06 January 2009

Wasiat

Kutulis warkah ini bukan karena Aku sudah benci pada perjuangan tuan. Bukan pula karena Aku tidak sepakat lagi untuk hudep beusare dan mate beusajan. Sengaja kutulis warkah ini, karena pengikut tuan sedang berembuk kembali di kota dingin nan sejuk, Helsinki. Lewat warkah ini, Aku hanya ingin mengatakan bahwa Aku sudah lelah oleh janji-janji pengikut Tuan! Bayangkan, pengikut tuan sampai bersumpah, bahwa jika partai yang dibentuk mereka menang, gunung seulawah akan dipindahkan. Pengikut tuan sampai bertaruh, bahwa jika tahun 2013 tujuan itu tak tercapai, dia minta ‘alat vital’nya dipotong. Semua ketidakjelasan akan menjadi terang.

Terus terang, Tuan, Aku ragu tentang semua mimpi yang Tuan hembuskan. Aku tak semangat lagi mengikuti petuah-petuah pengikut tuan, yang mencoba membius dengan sebuah optimisme. Sebab, sebelumnya Aku sudah pernah termakannya. Ternyata, akhir dari optimisme tersebut ternyata sebuah omong kosong belaka, seperti yang kusaksikan hari ini. Semakin hari, orang-orang semakin banyak membenci pengikut tuan. Semakin banyak yang berpaling.

Tuan, ketika Aku bimbang, kucoba membuka kembali tulisan-tulisan yang pernah Tuan tulis puluhan tahun silam. Kucoba menerjemahkan pikiran-pikiran Tuan dalam kondisi yang terjadi hari ini. Tapi, sama sekali tak kutemukan hubungannya. Pikiran-pikiran tuan seperti tergantung, mengawang-awang, dan tak lagi aktual. Sepertinya, yang kusaksikan sudah jauh melenceng dari pesan Tuan.

Aku pernah membaca salah satu dari bagian tulisan Tuan. Tuan begitu bersemangat mengutip wasiat Nietzsche, untuk menanamkan semangat pada pengikut Tuan. Tapi, kurasakan, pengikut Tuan sama sekali tak mengingatnya, apalagi mengamalkannya.

“Kepadamu tidak kuajarkan kerja, tapi peperangan,
kepadamu tidak kuajarkan damai, tapi kemenangan.
Jadikan kerja untuk perang, jadikan damai untuk menang.”


Kalimat-kalimat tersebut, hingga kini masih tersimpan rapi di diary Tuan yang tak selesai itu. Aku yakin, pengikut-pengikut tuan pun tak lagi membacanya. Mereka sibuk dengan rutinitas mencari lebih dari sekadar sesuap nasi. Katanya, perjuangan tanpa didukung modal adalah sama dengan bunuh diri. Aku jadi ragu, apakah ketika modal terkumpul sangat banyak, mereka masih peduli pada perjuangan yang pernah tuan gariskan? Bukankah mereka akan berpikir, “untuk apalagi perjuangan, kita sudah sama-sama sejahtera. Perang, tak menjanjikan apa-apa, malah menghancurkan semua yang kita punya.”

Tuan, sebagai seorang yang mengagumi keberanian, kecerdasan dan sifat konsistensi tuan, aku kecewa. Sebab, aku sangat yakin, bahwa tuan sama sekali tak meramalkan bahwa akhir dari cita-cita yang pernah tuan cetuskan akan menjadi seperti ini. Dalam beberapa penggalan tulisan tuan, yang dulu menjadi buku wajib yang harus dibaca pengikut tuan, aku sempat membaca bahwa tuan selalu menanamkan “udep mulia atau mate syahid.”

Hidup mulia yang tuan inginkan bukanlah bergelimangan dengan uang, jabatan atau memiliki istri yang cantik dan lebih dari satu. Hidup mulia yang tuan inginkan tak sekadar kemenangan, melainkan bagaimana negeri ini kembali tegak seperti ratusan tahun silam. Jika cita-cita itu tak mampu digapai, kata tuan, lebih baik mati syahid. Aku menangkap keseriusan dari kata-kata tuan. Sebab, seperti dulu pernah kudengar dari kaset-kaset ceramah tuan, bahwa orang seperti tuan lebih memilih mati seribu kali, daripada hidup dalam perintah orang, seperti hidup para budak. Entahlah, tuan, saya sendiri malas memikirkannya. Sebab, banyak ketidakbenaran dipertontonkan, dan aku jadi tak bersemangat.(HA 060109)

Artikel Terkait