Jalan Seulawah

Sunday, May 31, 2009

Saya percaya, semua kita yang pernah melintas jalan Seulawah sangat mengerti kondisinya: berkelok-kelok, menanjak, dan curam. Jika tak berhati-hati, kita akan terpeleset, dan masuk jurang. Jika mata tak awas, mobil di depan atau di belakang akan menabrak anda. Dan, risikonya cukup fatal: meninggal.


Saya tak akan bercerita tentang monyet-monyet yang meloncat kegirangan menanti lemparan makanan dari pengguna jalan. Saya juga tak akan bercerita tentang hutan yang digunduli untuk membangun markas militer. Sudahlah, biarlah itu menjadi perbincangan para aktivis lingkungan, pengamat militer atau para HTW-HTW saja. Kita bicara saja soal kenapa jalan Seulawah tak dibuat lurus.

Saya sudah sering bertanya kepada orang-orang yang layak ditanya. Tapi tak ada jawaban yang memuaskan. Mereka menjawab sambil mengira-ngira, dan itu mengundang tanya: benarkah begitu adanya?

Oya...ada yang bertanya: HTW itu apa? Soal definisi yang benar saya sendiri tak begitu paham. Saya sudah mencoba mencari tahu, termasuk membuka buku-buku yang layak dibuka juga tak ada definisi tentang HTW. Dosen saya di kampus juga lupa menerangkan apa yang dimaksud HTW. Entah karena mereka tidak tahu atau mereka lupa belajar tentang itu. Baiklah, saya akan menjawab seperti yang saya tahu saja.

HTW adalah sebuah singkatan untuk menyebut orang-orang yang punya status sosial tinggi dan tergolong dalam kategori akok, yaitu orang-orang terpandang dan hebat. Secara kasar HTW sering dieja dengan "han troh wa". Han troh wa berarti tidak sampai tangan untuk memeluk, entah karena tubuhnya yang gede atau terlalu banyak orang di lingkarannya sehingga kita tak mampu meraihnya, termasuk sekedar menjabat tangannya.

Lalu, kenapa jalan Seulawah berbelok-belok, patah-patah dan banyak sekali jalan memutar? Tak ada jawaban pasti. Cara satu-satunya mengetahui jawaban yang benar adalah bertanya sama arsitek yang dulu merancangnya. Karena kita yakin mereka mampu memupuskan rasa penasaran kita. Tapi masalahnya, siapa sang arsiteknya? Kita juga tak tahu. Sejarawan mungkin punya referensi lengkap, namun sejarawan yang bisa menjawab objektif dan detail, sulit kita temui.

Jika menerka-nerka, bisa disimpulkan yang pertama sekali membuka jalan Seulawah itu adalah penjajah. Atas kehendak mereka membuat jalan berkelok-kelok, sehingga kita pusing tujuh keliling. Dapat dimengerti, kondisi jalan menunjukkan betapa pusingnya sang penjajah menaklukkan Aceh.

Karena terus menerus memikirkan kenapa jalan Seulawah dibuat berkelok-kelok, padahal ada bagian yang seharusnya bisa diluruskan, tetapi tetap dibuat kelok, sampai membuat saya bermimpi. Anehnya, saya tak bermimpi tentang jalan Seulawah yang membuat saya pusing, melainkan bermimpi soal pembagian daging.

Yang punya hajat pembagian daging itu awak nanggroe. Pembagian dilakukan diam-diam, dan saat kegiatan pengajian. Saat pembagian, ada orang tua, sudah menunggu lama,tapi tak dapat giliran sebagai penerima daging. Dia pun pulang. Saya sempat merekam kata-katanya, ketika beranjak pulang. 'Daging sudah selesai dibagi,jauh sebelum pengajian Yaasin selesai dibacakan'.

Saya ingat, pembagian daging dilakukan dengan memanggil perwakilan wilayah, satu persatu. Hampir semua wilayah mendapatkannya. namun, orang tua yang menunggu lama, tak pernah dipanggil sehingga tak mendapatkan apa-apa. Orang tua itu tak mendengar kata temannya yang mengajak pulang cepat. Karena sang teman tahu bahwa keunduri itu bukan untuk mereka. Itulah alamat tak mendengar nasehat orang.

Paginya, saya langsung teringat kasus bagi-bagi PL (proyek penunjukan langsung) untuk anggota dewan seperti yang terjadi di Bireuen dan Aceh Utara (Saya yakin semua daerah juga ada praktik seperti ini). Masing-masing mereka mendapat jatah dari dinas, sesuai dengan bidang masing-masing. Pembagian ini sudah pasti terkait dengan proyek yang diusulkan...Karena seperti kita tahu, anggota dewan mengusulkan program untuk wilayah yang diwakilinya. Setiap proyek yang berhasil diusulkan, otomatis dia akan berjuang supaya proyek itu untuknya. Entahlah, saya menjadi bingung sendiri, apa hubungannya mimpi saya dengan jalan Seulawah. Saya hanya ingat satu hal saja, sesuatu yang mudah biasanya bisa dipersulit. Sama sulitnya mengungkap kasus pembobolan uang rakyat oleh para petinggi di Aceh Utara.

Sampai mengingat-ingat mimpi itu, saya terpikir, apakah dengan menulis ini, saya dituduh menghasut? Saya jadi was-was juga, soalnya di sini kita gampang menyebutkan soal pencemaran nama baik. Padahal, sudah jelas namanya jelek, kok dibilang mencemarkan nama baik. Jika tuduhan itu dialamatkan kepada saya, sudah salah alamat. Mimpi tak bisa direkayasa, kecuali kita yang merekayasa mimpi. Jika pun saya dituduh menyebarkan berita bohong, maka mereka telah menghukum sebuah mimpi: sesuatu yang tak terjadi di dunia nyata. Homhai, saya sendiri mumang, karena sepertinya, mimpi saya tak ada hubungannya, termasuk dengan jalan Seulawah yang telah membuat saya mumang! (HA 010609)



Read More......

Menguji Mr. P
(Bagian Pertama)

Saturday, May 30, 2009

Sebagai pendukung aku wajar shock ketika MU jadi bulan-bulanan Barcelona saat laga final Liga Champions di Olimpico, Roma, Kamis (28/5) dinihari. Malah, sejak MU kalah 1-0 pada babak pertama, aku bengong dan tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Tak bersemangat. Rokok A Mild tak henti-hentinya aku hisap, sampai-sampai kawan di sampingku ngomel, “Cerutu pun tak enak lagi kalo dihisap.” Aku tetap diam.


Pulang dari nonton bola tersebut, aku jatuh sakit. Badanku panas dan langsung tertidur. Ketika bangun sudah agak sore, kepalaku pusing, dan meminta seorang kawan memberitahu ke kantor bahwa aku tak masuk kerja, karena sakit. Seorang kawan di kantor, bahkan sampai menulis posting di blognya.

Daripada tidak melakukan apa-apa, aku kemudian menulis kisah saat pergi ke Singapore, beberapa waktu lalu dengan Hp. Karena belakangan aku jarang menulis, sehingga blog sudah beberapa hari dibiarkan kosong tak terisi.

Tanggal 1 Mei, aku dan seorang kawan, namanya Teuku Irwani, pergi ke Singapore. Bagi kami berdua, kunjungan ke negeri Singa tersebut adalah yang pertama kali. Meski kawan aku itu kuliah di Malaysia, namun belum sekalipun dia pergi ke sana, apalagi untuk berlibur. Aku sendiri sudah jauh hari merencanakannya jika sudah tiba di Malaysia, selain ke Thailand. Jadilah kami berangkat dengan pengetahuan tentang Singapore yang sama-sama nol.

Sejak tanggal 29 April kami memesan tiket kereta api di stasiun KL Sentral. Sengaja kami memilih kereta api, bukan bus atau pesawat, karena ingin menikmati perjalanan termasuk melihat suasana di sepanjang jalur kereta api. Selain itu harga tiket juga murah, hanya RM 66 untuk pulang-pergi. Namun, semua kursi sudah penuh, kami dapat jatah berangkat tanggal 1 Mei, jam 14.40.

Jam 1 lewat kami sudah berada di Stasiun Kajang. Di tiket tertera jam 14.40 kami berangkat. Karena masih lama, kami memilih mengisi perut dulu di warung milik orang India, tak jauh dari stasiun. Karena tak makan dari pagi, aku juga makan sedikit, meski tak begitu suka makanan mereka. Karena selama di Malaysia aku lebih sering memesan tomyam yang sama dengan kuah asam keueng. Selesai di situ, kami kembali ke stasiun, dan menunggu kereta yang akan membawa kami ke Singapure.
Tepat pukul 14.40, kereta yang ditunggu pun tiba. Aku dan teman mencari tempat duduk seperti tertera di tiket. "Tanyoe ka jadeh tajak u Singapore," ucap kawan aku. Aku sendiri larut dalam bayangan tentang kota Singapore. "Kita belum ke Singapore. Setelah paspor kita ada cap Singapore baru boleh bilang sudah ke Singapore," hanya itu yang aku jawab.

Kemudian kami pun larut dalam pikiran masing-masing. Sesekali aku tersenyum bercampur heran, "Benarkah aku ke singapore?" gumam aku dalam hati. Sesekali aku mencubit lengan sendiri, untuk membuktikan bahwa aku sedang tak bermimpi. Dan terasa sakit setelah kucubit. Berarti benar aku sedang tak bermimpi. Karena tak yakin, aku minta kawan untuk mencubitnya, dan memang benar ada rasa sakit.

Sepanjang perjalanan, aku hanya melihat perkebunan sawit yang membentang luas. Sepintas jalur kereta api itu mirip dengan jalan di Tamiang yang dipenuhi kebun sawit. Ternyata, masih banyak areal perkampungan dan minim penghuni. Sebagiannya malah sedang berbenah, dan sejumlah bangunan pencakar langit sedang dibangun.

Perjalanan 9 jam ke Singapore tersebut sangat aku nikmati. Banyak daerah yang bisa dilihat meski hanya melalui jendela kereta api. Tapi di situlah letak indahnya. Setiap tiba di stasiun, kereta selalu berhenti. Ada yang turun dan banyak penumpang baru yang naik. Kondisi tersebut mengingatkan saya pada perjalanan dari stasiun Pasar Turi Surabaya ke Jakarta yang juga via kereta 2002 silam. Bedanya, jika kereta api dari Surabaya setiap berhenti tak hanya penumpang baru yang bertambah, melainkan juga pedagang. Selain itu, karena penumpang yang selalu bertukar, bau di dalam kereta juga bervariasi. Umumnya memang tak sedap. Kita tak bisa melakukan protes, karena salah sendiri pesan tiket kelas ekonomi.

Ketika tiba di Johor sekitar jam 20 lewat, kereta yang membawa kami berhenti, karena ada pemeriksaan imigrasi dari Malaysia. Hatiku sempat deg-degan juga. Karena setiap bepergian, tempat yang selaku aku benci adalah imigrasi. Mereka suka bertanya aneh-aneh, dan merasa bahwa Negara mereka adalah hebat. Dan menganggap pendatang seperti budak yang mencari pekerjaan di negeri mereka. Namun, rasa deg-degan langsung hilang, karena yang memeriksa parporku adalah seorang cewek melayu yang cantik dengan kulit hitam manis. Suaranya juga sopan. Sambil dia membolak-bolak paspor, aku asyik memandang wajah anggunnya, dan duh betapa cantiknya anak melayu itu. “Kartu imigrasi mana?” tanyanya kemudian. Aku bengong. “Kartu imigrasi apalagi?” tanyaku dalam hati. Namun, dalam sekejab, aku teringat, bahwa ada kartu yang sudah aku pisahkan dari paspor. Kebetulan saja, kartu itu masih ada di tas, kalau tidak ada pasti berabe. Pemeriksaan itu tak berlangsung lama, dan tak perlu memberi cap di paspor, hanya menggunakan tulisan tangan.

Setelah selesai semuanya, kereta api kemudian melanjutkan perjalanan. Namun, menurut petugas di kereta api, 10 menit lagi, kereta akan berhenti karena ada pemeriksaan dari imigrasi Singapore. Semua penumpang diminta turun. Tak lama kemudian, kereta api pun berhenti di stasiun Johor Bahru. Semua penumpang turun dan masuk ke imigrasi Singapore. Aku mencari loket untuk passport internasional dan mencari yang ada ceweknya. Karena biasanya mereka lebih manusia dan tak banyak neko-neko.
Aku sempat berbisik sama kawan, bahwa perasaanku tak enak. Dia diam saja. (Bersambung)

Read More......

Boh Jok

Friday, May 22, 2009

Saya percaya semua kita pernah mendengar boh jok. Kita juga pernah mendengar orang yang mabuk ie jok. Lalu, apa istimewanya boh jok, sampai harus kita tulis dalam bentuk pojok (ada kata jok juga)? Pastilah perkara boh jok menjadi serius. Kata orang-orang yang sudah mendengarnya, boh jok itu gatal. Pohonnya membuat kita tak berani mendekat, tak hanya karena bulee jok yang gatal, tapi pohon itu mirip tempat berkumpulnya jin. Makanya, ada istilah ‘jen jok’. Pohon itu juga jadi tempat meu-intue semantong (kelelawar). Mereka lebih suka bergantungan di daun pohon ijuk, karena lebih nyaman.


Dengar-dengar juga, pureh jok itu bisa digunakan untuk mengusir setan atau jin atau jen kojet. Jangan tanyakan bagaimana jen kojet itu, karena saya juga tak pernah melihatnya, dan berharap tak melihatnya. Saya tak pernah mengusir jen pakai pureh jok, dan juga karena tak berharap jadi pengusir jin. Biarlah tugas mengusir jin itu jadi pekerjaan para ustadz di sinetron-sinetron atau program reality show yang membuat jantung kita dag-dig-dug.

Waktu kecil saya ingat, orang-orang di kampung sering menjadikan dahan pohon ijok yang kering sebagai kayu bakar. Atau untuk kayu tot broh leumo lam wue. Hal ini dilakukan, karena sifatnya yang mudah terbakar, serta banyak asapnya. Untuk mengusir nyamuk lam wue leumo sangat bagus. Sepertinya, nyamuk lebih merasa menderita terkena asap dari pembakaran dahan ijuk, ketimbang baygon atau obat antinyamuk lainnya.

Jadi, pohon ijuk itu multifungsi. Pohonnya untuk penyangga atau kayu bakar, seperti dahan. Boh jok sering diolah jadi ie jok atau buah kolang kaleng. Serat ijuk bisa dijadikan benang atau sering juga dijadikan sebagai penyaring air sumur yang bercambur pasir. Pureh jok sering dijadikan sebagai sapu. Pokoknya serba bermanfaat.

Bagi orang tua kita, boh jok sering dijadikan sandaran untuk meramal sesuatu, atau memprediksinya. Mereka meramunya jadi sebuah ungkapan yang mirip dengan hadih maja. Mungkin kita sering mendengar istilah ‘boh jok boh beulangan, watee troh taboh nan’.
Ungkapan itu sering dikaitkan dengan keinginan seseorang di masa depan. Bahwa kita tak dapat memprediksinya, dan menyerahkannya kepada waktu. Jadi, artinya sangat dekat dengan ‘biarlah waktu yang menjawabnya’. Istilah ini tak bisa digunakan untuk membuktikan perbuatan yang sudah terjadi. Tapi bisa digunakan meramalkan bagaimana nasib seseorang yang melakukan sebuah kesalahan.

Saya sering mendengar kawan mengungkapkan ungkapan itu, ketika lawan bicaranya mengatakan, ‘tahun depan saya menikah’. ‘dua tahun lagi saya akan menjadi pengusaha sukses’. Atau untuk menimpali lawan bicara yang terlalu menggebu-gebu dan terlalu ambisius. Biasanya, setelah diperdengarkan ungkapan itu, sifat ambisius seseorang menjadi berkurang. Entahlah, apakah ungkapan itu ada nilai magis, seperti halnya pureh jok yang, katanya, bisa digunakan untuk mengusir setan.
Jadi, boh jok, bukan menyerahkan ‘anu’ ke orang lain. Diminta atau tidak diminta. Homhai. (HA 220509)

Read More......

Homlah

Wednesday, May 20, 2009

Pecinta sepakbola kembali terkejut. Dan ini memang sudah biasa di dunia yang memuja keindahan, teknik tinggi, dan juga gelar juara. Senin (18/5) lalu, pelatih Juventus, Claudio Ranieri, dipecat karena dianggap gagal menangani tim yang berjuluk ‘si nyonya besar’ itu. Kebijakan pecat-memecat bukan sesuatu yang haram dilakukan pemilik klub. Prestasi gemilang dengan torehan puluhan gelar juara tak menjamin seorang pelatih duduk berlama-lama di kursi kepelatihan. Nama beken juga bukan jaminan tidak akan dipecat. Karena, dalam sepakbola nama besar bukanlah ‘surat keramat’ sang pelatih agar tenang melakoni tugasnya. Jika dia tak bisa memberikan gelar, maka konsekuensinya harus dipecat. Itu sesuatu yang pasti.


Frank Rijkaard, ketika mampu mempersembahkan tropi juara Liga Champions untuk Barcelona, dipuja setinggi langit. Namun, apa yang terjadi kemudian? Pemilik klub dari Catalan memecatnya, karena kondisi tim tidak lagi stabil dan sering mengalami kekalahan. Tak ada yang membantah, bahwa polesan mantan pemain AC. Milan tersebut, telah melahirkan sosok Messi dan Iniesta yang begitu harum namanya di jagad sepakbola. Tapi, seperti kita tahu, dalam sepakbola track record kadang-kadang menjadi tak berarti ketika tak mampu menghadirkan gelar demi gelar. Dalam sepakbola, menjadi juara adalah sesuatu yang tidak dapat dikompromikan. Seakan berlaku rumus di sini, ‘jika tak mampu memberi kami gelar juara, anda gagal dan risikonya anda harus berhenti’.

Masih banyak pelatih-pelatih lainnya yang mengalami nasib serupa, seperti Scolari yang dipecat pemilik Chelsea, Ben Schuter (Real Madrid), Aragones (Fenerbache), dan lain-lain. Mereka adalah korban dari sebuah ambisi pemilik klub, yang selalu mendambakan kemenangan. Dan hal itu sesuatu yang lumrah. Tak seorang pun boleh membantahnya. Nasib seperti itu juga tak cuma dialami pelatih, melainkan juga pemain. Jika pemain dianggap masih memberikan keuntungan untuk klub, masa depan dia menjadi cerah. Tetapi, ketika kehadirannya tak memberi arti untuk klub, dia akan dijual. Dalam sepakbola, kalkulasi materi dan prestisius berlaku dan berjalan bersama. Keduanya menjadi sulit dipisahkan. Orang hanya akan mengatakan, itulah sepakbola: sesuatu bisa terjadi termasuk yang tak diharapkan sekalipun.

Namun, ada pelajaran yang bisa kita simak di sini: bahwa keberhasilan kerap menentukan masa depan seseorang. Perubahan boleh saja dilakukan, tetapi ketika perubahan tak memberi arti sebuah kemenangan, maka perubahan adalah sebuah produk yang gagal. Dapat dipahami kenapa dalam sepakbola kadang-kadang mengabaikan faktor manusiawi. Tapi begitulah kenyataannya, dan pemilik klub sama sekali tidak mau dana yang dikeluarkannya hanya sia-sia saja. Dia sudah pasti ingin investasinya menguntungkan. Itu sudah tabiat manusia.

Dalam politik hendaknya juga berlaku aturan main demikian. Seorang pimpinan, hendaknya tak sekedar mengevaluasi bawahannya, melainkan juga harus memecatnya jika tak mampu memberikan nilai berupa keberhasilan atau sebuah program berjalan seperti yang dirumuskan. Meskipun memecat itu sesuatu yang tidak manusiawi, tetapi pada tahap tertentu perlu dilakukan. Mempertahankan pejabat yang terbukti gagal adalah sama saja bunuh diri, menerima kenyataan bahwa kepemimpinannya juga gagal. Jika pejabat tak mau dipecat, dia harus meningkatkan kinerjanya, jika tidak, maka nasibnya seperti yang terjadi pada pelatih sepakbola. Dipecat.

Jika pun dia tak rela dipecat karena takut namanya anjlok di mata publik, dia mesti tahu diri. Meski kita yakin, di sini yang banyak adalah pejabat yang besar kepala, dan sama sekali tidak menerima jika dianggap gagal. Jika pun penilaian publik dia gagal, pasti akan menyalahkan bawahannya yang tidak becus bekerja.

Saya selalu senang membaca berita-berita di negeri yang jauh. Pasalnya, di sana jika ada kasus pesawat jatuh, maka menteri perhubungan pasti mengundurkan diri. Jika ada pasien yang meninggal gara-gara pelayanan rumah sakit yang tidak optimal, menteri kesehatan juga memilih mundur sebagai solusi. Kita hanya bisa bermimpi sikap seperti itu ditiru oleh para pejabat kita di sini. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena di sini minim orang tahu diri.

Dalam kasus bobolnya kas Aceh Utara, misalnya, jika ada pejabat teras di sana merasa dirinya terlibat, dia pasti akan memilih mundur daripada jadi bahan pergunjingan. Dia tidak akan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang diperbuatnya. Jika dia tahu diri, pasti dia akan mundur dengan tertib serta tak lupa meminta maaf karena tak mampu menjalankan amanah. Namun, seperti pernah kita tulis, di sini minim sekali hadirnya orang yang tahu diri.Homlah! (HA 210509)

Read More......

Capres dan Aceh

Tuesday, May 19, 2009

Aceh adalah sebuah ironi. Meski berlabel propinsi yang menerapkan Syariat Islam, namun berita tentang penyalahgunaan wewenang, penculikan dengan dalih minta tebusan, menilep uang rakyat, dan berita-berita kontra-Syariat lainnya menjadi menu yang kita lahap sehari-hari. Di satu sisi, tentu sangat memiriskan hati, namun di sisi lain, itulah wajah Aceh yang harus diterima. Karena Aceh akhirnya melahirkan banyak paradok.


Jadinya, membaca Aceh menjadi tidak menarik. Bakal melahirkan banyak sumpah serapah. Meski, sikap demikian juga tak menyelesaikan masalah. Mendiamkan saja juga bukan sikap yang bijak. Rakyat tentu sudah muak menyimak berita seperti itu, karena dulunya mereka berharap, Aceh akan berubah, terutama setelah dipimpin oleh ‘orang kita sendiri’. Nyatanya, jauh panggang daripada api.

Daripada terus menerus membincangkan berita penyelewengan demi penyelewengan, kasus kriminal, dan berita-berita ‘memiriskan hati’ mending memusatkan pikiran pada pemilu presiden (Pilpres) 2009 yang sudah dekat, 8 Juli ini. Pasalnya, banyak hal yang harus dibenahi, seperti data pemilih yang masih kacau seperti saat Pemilu legislatif lalu, serta menimbang-nimbang siapa calon presiden yang layak dipilih orang Aceh. Dari tiga kandidat, Jusuf Kalla-Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, dan Megawati-Prabowo, tentu semua memiliki program-program yang bagus dan layak memimpin Indonesia. Tetapi, dari ketiga kandidat itu, siapa yang sebenarnya diharapkan oleh rakyat Aceh, terutama untuk menjaga kelangsungan perdamaian Aceh yang telah bersemi pasca-MoU Helsinki, 15 Agustus 2005 silam.

Soal sepak terjang ketiga kandidat atau track record mereka, sedikit banyak sudah diketahui oleh rakyat Aceh. Seperti kebijakan atau sikap mereka terhadap perdamaian Aceh. Pasalnya, ketiganya pernah bersinggungan dengan Aceh, terutama dalam memperlakukan Aceh di masa konflik. Lalu, bagaimana rakyat Aceh akan memperlakukan mereka?

Dari pemilu legislatif lalu, sebenarnya sudah dapat diduga siapa capres yang bakal dipilih oleh rakyat Aceh? Seperti kita tahu, Partai Demokrat mendapat suara cukup signifikan di Aceh dan mengalahkan partai besar lainnya yang pernah merajai Aceh. Apakah ini pertanda bahwa rakyat Aceh nanti akan memilih SBY-Boediono? Sulit ditebak. Seperti pemilu presiden tahun 2004 lalu, pada putaran pertama rakyat Aceh memilih pasangan Amien Rais-Siswono, tetapi pada putaran kedua, pilihan rakyat Aceh berubah dan menjatuhkan pilihannya pada SBY-JK.

Saat Pilpres nanti, SBY-JK sudah berpisah, dan mereka akan bersaing memperebutkan kursi R1, secara otomatis pilihan orang Aceh juga akan berubah. Jika alasan orang Aceh memilih kandidat karena berharap dapat terus menjaga kelangsungan perdamaian, persaingan kedua kandidat juga akan memusingkan. Pasalnya, keduanya memiliki andil terciptanya perdamaian Aceh, serta keduanya (SBY dan JK) komit untuk terus menjadi kelangsungan perdamaian. Bagaimana rakyat Aceh akan bersikap?

Ini tentu saja menjadi pilihan sulit bagi orang Aceh. Untuk itu, mulai sekarang sudah saatnya rakyat Aceh membuka kembali track record kandidat, mempelajari program dan kebijakan mereka terutama terkait Aceh. Karena, kita tentu ingin ada perubahan fundamental di Aceh, apalagi, ada keinginan sebagian pihak di Aceh untuk memperbaharui UU PA agar sejalan dengan MoU Helsinki, serta menjaga agar Aceh terus menjadi perhatian dan tidak lagi dianaktirikan, seperti dulunya.

Kita berharap, bahwa komitmen di Helsinki berupa hadirnya pemerintahan sendiri (self government) di Aceh mendapat perhatian serius dari presiden terpilih, dengan mengeluarkan beberapa peraturan pemerintah (PP) agar point-point dalam UUPA dapat dijalankan oleh Pemerintah Aceh. Permasalahan terhambatnya pelaksanaan UU PA karena terbentur belum terbitkan PP, bisa teratasi. Kita hanya ingin pemerintah baru nantinya, lebih ikhlas memberikan kewenangan-kewenangan kepada Aceh, di luar enam kewenangan pemerintah seperti digariskan MoU.

Karena itu, mari kita memilih presiden yang menurut kita bisa membantu mendorong Aceh ke arah kemajuan dan ikhlas mempertahankan perdamaian, seperti dambaan semua orang Aceh. (HA 190509)

Read More......

Program Adsense Masih Bikin Penasaran

Thursday, May 14, 2009

Hingga kini saya masih penasaran dengan program google adsense. Rasa penasaran saya juga berbuah account saya pernah dibanned. Kini, saya masih memiliki satu account lagi, dan mudah-mudahan tidak dibanned lagi oleh om google.


Saya percaya—setelah membaca kisah sukses para publisher google adsense—bahwa pihak google akan membayar kita setiap ada pengunjung blog kita yang melakukan klik pada iklan google. Tapi, sudah setahun saya main google adsense, penghasilan saya tak juga bertambah, belum mendekati angka US$50. Kecewakah saya? Tidak juga. Semakin sedikit penghasilan saya, membuat saya semakin bersemangat. Target saya bagaimana penghasilan saya bisa mencapai US$100, dan menanti cek dari om google tiba di alamat saya, seperti kiriman PIN yang sudah saya terima beberapa bulan lalu.

Saya sendiri terus bertanya-tanya, kenapa penghasilan saya tak juga bertambah. Apakah blog saya tidak menarik, sehingga tak ada pengunjung yang mampir? Bisa juga demikian. Soalnya, blog saya tidak berisi tentang tutorial-tutorial atau review produk terbaru, tidak juga bisa program download aplikasi, template atau juga triks bermain bisnis online, seperti blog para senior. Blog saya hanya berisi kumpulan tulisan-tulisan saya, yang kadang-kadang serius, dan kadang-kadang berisi kelakar.

Minimnya pengunjung juga jadi persoalan serius bagi blogger yang bermain bisnis online mengandalkan klik. Sebab, pengunjung merupakan asset berharga yang akan membantu penuhnya pundi-pundi account google adsense kita dengan dollar. Jumlah pengunjung yang minim bisa diartikan bahwa blog kita tidak popular, meski blog kita memiliki pagerank di atas 4. Blog saya sendiri, hingga kini masih bertengger di pagerank 3, padahal dulunya pernah mencapai 4. Apakah itu artinya blog saya tidak popular? Saya tidak tahu jawaban pasti.

Soal konten saya sama sekali tidak merasa sebagai kendala, karena setiap seminggu sekali, saya pasti memposting tulisan terbaru, sehingga blog saya selalu update. Lalu, dimana letak kesalahannya sehingga blog saya tidak ramai pengunjung. Jawaban yang mungkin bisa diberikan, karena kita kurang melakukan promosi, termasuk mengunjungi blog lain. Hal itu saya akui, karena hingga kini saya jarang sekali melakukan blog walking kecuali jika ada blogger yang meninggalkan pesan di blog saya. Biasanya, saya akan membalas berkunjung ke blog dia, dan juga meninggalkan pesan.

Oya, sebenarnya, saya sudah mau menyerah bermain program google adsense, tetapi, kemarin saya membaca kembali blog Joko Susilo, dan membuat saya kembali bersemangat. Pasalnya, Joko member keyakinan kepada saya, bahwa bermain bisnis internet tidaklah rugi. Kita bisa mendapatkan penghasilan lebih dari program bisnis internet. Tapi, saya belum melakukan investasi, melainkan hanya bermain pada bisnis biasa saja seperti iklan yang mengandalkan klik, seperti google adsense dan kumpulblogger.

Tapi, karena saya sudah bermain program ini hampir setahun, saya tak mau berhenti, sebelum berhasil. Karena itu, saya akan mencoba memperbaharui blog saya, sehingga menjadi menarik, dan orang mau berkunjung. Mudah-mudahan, usaha iseng-iseng ini bisa menghasilkan, dan waktu saya berlama-lama di depan laptop tidak sia-sia.

Read More......

Masih Mau Bermimpi

Saturday, May 9, 2009

Aku masih ingin menulis. Aku masih ingin jadi penulis. Aku masih ingin tulisanku bisa menggugah orang dan setelah itu menciptakan perubahan, terutama untuk dirinya. Bukankah keinginan itu sangatlah wajar?


Lalu, jika keinginan-keinginan itu sesuatu yang wajar, kenapa ada orang yang menuduhku provokator, merusak Aceh, dan (dengan kata-kata menyakitkan) sebagai aneuk bajueng? Apa yang dia ketahui tentang aneuk bajueng? sehingga bebas mengeluarkan kata-kata itu. Padahal aku tahu, mulutnya sangat fasih berbicara tentang Aceh masa depan yang gemilang.

Aku sudah cukup bersabar, dan memilih diam saja. Aku tak sedikitpun menggugat kata-kata yang dia lontarkan. Karena aku pikir untuk apa? Pembelaanku jelas tak mengubah pendiriannya, dan mencabut kata-kata yang sudah diucapkan. Makanya, aku tak menulis apalagi menghujatnya. Berbicara padanya, sama seperti bernyanyi di pantat kerbau. Kerbau tak merasa terhibur dengannya.

Tapi, perlu diketahui, aku masih mau bermimpi: bukan mimpi menyulap Aceh jadi modern hanya dengan melontarkan pernyataan di media. Bukan pula mimpi membuat rakyat Aceh sejahtera, seperti yang sering kudengar. Aku hanya mau bermimpi, bahwa aku punya mimpi: minimal mengubah hidupku sendiri. Karena tanpa mengubah hidupku sendiri, omong kosong aku berbicara tentang perubahan. Bukankah perubahan dimulai dari diri kita sendiri?

Karena itu, tolonglah pahami diriku. Aku tak menulis untuk menghancurkan kekuasaannya, yang sebenarnya aku punya andil atas kekuasaan yang dinikmati itu. Aku tak pernah meminta emas dan perak, seperti yang dilakukan orang-orang yang dulu tak pernah mendukungnya. Malah, aku pun tak pernah meminta berfoto dengannya, dan dengan foto itu aku menggertak semua orang yang layak untuk digertak. Aku yakin, dia masih ingat bahwa kami tak pernah berpose bersama.

Entahlah, tak ada artinya aku banyak bicara. Karena sekarang sepertinya aku tak pantas berbicara lagi. Dulu mungkin dia butuh penaku, karena posisinya tertekan dan dihujat di sana-sini. Tapi sekarang dia banyak pembela, dan sama sekali tak perlu belaanku. Namun, sekali lagi, aku masih mau bermimpi, dan karena itu hargailah mimpiku. Kuharap dia tak terusik dengan mimpiku, termasuk dengan hasil-hasil dari mimpi yang kugubah jadi tulisan. Yakinlah, tulisanku tak kan meruntuhkan kekuasaannya, tak akan membakar wibawanya yang dulu mungkin pernah kubela. Aku hanya menulis untuk mereka, yang masih ingin berbuat untuk sebuah perubahan. Entah sekarang, atau untuk masa depan yang kian tak pasti. Maka, marilah kita bermimpi. Bermimpi dengan mimpi yang sama.

Read More......