun 1998-2000. “Di mana-mana kita melihat banyak masyarakat mengungsi serta minim bantuan,” kata MTA. Pantauan internasional terutama dari wartawan dan organisasi internasional juga sangat kurang.

“Yang sangat disayangkan, pihak internasional yang menjadi tim monitoring cease fire (gencatan senjata) antara MILF dan Tentara Philipina tidak dibenarkan memasuki area-area pengungsi,” lanjutnya. MTA menyebutkan, tanggal 31 November ini, mandat IMT berakhir. Jika mandat mereka diperpanjang, mereka meminta kewenangan mereka ditingkatkan bukan hanya sebagai penonton.

Para tim monitoring tersebut, lanjut MTA, hanya sebagai monitoring perang. “Mereka memantau apakah ada perang atau tidak. Sementara mencampuri dan menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi tidak dibenarkan,” sebut mantan Tapol Aceh yang pernah divonis 8 tahun penjara.

Kepada MTA, Brigjend Amzah, menjelaskan, sebelum IMT masuk pada tahun 2004, kontak senjata di Mindanao mencapai 600 kali. Namun, sejak IMT bertugas di sana, eskalasi kontak senjata berkurang, hanya 60 kali dalam sehari.

Caption: Muhammad MTA (kanan) terlibat pembicaraan dengan Ketua IMT, Brigjend Amzah, di kantor pusat IMT, Cotabato, Mindanao, Senin (10/11). Foto: Ist

Read More......

Mazhab Hana Fee

Saturday, November 15, 2008

Jika ada yang bertanya, mazhab apa yang dianut oleh umat Islam di Aceh sekarang ini, ulama dayah atau intelektual Islam pasti akan langsung menjawab, mazhab Syafii. Jika ada yang bilang bukan mazhab Syafii, orang tersebut langsung dicap salah minum obat. Kita akui, jika mayoritas umat Islam (bukan hanya di Aceh), tapi di seluruh dunia, lebih banyak menganut mazhab Syafii, sebagian mazhab Hanafi, Hambali atau Maliki.


Jawaban di atas memang benar, meski tak seluruhnya benar. Sebab, belakangan ini, orang Aceh punya mazhab lain yang dianut, yaitu mazhab hana fee (baca: hanafi). Setidaknya demikian menurut seorang kawan saya, mengutip pernyataan almarhum RHM. “Jinoe mazhab yang hidup di Aceh kon le Syafii, tapi mazhab Hanafi (dari kata hana fee).” Pernyataan itu sekilas seperti sebuah humor yang tidak lucu. Sebab, semua orang tahu kalau di Aceh, yang berlaku adalah Syafii.

Saya sendiri jadi bertanya-tanya, apa sih mazhab hana fee tersebut? Apakah mazhab tersebut sama seperti mazhab yang merujuk kepada pemikiran fiqih Imam Abu Hanifah? Tapi, setelah mendengar penjelasan si kawan yang panjang lebar, saya sedikit mengerti apalagi ketika dipadankan dengan realita yang kita lihat sehari-hari, memang begitulah adanya. Di mana-mana orang selalu berbicara mazhab tersebut, seperti di warung kopi, kantor pemerintahan, di balai desa, atau di mana saja yang aman untuk membicarakannya. Sebab, mazhab hana fee tersebut seperti aib, karena hanya menjadi pembicaraan tingkat elit: seperti orang berduit, punya kuasa, punya rumah mewah, atau orang-orang yang matahu su meutaga. Kita sebut mazhab ini aib, karena jika pembicaraan soal mazhab ini diketahui orang ramai, pasti akan jadi polemik, dan ketika tak hati-hati, orang tersebut bisa tersangkut perkara hukum.

Makanya, sang pemangku kepentingan sangat berhati-hati, dan selalu bermain secantik mungkin. Meski kita akui, jika di luar, dia ingin terlihat sangat bersih, tanpa cela, dan tak pernah menganut mazhab tersebut. Padahal, di belakang, dia menggunakan jurus mazhab tersebut untuk kaya mendadak. Sebab, jika ingin kaya di Aceh, maka kita mesti harus menganut mazhab Hanafi (bunyi vokal dari kata hana fee). Mazhab lain sama sekali tak berlaku, lebih-lebih menuruti apa yang sudah tertulis di dalam aturan agama yang kita anut. “Misue tadungo haba kitab, u tupe kap han tateumueng rasa” begitu orang-orang sering mengatakannya. Makanya, aturan seperti itu tak laku di Aceh. Di sini orang maunya jalan pintas, menggunakan mazhab hana fee.

Lalu, apa sih mazhab hana fee tersebut? Hana fee, berarti tidak ada bayaran (ongkos). Mazhab hana fee (baca: hanafi) berarti jika seseorang tak mampu memberikan fee atau bayaran, maka orang tersebut tidak akan mendapatkan proyek. Bicara proyek sekarang, lebih banyak bergulat dengan fee. Seorang pejabat boleh saja bergaji kecil, tetapi bukan berarti mereka tidak bisa kaya. Jika menempuh jalan pintas berupa korupsi, hal tersebut berbahaya bagi karir sebab akan tercium publik, dan ujung-ujungnya berakhir di penjara. Dan, ternyata sekarang ada cara mudah untuk cepat kaya yaitu melalui mazhab hana fee. Seorang pejabat akan memenangkan tender jika mereka diberikan fee yang jelas.

Jika mereka diminta memenangkan suatu proyek, mereka akan bertanya, berapa fee yang akan saya dapatkan jika saya memenangkan proyek untuk anda? Dengan kata lain, hana fee berarti hana proyek. Hana proyek, berarti impian menjadi orang kaya baru tak akan kesampaian. Orang akhirnya mau membayar seberapa pun fee yang diminta, asal cocok dengan angka rasional, dan tidak saling memberatkan. Senang sama senang.

Inilah fenomena yang terjadi di Aceh. Kita jadi takut untuk mengatakan, jika para pejabat kita bersih dari mazhab hana fee. Sebab, mazhab tersebut lebih banyak berlangsung di belakang meja, dan jauh dari pantauan. Makanya, saya ingin menyarankan kepada para kontraktor, baik lokal maupun nasional, berilah fee yang banyak kepada para pejabat, agar anda dimudahkan dalam urusan proyek atau tender. Semakin besar nilai fee yang anda tawarkan, semakin besar peluang anda memenangkan proyek semakin besar. Tapi jangan sampai, mangat si pade, saket si berandang. Mari kita sambut mazhab hana fee! (HA 151108)

Read More......

Tes Ngeblog dengan HP

Friday, November 14, 2008

Pulang dari kantor, tak tahu harus ngapain. Jam menunjukkan pada angka 4.52 menit. Iseng-iseng saya mencoba menulis di blog menggunakan HP, apakah hasil tulisannya rapi atau tidak. Jika nanti hasilnya rapi, sambil tidur aku bisa menulis hal-hal ringan.



Oya, saya ingin cerita, hari ini, Kamis (13/11), teman aku, namanya stania yang sekarang bekerja untuk TV Aljazeera kantor perwakilan Kuala Lumpur berkunjung ke Aceh. Dia menggunakan pesawat air asia, berangkat jam 16.00, dan tiba di Aceh jam 16.25. Dia memintaku menjemput ke Bandara, melainkan menanyakan hotel yang murah di Banda Aceh.

Namun karena ini kunjungan pertama dia ke Aceh, saya minta bantu sama teman kantor untuk menjemputnya ke Bandara. Sang teman setiba di bandara mengadu tidak ada lagi pesawat yang mendarat Kecuali Garuda. Katanya peswat dari Malaysia baru tiba lagi jam 9 malam.

Berkali-kaki sang teman kantor sms bahwa tak ada orang lagi di Bandara. Aku jadi tidak enak juga, apa teman aku tak jadi berangkat. Aku coba sms udah dimana, apa jadi ke Aceh. Eh, tak lama kemudian dia balas bahwa mau check in di Hotel Siwah. Buru-buru aku sms kawan satu kantor agar segera balik.

Oya, aku ketemu kawan aku itu ketika ikut workshop peace journalism di Jakarta akhir tahun 2006 di hotel Millenium. Saat itu dia masih kerja di radio 68H jkt. Kami kenalan dan saling tukar nomor kontak. Namun, setelah itu kami jarang kontak, kecuali bulan April kemarin ketika dia butuh nomor kontak seorang kawan di Aceh.

Tapi aku senang ketemu dia lagi. Jam 12 malam aku jemput di ke Siwah dan kami nongkrong di Sp. Surabaya. Kami banyak cerita-cerita tentang aktivitas kami masing-masing. Ternyata dia kerja di Aljazeera dan kini menetap di Malaysia.

Udah ah..capek ngetik pake HP, ga kelar-kelar. Kalo ada waktu disambung lagi...abis terasa lelah kalau pake tombol HP.

Read More......

Bad Mood

Thursday, November 13, 2008

Banyak kawan yang bertanya, kenapa tidak menulis ‘pojok gampong’ lagi? Saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya akui, belakangan ini memang agak kurang produktif, dan tak mampu menghasilkan satu tulisan pun. Saya tidak tahu kenapa, dan sampai sekarang belum menemukan penyebabnya.


Namun, jika ada kawan yang bertanya kenapa, saya langsung menjawab, sedang bad mood. Ya…penyakit ini yang mengidap pada diri saya belakangan ini. Saya sendiri sebenarnya tidak bisa menjelaskan bagaimana penyakit bad mood tersebut. Hanya saja, saya merasa bawaannya uring-uringan, bete, dan tidak tahu harus berbuat apa. Jika mencoba menulis satu tulisan, sering tidak pernah kelar, bahkan setelah menghabiskan waktu berjam-jam di Laptop mungil saya.

Ingin rasanya memaki diri sendiri, tapi apakah itu menjadi solusi? Saya jadi ragu. Sebab, saya tidak tahu secara jelas apa masalahnya. Saya hanya mengatakan kepada orang-orang, bahwa yang menjadi masalah sekarang adalah saya tidak tahu apa masalahnya.

Saya ingin mengatakan, bahwa belakangan ini saya sering dihantui perasaan takut. Malah, jika terlena main internet, dan jam sudah menunjukkan pukul 02.30, saya tidak berani pulang lagi ke rumah. Ada perasaan kurang enak dan was-was. Biasanya, jika sudah muncul perasaan seperti ini, saya memilih tidak pulang. Akhirnya, saya betah nongkrong di Simpang Surabaya sampai pagi atau sampai warung tutup.

Banyak agenda yang saya rencanakan tidak kelar, dan bisa jadi itu salah satu penyebabnya, kenapa saya tidak mood. Saya ingin ceritakan, bahwa skripsi saya “Propaganda SIRA” sampai sekarang belum saya perbaiki, belum saya tambahkan data-data susulan yang bisa menjadikan skripsi saya makin bermutu. Akibatnya, skripsi tersebut belum bisa saya cetak, meski saya sudah sah menyandang gelar S.Sos.I (jika salah dibaca atau terlalu cepat akan terbaca sosis).

Selain itu, saya ingin sampaikan bahwa saya punya target menerbitkan buku pada hari ulang tahu saya. Itu pun tidak terkejar, karena terlalu sempit waktu, sehingga saya tak selesai mengedit atau memperbaharui tulisan saya, agar layak jika menjadi buku. Kedua hal ini, memperbaiki skripsi dan menerbitkan buku, menjadi agenda yang membuat saya merasa terbebani.

Sebenarnya, saya sudah berusaha rileks dan pulang kampung selama dua hari, namun, tetap saja tak memberi pengaruh bagi usaha produktif saya. Buktinya, sampai saya menulis tulisan berbentuk curhat ini, belum ada tulisan yang berhasil saya tulis. Saya jadi begitu mandul.

Saya juga ingin memberi tahu para pembaca blog saya, bahwa ada beberapa kejadian kecil, yang membuat saya suka marah-marah sendiri. Pertama, saya sering kali malas mengangkat telepon atau membalas SMS dari nomor Hp yang tidak saya kenal. Dalam dua minggu terakhir, nomor HP saya banyak sekali masuk nomor-nomor yang tidak saya kenal. Anehnya, semua nomor itu milik cewek. Ketika saya tanyakan siapa dan dapat nomor saya dari mana, mereka tidak pernah memberitahukannya.

Hal ini membuat saya bertambah bingung. Padahal, saya selalu ingat, jika sama mengirim SMS ke orang, meski saya yakin, dia menyimpan nomor saya, saya pasti menulis nama di bawahnya. Tapi, orang lain tidak melakukannya ketika mengirim SMS untuk saya. Kejadian ini terjadi setelah nomor saya yang pertama hilang beserta nomor yang saya simpan. Namun, saya sudah mengurusnya kembali ke Grapari dan mendapat nomor yang sama. Saya sengaja masih mengaktifkan nomor tersebut untuk memancing nomor kawan-kawan saya, atau agar kawan-kawan tidak marah-marah dan memaki-maki saya, karena mengganti nomor tidak memberitahukan mereka.

Masalahnya mulai muncul, karena saya sering kali takut mengangkat telepon, sebab saya tidak ingat siapa yang sedang menelepon saya. Pernah suatu kali, saya asyik berbicara dengan nomor yang tidak saya kenal, namun kelihatannya saya (begitu juga si penelepon) begitu sangat akrab dengan saya. Padahal sebenarnya saya tidak mengenalnya. Saya sudah mencoba menyimak suaranya siapa tahu saya kenal, tapi usaha saya gagal, karena sampai telepon terputus saya tidak mengenal suaranya.

Saya juga sering kali mendapat makian, karena mencoba menanyakan, “Ini siapa ya?” si Penelepon langsung memvonis saya sudah sombong, sampai tidak lagi menyimpan nomornya. Saya terus terang terganggu dengan vonis tersebut.

Hal-hal seperti ini ternyata tidak hanya terjadi dalam hal komunikasi via telepon saja, melainkan juga di blog saya ini. Beberapa kali saya mendapat komen di buku tamu dari orang yang hanya menulis kode *****(Saya tidak tahu berapa jumlah kode yang pasti). Dia menulis pesan di buku tamu tersebut seperti orang yang sudah kenal lama dengan saya, padahal saya sama sekali tidak ingat padanya. Sudah berulang kali saya mencoba menanyakan namun dia tidak pernah membeberkan siapa dirinya. Saya terus terang sangat terganggu dengan orang yang bersumbunyi seperti ini. Sebab mereka membuat pikiran saya tidak tenang, karena selalu mencoba mencari tahu siapakah dia sebenarnya.

Keinginan saya mengetahui identitasnya membuat saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain. Untuk orang ini, saya ingin mengatakan, dia sudah membunuh konsentrasi saya, dan sudah menyakiti hidup saya. Jika dia memang teman saya, saya harus tahu siapa dia. Jika dia musuh saya, saya juga harus mengetahuinya.

Akhirnya, hal-hal kecil seperti itu membuat pikiran saya tidak bisa tenang, dan selalu memikirkannya. Hal ini kemudian berpengaruh pada aktivitas otak saya untuk mengolah hal-hal yang saya lihat, saya dengar, dan saya pikirkan. Sebab, saya tak bisa melakukannya. Sudah beberapa minggu saya menjadi orang yang tidak produktif, karena tidak bisa menghasilkan satu karya tulis pun.

Saya tidak tahu sampai kapan kondisi ini berlangsung. Namun terus terang, saya merasa tersiksa dengan kondisi begitu. Tidak menulis bagi saya sudah menjadi aib, sebab saya kerja di sebuah koran Harian. Mudah-mudahan, setelah menulis ini, ada suasana baru yang saya terima, termasuk saran atau masukan dari pembaca. Mohon maaf jika ada yang tersinggung atau terganggu dengan tulisan ini, terutama atas kata-kata yang salah, sebab saya tidak bergairah untuk mengeditnya kembali. Salam

untuk orang yang suka menggunakan kode ***** ini, mudah-mudahan sadar.

Read More......

Foto Minggu Ini

Tuesday, November 11, 2008

Foto yang dirilis Gedung Putih memperlihatkan Presiden AS, George W. Bush (kiri) dan Presiden terpilih Barack Obama melakukan pertemuan tertutup di ruang oval Gedung Putih, Senin (10/11).sumber foto: AFP/Getty Images



Read More......

Belajar dari Kemenangan Obama

Thursday, November 6, 2008

Fantastis. Itulah kata yang tepat menggambarkan kemenangan Barack Obama atas John McCain dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, Selasa (4/11). Selisih suara kemenangan Obama juga telak, 349 lawan 147. Dunia pun menyambut kemenangan Obama dengan rasa suka cita. Ucapan selamat dari pemimpin dunia kepada Obama bermunculan. Obama dianggap akan mengubah citra Amerika yang keras sejak dipimpin Presiden Bush.

Bagi Indonesia, kemenangan Obama memiliki arti penting. Sebab, selama empat tahun, Obama pernah menghabiskan waktunya di Indonesia, dan bersekolah di sebuah SD di Menteng, Jakarta. Kemenangan Obama tersebut, diharapkan hubungan Indonesia dan Amerika lebih dipererat lagi.


Presiden SBY, secara khusus mengomentari kemenangan Obama, mampu menciptakan perdamaian dunia. “Amerika Serikat (AS) kini telah memiliki presiden baru yakni Barack Obama. Dengan adanya pemimpin baru ini, diharapkan ke depan AS dapat meningkatkan peranannya membangun perdamaian dan kedamaian dunia,” kata SBY kepada wartawan atas terpilihnya Obama sebagai Presiden AS ke-44.

Banyak hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari Pemilu Amerika dan kemenangan Obama. Bukan hanya karena Amerika sudah menerima kulit hitam menjadi seorang presiden. Bukan pula karena Obama pernah mencicipi pendidikan di Indonesia. Hal yang perlu dicatat adalah ekpektasi masyarakat menyongsong perubahan, seperti janji Obama dalam setiap kampanyenya. Obama seperti membangkitkan gairah politik masyarakat untuk peduli pada masa depan Negara. Seperti diberitakan, tampilnya Obama telah mendorong warga Amerika yang sebelumnya tidak begitu peduli dengan pemilihan presiden, rela berantrian panjang, untuk memberikan suara kepada Obama, yang berharap datang perubahan di Amerika.

Selain itu, kemenangan Obama juga memunculkan optimisme baru, bahwa usia bukan menjadi faktor yang menghambat seseorang untuk memimpin Negara, apalagi Negara sebesar Amerika. Hal itu hendaknya menjadi contoh bagi Negara kita yang selama ini masih terkesan, yang muda belum boleh bicara. Sebab, menjadi presiden, usia tidaklah menentukan makmur-tidaknya sebuah Negara. Karena, hal yang terpenting adalah visi sang pemimpin dalam membawa perubahan, dan merangkul segala elemen dan kelompok untuk bersama-sama menciptakan perubahan. Menjadi presiden, apalagi untuk Negara sebesar Amerika, haruslah memiliki visi dan konsep yang matang, untuk ditawarkan dan dilakukan jika terpilih nanti.

Menjadi pemimpin juga tidak cukup bermodalkan uang dan popularitas. Sebab, seperti sosok Obama, kecerdasan dan kepintaran, khususnya dalam merespon sebuah persoalan dan mampu menawarkan solusi itu yang lebih penting. Kecerdasan dan kepintaran yang akan membuat seseorang populer atau tidak. Sementara modal, akan datang sendirinya, begitu sang kandidat diyakini mampu dan layak untuk memimpin. Seperti kita tahu, sebagian besar dana kampanye Obama berasal dari sumbangan personal yang bersimpati padanya, yang dihimpun dari situs pribadinya.

Pesta politik Amerika juga dianggap sebagai pesta yang paling meriah dari pemilihan presiden AS yang pernah ada. Karena, baru kemarin warga Amerika merasa begitu penting satu buah suara untuk perubahan. Nah, apakah pesta demokrasi di negeri kita sama seperti Pilpres di Amerika? Sangat jauh dari harapan, sebab di sini, dalam setiap pemilihan, apakah pemiliu Bupati/Walikota, Gubernur, Presiden atau anggota DPR, yang selalu menang adalah Golput. Kenapa bisa terjadi, karena warga di sini tidak yakin dengan kemampuan kandidat yang maju dan bertarung, apalagi membawa sebuah perubahan. (HA 061108)

Read More......

Potret Persepakbolaan Kita

Monday, November 3, 2008

Sabtu (1/11) lalu, kita kembali disuguhkan permainan bola yang dipadukan adegan kekerasan, saat pertandingan Persiraja Banda Aceh versus Persikab Bandung dan PSAP Sigli versus Persikabo Bogor, seperti diberitakan Harian ini, Minggu (2/11). Kekerasan atau kerusuhan dipicu oleh kepemimpinan wasit yang dinilai bertindak tak adil dalam memimpin pertandingan. Tapi pertanyaan kita, apakah kerusuhan tersebut murni hanya karena ketidakadilan sang wasit dalam memimpin ataukah itu hanyalah secuil dari potret buruk persepakbolaan tanah air?


Seperti diberitakan Harian ini, pertandingan PSAP versus Persikabo berakhir rusuh setelah wasit menghadiahi penalti untuk tim tamu. Keputusan wasit akhirnya berbuntut protes dari official PSAP yang tidak menerima keputusan tersebut, dan berujung pada mengamuknya para pendukung PSAP. Akibatnya pertandingan dihentikan. Sementara dalam laga Persiraja versus Persikab, terjadi insiden kecil berupa pemukulan terhadap hakim garis ketika gol yang dilesakkan pemain tim tamu dianulir wasit karena pemain Persikab dalam posisi offside sebelum tercipta gol.

Kedua insiden tersebut terjadi tak terlepas dari tidak berwibawanya keputusan wasit yang memimpin pertandingan. Padahal, di Negara maju seperti Eropa dan Amerika, setiap keputusan wasit meskipun merugikan, tetap diterima, tanpa diwarnai insiden. Keputusan wasit dinilai tak adil dan merugikan, biasanya digugat atau dilaporkan kepada federasi sepakbola. Sementara di negeri kita, setiap keputusan wasit langsung digugat di lapangan, dan ujung-ujungnya rusuh.

Kita tidak mengerti, apakah ini ada hubungannya dengan budaya negeri kita yang selalu menganggap kekerasan bisa menyelesaikan masalah? Coba lihat saja, tidak di pertandingan sepakbola yang menjunjung tinggi sportifitas, namun di gedung dewan pun praktik kekerasan berupa saling tonjok dan tinju selalu terjadi, dan menjadi tontotan rakyat yang menyebalkan. Padahal, negeri kita dikenal dengan sifat keramah-tamahan, anehnya sifat seperti itu tak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, tak juga di gedung dewan yang ‘katanya’ terhormat.

Makanya, kenapa sepakbola di negeri kita tak pernah maju-maju. Sebab, di sini tak berlaku asas fairplay dan menjunjung tinggi sportifitas. Tak ada keinginan, baik dari pihak pemain, wasit, official tim maupun federasi sepakbola seperti PSSI untuk memajukan permainan yang digilai semua orang. Para wasit atau tim-tim besar selalu bisa menyogok wasit atau panitia pertandingan untuk memenangkan suatu tim. Meski diakui, tak semua kondisi tersebut semata-mata kesalahan wasit semata, karena pengurus PSSI menjadi sumber masalah yang membuat kondisi persepakbolaan kita begitu carut-marut.

Belum lekang dalam ingatan kita bagaimana kepengurusan PSSI yang berselemak dengan perilaku korup, seperti kasus yang menimpa Nurdin Halid. Sampai-sampai FIFA tidak mengakui kepemimpinan Nurdin, dan meminta PSSI membuat pemilihan ketua umum baru. Kepemimpinan Nurdin Halid dipandang cacat, dan organisasi sepakbola kita dipandang sebelah mata di dunia. Hal itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan sepakbola tanah air, khususnya dalam meningkatkan mutu permainan para pemain agar bisa berkiprah di tingkat internasional.

Karenanya, kita sangat berharap, agar ke depan, manajemen organisasi sepakbola terus dibenahi, termasuk pemantapan kepemimpinan wasit agar benar-benar menjunjung keadilan dalam memimpin sebuah pertandingan. Kepemimpinan wasit yang buruk, akan melahirkan aksi anarkis, dan mencoreng nama baik persepakbolaan negeri ini, yang pada akhirnya membuat sepakbola tanah air tak pernah maju. (HA 031108)

Read More......

Melon

Saturday, November 1, 2008

Tiba-tiba saya teringat pada buah melon. Sebab, di warung-warung kopi sebelah kampung saya, orang-orang ramai membicarakannya. Kata mereka, seorang pengusaha di gampong tersebut sedang panen melon. Selain pengusaha melon, ada juga tokoh di sana yang tiba-tiba anjlok pamornya, karena masyarakat tidak mau lagi memberi atau menjawab salam dari tokoh yang ingin membangun kerajaan baru di Gampongnya.


Dalam sebuah obrolan santai di keude kupi, seorang pemuda bercerita tentang nasib pengusaha melon. Menurunya, sang pengusaha sudah merintis usaha bertani melon cukup lama dan baru kini dia mendapatkan hasilnya. Dulu, ketika melonnya baru keumang, dia berharap bisa memanen hasilnya. Namun, dia sempat gagal, karena pohon melonnya membusuk dimakan kambing ketika berusia beberapa minggu. Kegagalan itu disebut oleh orang-orang di Gampongnya, karena dia menanam melon di kebun orang lain. Kini, cita-citanya menjadi pengusaha melon sudah tercapai. Kerja kerasnya untuk menjadi pengusaha melon tidak sia-sia. Sebab, sekarang ini, semua orang memanggilnya pengusahan melon.

Menurut cerita warga di kampung itu, selain munculnya pengusaha melon, di sana juga terdapat mantan pejabat yang mendadak bangkrut. Rakyat di sana sudah tidak mau memberi ‘salam’ untuk dia. Modal untuk keperluan ikut tender sudah banyak diberikan untuk warga, akibatnya, dia kehabisan modal. Sementara ke depan, perjuangannya masih sangat berat, banyak tender yang dibuka di dinas-dinas. Jika modal tidak kembali, dia bakal sulit bertarung dengan para kontraktor muda yang muncul bak jamur di musim hujan.

Dia harus bekerja keras untuk mendapatkan simpati warga, termasuk memulihkan kepercayaan masyarakat, sehingga mau memberi salam lagi untuknya. Sebab, di Gampong kita yang besar ini, sudah lazim berlaku rumus, penghormatan dan penghargaan hanya untuk mereka yang punya banyak uang. Memiliki banyak uang, tak sulit mencari teman, baik teman lama maupun teman baru. Malah, kita tak perlu bersusah payah, karena teman-teman tersebut datang sendiri, dengan berbagai basa-basi. Tetapi, teman seperti itu biasanya tak langgeng, dan juga tak pernah tulus. Teman seperti itu layaknya jelangkung, datang tak diundang, pergi tak diantar.

Selain dua tipe manusia tersebut, masyarakat tetangga Gampong saya juga bercerita, jika warga di sana sudah tak mau mengkeramatkan gambar ‘ka’bah’ lagi. Padahal, dulunya gambar tersebut begitu sakral, sangat ideologis, dalam pemikiran politik. Namun, kini, mereka lebih memilih berpaling dari ‘ka’bah’ dan bangga jadi petani melon saja. Menurut mereka, bertani melon lebih menjanjikan untuk mempertahankan kanot bu, ketimbang ilusi-ilusi yang dibawa pada pendakwah, tentang hal-hal yang belum pasti. Manusia sudah bosan diajak terbuai dengan mimpi-mimpi indah yang membuat mereka lupa pada misi awal sebagai manusia bumi.

Dua sisi manusia, yang satu pengusaha melon, dan satu lagi lebih banyak bergelut dengan tender, kerap mengundang kontradiksi. Keduanya sangat jauh bertolak belakang. Jika pengusaha melon lebih banyak bergaul dengan masyarakat bawah, maka pejabat yang berhubungan dengan tender, pergaulannya dengan orang-orang yang selevel dengannya atau masyarakat kelas menengah atas. Mereka berdua akan bergulat untuk merajut mimpi, siapa sebenarnya yang paling dibutuhkan warga, pengusaha melon yang memperkerjakan petani, atau pejabat yang hanya melayani segilintar tokoh yang punya pengaruh di Gampong tersebut. Kita tunggu saja hasilnya. (HA 011108)

Read More......