Meulanggeh

Thursday, January 29, 2009

Saya ingin bercerita tentang seorang pejabat di negeri antah berantah. Kalau dulu pejabat itu tersandung kasus asusila, sekarang giliran anaknya yang tersandung kasus barang haram. Tapi, karena dia sangat berkuasa, hampir tak ada yang bisa menyentuhnya. Kasus tersebut terdiam dengan sendirinya. Dengar-dengar, dia pandai ‘melobi’ para wartawan agar berita tentang anaknya lolos dan tak termuat di media.


Meskipun semua orang tahu kalau pejabat itu lebih banyak salahnya ketimbang benar, tetap tak ada protes. Orang-orang di kantor masih setia menghormatinya dan juga ‘menjilatnya’. Semua orang memasang muka manis ketika menghadapnya. Kata-kata yang berbalut ‘kesan menjilat’ seperti ‘ya bapak!’ kerap didengarnya dari bawahan. Dia hanya senyum-senyum saja. Dalam hati dia tertawa.

Seperti pernah diberitakan sebuah media, anak si pejabat itu ditangkap polisi karena mengonsumsi sabu-sabu dan ganja. Tak ada media yang berani menulis dengan jelas kalau si anak itu putra dari seorang pejabat teras. Dari rekan-rekan wartawan, Saya dapat bocoran informasi, kalau si pejabat menelepon semua petinggi media, dan meminta agar tak memuat berita tentang anaknya. Si pejabat menjanjikan kompensasi memberikan jatah iklan pemerintah untuk media yang tidak memuat berita itu. Si wartawan, mau tak mau, harus mendengar instruksi atasannya.

Oya, si pejabat itu bukan orang sembarangan. Selain punya jabatan tinggi, dia juga punya ‘kekuatan’ gaib yang bisa menundukkan siapa saja. Semua orang akan terpengaruh dengan omongannya dan berbuat sesuai yang dikehendakinya. Malah, atasannya di kantor dibuat tak berkutik dan mengiyakan saja apa yang dikatakannya. Saya pernah mendengar juga jika si pejabat masuk dalam jajaran elit sebuah bank, yang membuat dia semakin kuat. Melalui dia, beberapa pejabat lainnya bisa membuat ATM otomatis di bank itu. Baik itu ATM harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Kehidupan si pejabat ini begitu mudah. Satu suara dia bisa mengalahkan apapun. Meski kadang-kadang suara dia lebih sering berbuah petaka.

Pun begitu, bagi seorang teman saya, pejabat itu tak lebih seorang sangat sangat angkuh dan sombong. Si pejabat berpikir bisa membeli apa saja dengan jabatan dan uang yang dimilikinya. Padahal, seperti diceritakan kawan saya, si pejabat itu tak bisa membeli hati nurani. Kawan saya wajar mengatakan itu, sebab dalam suatu kesempatan, dia pernah mencoba membangun komunikasi dengan si pejabat. Namun, apa hendak dikata, posisinya di pemerintahan menganggap semua orang tak selevel dengannya. Omongan kawan saya yang bernada serius tak sedikit pun di dengarnya. Dia pura-pura asyik membaca Koran dan seperti mengabaikan kehadiran kawan saya. “Kalian tidak profesional,” begitu suara yang keluar dari mulutnya. Karena tak terima disebut tidak profesional, kawan saya memprotes dan menanyakan dalam hal apa tidak profesional. “Kalian menulis tentang saya, tapi tak pernah meminta komentar dari saya,” begitu jawabnya.

Selepas itu, si pejabat asyik membaca Koran. Dia sendirian di sebuah bandara yang tak jauh dari negeri antah berantah. Tak biasanya dia sendirian. Ke mana-mana lebih sering dikawal ajudan yang banyak memasang wajah sangar dan kasar, dan hampir tak ada senyum. Tapi, kesendirian si pejabat itu mengundang tanda tanya. “Jangan-jangan…” kawan saya tak meneruskan kalimatnya. Dia seperti tahu kalau saya menangkap maksudnya.

Karena tak ingin dianggap tak profesional, si kawan saya meminta nomor handphone si pejabat itu agar jika ada berita tentang dia bisa dikonfirmasi. “Hp saya rusak dan sedang diperbaiki,” kata pejabat menolak secara halus memberikan nomor Hp-nya. Kawan saya tak memaksa dan berpikir mungkin memang benar rusak. Tak lama kemudian, di saku celana si pejabat itu keluar suara seperti nada dering Hp. Agak ragu juga dia mengangkatnya. Sejurus kemudian, dia merogoh kantong celananya dan mengambil Hp yang harganya lebih tinggi dari yang dipakai kawan saya. Setelah melihat layar siapa yang menelepon, si pejabat menjawab. Suaranya lembut dan terkesan dibuat-buat. Kawan saya memilih menyingkir, karena merasa dia berhadapan dengan seorang pejabat yang angkuh.

Kini, setelah putra si pejabat itu tersandung kasus hukum, dia ingin membangun komunikasi dengan kawan saya itu, termasuk dengan perusahaan tempat dia bekerja. Ternyata, jabatan dan kekayaan yang dia milik tak berdaya. Dia harus mengemis meminta belas kasihan dari kawan saya, agar tak menulis tentang perilaku ‘bejat’ anaknya. Tak ada lagi alasan Hp rusak. Tak ada lagi alasan tak profesional, karena sudah menyangkut nama baik keluarga dan juga posisi dia sebagai orang penting di pemerintahan. Itulah mental pejabat kita. Tidak naik kita lhih. (HA 300109)

Read More......

Benarkah (orang) Aceh itu “pungo”?

Sunday, January 25, 2009

JikaA anda penikmat sejarah Aceh, pasti tidak asing dengan istilah Aceh Moorden. Sebutan tersebut dipopulerkan oleh R.A. Kern, salah seorang penulis berkebangsaan Belanda. Kern memang ingin menggambarkan dalam penelitian tersebut bahwa orang Aceh itu “gila” alias “pungo”, atau crazy (Inggris), berdasarkan bukti-bukti yang diamati dan analisisnya tersendiri.

Kosa kata “pungo” sudah sangat tua, setua masyarakat Aceh sendiri. Sebagian orang luar Aceh mengerti kata ini. Sehingga kalau bertemu dengan orang Aceh yang melakukan hal-hal di luar batas kewajaran menurut akal sehat, mereka spontan berujar, “Aceh Pungo” sambil geleng-geleng kepala keheranan.

Benarkah (orang) Aceh itu “pungo”? Ada beberapa catatan kami tentang hal ini. Pertama, sikap ke-pungo-an orang Aceh yang ditunjukkan dalam sejarahnya yang heroik. Betapa daerah ini tak pernah menyerah di hadapan kolonialis, Belanda, sepanjang sejarah kolonialisme.


Rentang waktu yang memadai untuk mengalami “belandaisasi” sebagaimana daerah lain di nusantra. Banyak serdadu Belanda direkrut dari penduduk Jawa, lalu dikirim ke Aceh. Konon Aceh adalah satu-satunya kawasan Hindia-Belanda yang tidak takluk kepada kompeni. Oleh sebab itu, Soekarno menjadikannya sebagai bukti bahwa Indonesia masih tetap berdaulat. Itu pula alasannya mengapa Aceh disebut sebagai daerah modal. Ternyata pungonya orang Aceh menjadi modal kedaulatan bagi Indonesia.

Kedua, mujahid Aceh terkenal Teuku Umar, pernah bersikap gila dalam perjalanan jihadnya melawan “kaphe” (kafir) Belanda. Ia dianggap “pungo” karena membelot kepada Belanda....dan seterusnya...

Selanjutnya silahkan baca di buku "Aceh PUNGO" yang akan segera beredar di toko-toko buku terdekat di kota Anda...

(inilah cuplikan kata pengantar penerbit untuk buku ACEH PUNGO yang akan segera beredar). untuk memberi komentar silahkan buka di sini

Read More......

Si Buntong

Saturday, January 24, 2009

Politik Aceh sering (untuk mengatakan tidak selalu) berakhir ‘tragis’. Aceh tak pernah memenangkan perang, dan juga tak pernah kalah perang. Aceh lebih sering mendapatkan hasil seri. Setidaknya, demikian kesimpulan yang dibuat teman saya. Katanya, Aceh adalah keturunan raja-raja talo (kalah). Saya yang mendengarnya tak kuasa mendebat tesisnya yang terasa ganjil dan mungkin tak bisa diverifikasi. Saya cenderung mengiyakan saja. Sebab, saya bukan seorang sejarawan yang mempertanyakan setiap babak dari perjalanan sejarah, sumber, dan juga pelaku.


Seperti sering kita dengar, sejarah selalu ditulis oleh pihak yang menang perang.

Membincangkan soal ini, saya ingin mengajak pembaca merenungi film Cut Nyak Dhien yang diperankan Christine Hakim. Dalam film tersebut, perjuangan Cut Nyak berakhir tragis. Cut Nyak ‘dikhianati’ oleh temannya sendiri, Pang Laot, yang sebenarnya merasa kasihan dengan kondisi Cut Nyak. Pengkhianatan Pang Laot, jika boleh disebut pengkhianatan, merupakan murni untuk kemanusiaan. Pengkhianatan dia bukan berangkat dari keyakinan yang keluar dari lubuk hati terdalam, melainkan untuk alasan kemanusiaan.

Pang Laot, seperti tahu, bahwa melanjutkan perjuangan dengan sisa kekuatan yang sedikit serta kondisi pimpinan yang labil serta sakit, sama saja bunuh diri. Sementara kekuatan musuh semakin bertambah, sangat tidak mungkin melanjutkan perjuangan. Namun, yang namanya pengkhianatan tetaplah pengkhianatan meskipun dilakukan dengan halus dan santun. Setidaknya begitulah pendapat Cut Nyak ketika tahu orang terdekatnya bersekongkol dengan Belanda untuk menangkap dirinya di hutan, meski atas alasan kemanusiaan.

Saya dulu pernah membayangkan, bahwa MoU Helsinki merupakan sebuah pengkhianatan, meski dilakukan secara halus atas alasan kemanusiaan. Kesimpulan saya semakin kental setelah menyimak Aceh hari ini, di mana skenarionya jauh meleset dari cita-cita semula. Bukan hanya tuntutan ‘agung’ yang dulu menghipnotis rakyat Aceh harus ditanggalkan, melainkan juga kondisi Aceh tidak menentu. Sesama orang Aceh bertengkar sesama, kadangkala untuk alasan yang tidak jelas.

Kondisi Aceh dewasa ini dengan aktor-aktor kunci lebih banyak berperan menjadi si buntong. Mereka seperti dihipnotis untuk larut dalam alam hayal yang sepertinya tak pernah dialami sebelumnya. Orang-orang berlomba-lomba memperkaya diri, tanpa pernah bertanya, apakah itu haknya atau bukan. Cita-cita kaya akhirnya menghilangkan idealisme yang dulu begitu dipuja dan disanjung.

Orang Aceh kemudian menjelma menjadi si buntong ban meurumpok jaroe. Senang bukan main, termasuk mencoba hal-hal yang sebelumnya tak pernah dilakukan. Di mana kadangkala memberi efek negatif dirinya. Bukan hanya mantan kombatan, para pejabat juga sama. Mereka seperti hidup dengan selera aneh, dengan keinginan macam-macam yang di luar kewajaran. Sementara rakyat lebih banyak dibiarkan untuk menyaksikan parade ‘pesta’ meurumpok jaroe tanpa mampu melakukan apa. Mereka seperti disindir, “Ini pesta tuan-tuan, bukan pesta kalian”. Para tuan menjadi lupa, bahwa tanpa rakyat, mereka sama sekali tak layak menyebutkan diri tuan.(HA 250109)



Read More......

Jangan undang Konflik Baru

Belakangan ini aksi teror berupa penggranatan kantor partai politik dan penghilangan atribut partai tertentu semakin sering terjadi. Seperti diberitakan Harian ini kemarin, Jumat (23/1), sasaran teror menimpa kantor DPD Partai Golkar Bireuen yang beralamat di Jalan Malikussaleh, Kota Juang, Bireuen. Aksi teror tersebut seperti menyadarkan kita bahwa tak semua partai dan tempat bebas dari aksi teror.


Aksi penggranatan Kantor DPD Golkar bukanlah yang pertama. Karena aksi serupa sudah pernah terjadi sebelumnya seperti yang menimpa Kantor DPP Partai Aceh (PA) di Banda Aceh, Selasa (13/1). Sementara di Bener Meriah, mobil operasional KPA Wilayah Linge jenis Mitsubishi Estrada Double Cabin BL 8069 AT dibakar orang tak dikenal saat diparkir di depan kantor KPA Simpang Tiga, Redelong, Bener Meriah, Rabu (21/1) sekitar pukul 3.30 WIB.

Di saat bersamaan, sejumlah baliho milik Caleg dari berbagai partai politik di Reuleut, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, juga dibakar.

Tak hanya itu, sebelumnya mobil anggota Partai Aceh (PA) dengan nomor polisi BK 41 IN milik Tgk Banta hangus terbakar setelah dilempar granat oleh orang tak dikenal (OTK) pada Jumat (16/1) dini hari pukul 05.00 Wib. Mobil Fortuner yang bergambar Partai Aceh (PA) tersebut di parkir di depan Hotel UKM, Peunayong Banda Aceh.

Aksi-aksi tersebut semakin menambah keyakinan kita bahwa pesta demokrasi di Aceh bakal berlangsung dalam kondisi yang tidak nyaman. Insiden-insiden kekerasan, termasuk aksi intimidasi dan penghilangan atribut partai semakin marak, terutama menjelang berlangsungnya Pemilu. Padahal, semua pihak berharap, Pemilu di Aceh berlangsung tanpa insiden kekerasan. Namun, kenyataan di lapangan membuat kita ragu, karena Pemilu di Aceh tidak mungkin berjalan aman tanpa diwarnai aksi kekerasan.

Menyimak fenomena kekerasan dan teror tersebut membuat kita heran, karena aksi-aksi teror itu tak pernah mampu diungkap secara pasti. Setiap kasus dan insiden penggranatan selalu tenggelam dengan munculnya kasus lain. Pihak keamanan juga tidak mampu melakukan deteksi dini untuk mengantisipasi meluasnya aksi teror. Seharusnya, ketika tensi kekerasan semakin meningkat, pihak keamanan mampu mengantisipasi dan mendeksi meluasnya kasus teror itu.

Pelaku teror seperti sudah tahu kapan dan dimana aksi teror dilakukan, tanpa mampu dicegah. Mereka seperti mempermainkan aparat keamanan, karena dalam beberapa kali insiden justru terjadi di pusat kota, yang menurut kita kondisinya lebih aman dengan sistem keamanan yang ketat.

Hal ini tentu saja mengundang tanda tanya bagi masyarakat, apakah aksi ini sengaja dibiarkan atau ada pihak yang sedang memancing di air keruh. Karena itu, pengungkapan setiap kasus perlu dilakukan agar aksi serupa tidak meluas, dan tidak ada pihak yang dicurigai sebagai aktor di balik berbagai aksi teror.

Tapi, siapapun pelaku aksi teror tersebut, kita harus menjadikannya sebagai musuh bersama. Sebab, aksi mereka tidak hanya mengganggu jalannya proses demokrasi melainkan juga membuat masyarakat menjadi tidak aman. Padahal, kita sudah sama-sama sepakat menanggalkan sesuatu yang berbau kekerasan dan konflik begitu MoU Helsinki ditandatangani, pada 15 Agustus 2005 silam. Kita berharap tidak ada pihak yang mengundang konflik baru ke Aceh, karena sangat besar harga yang harus dibayar, di mana-mana lebih sering berbentuk nyawa manusia.

Karena itu, tidak ada salahnya jika masing-masing partai yang kerap menjadi sasaran teror meminta perlindungan dari aparat keamanan. Hal ini untuk memperjelas bahwa ‘tidak ada dusta di antara kita’. (HA 250109)

Read More......

Barack Obama Presiden AS ke-44

Wednesday, January 21, 2009

Barack Husein Obama diambil sumpahnya sebagai presiden AS ke-44 di Washintong, Selasa (20/1) waktu setempat. Obama menjadi presiden kulit hitam pertama yang menjadi presiden dan mencetak sejarah. Berikut ini beberap foto yang direkam reuters dan dimuat kembali blog ini sebagai arsip untuk merekam moment bersejarah tersebut


Barack Obama ketika diambil sumpah sebagai presiden AS ke-44 oleh kepala Mahkamah Agung AS, John Roberts, dalam acara inaugurasi di Washington DC, Selasa (20/1) waktu setempat.


Presiden AS Barack Obama dan ibu negara Michelle Obama berjalan bersama mantan Presiden George W. Bush dan istrinya Laura saat berangkat pada upacara inaugurasi di Washington, Selasa (20/1) waktu setempat. Obama menyampaikan pidato perdana sebagai presiden AS ke-44.


Text of President Barack Obama's inaugural address
The Associated Press
Published: January 20, 2009

Text of President Barack Obama's inaugural address on Tuesday, as
prepared for delivery and released by the Presidential Inaugural
Committee.

OBAMA: My fellow citizens:

I stand here today humbled by the task before us, grateful for the
trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our
ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as
well as the generosity and cooperation he has shown throughout this
transition.

Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words
have been spoken during rising tides of prosperity and the still
waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst
gathering clouds and raging storms. At these moments, America has
carried on not simply because of the skill or vision of those in high
office, but because we the people have remained faithful to the ideals
of our forebears, and true to our founding documents.

So it has been. So it must be with this generation of Americans.
Today in Americas
For Obama, rare chance for bold start on big task
Rulings of wrongful detentions at Guantánamo
Pilot in Hudson River crash invited to inauguration

That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation
is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our
economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility
on the part of some, but also our collective failure to make hard
choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost;
jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our
schools fail too many; and each day brings further evidence that the
ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.

These are the indicators of crisis, subject to data and statistics.
Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across
our land — a nagging fear that America's decline is inevitable, and
that the next generation must lower its sights.

Today I say to you that the challenges we face are real. They are
serious and they are many. They will not be met easily or in a short
span of time. But know this, America — they will be met.

On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of
purpose over conflict and discord.

On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and
false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far
too long have strangled our politics.

We remain a young nation, but in the words of scripture, the time has
come to set aside childish things. The time has come to reaffirm our
enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that
precious gift, that noble idea, passed on from generation to
generation: the God-given promise that all are equal, all are free and
all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.

In reaffirming the greatness of our nation, we understand that
greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never
been one of shortcuts or settling for less. It has not been the path
for the faint-hearted — for those who prefer leisure over work, or
seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the
risk-takers, the doers, the makers of things — some celebrated but
more often men and women obscure in their labor, who have carried us
up the long, rugged path towards prosperity and freedom.

For us, they packed up their few worldly possessions and traveled
across oceans in search of a new life.

For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the
lash of the whip and plowed the hard earth.

For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg;
Normandy and Khe Sahn.

Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked
till their hands were raw so that we might live a better life. They
saw America as bigger than the sum of our individual ambitions;
greater than all the differences of birth or wealth or faction.

This is the journey we continue today. We remain the most prosperous,
powerful nation on Earth. Our workers are no less productive than when
this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and
services no less needed than they were last week or last month or last
year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat,
of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions —
that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves
up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.

For everywhere we look, there is work to be done. The state of the
economy calls for action, bold and swift, and we will act — not only
to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will
build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that
feed our commerce and bind us together. We will restore science to its
rightful place, and wield technology's wonders to raise health care's
quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and
the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform
our schools and colleges and universities to meet the demands of a new
age. All this we can do. And all this we will do.

Now, there are some who question the scale of our ambitions — who
suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their
memories are short. For they have forgotten what this country has
already done; what free men and women can achieve when imagination is
joined to common purpose, and necessity to courage.

What the cynics fail to understand is that the ground has shifted
beneath them — that the stale political arguments that have consumed
us for so long no longer apply. The question we ask today is not
whether our government is too big or too small, but whether it works —
whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can
afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we
intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And
those of us who manage the public's dollars will be held to account —
to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light
of day — because only then can we restore the vital trust between a
people and their government.

Nor is the question before us whether the market is a force for good
or ill. Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched,
but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the
market can spin out of control — and that a nation cannot prosper long
when it favors only the prosperous. The success of our economy has
always depended not just on the size of our gross domestic product,
but on the reach of our prosperity; on our ability to extend
opportunity to every willing heart — not out of charity, but because
it is the surest route to our common good.

As for our common defense, we reject as false the choice between our
safety and our ideals. Our founding fathers, faced with perils we can
scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the
rights of man, a charter expanded by the blood of generations. Those
ideals still light the world, and we will not give them up for
expedience's sake. And so to all other peoples and governments who are
watching today, from the grandest capitals to the small village where
my father was born: know that America is a friend of each nation and
every man, woman, and child who seeks a future of peace and dignity,
and that we are ready to lead once more.

Recall that earlier generations faced down fascism and communism not
just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring
convictions. They understood that our power alone cannot protect us,
nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our
power grows through its prudent use; our security emanates from the
justness of our cause, the force of our example, the tempering
qualities of humility and restraint.
We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once
more, we can meet those new threats that demand even greater effort —
even greater cooperation and understanding between nations. We will
begin to responsibly leave Iraq to its people, and forge a hard-earned
peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work
tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the specter of
a warming planet. We will not apologize for our way of life, nor will
we waver in its defense, and for those who seek to advance their aims
by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that
our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us,
and we will defeat you.

For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness.
We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus — and
non-believers. We are shaped by every language and culture, drawn from
every end of this Earth; and because we have tasted the bitter swill
of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter
stronger and more united, we cannot help but believe that the old
hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon
dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall
reveal itself; and that America must play its role in ushering in a
new era of peace.

To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual
interest and mutual respect. To those leaders around the globe who
seek to sow conflict, or blame their society's ills on the West — know
that your people will judge you on what you can build, not what you
destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and
the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of
history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench
your fist.

To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make
your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved
bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that
enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to
suffering outside our borders; nor can we consume the world's
resources without regard to effect. For the world has changed, and we
must change with it.

As we consider the road that unfolds before us, we remember with
humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol
far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us
today, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through
the ages. We honor them not only because they are guardians of our
liberty, but because they embody the spirit of service; a willingness
to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this
moment — a moment that will define a generation — it is precisely this
spirit that must inhabit us all.

For as much as government can do and must do, it is ultimately the
faith and determination of the American people upon which this nation
relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees
break, the selflessness of workers who would rather cut their hours
than see a friend lose their job which sees us through our darkest
hours. It is the firefighter's courage to storm a stairway filled with
smoke, but also a parent's willingness to nurture a child, that
finally decides our fate.

Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may
be new. But those values upon which our success depends — hard work
and honesty, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty
and patriotism — these things are old. These things are true. They
have been the quiet force of progress throughout our history. What is
demanded then is a return to these truths. What is required of us now
is a new era of responsibility — a recognition, on the part of every
American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world,
duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm
in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so
defining of our character, than giving our all to a difficult task.

This is the price and the promise of citizenship.

This is the source of our confidence — the knowledge that God calls on
us to shape an uncertain destiny.

This is the meaning of our liberty and our creed — why men and women
and children of every race and every faith can join in celebration
across this magnificent mall, and why a man whose father less than
sixty years ago might not have been served at a local restaurant can
now stand before you to take a most sacred oath.

So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we
have traveled. In the year of America's birth, in the coldest of
months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the
shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was
advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the
outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation
ordered these words be read to the people:
"Let it be told to the future world ... that in the depth of winter,
when nothing but hope and virtue could survive...that the city and the
country, alarmed at one common danger, came forth to meet (it)."

America, in the face of our common dangers, in this winter of our
hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue,
let us brave once more the icy currents, and endure what storms may
come. Let it be said by our children's children that when we were
tested we refused to let this journey end, that we did not turn back
nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God's grace
upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it
safely to future generations.

Read More......

Hormati Politisi

Sunday, January 18, 2009

Setelah membaca sepenggal kisah yang ditulis Eep Saifullah Fattah dalam sebuah kolom yang diberi judul “Menikmati Kekanak-kanakan”, membuat saya tergoda untuk menulis kembali tentang politisi. Kolom itu ditulis Eep saat sedang bersantai di sudut kecil kampus Ohio State University, di bawah rintik hujan di tengah alam Columbus yang sedang berbenah keras menyambut musim semi.


“Saya berbincang dengan salah seorang kawan Korea saya. Kami bicara tanpa tema dan arah sampai kemudian tanpa ragu ia berkata: Satu-satunya cara yang layak untuk menghormati para politisi adalah mencetak gambar wajah mereka di kertas toilet. “Dan saya,” katanya kemudian, “dengan senang dan riang menggunakannya setiap saat.” Begitu Eep mengisahkan.

Kebetulan, tulisan itu dikirimkan kepada saya saat masih intens berkomunikasi via email tahun 2002 silam. Saat itu, saya sering berdiskusi tentang proses kreatifnya dalam menulis sehingga mampu menghasilkan ratusan kolom yang sangat bagus. Banyak tips-tips yang diberikan bagaimana menjadi penulis yang baik.

Cerita Eep di atas teringat kembali ketika tak sengaja seorang teman saya memperlihatkan sampul belakang sebuah bungkus rokok. Sebelumnya, seorang teman juga memperlihatkan stiker kecil yang ditempeli di setiap korek yang dipegangnya. Di beberapa air mineral botol juga sudah mulai dihiasi dengan gambar plus nomor urut caleg. Hampir tak ada media yang tak dimanfaatkan untuk menarik simpati dan dukungan publik, termasuk dalam hal-hal kecil sekalipun.

Saya juga sering memperhatikan gerak-gerik beberapa politisi yang bersemangat menjadi anggota DPR RI, DPRA, maupun DPRK terutama ketika menyempatkan diri ngopi di Solong, Ulee Kareng. Kesan elitis yang sebelumnya begitu kuat, berganti dengan kesan ramah. Seutas senyum tak henti-hentinya terpancar dari wajah, meski kebanyakan terkesan dipaksakan. Tapi satu hal yang patut dicatat, mereka sangat pintar memanfaatkan momen. Kesempatan ngopi di Solong dimanfaatkan untuk tebar pesona dan membangun citra ‘sok akrab’. Semua orang disalami dan tak ada yang tersisa. Bisa jadi dia berpikir, semakin banyak orang yang disalami, peluang membangun citra merakyat menjadi berhasil.

Lalu, haruskah kita muak melihat sepak terjang politisi? Tak juga. Toh, keberanian mereka untuk tampil sebagai pembela hak-hak publik patut dihargai. Karena tak semua orang punya keberanian seperti itu. Masalahnya, benarkah mereka tampil dan menjadi caleg semata-mata ingin memperjuangkan aspirasi rakyat? Tak ada jawaban yang pasti. Sebab, semua orang ketika maju sebagai caleg mengusung hal-hal ideal yang akan diperjuangkan. Mereka terkesan sangat ‘suci’ melebihi orang suci (wali).

Perubahan sikap mereka akan terlihat begitu sudah diumumkan sebagai pemenang karena memperoleh sebuah kursi. Saat itulah kita akan tahu, apakah kesan ramah dan ‘sok akrab’ yang selama ini diperlihatkan benar-benar dari cerminan hatinya atau sekedar dibuat-buat karena sudah dekat dengan Pemilu? Meski kebanyakan dari kita akan menjawab, bahwa mereka hanya berpura-pura saja. Sebab, setelah terpilih mereka semakin tak terjangkau, seperti sering disebut dengan istilah HTW. Han troh wa.

Jika rakyat sudah tahu tabiat para politisi kita seperti itu, kenapa setiap lima tahun masih mau ditipu? Bukankah sudah selayaknya gambar wajah para caleg dan politisi ini dicetak di kertas toilet seperti cerita yang saya kutip di atas, sehingga setiap saat anda menggunakannya. Sebab, di negeri kita, politisi cenderung sudah dikenal dengan politisi busuk dan buruk. Entahlah! (HA 190109)

Read More......

Meurampot

Thursday, January 8, 2009

Aceh ka meurampot lom! Kalimat spontan ini lahir begitu membaca sebuah surat haba. Pasalnya, dalam surat haba tersebut, Aceh mendapat jatah dana Rp14 triliun, lebih besar dari dana tahun lalu. Bakal banyak lahir orang-orang kaya baru di Aceh pada tahun anggaran berjalan ini. Aceh diramalkan menjadi negeri makmur dan sejahtera. Tapi, seperti pengalaman anggaran tahun lalu, kemakmuran dan kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang saja, terutama yang rajin memasukkan penawaran, proposal atau ge-ge (buat usil) kepala dinas minta PL.


Saya minta maaf jika salah menggunakan kata meurampot ini. Sebab, kata meurampot sebenarnya tak cocok disebut untuk Aceh. Pasalnya, kata itu sering dilakabkan pada orang yang kesurupan, kemasukan setan, atau yang mendadak kena penyakit aneh. Namun, kita bisa mengatakan, jika Aceh kembali meurampot, karena secara tiba-tiba mendapatkan dana yang melimpah (tapi tidak ruah), lebih besar dari tahun sebelumnya. Anehnya, dana tahun lalu yang berjumlah Rp8.5 triliun saja tidak mampu dihabiskan, bagaimana dengan sekarang yang berjumlah Rp14 T. Apakah bukan beuhuek peng namanya? Orang Aceh nantinya mirip seperti bunyi sebuah pepatah, “manok mate lam krong pade.”

Lalu, apakah meurampot bisa disembuhkan? Di Gampong saya, dan mungkin di Gampong lain sama juga, orang meurampot biasanya diminta obati sama dukun atau orang-orang yang memiliki kemampuan magic, yang sering disebut juga orang-orang pintar atau paranormal. Tapi di Gampong, orang menyebutnya dengan ureung meurajah. Cara mengobatinya kadang-kadang terlihat sangat aneh, karena ureung meurajah tadi hanya sekedar membaca doa-doa (sering tak pernah jelas ujungnya). Mereka berteriak atau berpura-pura berbicara pada makhluk halus, yang diminta membantunya. Sembuhkah orang yang meurampot tersebut?

Kebanyakan memang bisa disembuhkan. Tetapi, jangan salah, orang yang meurampot tersebut sering bukan sembuh karena doa yang sangat mujarab, melainkan bisa jadi karena makhluk halus yang merasuki tubuh orang yang meurampot sudah tidak tahan lagi dengan bacaan dukun yang terlihat aneh, dan suka teriak-teriak. “Iblih pane ek didungo ureung pungo meuratoh. Leubeh get diplueng jih karena katroh iblih laen,” ujar kawan saya suatu ketika.

Ingat meurampot, saya terbayang seorang teman saya di kantor. Dalam beberapa hari ini, dia terlihat seperti meurampot. Bawaannya tidak seceria dulu. Sering duduk termenung, seperti memikirkan sesuatu yang berat. Kulihat dia juga sudah agak jarang merokok, dan berbicara jika ada yang perlu-perlu saja. Hidupnya mendadak berubah total. Kawan-kawannya menangkap gelagat aneh di balik perubahan itu. Karena biasanya, si kawan tadi lebih suka bercanda dan berbicara sesukanya, dan meledak-ledak, meski sesekali kental dengan humor segar.

Seorang temannya, karena tak tahan, akhirnya memberanikan diri bertanya. “Belakangan, saya lihat banyak terjadi perubahan dalam hidupmu, apa yang sudah terjadi?” begitu tanya temannya. Si kawan yang ‘katanya’ sudah meurampot itu tak menganggap aneh pertanyaan tersebut. Sebagai orang yang tidak pernah mempersoalkan pertanyaan dan meyakini bahwa pertanyaan tak selayaknya dibunuh, menjawab sangat hati-hati. Dia berharap, jawaban yang diberikannya mengurangi (jika tidak menghilangkan) rasa penasaran sang teman. “Begini, kemarin saya membaca berita bahwa Aceh akan mendapatkan dana sangat besar mencapai Rp14 T. Tapi saya ragu karena mereka yang duduk di pemerintahan tidak akan mampu menghabiskannya. Lalu, untuk apa uang sebanyak itu? Bukankah hanya akan membuat orang di Gampong saya menjadi tambah gila, karena terus menerus memikirkan betapa bodohnya orang-orang yang lulus melalui fit and propertest,” jawab si kawan ini sekenanya. Teman sekantornya memilih diam, dan menyibukkan diri dengan rutinitasnnya. Nah! (HA 090109)

Read More......

Len 3

Wednesday, January 7, 2009

Aku ingin bercerita tentang tiga orang teman. Aku ketemu mereka ketika sedang ngopi di Solong Ulee Kareng. Mereka baru saja tiba dari Sigli, dan menyempatkan diri nongkrong di warung, seperti biasanya. Jika mereka ke Banda Aceh, hampir tak pernah absen mengisi ‘daftar hadir’ di warung kopi yang menjadi langganan aktivis, jurnalis, pejabat, kontraktor dan segala profesi lainnya.


Pertemuan hari itu, merupakan yang kedua setelah setahun sebelumnya, di tempat yang sama, kami juga sudah bertemu. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, yang lebih banyak berbicara masalah politik dan kondisi partai mereka, pertemuan tempo hari lebih banyak diselingi canda dan tawa. Mereka tidak lagi bicara berapi-api tentang partai mereka, yang disebut satu-satunya partai yang bisa membawa perubahan di Aceh. Mereka begitu yakin bahwa partai yang didominasi anak-anak muda tersebut akan menjadi senjata melawan hegemoni Jakarta.

Setelah sejam lebih mendengar mereka berbicara, aku justru heran. Karena, mereka sama sekali tidak menyinggung lagi soal partai yang dulu begitu dibanggakannya. Tak ada lagi idealisme yang dulu mereka puja dan mengatur ritme perjuangan mereka. Tapi, mereka tidak mau disebut pengkhianat, sebab tak ada titah perjuangan yang mereka ingkari dan kangkangi. Mereka hanya saja semakin sadar, bahwa mempertahankan idealisme dalam kondisi Aceh yang mirip ureung kuet pade reudok, sama saja seperti orang waras hidup di tengah-tengah orang gila. Dianggap tidak waras juga.

“Kenapa begitu cepat sikap anda-anda ini berubah?” aku coba memancing. Kupandangi wajah mereka satu persatu. Tak ada kesan mereka terkejut ditanya seperti itu. “Idealisme jadi barang basi ketika Aceh menjadi seperti ini,” jawab salah satu dari mereka. “Jika sikap itu masih kita pertahankan, akan jadi bahan tertawaan,” timpal kawan di sebelahnya. Mereka pun bercerita kenapa bisa berubah sejauh itu.

Oya, sebelum lupa. Ketiga orang ini, bukan orang kemarin sore. Mereka dulu menjadi aktivis sebuah lembaga perjuangan sipil di Pidie. Kini, ketiganya memiliki profesi yang berbeda-beda. Yang berwajah hitam dengan rambut keriting sibuk dengan bisnis ponsel, yang berwajah kasar (juga rambut keriting) setahun lalu lulus PNS, sementara seorang lagi yang kulitnya lebih berkilau dengan kondisi perut buncit sudah cukup puas menekuni profesi ‘agen’ proposal.

Dulu, kata mereka, ketiganya adalah orang-orang yang berada di len pertama (line=garis pembatas). Menurut ketua partai mereka, dalam partai yang dipelopori anak muda itu, ada tiga golongan pengurus partai; ada yang berada di len pertama yaitu orang-orang yang masih memegang teguh idealisme. Mereka berjuang melalui partai, tanpa mengharapkan apa-apa. Ada yang berada di len kedua, yaitu orang-orang yang berfikir setengah-setengah: untuk partai setengah dan untuk kepentingan ekonomi setengahnya lagi. Keberadaan mereka di partai dimanfaatkan untuk memudahkan merengguk keuntungan ekonomis. Terakhir, yaitu orang yang berada di len ketiga, yang total memikirkan uang.

Sebagai aktivis idealis, seharusnya mereka memilih berada di len pertama atau kedua, di mana mereka masih bisa berjuang untuk partai. Namun, kata mereka, dalam melakukan sesuatu, kita mesti memikirkan perut juga, dan tidak boleh dilakukan setengah-setengah, karena tidak ada hasilnya. Kata mereka, usia mereka masih sangat muda. Masih banyak hal yang perlu dipersiapkan dan dikumpulkan. Mereka tidak mau menyesali usia muda mereka yang tidak produktif, ketika kesempatan terbuka lebar. Mereka pun sepakat memilih berada di len ketiga, dan menganggap itulah nasib terbaik mereka.

Ketika sedang asyik menyimak celoteh mereka, saya jadi ingat sebaik syair yang digubah Horatius, dan gemar dikutip Soe Hok Gie, penulis buku Catatan Seorang Demonstran dan Lentera Merah. “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan, yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda.” Mereka, tidak seperti yang ditulis dalam syair itu. (HA 070109)

Read More......

Wasiat

Tuesday, January 6, 2009

Kutulis warkah ini bukan karena aku sudah benci pada perjuangan tuan. Bukan pula karena aku tidak sepakat lagi untuk hudep beusare dan mate beusajan. Sengaja kutulis warkah ini, karena pengikut tuan sedang berembuk kembali di kota dingin dan sejuk Helsinki. Lewat warkah ini, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sudah lelah oleh-oleh janji-janji pengikut tuan. Bayangkan, pengikut tuan sampai bersumpah, bahwa jika partai yang dibentuk oleh pengikut tuan menang, gunung seulawah akan dipindahkan. Semua ketidakjelasan akan menjadi terang. Pengikut tuan sampai bertaruh, bahwa jika tahun 2013 tujuan itu tak tercapai, dia minta ‘alat vital’nya dipotong.


Terus terang, Tuan, aku ragu tentang semua mimpi yang tuan hembuskan. Aku menjadi tak semangat mengikuti petuah-petuah pengikut tuan, yang mencoba membius dengan sebuah optimisme. Sebab, sebelumnya aku sudah pernah termakannya. Ternyata, akhir dari optimisme tersebut seperti yang kusaksikan hari ini. Semakin hari, orang-orang semakin banyak membenci pengikut tuan. Semakin banyak yang berpaling.

Tuan, ketika aku bimbang, aku coba membuka kembali tulisan-tulisan yang pernah tuan tulis puluhan tahun silam. Kucoba menerjemahkan pikiran-pikiran tuan dalam kondisi yang terjadi hari ini. Tapi, sama sekali tak kutemukan hubungannya. Pikiran-pikiran tuan seperti tergantung, dan menjadi tak lagi aktual. Sepertinya, yang kusaksikan sudah jauh melenceng dari pesan tuan.

Aku pernah membaca salah satu dari bagian tulisan tuan. Tuan begitu bersemangat mengutip wasiat Nietzsche, untuk menanamkan semangat pada pengikut tuan. Tapi, kurasakan, pengikut tuan sama sekali tak mengingatnya, apalagi mengamalkannya.

“Kepadamu tidak kuajarkan kerja, tapi peperangan,
kepadamu tidak kuajarkan damai, tapi kemenangan.
Jadikan kerja untuk perang, jadikan damai untuk menang.”


Kalimat-kalimat tersebut, hingga kini masih tersimpan rapi di diary Tuan yang tidak selesai. Aku yakin, pengikut-pengikut tuan tak lagi membacanya. Mereka sibuk dengan rutinitas mencari lebih dari sekedar sesuap nasi. Katanya, perjuangan tanpa didukung modal adalah sama dengan bunuh diri. Aku jadi ragu, apakah ketika modal terkumpul sangat banyak, mereka masih peduli pada perjuangan yang pernah tuan gariskan? Bukankah mereka akan berfikir, “Untuk apalagi perjuangan, kita sudah sama-sama sejahtera. Perang, tak menjanjikan apa-apa, malah menghancurkan semua yang kita punya.”

Tuan, sebagai seorang yang mengagumi keberanian, kecerdasan dan sifat konsisten tuan, aku kecewa. Sebab, aku sangat yakin, bahwa tuan sama sekali tak meramalkan bahwa akhir dari cita-cita yang pernah tuan cetuskan akan menjadi seperti ini. Dalam beberapa penggalan tulisan tuan, yang dulu menjadi buku wajib yang harus dibaca pengikut tuan, aku sempat membaca bahwa tuan selalu menanamkan “udep mulia atau mati syahid.”

Hidup mulia yang tuan inginkan bukanlah bergelimangan dengan uang, jabatan atau memiliki istri yang cantik dan lebih dari satu. Hidup mulia yang tuan inginkan tak sekedar kemenangan, melainkan bagaimana negeri ini kembali tegak seperti ratusan tahun silam. Jika cita-cita itu tak mampu digapai, kata tuan, lebih baik mati syahid. Aku menangkap keseriusan dari kata-kata tuan. Sebab, seperti dulu pernah kudengar dari kaset-kaset ceramah tuan, bahwa orang seperti tuan lebih memilih mati seribu kali, daripada hidup dalam perintah orang, seperti hidup para budak. Entahlah, tuan, saya sendiri malas memikirkannya. Sebab, banyak ketidakbenaran dipertontonkan, dan aku jadi tak bersemangat.(HA 060109)

Read More......

Citra

Sunday, January 4, 2009

Kemunafikan tak hanya tersimpan dalam hati. Di Aceh (di tempat lain juga sama), kemunafikan dipertontonkan di muka umum. Seolah-olah hendak dipersaksikan pada publik, bahwa kemunifikan sebuah sikap yang juga patut diberikan apresiasi. Parade kemunafikan yang sangat kontras terlihat adalah melalui spanduk-spanduk kampanye yang dipajang di sembarang tempat. Dalam spanduk tersebut, para caleg tanpa malu-malu mengumbar janji kesejahteraan dan tekad membela kepentingan rakyat jika mereka dihadiahi sebuah kursi.


Kita jarang melihat kata-kata jujur para caleg itu. Seperti, misalnya, jika mereka terpilih, mereka akan mempersetankan masyarakat pemilihnya. Kalimat “pilih saya, maka saya akan membuat anda kembali sengsara,” sangat jarang kita lihat. Yang banyak justru kata-kata yang sangat indah, menyejukkan, dan terkesan akrab dengan rakyat. Setiap membaca bunyi spanduk itu, dalam hati saya bertanya, kenapa mereka mencitrakan diri sangat bersahaja?

Karena tak menemukan jawaban yang tepat, saya memberanikan diri bertanya pada penikmat politik dari negeri cilet-cilet, tetangga negeri antah berantah. "Saya lihat belakangan ini banyak sekali spanduk tebar pesona, gejala apakah ini?" tanya saya heran. Pasalnya, di spanduk-spanduk itu, mereka tak lupa menebarkan senyum, sangat manis, disertai foto wajah yang dibuat sewibawa mungkin. Mereka seperti ingin mencitrakan diri, bahwa mereka punya tampang duduk di parlemen, dan berbakat menipu rakyat jika terpilih.

Saya tak harus menunggu lama untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan saya tadi, minimal tidak seperti ketika kita ingin menjumpai pejabat. Si penikmat politik langsung menjawab. Tegas dan lugas. "Itukan calon penipu semua! Mereka tak hanya pura-pura dan pandai menampilkan citra baik, sebab caranya menipu juga sama bagusnya seperti yang mereka lakukan seperti pada spanduk itu." Jawaban luar biasa itu tak saya sangka-sangka. Dan membuat saya merenung, bahwa kesan ramah itu hanyalah strategi, seperti halnya ketika mereka menipu saat terpilih.

Politikus, sebutnya, bukanlah orang bodoh. Mereka tahu kapan berpura-pura dan bersandiwara, dan kapan pula ingin terlihat seperti aulia. Argumentasinya membuat saya semakin bingung mencernanya. Soalnya, pemikiran si penikmat politik itu tak boleh dibilang ide biasa-biasa saja. "Ada resep jitu nggak agar kita terhindar dari tipuan mereka?" saya memotong pembicaraannya. "Kamu jangan pura-pura bodoh, dan bertanya sesuatu jika sudah memiliki jawabannya." sindirnya. Saya kembali diam. Saya selalu tak kuat berdebat dengannya.

Tapi, dia tetap merespon pertanyaan saya. “Caranya, jangan tergoda dengan kata-kata manis di spanduk, sebab kata-kata itu hanya iklan semata. Mereka tidak akan dituntut jika mengingkarinya,” ujarnya. Dalam hati saya mengiyakan dan berharap rakyat tidak tergoda dengan janji manis. Kita rakyat, jangan selamanya tertipu dengan kata-kata manis tapi menipu. (HA 050109)

Read More......

Palestina

Saturday, January 3, 2009

Suatu ketika Bill Gates, si pendiri Microsoft pernah berkata, bahwa salah satu rahasia suksesnya di bidang komputer adalah kita musti berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat. Kini, petuah salah satu orang terkaya di dunia itu dimanfaatkan secara baik sebuah partai politik saat Israel secara membabibuta membombardir setiap sudut pemukiman rakyat Palestina. Solidaritas sesama umat Islam dimanfaatkan untuk kepentingan jangka pendek: demo untuk kampanye Pemilu 2009.


Demo menjadi senjata ampuh partai yang didirikan para aktivis dakwah kampus itu. Mereka seperti sangat menguasai ilmu marketing, khususnya dalam menjual ‘merek’ partai. Cara mereka sangat berhasil karena didukung ribuan massa, yang meneriakkan slogan yang sama. Besoknya, Koran sudah pasti mengutipnya di halaman depan. Lalu, apa yang berubah dengan demo itu? Apakah Israel menghentikan serangannya terhadap rakyat yang tak berdosa di Palestina? Apakah setelah demo-demo itu digelar, PBB bertindak cepat menghukum Israel? Sama sekali tidak.

Dunia (khususnya Barat) sudah klo prip. Mereka tak akan pernah bertindak hanya karena satu kelompok berdemo. Demo yang digelar itu, bisa jadi ditanggapi dingin, mirip sebuah pepatah: anjing menggonggong kafilah berlalu. Tidak punya pengaruh. Meski banyak orang bilang, demo salah satu bentuk pressure (tekanan). Masalahnya, siapa menekan siapa? Apakah setelah tekanan itu, ada kebijakan yang berubah? Jawabannya tetap tidak ada.

Akhirnya demo itu hanya berbuah kutukan. Demo partai itu di Jakarta, misalnya, sudah disumpah serapah karena memacetkan jalan raya, menghentikan denyut perekonomian, dan mengotori kota. Sebab, sehabis demo, sampah-sampah berserakan di mana-mana. Selain itu, demo tersebut juga seperti mempertegas jurang pemisah antara partai itu dengan masyarakat. Seolah-olah, merekalah pemilik utama isu Palestina. Sepertinya hanya Islam merekalah yang memiliki hubungan emosional dengan umat Islam Palestina.

Jadinya, demo mereka seperti ditujukan untuk kepentingan sendiri, yaitu kampanye merek. Padahal, jika mereka ingin membantu Palestina, bukankah sebaiknya mereka berperang di sana. Jika mereka ingin berjihad bersama umat Islam Palestina, bukanlah dengan cara menggembor-gemborkannya melalui corong microfon. Sebab, cara seperti itu hanyalah dikenang sehari, yaitu masuk Koran. Selepas itu, rakyat Palestina tetap berjuang sendirian melawan tank-tank dan pesawat tempur Israel. Ya…rakyat Palestina cuma berjuang sendirian.

Padahal, jika ingin membantu Palestina, tak ada cara lain kecuali menggunakan strategi yang pernah digunakan Hitler: bantai umat Yahudi di mana saja. Hitler dulu tak hanya mengeluarkan doktrin bahwa Yahudi menjadi penghambat misi bangsa Arya menguasai dunia, melainkan juga melaksanakannya. Hasilnya, tak kurang dari enam juta kaum Yahudi tewas dibantai. Luar biasa.

Saya sendiri ragu, apakah demo-demo itu mampu menghentikan aksi brutal Israel atau tidak. Sebab, seperti kita tahu, di mana-mana umat Islam hanya berdemo, tanpa melakukan aksi nyata, kecuali pernyataan boikot produk Yahudi. Padahal, jika dunia Arab saja bersatu, tak sulit menaklukkan Yahudi. Selama ini, kenapa Yahudi begitu congkak, karena Negara-negara Arab tidak ada yang berani melawan Israel, kecuali rakyat Palestina sendiri. Yang musti dilakukan sekarang, ya mengajak Negara-negara Arab melawan Yahudi, tanpa itu janganlah berharap Yahudi akan berhenti menyerang Palestina.

Dalam masalah Palestina, saya percaya pada keyakinan teman saya, bahwa ada rahasia Tuhan di sana. Palestina, katanya, tak perlu dibela. “Jika konflik Palestina-Israel berakhir, dan Israel berhasil dikalahkan, dunia akan kiamat,” katanya. Saya diam saja, sambil membayangkan sebuah partai yang mengambil manfaat dari konflik Palestina-Israel.(HA 030109)

Read More......

Klo Prip

Friday, January 2, 2009

Apa guna sebuah kritik, jika mereka tak mendengar? Mereka yang kena kritik bukannya sadar dan lalu berubah, melainkan tambah tak peduli. Bukankah sia-sia saja kita mengkritik, menghujat atau mengajak mereka merenung? Kritik kita layaknya seorang seniman yang mendendangkan syair di (maaf) pantat kerbau, sama sekali tak punya makna.


Saban hari kita mendakwahkan, bahwa kita sudah berdamai, punya pemerintah yang legitimit, dan pemimpin dari golongan kita sendiri. Apa guna? Apakah masih ada yang mendengarnya? Siapa yang tunduk setelah dakwah sangat manusiawi itu? Hampir tak ada. Coba buka halaman surat kabar sekarang, hampir tak pernah absen menulis tentang kekerasan demi kekerasan, perilaku pejabat yang korup, kebijakan yang salah, entah kesalahan apalagi? Kecewakah kita dengan ke-ada-an yang ada?

Kita menulis tentang keburukan, tentang damai, tentang yang seharusnya dan sepatutnya, masihkah bermakna? Bukankah, seperti pernah disampaikan Soe Hok Gie, bahwa kita hanya memperbanyak musuh?

“Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya?” kata Gie seperti dikutip Arief Budiman, dalam kata pengantar untuk buku (alm) Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran.

Arief bercerita, bahwa ketika adiknya menghadapi dilema dan pergolatan batin itu, seorang teman Amerikanya mengirim surat. "Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan". Begitu sang teman menulis.

Dalam suasana yang seperti inilah, sambung Arief, adiknya meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Tapi, sebelum berangkat, Gie mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Tindakan itu, bukannya membuat kawan-kawannya yang sama-sama turun ke jalan tahun 1966 menumbangkan kekuasaan orde lama, menjadi sadar. Malah, yang terjadi justru sebaliknya, mereka semakin membenci Gie.

Yang kita alami hari-hari ini, sepertinya mirip dengan yang pernah dialami Gie. Setiap hari kita menulis kisah-kisah indahnya perdamaian, mengkritik setiap kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, kita menawarkan solusi bagaimana seharusnya Pemerintah membuat kebijakan. Semakin lama, kita juga menjadi bosan, karena ternyata berita yang kita tulis tak pernah mengubah apapun. Kita seperti berbicara pada kerbau-kerbau liar. Jangankan kita sempat membisikkan sesuatu ke telinganya, melihat kita saja, si kerbau sudah lari terbirit-birit. Beberapa kerbau malah berbalik menyerang kita.

Sekeras apapun yang kita tulis, tetap tak bermakna. Sasaran yang kita kritik juga kadang-kadang mencoba bersikap lunak pada kita, dan lalu menawari kita dengan iming-iming materi. Pertama kita mungkin tidak terlena, tetapi selanjutnya bagaimana? Kita pasti akan berguman, “untuk apa kita menulis tentang kejelekan mereka, bukankah mereka sudah membantu kita?”

Di sisi lain, kita semakin gundah dengan kondisi Nanggroe kita yang semakin tak karuan ini. Membaca Koran membuat kita jadi ragu pada damai yang sudah disemai hampir empat tahun itu. Damai sepertinya sudah hampir layu. Kita pun menjadi percaya, damai yang sempat ditorehkan beberapa waktu lalu hanyalah kepura-puraan semata, sebab Aceh saat itu sedang berkabung. Jika tak berdamai, orang-orang asing itu tak akan mau memberikan bantuannya. Kepura-puraan itu terlihat sekarang, dimana anggota TNI/Polri dan KPA sudah tak malu-malu lagi saling menyerang. Lalu, apa guna kita menulis tentang damai? Karena banyak orang ternyata ‘klo prip’. (HA 010109)

Read More......