10 February 2009

Pemilu dan Kekhawatiran Rakyat

Belakangan ini, aksi kriminal semakin sering ditemui. Penyebabnya macam-macam, ada yang karena faktor ekonomi, politik atau kepentingan merusak perdamaian. Sayangnya, hingga kini pihak polisi belum berhasil mengungkap siapa aktor intelektual penyebab memanasnya kondisi keamanan di Aceh.


Banyak pihak menengarai, memanasnya kondisi Aceh karena menjelang perhelatan akbar berupa Pemilu 2009 pada 9 April mendatang. Tapi, apakah itu penyebab satu-satunya? Bukankah banyak faktor lain yang bisa disebut. Soalnya, kondisi Aceh yang sudah mirip filosofi lampoh soh ini, menyebabkan semua orang berkepentingan mengobok-obok Aceh tanpa merasa menjadi tertuduh.

Sementara elit politik, pejabat pemerintahan dan pihak keamanan sibuk berpolemik, dengan mengeluarkan pernyataan yang membingungkan masyarakat. Padahal, yang harus dilakukan bagaimana aktor-aktor yang mengobok-obok Aceh ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.

Kita tidak boleh semata-mata juga menganggap apa yang terjadi belakangan ini semuanya terkait dengan pesta demokrasi yang berlangsung. Sebab, faktor-faktor lain misalnya, seperti persaingan proyek, soal kesejahteraan, dan rekonstruksi juga terkait dengan memanasnya kondisi Aceh. Masalahnya, karena semakin dekatnya pelaksanaan pemilu, semua kejadian dikaitkan dengan pesta lima tahun itu.

Pun begitu, tak bisa dinafikan juga jika persaingan perebutan basis dukungan sebagai penyebab tidak normalnya kondisi Aceh. Tapi, kita mesti melihat persoalan ini secara jernih. Sebab, terlalu mahal harga yang harus dibayar oleh rakyat Aceh jika kondisi keamanan kembali sebelum MoU Helsinki ditandatangani.

Ada yang menuding, memburuknya kondisi keamanan karena distribusi keadilan tidak merata. Sehingga banyak orang melalukan aksi-aksi kriminalitas, untuk mencapai tujuan kesejahteraan. Pemerintah mesti mengantisipasi hal ini dengan lebih banyak membuat program-program pemberdayaan masyarakat dan juga program-program pemulihan ekonomi. Sejarah telah membuktikan, tidak ada perang di negeri yang penuh keadilan.

Sementara, jika penyebab runyamnya kondisi keamanan di Aceh karena terkait Pemilu, kita meminta agar masing-masing partai mengedepankan cara berpolitik yang simpatik. Kemenangan dan perebutan kursi bukan semata-mata tujuan, dan tidak bisa dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Partai perlu mengajarkan cara berpolitik yang santun kepada masyarakat dengan menawarkan program-program yang membuat masyarakat bergairah berpartisipasi dalam politik.

Karena, banyak juga rakyat yang bersikap apatis dengan proses politik yang sedang berjalan. Mereka sibuk memikirkan nafkah untuk mengasapi dapurnya, ketimbang menunggu janji-janji para politisi yang tidak pasti. Rakyat tidak bisa dihibur dengan slogan kosong, tanpa diiringi dengan bukti.

Kita tahu, semua orang sibuk dengan kondisi Aceh, baik karena memanasnya situasi juga karena banyaknya perputaran uang di Aceh. Namun, uang yang banyak itu, kita tahu, tidak semuanya bisa dinikmati oleh rakyat Aceh. Kondisi rakyat Aceh sekarang mirip dengan pepatah, ayam mati di lumbung padi. Uang dan kesejahteraan hanya dinikmati dan dikuasai para pengusaha dan pejabat saja. Sementara rakyat tidak tahu harus mengadu kemana.

Untuk itu, kita berharap, sibuknya para petinggi Partai memperjuangkan kursi tidak membuat rakyat Aceh kembali khawatir. Sebab, bila petugas keamanan kembali beroperasi di perkampungan, maka keadaan negeri ini bagai perang. Sementara perang telah lama berlalu.

Politikus seharusnya berpikir optimis, bukan merasa dirinya seperti kodok dalam blender. Politikus yang katanya akan menjadi pemimpin seharusnya menjadi figur yang kuat untuk dicontoh masyarakat.

Mungkin masih banyak lagi yang harus kita pelajari untuk menangani kerikil dalam perdamaian yang dipastikan abadi ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selain kekhawatiran itu sendiri.(HA 100209)


Artikel Terkait