February 26, 2009

Oleh Baun Thoib Soaloon Siregar

Judul : Aceh Pungo
Penulis : Taufik Al Mubarak
Penerbit : Bandar Publishing Banda Aceh
Tebal Buku : 282+xxii Halaman
Cetakan : 1, Februari 2009
Harga : Rp.49. 000


Ketika saya mencari-cari buku referensi kuliah pada sebuah toko buku, tiba-tiba seseorang (entah penjual atau pembeli) nyeletuk: ”Aceh pungo, dua uroe teuk, kon le ureung Aceh nyang pungo, Batak-Batak pih kapungo.” Saya hanya menangkap potongan ungkapan tadi dan tidak tahu sama sekali pangkal ujung pembicaraan. Karena penasaran saya bertanya: “Pakon, Dek!” Ia lantas menunjuk sebuah buku pada rak bagian tengah, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Oh, ini rupanya “Aceh Pungo”. Lalu, apa kaitannya dengan Batak? Kenapa pula orang Batak harus ikut-ikutan pungo? Apakah ini terkait dengan demo maut yang terjadi di Medan baru-baru ini, atau...? Ah, daripada menduga-duga, lebih baik buku ini dibaca dulu, pikirku seketika.

Bersampul hitam pekat, buku terbaru terbitan Bandar Publishing (BP) Banda Aceh ini diberi judul “Aceh Pungo” (AP) dengan tulisan warna putih mencolok, tapi berkesan lusuh dan tampak retak-retak. Entah apa yang ingin divisualisasi melalui gambar sampul tersebut. Apakah ini potret Aceh yang tenggelam dalam kelam, Aceh yang tak terduga, Aceh yang malang dan berkabung, atau Aceh yang diselimuti kegelapan, kebodohan, keterbelakangan, dan kejahatan, di mana yang muncul dan tampak jelas di permukaan hanyalah sederet kegilaan? Atau ini sebuah simbol jubah hitam kebesaran dan kebanggaan mengusung identitas dan budaya kegilaan? Semua atau sebagiannya mungkin benar, tapi mungkin juga salah. Penulis tampaknya membiarkan kita menerka-nerka tafsir yang serba mungkin dalam rasa penasaran, kebingungan, dan keingintahuan. Sebab, biarpun warna hitam sering kali identik dengan sifat-sifat negatif dan jahat, tetapi dalam banyak hal, hitam juga menjadi penyelaras, pembeda, bahkan pemanis konfigurasi tampilan warna. Hitam juga dianggap warna netral yang bisa cocok dan berpadu dengan warna-warna lain dalam membangun citra estetika dan eksotis.

Menurut saya, buku ini dapat dikatakan sebagai cerita tentang fenomena keanehan dan kegilaan masyarakat modern dalam skop yang luas dalam bahasa “Aceh”. Artinya, meskipun mungkin terdapat penekanan pada lokalitas masyarakat Aceh dengan mengambil setting dan simbol-simbol ke-Acehan yang khas, namun substansi lika-liku keanehan/kegilaan sosial politik yang diangkat dalam buku ini sebenarnya jauh menembus batas-batas demografi Aceh Darussalam. Apakah ini terkait dengan konsep think globally act locally, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, fenomena seperti korupsi, jilat-menjilat, praktik hedonisme, demokrasi paradoks, kontradiksi antara idealisme dan realisme, premanisme dan kekerasan, dan kejujuran dan kesederhanaan merupakan isu-isu global yang juga melanda masyarakat di bagian dunia yang lain atau setidaknya daerah lain di Nusantara. Uniknya, dan inilah salah satu yang membuat buku ini menarik dan layak dibaca oleh semua orang. Semua itu disampaikan dan dibungkus dengan apik dalam bahasa Aceh pungo dalam pengertian yang luas (bahasa kegilaan dan keunikan orang Aceh).

Buku setebal 282 plus xxii halaman ini ditulis oleh Taufik Al Mubarak, jurnalis muda yang bekerja di koran Harian Aceh. Buku ini merupakan kompilasi tulisannya pada Pojok Gampong yang diasuhnya di koran tempatnya menempa diri, ditambah beberapa tulisannya pada media lain. Buku dengan kata pengantar dari Muhammad Nazar (Wakil Gubernur Aceh) ini terdiri dari tiga bagian: (1) Politek Ureung Gampong (Politik Orang Kampung); (2) Politek Pungo (Politik Gila); dan (3) Politek Hana Titiek (Politik tanpa Titik). Sekilas, melihat ketiga judul bagian tersebut, pembaca akan mengira bahwa buku ini adalah buku politik. Sebenarnya tidak. Walaupun banyak tulisan yang beraroma politik, namun secara substansial, buku tidak sepenuhnya berbicara tentang politik. Ada aura lain di dalamnya seperti komunikasi, teknologi, agama, bahasa, filosofi, ekonomi, dan pendidikan. Saya tidak bisa memastikan alasan apa dibalik pencantuman judul tersebut. Mungkinkah penulis berniat mengetengahkan semua itu dalam perspektif politik? Tidak juga. Memang ada satu judul tulisan pada bagian ketiga yang menjadi judul bagian tersebut, tapi hal ini tidak berlaku pada bagian pertama dan kedua. Apa karena unsur psikologi pemasaran agar tampak sensasional dan menarik konsumen atau barangkali ini terkait dengan demam politik yang semakin merambah semua sudut kehidupan akhir-akhir ini sehingga semua hal selalu dikait-kaitkan dengan politik? Terserah pembaca.

Di antara kelebihan buku ini adalah kelihaian penulis dalam mengendus problematika sosial politik yang berkembang dalam masyarakat—yang kebanyakan tampaknya hanyalah persoalan-persoalan biasa dan nyaris tak menjadi perhatian publik, lalu mengemasnya dalam tulisan-tulisan bernada kritik yang simpel tapi tajam. Bahkan, dalam banyak tulisan justru sangat inspiratif (menggugah emosi dan kesadaran terhadap hal-hal yang sebelumnya terlewatkan begitu saja). Lebih lanjut, dengan plus minusnya, beberapa tulisan malah berbau propaganda dan cenderung provokatif, sebagaimana pengakuan penulisnya. Hal ini tentunya sangat bergantung pada posisi dan perspektif orang yang membaca. Bagi saya, dengan tetap mengedepankan etika, bentuk dan pola komunikasi haruslah mencerminkan tujuan dan mempertimbangkan kondisi mental dan psikologi sasaran. Jadi, berkomunikasi dengan orang bebal, tungang atawa klo prip tentu saja sangat berbeda dengan orang dengan kualitas indra dengar, pikir, dan renung yang masih jernih.

Dari segi penyampaian, buku ini memperkenalkan sebuah gaya yang khas dengan beberapa ciri umum seperti topik acuan yang merakyat dan diberi label yang memikat tapi sebisa mungkin cukup familiar di telinga pembaca, menggunakan gaya bercerita, sering kali dibungkus dalam dialog singkat yang didesain sedemikian rupa sehingga tampak ril dan hidup, dan konsisten dengan bahasa “pasar” yang lugas dan acap kali kocak sehingga enak dibaca sekaligus mudah dipahami. Meskipun pada beberapa tempat, penulis menggunakan simbolisme, tapi ia tidak membiarkan pembaca mencari tahu sendiri makna yang ingin disampaikannya, melainkan menuntut mereka secara tautologis tahap-demi tahap menuju medan makna. Terus terang dan terbuka tanpa terjebak dalam hiperbolisme, bahkan membuka selebar-lebarnya hal-hal yang tertutup dan terbungkus kepada khalayak, itulah gambaran lain dari karakter buku ini. Dengan demikian, secara sadar penulis telah beranjak jauh meninggalkan gaya-gaya penulisan yang eufimistis dan simbolis menuju disfimisme dan realisme. Maklum, zaman sudah berubah, tak ada yang mesti ditutupi. Jurnalisme harus konsisten sebagai media pencerahan dan pencerdasan masyarakat.

Dengan kelebihan dan kekurangannya, hal ini sangat berbeda dengan “Celoteh Budaya Politik Aceh” (CBPA) terbit tahun 2003 yang berisi kumpulan tulisan mantan bupati Bireun Mustafa A. Glanggang pada rubrik “Tingkap” di Harian Serambi Indonesia. Meskipun CBPA juga berupa kritik sosial, tapi buku ini mengandalkan ragam gaya bahasa simbolisme, eufimisme, dan personifikasi yang sering kali dibalut cerita fiktif dalam menggambarkan fenomena sosial budaya dan politik pada masanya. Gaya penulisan AP juga memiliki perbedaan dengan “Dari Panteu Menuju Insan Kamil” (DPMIK), kumpulan tulisan Ampuh Devayan dalam kolom ”Panteu” harian Serambi Indonesia yang terbit dalam bentuk buku baru-baru ini. DPMIK mengusung gaya penulisan yang lebih formal, bernuansa sastra dan lebih ilmiah.

Meskipun di satu sisi, gaya penyampaian yang demikian sangat positif dalam konteks pendidikan politik dan pembangunan iklim demokrasi dewasa ini, namun dalam tingkatan tertentu, penulis tampaknya tidak bisa melepaskan begitu saja unsur subjektivitas dan emosionalitasnya sebagaimana tercermin dari beberapa tulisannya. Oleh karena itu, bisa saja di kemudian hari ada pihak yang beranggapan bahwa penulis cenderung tendensius, bahkan cenderung terjerumus dalam sinisme, atau bahkan satire.

Desain dan tampilan buku ini cukup elegan dan menarik. Cuma saja di dalamnya tidak didapati lembaran yang memuat informasi tentang KDT (Katalog dalam Terbitan) serta informasi penting tentang cuplikan UU tentang Hak Cipta sebagaimana pada buku-buku terbitan lain. Selain itu, pemaksaan pencantuman judul baru pada lembaran baru membuat banyak sekali halaman yang kosong yang tidak terpakai sama sekali.

Menyangkut ejaan dan tata bahasa sebenarnya sudah cukup baik, namun penulisan kata “pungo” baik di halaman kulit maupun di dalam teks seharusnya dimiringkan karena kata tersebut termasuk kata asing yang belum terserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia. Terakhir, foto penulisnya sedang merokok pada halaman profil, kurang tepat. Sebab kondisi tersebut dapat memunculkan image yang negatif bagi sebagian pembaca. Sejatinya foto yang ditampilkan adalah foto netral tanpa rokok, agar penulisnya dapat diterima oleh semua kalangan pembaca.

Bagaimanapun, buku ini sudah cukup baik dan relatif mampu mewujudkan misinya sebagai kritik sosial yang berusaha memotret fenomena “kegilaan” dan keunikan masyarakat Aceh kontemporer dalam berbagai aspek. Meskipun sekian banyak topik tulisan dalam buku ini memang belum mampu menampung totalitas realita ke-pungo-an masyarakat Aceh dalam berbagai hal yang dengan susah payah dikorek penulisnya. Namun demikian, kerja keras ini pantas diapresiasi. Kita tentu tidak berharap ke-pungo-an ini berlanjut atau malah semakin menjadi-jadi apalagi sampai merembes ke masyarakat tetangga sebelah (Batak) sebagaimana celotehan pemuda di toko buku kemarin. Selamat kepada Taufik Al Mubarak, dan bagi pembaca, selamat membaca.

Penulis adalah Staff Balai Bahasa Lampineung Banda Aceh dan Pemenang Resensi Buku Pemikiran Ulama Dayah Aceh pada tahun 2007.

note: tulisan ini sudah dimuat di Tabloid Kontras edisi No.478 Tahun XI, 26 Februari-4 Maret 2009

February 15, 2009

Soal kehadiran pemantau asing untuk memantau pelaksanaan Pemilu di Aceh, kembali mengundang perdebatan. Ada pihak yang memandang kehadiran pemantau asing sangat dibutuhkan, ada juga yang beranggapan tidak. Pihak yang memandang pemantau asing penting, seperti Gubernur Aceh Irwandi Yusuf berpendapat, bahwa pelaksanaan pemilu di Aceh bagian dari resolusi konflik, dank arena itu perlu hadirnya pemantau asing untuk menghadirkan pemilu yang berkualitas.

Menurut Irwandi seperti dikutip Harian Aceh, Jumat (13/2), kehadiran pemantau asing untuk mendukung Bawaslu dan Panwaslu dalam melakukan pengawasan. Pemilu di Aceh, kata Irwandi, sangat berbeda dengan pemilu secara nasional. Hal itu tak hanya karena pemilu 2009 merupakan pemilu pascakonflik, melainkan juga diramaikan oleh kehadiran partai politik lokal.

Argumentasi Irwandi sangat beralasan karena menjadi pemilu, eskalasi criminal politik di Aceh terus meningkat dan terjadi setiap hari. Irwandi mencontohkan, aksi criminal yang terjadi menjelang pemilu cukup membuat kita panas dingin. Bayangkan, 14 kantor partai lokal ludes dibakar, 4 granat dilempari terhadap kantor dan rumah pengurus partai, serta lima unit mobil milik Partai Aceh dibakar, belum lagi kasus-kasu pembakaran dan pencurian bendera partai. Dari kasus-kasus tersebut, kata Irwandi, cukup beralasan untuk mengundang pemantau asing.

Sementara pihak yang tidak setuju kehadiran pemantau asing juga memiliki alasan, meski alasan tersebut dalam kacamata kita cukup tendensius. Pernyataan Sekretaris Menko Politik Hukum dan Keamanan (Sesmenko Polhukam) Letjen TNI Rumolo R Tampubolon, misalnya, memandang tidak perlu kehadiran pemantau asing secara khusus di Aceh pada Pemilu Legislatif. Berkebalikan dengan Irwandi yang melihat pemilu di Aceh bagian dari resolusi konflik, Rumolo berpendapat, pemantau asing tidak bisa memberi solusi terhadap kecurangan Pemilu.

“Kalaupun ada pemantau asing, itu masih dalam konteks nasional, tidak khusus Aceh, karena provinsi Aceh tidak beda dengan propinsi lain di Indonesia,” kata Romulo R. Simbolon, Kamis (12/2), di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh.

Menurut dia, kehadiran pemantau asing juga tidak bisa berbuat apa-apa jika terjadi kecurangan pada Pemilu, karena mereka tidak punya wewenang. Mereka hanya bisa memberi penilaian dan pendapat secara umum, tanpa bisa memberi sanksi.

“Jadi untuk memantau Pemilu di seluruh Indonesia cukup dengan mengandalkan serta memberi dukungan kepada Panwaslu dan Bawaslu yang di-back-up polisi dan kejaksaan. Mereka bisa menindak kalau ada kecurangan dan ada payung hukumnya,” tegasnya.
Terlepas dari perdebatan di Aceh, kita tetap memandang, kehadiran pemantau asing di Aceh sangat penting. Bukan hanya semata-mata karena kondisi Aceh yang memburuk, melainkan untuk menghadirkan pesta demokrasi yang berkualitas, dan hasilnya memuaskan semua orang. Karena kita sangat yakin, tanpa kehadiran pemantau asing, berbagai kecurangan dan intimidasi untuk memilih partai tertentu atau menolak partai tertentu pasti akan terjadi. Masyarakat pasti hidup dalam kondisi ketidakpastian karena ‘dipaksa’ untuk melawan hati nuraninya.

Kita percaya, banyak pihak berharap, pesta demokrasi berupa pemilu dengan kehadiran partai lokal tidak begitu disenangi. Kesuksesan pemilu dengan hadirnya partai lokal akan mendorong propinsi lain di Indonesia untuk meminta hal yang sama dengan Aceh. Dapat disebut, pemilu dengan kehadiran partai politik sebuah pertaruhan politik tentang masa depan system politik di Aceh. Kita bisa berkaca pada kesuksesan pelaksanaan Pilkada 2006 dengan hadirnya calon independen, di mana kemudian membuat system politik harus diubah. Karena propinsi-propinsi lain juga meminta hal yang sama.

Nah, bisa jadi hal itu tidak diinginkan oleh pihak tertentu. Karena itu, dengan sekuat tenaga ingin menggagalkan pesta demokrasi, dengan harapan muncul image bahwa kehadiran partai lokal bukan pertanda baik. Kehadiran partai lokal bukan solusi untuk menghargai kekhasan suatu daerah.

Kita percaya, keberadaan Bawaslu atau Panwaslu tidaklah cukup ‘kuat’ untuk memantau agar pemilu benar-benar berlangsung demokratis. Karena kita tahu, keberadaan Bawaslu dan Panwaslu tidak cukup kuat untuk memaksa masing-masing pihak agar taat pada aturan-aturan yang telah disepakati. Sudah lumrah berlaku dalam masyarakat kita, aturan dibuat bukan untuk ditaati, melainkan untuk dilanggar.

Karena itu, melihat fenomena yang terjadi belakangan ini berupa massifnya aksi kekerasan, pembunuhan, penculikan dan aksi kekerasan lainnya terhadap pengurus dan kantor partai, mau tidak mau, kehadiran pemantau asing merupakan sebuah kemutlakan.
Itu pun jika kita berharap pemilu berlangsung dalam suasana demokratis, dan benar-benar pesta rakyat, bukan pesta para tuan. Apalagi, semua mata sedang melirik Aceh, dan berharap pesta demokrasi dengan kehadiran lokal benar-benar menjadi resolusi konflik, bukan memancing hadirnya konflik baru yang lebih parah dan lucu.


February 10, 2009

Belakangan ini, aksi kriminal semakin sering ditemui. Penyebabnya macam-macam, ada yang karena faktor ekonomi, politik atau kepentingan merusak perdamaian. Sayangnya, hingga kini pihak polisi belum berhasil mengungkap siapa aktor intelektual penyebab memanasnya kondisi keamanan di Aceh.


Banyak pihak menengarai, memanasnya kondisi Aceh karena menjelang perhelatan akbar berupa Pemilu 2009 pada 9 April mendatang. Tapi, apakah itu penyebab satu-satunya? Bukankah banyak faktor lain yang bisa disebut. Soalnya, kondisi Aceh yang sudah mirip filosofi lampoh soh ini, menyebabkan semua orang berkepentingan mengobok-obok Aceh tanpa merasa menjadi tertuduh.

Sementara elit politik, pejabat pemerintahan dan pihak keamanan sibuk berpolemik, dengan mengeluarkan pernyataan yang membingungkan masyarakat. Padahal, yang harus dilakukan bagaimana aktor-aktor yang mengobok-obok Aceh ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.

Kita tidak boleh semata-mata juga menganggap apa yang terjadi belakangan ini semuanya terkait dengan pesta demokrasi yang berlangsung. Sebab, faktor-faktor lain misalnya, seperti persaingan proyek, soal kesejahteraan, dan rekonstruksi juga terkait dengan memanasnya kondisi Aceh. Masalahnya, karena semakin dekatnya pelaksanaan pemilu, semua kejadian dikaitkan dengan pesta lima tahun itu.

Pun begitu, tak bisa dinafikan juga jika persaingan perebutan basis dukungan sebagai penyebab tidak normalnya kondisi Aceh. Tapi, kita mesti melihat persoalan ini secara jernih. Sebab, terlalu mahal harga yang harus dibayar oleh rakyat Aceh jika kondisi keamanan kembali sebelum MoU Helsinki ditandatangani.

Ada yang menuding, memburuknya kondisi keamanan karena distribusi keadilan tidak merata. Sehingga banyak orang melalukan aksi-aksi kriminalitas, untuk mencapai tujuan kesejahteraan. Pemerintah mesti mengantisipasi hal ini dengan lebih banyak membuat program-program pemberdayaan masyarakat dan juga program-program pemulihan ekonomi. Sejarah telah membuktikan, tidak ada perang di negeri yang penuh keadilan.

Sementara, jika penyebab runyamnya kondisi keamanan di Aceh karena terkait Pemilu, kita meminta agar masing-masing partai mengedepankan cara berpolitik yang simpatik. Kemenangan dan perebutan kursi bukan semata-mata tujuan, dan tidak bisa dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Partai perlu mengajarkan cara berpolitik yang santun kepada masyarakat dengan menawarkan program-program yang membuat masyarakat bergairah berpartisipasi dalam politik.

Karena, banyak juga rakyat yang bersikap apatis dengan proses politik yang sedang berjalan. Mereka sibuk memikirkan nafkah untuk mengasapi dapurnya, ketimbang menunggu janji-janji para politisi yang tidak pasti. Rakyat tidak bisa dihibur dengan slogan kosong, tanpa diiringi dengan bukti.

Kita tahu, semua orang sibuk dengan kondisi Aceh, baik karena memanasnya situasi juga karena banyaknya perputaran uang di Aceh. Namun, uang yang banyak itu, kita tahu, tidak semuanya bisa dinikmati oleh rakyat Aceh. Kondisi rakyat Aceh sekarang mirip dengan pepatah, ayam mati di lumbung padi. Uang dan kesejahteraan hanya dinikmati dan dikuasai para pengusaha dan pejabat saja. Sementara rakyat tidak tahu harus mengadu kemana.

Untuk itu, kita berharap, sibuknya para petinggi Partai memperjuangkan kursi tidak membuat rakyat Aceh kembali khawatir. Sebab, bila petugas keamanan kembali beroperasi di perkampungan, maka keadaan negeri ini bagai perang. Sementara perang telah lama berlalu.

Politikus seharusnya berpikir optimis, bukan merasa dirinya seperti kodok dalam blender. Politikus yang katanya akan menjadi pemimpin seharusnya menjadi figur yang kuat untuk dicontoh masyarakat.

Mungkin masih banyak lagi yang harus kita pelajari untuk menangani kerikil dalam perdamaian yang dipastikan abadi ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selain kekhawatiran itu sendiri.(HA 100209)


February 7, 2009

Saya selalu bingung ketika ditanya bagaimana caranya menulis. Pasalnya, hingga kini saya sendiri belum mengetahui teknik atau cara jitu tentang menulis. Jika pun ada cara yang diberikan pakar dalam buku-buku yang ditulisnya tetap tidak membuat orang yang membacanya akan langsung bisa menulis. Karena hingga kini saya masih percaya, jika menulis merupakan salah satu kegiatan praktek, bukan sekedar cukup dengan teori. Seberapa pun banyaknya teori menulis kita pelajari, jika kita tidak langsung mempraktekkannya sama saja bohong belaka.

Makanya, jika ada yang bertanya tentang cara dan teknik menulis, saya cukup puas menjawab singkat saja: mulailah menulis. Cara terbaik dalam menulis ya memulai menulis. Menulis apa saja atau tentang siapa saja. Jika tidak ada sesuatu yang pantas untuk ditulis, anda cukup menulis apa yang anda pikirkan, apa yang anda dengar, apa yang ada lihat, dan apa yang anda rasakan. Saya percaya, kita pasti bisa menulisnya. Memang, ketika pertama memulainya terasa sulit, tetapi lama-kelamaan pasti akan terbiasa.

Yang tak kalah penting bagi penulis adalah banyak membaca. Sebab, membaca tak hanya menambah wawasan dan memperkaya pengetahuan kita, melainkan juga membuat kita kaya bahasa dan memperoleh kata-kata baru yang mungkin jarang kita dapatkan. Hal itu sangat berguna untuk mengembangkan kemampuan menulis kita ke depannya. Semakin kaya dengan bahasa dan kata-kata baru, kita juga akan semakin cepat dalam menulis.

Banyak orang yang sebenarnya mengeluh, bahwa dia tidak bisa menulis sebaik Goenawan Mohamad, Eep Saifullah Fattah, Putu Setia, Ehma Ainu Nadjid, Kang Jalal atau Mohammad Sobary. Anda tidak perlu resah dan pesimis. Karena semua mereka juga bukan setelah lahir langsung jadi penulis hebat seperti sekarang ini. Mereka sebenarnya pernah mengalami masa-masa sulit ketika pertama memulai menulis. Namun, seiring waktu dan proses belajar terus-menerus, mereka bisa mencapai kemampuan seperti sekarang. Karir mereka dalam menulis tidak didapatkan secara instan, melainkan melalui proses panjang dan sejumlah kegagalan. Tulisan mereka pasti pernah ditolak beberapa kali oleh media atau lembaga penerbitan. Namun, mereka tak menyerah.

Sebenarnya, dengan kondisi serba canggih sekarang, tak ada alasan bagi kita untuk tidak menulis. Kondisi ini seharusnya mampu mendorong lahirnya banyak penulis muda di Aceh. Namun yang terjadi, banyak penulis masih malu-malu. Sehingga kita hanya membaca tulisan-tulisan orang-orang itu saja di media, selain tulisan para dosen. Seharusnya, para siswa atau mahasiswa semester pertama sudah berani menjajakan tulisannya di media, karena itu juga terkait dengan kemampuan akademik. Menulis itu bukan hanya monopoli para pelajar jurnalistik, orang yang pernah mengikuti kursus menulis atau orang-orang yang digembleng lembaga khusus. Menulis itu kewajiban semua orang, terserah mau kuliah di mana dia. Karena, menulis itu tidak bisa direkayasa, melainkan melalui proses panjang dengan beberapa kegagalan ketika pertama memulainya.

Jangan pernah menyerah jika tulisan pertama langsung ditolak oleh media. Sebab, itu bukan berarti kiamat dan anda tidak menjadi penulis. Kegagalan pertama adalah motivasi. Sehingga membuat kita terus mencoba dan mencoba. Kegagalan membuat kita kembali belajar mengevaluasi di mana letak kelemahan tulisan kita. Kegagalan juga menjadikan kita, apakah gampang menyerah atau tidak. Yakinlah, banyak penulis hebat sekarang ini sudah pernah mengalami kegagalan, malah lebih parah yang kita alami sekarang.

Lalu, apakah untuk disebut penulis itu ukurannya hanya ketika tulisan kita dimuat di media? Rasanya, kondisi sekarang ukuran itu tidak lagi penting. Jika tulisan kita belum saatnya dimuat oleh media, kita bisa mencoba alternatif lain. Banyak hal yang bisa kita lakukan, seperti menulis secara rutin di blog. Blog dewasa ini bukan lagi media sepele yang harus dipandang sebelah mata. Di luar negeri, jurnalisme blog sudah diakui. Malah, beberapa kejadian heboh yang kemudian dimuat di media mainstream sudah terlebih dahulu muncul di blog, seperti kasus Barack Obama memakai pakaian adat Kenya atau tragedi bom Mumbai. Informasi tersebut duluan muncul di blog, baru kemudian dikutip oleh media.

Manfaatkan Fasilitas Online
Anda tidak perlu bersedih, ketika sebuah Koran atau penerbitan menolak tulisan anda, dan mengabarkan bahwa tulisan tersebut belum layak muat. Jangan merasa dihajar petir ketika anda menerima surat penolakan diantar ke alamat anda. Penolakan itu harus anda jadikan sebagai cambuk untuk lebih giat dan menghasilkan yang lebih bagus lagi. Bisa jadi masih ada letak kelemahan anda sehingga redaktur sebuah media tidak memuat tulisan anda. Coba anda pelajari kembali tulisan tersebut, dan teruslah menulis sehingga benar-benar menghasilkan tulisan terbaik.

Anda harus banyak belajar dari penulis besar seperti JK Rowling atau Dan Brown. Naskah mereka pernah dilempar ke tong sampah ketika ditawarkan ke media. Namun apa yang terjadi, kini keduanya menjadi penulis buku best seller. Jadi, penolakan naskah oleh suatu penerbitan bukanlah isyarat bahwa peluang anda menjadi penulis tertutup.
Dewasa ini, banyak media dan fasilitas online yang bisa kita gunakan sebagai media menulis. Katakanlah fasilitas blog yang banyak tersedia gratis sekarang di internet seperti blogger, wordpress, multiply atau facebook. Melalui media jejaring sosial itu, kita bisa menyebarkan tulisan-tulisan kita tanpa harus takut kena sensor atau melalui proses editing. Setiap hari anda bisa menulis sesuka hati anda, dengan tema-tema yang berbeda. Bayangkan jika per hari anda mampu menghasilkan minimal dua tulisan, berapa banyak tulisan yang akan anda hasilkan dalam sebulan, setahun atau lima tahun? Anda bisa jadi lebih produktif dari penulis yang sering memasarkan tulisannya di media mainstream.

Jika tulisan anda memiliki suatu karakter dan tema-tema unik, jangan terkejut jika ada tawaran atau saran dari pembaca blog anda yang meminta dibukukan. Saya teringat tentang Radityadika (www.radityadika.com), tulisan-tulisannya tentang hal-hal bodoh yang dialaminya sendiri kemudian ketika dibukukan menjadi buku yang sangat laris.
Anda juga bisa menjadi seperti Radityadika, asal anda tekun dengan bidang yang anda tekuni dengan menulis terus menerus. Bukankah Dale Carnegie, seorang pakar motivasi yang sangat terkenal pernah mengatakan bahwa “Orang jarang mencapai kesuksesan, kecuali orang tersebut mencintai apa yang mereka lakukan.”

Menjadi Full Blogger
Nah, jika anda masih malu-malu untuk mempublikasikan tulisan anda ke media mainstream atau terlalu seringnya tulisan anda ditolak dengan berbagai alasan, anda mesti berpikir realistis. Anda-lah orang yang paling bertanggung jawab terhadap diri anda sendiri, bukan pengelola media atau redaktur opini sebuah media. Anda tak perlu bersedih tulisan anda ditolak, karena itu hal yang wajar. Tak ada penulis besar yang langsung namanya melejit tanpa melewati rintangan seperti yang anda alami. Mereka menjadi terkenal karena berulang kali tulisan mereka ditolak oleh media. Tapi mereka tak pernah patah semangat. Karena kewajiban penulis (jika anda memproklamirkan diri sebagai penulis) adalah menulis, tugas redaktur media memuatnya. Jika toh tak dimuat itu hak mereka dan tugas anda sebagai penulis selesai.

Anda juga mesti bertanya pada diri anda sendiri, apakah anda menulis semata-mata hanya karena ingin dimuat di media seperti Koran, majalah atau tabloid? Apakah anda baru merasa puas jika tulisan anda sudah muncul di media? Jika anda masih berpikir seperti ini, saya percaya anda tidak akan berhasil menjadi penulis yang baik. Seperti sudah kita singgung di atas, bahwa untuk menjadi penulis sekarang ini ukurannya bukan karena tulisan kita dimuat di media cetak. Sebab, banyak cara lain yang juga bisa membuat kita jadi penulis produktif.

Saya masih ingat bagaimana seorang Budi Putra (www.thegadgetnet.com) memilih berhenti dari wartawan Tempo yang gajinya sudah tinggi hanya karena ingin menjadi full blogger. Budi Putra seperti mahfum bahwa ke depan keberadaan blog semakin diakui. Perkiraan Budi ternyata tidak meleset, dan dia masih bisa mendapatkan uang melimpah dengan menjadi blogger. Anda juga bisa mencoba seperti Budi Putra tanpa mengeluarkan banyak modal. Anda hanya perlu menyediakan waktu sehari beberapa jam saja untuk menulis di blog anda tentang isu-isu yang sedang aktual. Percayalah, jika tulisan anda benar-benar sedang hot dan aktual, mesin pencari www.google.com akan mengarahkan pencari informasi untuk mengunjungi blog anda. Jika pembaca merasa mendapatkan manfaat dengan mengunjungi blog anda, besok-besok mereka akan setia menunggu setiap tulisan-tulisan terbaru dan teraktual dari anda. Anda akan menjadi penulis yang ditunggu-tunggu.

Manfaat yang akan anda rasakan akan semakin bertambah jika anda mengikuti program google adsense (www.google.com/adsense), dan menyediakan ruang di blog anda untuk iklan dari jaringan google. Setiap klik yang dilakukan oleh pembaca atas iklan tersebut, berarti pundi-pundi dollar anda akan bertambah. Bayangkan jika tulisan-tulisan anda sangat digemari pembaca, pasti bakal banyak orang yang meluangkan waktu membuka-buka blog anda, dan berarti peluang iklan di blog anda diklik semakin besar.

Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan, bahwa faktor uang menjadi motivasi anda dalam menulis. Saya ingin memberitahu anda, bahwa banyak faktor dan alasan kenapa anda mesti menjadi penulis. Saya sering mendengar pepatah dari buku-buku yang saya baca, bahwa kenapa kita harus menulis yaitu agar orang-orang tahu apa yang kita fikirkan, atau orang-orang mengetahui bahwa kita pernah hidup. Itu saja.
Jika produktivitas anda dalam menulis terus bertahan, maka tak salah jika anda juga berhak disebut sebagai penulis produktif? Gampang bukan.

Note: Essay untuk hari Minggu (080209)

February 6, 2009

Warkah ini saya tulis sangat hati-hati. Bukan karena saya menulis tentang seorang kawan atau tentang pemikiran yang lama hinggap dalam ingatan orang Islam Aceh. Saya tulis warkah ini bukan juga karena saya benci pada perjuangan rakyat Palestina, atau saya mendukung agresi Israel. Saya menulis ini karena menangkap ada hal salah kaprah yang sudah kita lakukan.

Saya masih ingat, beberapa waktu lalu, seorang kawan begitu bangga saat menceritakan bahwa dia berhasil mendaratkan sebutir telur di wajah seorang duta besar (Dubes) negara adidaya. Kejadian tersebut terjadi ketika sang Dubes berkunjung ke Kampus Darussalam. Tak ada keterangan resmi yang saya terima, apakah kejadian tersebut benar-benar terjadi atau sekedar ‘propaganda’ kemenangan. Namun yang pasti, memang ada aksi menolak kedatangan sang Dubes.

Mendengar cerita si kawan itu, saya menangkap rasa bangga yang dia rasakan seperti yang pernah dirasakan Muntazar al Zaidi ketika sepatu kumalnya hampir mendarat di wajah Presiden Bush. Suatu kepuasan batin yang tak ternilai, seperti halnya aksi yang dilakukan sebuah front yang mengaku Islami ketika menggelar posko Jihad untuk Palestina.

Tapi, terus terang, saya sendiri tak sepakat dengan aksi kawan saya itu. Karena, meskipun benar telur sempat pecah di wajah sang Dubes, tapi itu tak akan menyelesaikan masalah. Karena dia hanyalah orang yang tertawan oleh petinggi negaranya. Kita mungkin sepakat dengan argumen kawan saya bahwa telur itu untuk bocah Palestina yang terpanggang oleh bom Israel. Tapi apakah melempar seorang Dubes bisa mengubah kebijakan negaranya? Tentu saja tidak.

Malah itu hanya memperburuk citra Aceh yang selama ini dikenal santun dan hormat pada tamu yang datang dengan niat baik-baik. Banyak contoh yang bisa kita perlihatkan, seperti mereka pernah membantu orang Aceh saat tsunami lalu. Ketika mereka datang membantu, rakyat Aceh menerimanya dengan penuh senyum. Dulu, ketika Aceh dibalut konflik, kita pernah mengharapkan bantuan mereka menghentikan konflik dan menekan pemerintah di Jakarta. Malah, saya pernah menyaksikan dua massa yang berbeda kepentingan, satu mewakili kelompok yang merasa merekalah penafsir Islam yang benar, dan satu kelompok lagi mewakili mahasiswa yang membela hak-hak rakyat Aceh. Jika yang pertama menentang kehadiran Dubes negeri adidaya ke Aceh, maka yang kedua menerimanya.

Kini, masalah itu muncul lagi. Karena solidaritas semu kita melabrak kesantunan Aceh. Padahal, orang Aceh teguh memegang prinsip, menerima tamu yang datang dengan niat baik.

Ketika hal ini saya ceritakan kepada kawan kerja di kantor, dia sampai mencak-mencak. Saya sempat terdiam ketika si kawan berucap: “Aneh, bantuan orang kita terima tetapi orangnya tidak kita terima.” Menurutnya, kita menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih.

Lalu, apakah kita tidak bisa membenci negara adidaya itu? Itu sangat tergantung persepsi masing-masing kita. Jika kita membenci atas dasar apa? Apa hanya karena mereka mendukung Yahudi? Ataukah ada alasan lain yang lebih masuk akal. Jika kita tidak membenci mereka, juga atas dasar apa.

Saya sendiri memilih tidak membenci mereka dan melihat masalah Palestina dengan kepala jernih tanpa tertawan oleh masalah bahwa yang dibantai itu orang Islam.
Saya sendiri lebih menganjurkan membenci negara Arab yang memilih jadi boneka negara adidaya dan berlagak ‘bencong’ yang cantik di depan Israel. Mereka yang lebih pantas kita kutuk dan memboikot produknya, daripada memboikot produk Amerika yang selama ini begitu membantu kampanye mengutuk Israel dan AS, termasuk kampanye antiproduk Yahudi.
Saya pernah mendapatkan satu selebaran yang berisi list produk Yahudi dan Amerika yang harus diboikot. Saya tertegun karena kertas yang saya pegang diketik dengan produk Amerika. Bukan hanya itu saja, saya juga sempat membuka blog atau komunitas solidaritas untuk Palestina yang semuanya dibuat menggunakan fasilitas yang disediakan oleh orang Amerika dan Yahudi seperti blogger, wordpress, multiply, facebook, dll.

Padahal yang seharusnya diboikot itu produk-produk orang Arab. Karena sifat ‘bencong’ mereka rakyat Palestina dikorbankan. Saya percaya, masalah Palestina tidak akan berlarut-larut seperti sekarang ini jika Negara Arab punya sikap tegas dan bersatu. Israel tidak akan berani membantai rakyat Palestina jika seluruh Negara Arab berada di shaff terdepan melawan setiap aksi biadab Israel. Palestina juga tidak membutuhkan bantuan dari kita jika seandainya saudaranya di Arab memiliki nurani.
Saya justru percaya, Palestina merupakan ladang ‘jihad’ untuk rakyatnya karena selama dikucilkan oleh tetangga-tetangganya.(HA 070209)

February 5, 2009

Dokaha jadi kolektor kalender sekarang. Padahal dua hari lalu dia masih menarik sewa dengan sepede motor kredit yang belum lunas dibayarnya. Menurut Dokaha, menekuni profesi sebagai kolektor kalender lebih menggiurkan daripada sebagai penarik sewa.
Jika dari menarik sewa Dokaha bisa mendapatkan Rp40 ribu per hari, dari profesi barunya malah dapat lebih. Setiap kalender yang didapatkan dari calon legislatif (Caleg), Dokaha minimal mendapatkan Rp50 dari masing-masing caleg. Jika ada 10 orang caleg yang menggunakan jasa Dokaha, berarti dalam sehari dia bisa mengumpulkan Rp500 ribu. Uang sejumlah ini lebih dari cukup untuk menutupi uang sisa kredit sepeda motornya.

Jika menarik sewa, Dokaha harus antri dan menunggu lama, maka sebagai kolektor kalender Dokaha hanya perlu menstanby-kan hp-nya. Soalnya nama Dokaha sudah sangat dikenal oleh para caleg yang lahir dalam hujan kemarin. Para caleg yang nantinya menghubungi Dokaha jika ada kalender baru yang harus diedarkan. Memakai jasa Dokaha memungkinkan kalender sampai ke sasaran yang berhak memberikan suara. Tapi, Dokaha sama sekali tak berpikir tentang siapa yang dipilih orang rakyat yang diberinya kalender, baginya mendapatkan jerih dari hasil keringatnya sendiri sudah membuatnya lega.

Profesi baru Dokaha bukan tidak punya tantangan. Setiap hari Dokaha menerima sumpah serapah dari warga yang menjadi pengikut fanatik sebuah partai atau caleg tertentu.
“Dokaha dukung caleg atau partai mana sih?”tanya seorang warga.
“Soal dukung mendukung itu rahasia,dong!”jawabnya singkat.
“Dalam berpolitik itu kita tidak boleh plin-plan,harus ada yang didukung,”protes mereka.
Dokaha diam saja, dan menjawab singkat.
“Ini politik. Siapa pun yang kita dukung tak penting karena mereka nanti tetap menipu kita,”'begitu argumen Dokaha. Dokaha wajar mengatakan itu, sebab dua lima kali dia mengikuti pemilu, tetapi nasib Gampongnya tak pernah berubah. Jalan-jalan di desanya masih belum diaspal seperti zaman Jepang atau saat baru merdeka. Warga di Gampongnya juga masih hidup dalam kemiskinan. Warga belum merasakan hadirnya penerangan dari PLN. Padahal, kata Dokaha, saat masa kampanye, para caleg dan jurkam partai sampai berbuih-buih liurnya saat mengikrarkan janji (palsu) akan membuat daerahnya bermartabat dan menjadi kota idaman.

Tapi, selepas kampanye dan terpilih jadi anggota dewan terhormat, mereka lupa dengan nama Gampong Dokaha tempat mereka dulunya memproduksi buih-buih liur karena janji yang diikrarkan.

“Nah mumpung lagi ada kesempatan, kita manfaatkan saja mereka sebagai lahan bisnis kita. Ada uang kalender kita edar, tak ada uang kalender kita bakar,” katanya memelesetkan bait sebuah lagu: ada uang abang sayang, tak ada uang abang kita tendang.

Orang seperti Dokaha merasa beruntung saat musim kampanye seperti ini. Karena, inilah kesempatan mereka menguras kantong pejabat atau orang-orang yang berhajat memiliki sebuah kursi. Sebab, jika menunggu janji itu ditunaikan, sampai duroh oek tidak akan kesampaian. Dokaha sudah sangat hafal dengan perilaku politisi seperti yang dirasakannya kini.

Senyuman manis, kesan ramah dan pembicaraan yang seperti membela nasib rakyat hanyalah tipuan sesaat saja, sebab selepas itu, mereka kembali menjadi orang ‘terhormat’ yang tak tersentuh. Dokaha sudah begitu yakin jika para politisi itu semuanya penganut paham big lie (kebohongan besar) seperti dikhutbahkan Paul Joseph Goebbels, menteri propaganda Nazi. “sampaikan kebohongan berulang kali sehingga orang-orang percaya kebohongan itu suatu kebenaran,” begitu titahnya. Menurut Goebbels, hal tersebut tidaklah salah, karena menurutnya, kebohongan adalah kebenaran yang diubah sedikit saja. Dan kini para politisi dan caleg mempraktekkannya, membius rakyat dengan janji-janji bohongnya yang seolah-olah benar. homhai (HA 060209)

February 4, 2009

Hari Rabu (4/2), usia Sentral Informasi Aceh (SIRA) genap sepuluh tahun. Bagi organisasi perlawanan sipil, usia tersebut lebih dari matang untuk melahirkan ide-ide kreatif dan konstruktif membangun Aceh ke arah lebih baik dengan cara dan strategi yang berbeda.


Menyambut usia sepuluh tahun, hanya seorang teman yang masih mengingat bahwa pada tanggal itu SIRA pertama kali dicetuskan dalam Kongres Mahasiswa dan Pemuda Serantau (KOMPAS), 4 Februari 1999 silam. Saya sempat tertegun, kenapa tidak banyak kawan yang mengingat bahwa pada tanggal itu ada sejarah yang patut dikenang?

Entahlah, memang kenyataannya kita sering melupakan sesuatu, bahkan tanpa bekas. Saya juga seperti itu. Saya ingat kembali tanggal itu bukan karena apa, yang saya ingat, tanggal kelahiran SIRA itu sama dengan tanggal kelahiran situs jejaring sosial yang sekarang sedang mewabah yaitu Facebook. Jika kita sempat membuka wikipedia, ensiklopedia virtual yang juga ramai dikunjungi pecinta internet, pada tanggal tersebut (4 Februari 2004), Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard University memperkenalkan The Facebook, situs yang akan mempertemukan orang-orang di dunia maya terutama yang memiliki minat, hobi, kantor, lokasi, sekolah yang sama.

Kini situs tersebut jadi sangat terkenal dan menduduki posisi 4 berdasarkan rangking yang dibuat situs alexa.com. Tak terasa situs facebook ini sudah berusia 5 tahun.

Dalam usia yang masih sangat singkat ini, facebook sudah memiliki pengguna aktif mencapai 150 juta lebih, dan akan terus bertambah seiring terkenalnya situs ini.

Di Indonesia, mendekati pemilu bakal banyak caleg atau tokoh yang ingin memajangkan wajahnya di situs agar lebih dikenal dan menjadi terkenal. Melalui tulisan singkat ini, saya ingin mengucapkan "selamat ulang tahun ke-5 untuk facebook" semoga terus jaya dan semakin banyak kemudahan yang diberikan.

February 3, 2009

Horee...akhirnya aplikasi SEVEN (www.seven.com) sudah bisa saya gunakan di E71. Lega rasanya, karena dimana saja bisa membaca dan membalas email yang masuk semudah membalas SMS.


Sebelumnya sudah coba install seven dengan metode kirim sms, tapi beberapa hari tidak ada sms dari seven yang masuk. Karena penasaran ingin segera menggunakan fasilitas push mail, saya menggunakan cara download software seven melalui laptop. Setelah itu saya transfer ke hp menggunakan blutooth.

Selanjutnya saya install di hp dan tidak berapa lama, proses instalasi selesai. Masalah muncul ketika menjalankannya, karena selalu disconnect atau tidak mau tersambung, padahal sudah saya sinkronkan dengan server penyedia layanan email (saya pakai gmail).

Karena selalu gagal, saya coba bertanya sama om google. Tak sia-sia, om memberikan informasi penting dengan mengarahkan saya mengunjungi sebuah blog. Ternyata, setelah instalasi, begitu info dari blog, kita harus merestart hp agar seven berfungsi secara sempurna.

Begitu saya restart, aplikasi seven langsung bisa jalan, dan saya bisa membaca dan membalas email yang masuk semudah saya membalas SMS.