30 June 2009

Belajar dari Brazil

'Jika kita harus melakukan sesuatu yang tidak populer, sebaiknya sekalian saja dilakukan dengan segenap hati, karena dalam politik, pujian tidak didapatkan dengan takut-takut’—pepatah Cicero.

Brazil wajar jawara piala konfederasi 2009. Sebagai Negara dengan tradisi sepakbola yang kuat, bukan sesuatu yang luar biasa ketika Brazil kembali menjadi jawara setelah meraihnya pada 1997 dan 2005 silam. Meski sempat tertinggal dua gol di babak pertama, sama sekali tak membuat Brazil melemah dan menyerah. Brazil hanya perlu bermain konsisten seperti dilakukan sebelumnya.

Brazil sama sekali tidak mempraktekkan permainan yang menjurus ke permainan kasar. Brazil hanya perlu bersabar dan akhirnya memetik hasil gemilang: jadi juara. Bagi Brazil, dalam permainan yang perlu dilakukan adalah menjunjung tinggi sportifitas serta bermain sebaik-baik mungkin, dengan penuh disiplin, konsisten, dan bola-bola pendek.

Karena, kemenangan adalah soal waktu dan hasil akhir saja. Sebagai tim yang sarat pengalaman, dikalahkan pada babak pertama atau pun pada menit-menit awal adalah bukan akhir dari permainan. Sebab, siapa pemenang baru ditentukan ketika sang pengadil meniup peluit terakhir. Hasil apapun yang dicapai kedua tim, itulah buah dari permainan tersebut. Sadar bahwa permainan masih dilangsungkan beberapa menit lagi, Brazil seperti biasa memanfaatkan sebaik-baik mungkin dan tak menciptakan kesalahan meski sedikit. Akhirnya, seperti kita tahu, bola indah Brazil dengan teknik terbaik, mampu menaklukkan Amerika, dengan skore 3-2.

Hendaknya, para politisi atau katakanlah calon presiden yang kini sedang sibuk-sibuknya berkampanye memenangkan suara rakyat, perlu belajar dari laga Amerika Serikat versus Brazil. Para capres tersebut perlu belajar cara berpolitik secara santun, penuh sportifitas, dan menampakkan diri sebagai negarawan yang budiman. Karena memenangkan sebuah perhelatan seperti Pemilihan Presiden, para kandidat tidak boleh melakukan cara-cara kotor, terlebih dengan menjelekkan kandidat lain. Memenangkan Pilpres bukan dengan menghujat dan menelanjangi kandidat lain dengan fakta-fakta palsu dan isu-isu murahan, termasuk membawa-bawa masalah agama. Itu sudah fatal sekali.

Para kandidat kita, seharusnya, harus lebih lihai dengan menawarkan program-program unggulan dan berpihak kepada rakyat kecil. Mereka harus menjelmakan diri sebagai kandidat pemimpin yang punya visi jauh ke depan. Tetapi, apa yang kita saksikan dari beberapa kali debat, sama sekali tak mencerminkan mereka adalah negarawan atau pemimpin yang visioner. Mereka hanya berbicara tentang prestasi masa lalu termasuk data dan fakta yang dikaburkan.

Rakyat yang sempat menonton acara debat mereka, hanya menyaksikan para pemula yang sedang belajar berbicara. Mereka tak mampu menangkap persoalan ril masyarakat dana menawarkan solusi yang tepat. Perdebatan mereka sama sekali tak layak disebut perdebatan, karena mirip sebuah acara cerdas cermat, di mana masing-masing kandidat diberikan waktu dan kesempatan yang sama untuk menjawab setiap masalah. Malah, dari beberapa jawaban, tercermin jauh lari dari kenyataan yang sedang dihadapi rakyat. Rakyat sama sekali tak mendapat pencerahan dari acara debat tersebut.

Mereka sering melakukan hal-hal yang tidak popular, seperti mendukung pendapat saingannya, padahal itu pantang dilakukan. Seharusnya, mereka harus memiliki pandangan yang berbeda dan lebih mendalam. Apa yang mereka lakukan—dengan mendukung saingannya—tidak dilakukan dengan sepenuhnya, karena mereka juga takut jika didebat.

Mereka tidak mendengar nasehat Cicero, pakar retorika, seperti dikutip di atas, ‘Jika kita harus melakukan sesuatu yang tidak populer, sebaiknya sekalian saja dilakukan dengan segenap hati, karena dalam politik, pujian tidak didapatkan dengan takut-takut’. Tapi, namanya saja politik di Negara kita, sesuatu yang biasa pun kemudian menjadi luar biasa, meski yang tampak hanya pepesan kosong, tak punya makna. (HA 300609)

Artikel Terkait

3 comments