Belajar dari Brazil

Tuesday, June 30, 2009

'Jika kita harus melakukan sesuatu yang tidak populer, sebaiknya sekalian saja dilakukan dengan segenap hati, karena dalam politik, pujian tidak didapatkan dengan takut-takut’—pepatah Cicero.


Brazil wajar jawara piala konfederasi 2009. Sebagai Negara dengan tradisi sepakbola yang kuat, bukan sesuatu yang luar biasa ketika Brazil kembali menjadi jawara setelah meraihnya pada 1997 dan 2005 silam. Meski sempat tertinggal dua gol di babak pertama, sama sekali tak membuat Brazil melemah dan menyerah. Brazil hanya perlu bermain konsisten seperti dilakukan sebelumnya.

Brazil sama sekali tidak mempraktekkan permainan yang menjurus ke permainan kasar. Brazil hanya perlu bersabar dan akhirnya memetik hasil gemilang: jadi juara. Bagi Brazil, dalam permainan yang perlu dilakukan adalah menjunjung tinggi sportifitas serta bermain sebaik-baik mungkin, dengan penuh disiplin, konsisten, dan bola-bola pendek.

Karena, kemenangan adalah soal waktu dan hasil akhir saja. Sebagai tim yang sarat pengalaman, dikalahkan pada babak pertama atau pun pada menit-menit awal adalah bukan akhir dari permainan. Sebab, siapa pemenang baru ditentukan ketika sang pengadil meniup peluit terakhir. Hasil apapun yang dicapai kedua tim, itulah buah dari permainan tersebut. Sadar bahwa permainan masih dilangsungkan beberapa menit lagi, Brazil seperti biasa memanfaatkan sebaik-baik mungkin dan tak menciptakan kesalahan meski sedikit. Akhirnya, seperti kita tahu, bola indah Brazil dengan teknik terbaik, mampu menaklukkan Amerika, dengan skore 3-2.

Hendaknya, para politisi atau katakanlah calon presiden yang kini sedang sibuk-sibuknya berkampanye memenangkan suara rakyat, perlu belajar dari laga Amerika Serikat versus Brazil. Para capres tersebut perlu belajar cara berpolitik secara santun, penuh sportifitas, dan menampakkan diri sebagai negarawan yang budiman. Karena memenangkan sebuah perhelatan seperti Pemilihan Presiden, para kandidat tidak boleh melakukan cara-cara kotor, terlebih dengan menjelekkan kandidat lain. Memenangkan Pilpres bukan dengan menghujat dan menelanjangi kandidat lain dengan fakta-fakta palsu dan isu-isu murahan, termasuk membawa-bawa masalah agama. Itu sudah fatal sekali.

Para kandidat kita, seharusnya, harus lebih lihai dengan menawarkan program-program unggulan dan berpihak kepada rakyat kecil. Mereka harus menjelmakan diri sebagai kandidat pemimpin yang punya visi jauh ke depan. Tetapi, apa yang kita saksikan dari beberapa kali debat, sama sekali tak mencerminkan mereka adalah negarawan atau pemimpin yang visioner. Mereka hanya berbicara tentang prestasi masa lalu termasuk data dan fakta yang dikaburkan.

Rakyat yang sempat menonton acara debat mereka, hanya menyaksikan para pemula yang sedang belajar berbicara. Mereka tak mampu menangkap persoalan ril masyarakat dana menawarkan solusi yang tepat. Perdebatan mereka sama sekali tak layak disebut perdebatan, karena mirip sebuah acara cerdas cermat, di mana masing-masing kandidat diberikan waktu dan kesempatan yang sama untuk menjawab setiap masalah. Malah, dari beberapa jawaban, tercermin jauh lari dari kenyataan yang sedang dihadapi rakyat. Rakyat sama sekali tak mendapat pencerahan dari acara debat tersebut.

Mereka sering melakukan hal-hal yang tidak popular, seperti mendukung pendapat saingannya, padahal itu pantang dilakukan. Seharusnya, mereka harus memiliki pandangan yang berbeda dan lebih mendalam. Apa yang mereka lakukan—dengan mendukung saingannya—tidak dilakukan dengan sepenuhnya, karena mereka juga takut jika didebat.

Mereka tidak mendengar nasehat Cicero, pakar retorika, seperti dikutip di atas, ‘Jika kita harus melakukan sesuatu yang tidak populer, sebaiknya sekalian saja dilakukan dengan segenap hati, karena dalam politik, pujian tidak didapatkan dengan takut-takut’. Tapi, namanya saja politik di Negara kita, sesuatu yang biasa pun kemudian menjadi luar biasa, meski yang tampak hanya pepesan kosong, tak punya makna. (HA 300609)

Read More......

Ternyata, Kompas sudah 44 Tahun

Monday, June 29, 2009

Ketika ke kantor, seperti biasa yang pertama saya cari adalah Kompas. Jika belum melihat Kompas, rasanya masih ada yang kurang. Setiap hari saya tak ingin ketinggalan, apa laporan utamanya, siapa saja yang menulis opini, berita bola apa, dan siapa saja yang dimuat di rubrik Nama & Peristiwa. Biasanya, saya membaca semua tulisan itu setelah semua kerja selesai atau ketika rehat sebentar untuk makan. Maklum, sudah kebiasaan sering makan nasi bungkus di kantor.


Dan, tak terasa, saya merasa ada sesuatu yang berbeda di Kompas edisi Minggu (28/6). Mata saya tertuju pada headshot Jacob Oetama, pendiri sekaligus pemimpin umum Kompas terpampang tidak seperti biasanya. Di hari-hari lainnya sering juga wajah Pak Jacob terpampang di halaman depan korannya, ada yang bersama SBY atau Jusuf Kalla. Tapi, sekarang ada tulisan panjang dia yang menyerupai editorial tentang perjalanan kompas dan apa yang sudah dicapai kompas di usia 44 tahun ini.

Halaman depan Kompas Minggu tersebut saya baca semuanya, kecuali laporan utama yang hanya saya baca sepintas saja. Banyak informasi yang saya dapatkan, terutama tulisan (krisis surat kabar) Pelajaran di Tengah Prahara. Bukan apa-apa, saya selalu tertarik untuk membaca tulisan soal masa depan media cetak. Saya dulu sampai tertegun membaca tesis Philip Meyer, yang meramalkan bahwa pada tahun 2043 hanya ada satu orang kiri yang membaca Koran. Hah! Tulisan seperti ini menurut saya penting, di samping saya sekarang bergelut di media cetak juga untuk belajar memperbaiki content media tempat saya bekerja agar tak ditinggalkan pembaca.

Selain itu, sekarang juga saya menyimak perkembangan media online yang melaju pesat, baik soal kecepatan, aktualitas dan juga sisi bisnis yang menggiurkan. Ternyata, banyak keuntungan dari media online yang tidak ada di media cetak. Saya juga senang menulis di blog dan membaca-baca blog orang. Dari membaca itulah, banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan, bahwa ternyata saya masih sangat bodoh. Makanya, saya belajar terus menerus termasuk hal-hal baru di dunia blog atau di media online.

Terkait media online, belakangan saya lebih suka menggeluti tentang bisnis online yang sudah terlalu banyak dikupas para blogger profesional, seperti Joko Susilo, Budi Putra, Cosa Aranda, Kang Rahman, Om-om, dan banyak lagi. Dari mereka saya belajar bagaimana menjadi blogger yang mampu menangkap peluang mencari sesuatu yang menguntungkan dari kebiasaan menghabiskan banyak waktu di depan komputer. Dari Joko Susilo, misalnya, saya termotivasi dengan slogannya, yang kemudian menjadi kontes SEO yang spektakuler di jagad blog, Stop Dreaming Start ACTION. Ternyata, jika ditekuni serius, bisnis online sangat menjanjikan.

Oya, kembali lagi ke Kompas. Sebenarnya, saya tidak begitu lama mengenal Kompas, baru ketika masuk kuliah. Sementara ketika masih duduk di bangku MAN, saya hanya membaca koran Kompas bekas, dan hanya sesekali membaca Kompas benaran ketika sempat ke Kota Sigli untuk membeli Tabloid lokal yang isinya hot.

Tapi ketika di bangku kuliah, meski tidak setiap hari, saya selalu membaca kompas terutama rubrik Opini. Karena saat itu, saya sedang semangat-semangatnya menulis artikel. Malah, pernah beberapa kali saya mengirim tulisan ke Kompas, tapi tak pernah dimuat. Maklum saja masih penulis pemula, dan belum begitu mahir menulis dan ide yang saya sampaikan juga tidak bisa disebut hal baru. Sampai sekarang juga belum ada tulisan yang dimuat di Kompas.

Ketika saya hijrah ke Jakarta saat Aceh diberlakukan status Darurat Militer tahun 2003, saya semakin sering membaca kompas, dan pernah beberapa kali mengirim Opini, tapi tidak satu pun yang masuk. Jawaban yang diberikan mungkin sama dengan penulis pemula lainnya yang pernah ditolak kompas, bahwa tulisan tersebut tak ada ide baru, tak cukup ruang dan gaya penulisan yang tidak mendukung. Pernah sekali mencoba mengontak Pak Budiman Tanuredjo, saat itu masih sebagai redaktur Opini (sekarang menjabat Redaktur Pelaksana), menanyakan kenapa tulisan saya tak pernah dimuat.
Karena ada tulisan yang pernah saya kirim, tak bisa dibilang jelek, sebab ide yang saya sampaikan hampir sama dengan penulis yang kemudian tulisannya dimuat di Kompas. Baiknya, pak Budiman merespon email saya dan memberikan banyak masukan berharga untuk saya agar tetap menulis dan bertambah semangat. Tetapi hingga saya kembali ke Aceh, belum ada satu pun tulisan yang dimuat di Kompas. Akhirnya saya kapok dan tak pernah mengirim lagi ke Kompas. Tulisan saya hanya sempat dimuat di Koran sore Sinar Harapan.

Dalam hati kecil saya, besar keinginan agar tulisan saya masuk ke Kompas meski sekali. Rasanya, saya akan merasa puas dan akan menggeluti dunia tulis menulis ini yang sudah saya jalani sejak masih duduk di bangku SMP. Meski, banyak kawan memberikan semangat kepada saya, bahwa tulisan tak dimuat di kompas bukan berarti kita tak bisa menjadi penulis. “Cobalah menulis di Koran-koran kecil dulu, nanti kalau kamu sudah jadi penulis hebat, akan gampang masuk Kompas,” begitu nasihat seorang kawan.

Saya mengikuti nasihat tersebut dan menulis di Koran-koran lokal termasuk media online. Dan saya juga rajin mengisi blog saya http://jumpueng.blogspot.com agar saya terus produktif menulis. Syukur, tulisan-tulisan di blog dan juga tulisan-tulisan di media online dan juga Koran lokal tempat saya bekerja sekarang, sudah menjadi sebuah buku, Aceh Pungo. Inilah buah produktivitas yang bisa saya nikmati sekarang.

Kecewakah saya pada Kompas? Sama sekali tidak. Karena terus terang, saya banyak mendapat informasi dari Kompas, malah Kompas menjadi Koran yang harus saya baca setiap hari. Rasanya, tak lengkap saya menghabiskan waktu dalam satu hari jika belum membaca Kompas. Bukan hanya karena kompas menyajikan berita-berita yang mendalam, melainkan juga cara penyajian yang baik. Entahlah, apakah itu karena seperti pernah disampaikan sendiri oleh Pak Jacob Oetama, Kompas yang dipimpinnya menganut jurnalisme maknawi, saya tidak tahu pasti. Yang pasti, ada sesuatu yang berbeda saat membaca kompas. Kolom Opini benar-benar menjadi ‘universitasnya’ Kompas, tempat semua ide, pemikiran dan wacana bergulir. Kita merasa cukup puas setelah membacanya: ada ilmu dan pencerahan.

Mudah-mudahan, seiring menuanya usia Kompas, saya juga semakin ingin melabuhkan nama saya suatu saat nanti di halaman Opini Kompas. Menulis di rubrik opini tersebut, bukan lagi sekedar mimpi buat saya, melainkan harus segera jadi kenyataan. Yang perlu saya lakukan hanya, terus menulis dan menulis. Saya ingin mempraktekkan pesan Joko Susilo, Stop Dreaming Start ACTION.

Terakhir, saya merasa bersalah jika tidak mengucapkan selamat ulang tahun ke-44 buat Kompas. Kawan saya, ketika melihat kompas di meja kerja saya, dan membuka halaman dua Kompas Minggu (28/6) mengomel, “Kok tidak ada foto Taufik lanie,” katanya mengomentari berita ‘Kompas’ di mata pembaca. Meski tak ada nama saya dan foto saya di halaman dua tersebut, melalui tulisan singkat ini saya ingin mengucapkan, Selamat Ulang Tahun ke-44 buat KOMPAS, semoga terus menjadi Koran yang mencerahkan! Stop Dreaming Start ACTION, semoga terus bergema.

Read More......

Stop Dreaming Start ACTION

Wednesday, June 24, 2009

Ya…Stop Dreaming Start ACTION! Sebuah pesan yang singkat tapi jelas. Pesan ini kebalikan dari iklan sebuah merek rokok, No Action Talk Only atau sering disingkat NATO. Saya sepakat, bahwa kita harus berhenti bermimpi, dan mulai bekerja membangun mimpi menjadi kenyataan.


Memang, semua orang punya impian: ingin kaya seperti George Soros, ingin jadi tokoh terkenal Rupert Murdoch yang dikenal taipan media atau Mark Zuckerberg si jenius pencipta Facebook, ingin jadi penulis best seller seperti JK Rowling, atau ingin jadi pemimpin yang dikenal seluruh dunia seperti Barack Obama. Kita percaya, sebelum menjadi seperti sekarang, mereka pernah bermimpi. Tapi, bermimpi saja tidaklah cukup, melainkan kita harus bekerja keras dan membangun mimpi tersebut menjadi kenyataan.

Setidaknya, inilah yang diinginkan Joko Susilo, melalui kontes SEO Stop Dreaming Start Action dengan total hadiah Rp25 juta. Praktis, kontes SEO Stop Dreaming Start ACTION tersebut mengguncang jagad blogger tanah air. Sebagai blogger pemula, tentu saja saya tertarik mencoba berkompetisi dengan blogger-blogger terkenal, dan berharap blog saya bisa bertengger di urutan teratas situs www.google.co.id. Saya sempat membaca kutipan Joko Susilo di blognya, yang menurut saya cukup menarik, menantang dan merangsang kita mengikuti jejaknya.

“Anda tidak punya pilihan... agar berhasil, sudahi mimpi anda dan mulai bertindak agar bisnis menjadi besar. Bukan nanti, sekarang lah saatnya SERIUSi bisnis internet lebih dalam lagi!”

Dalam bisnis online atau marketing via online, yang dibutuhkan adalah ACTION terus menerus, tak henti-henti. Kita dilarang untuk berpuas diri. Karena cepat berpuas diri menjadi alamat bahwa kita akan menemui kegagalan. Karena itu, keberanian kita untuk mencoba segala cara model marketing kontemporer akan sangat membantu. Terlebih lagi, kita harus selalu memperbaharui teknik ngeblog kita agar semakin hari semakin banyak orang mampir ke blog kita. Pengunjung blog adalah pasar produktif yang akan menentukan apakah bisnis online berhasil atau tidak. Karena itu, ingat baik-baik pesan Stop Dreaming Star ACTION

Jika kita membaca biografi tokoh-tokoh terkenal seperti Bill Gates, Seichiro Honda, Thomas Edison, Columbus, Albert Einsten, kita mendapatkan pelajaran, bahwa mereka semuanya berangkat dari sebuah mimpi. Pada awalnya mereka ditertawakan, dan dianggap hanya sebagai mimpi belaka. Tapi apa yang kemudian dicatat sejarah, mereka adalah orang-orang berpengaruh, karena melalui penemuan-penemuan mereka, kita mendapatkan berbagai kemudahan-kemudahan.

Kita bisa juga bermimpi seperti mereka, dan kemudian berhasil. Toh, sebagian keberhasilan seperti terbangun dari mimpi-mimpi kecil kita. Tapi, dengan bekerja keras, kita akan mampu mendapatkannya dan mengubah impian menjadi kenyataan.

Joko Susilo sebenarnya tidak mengajak kita untuk tidak bermimpi, melainkan bagaimana mengubah mimpi itu menjadi sesuatu yang positif dan produktif. Joko Susilo mengajak kita tak sekedar terbuai dengan mimpi. Dalam hal bisnis online atau bisnis di internet, misalnya, Joko Susilo secara tegas dan jelas mengajak kita “sudahi mimpi anda dan mulai bertindak agar bisnis menjadi besar.” Joko meminta kita tak menunda-nunda kesuksesan. Jika kita ingin berhasil, maka kita harus berbuat sekarang, bekerja sekarang, dan beraksi sekarang. Saatnya ACTION, tak sekadar DREAMING. Stop Dreaming Start ACTION.

Dengan kata lain, Joko Susilo sebenarnya mengajak kita untuk tidak takut gagal. Pesan Stop Dreaming Start ACTION sebenarnya adalah mengajak kita agat tidak takut gagal. Karena gagal adalah salah satu tahapan atau sesuatu yang diperlukan untuk membuat kita berhasil. Jika kita tak pernah gagal, maka kita tak pernah bisa berhasil.

Keberhasilan selalu dimulai dengan kegagalan demi kegagalan. Lalu, setelah anda ACTION, apakah otomatis semua impian anda akan berhasil? Saya tidak bisa menjaminnya, dan Joko Susilo pun mungkin tidak bisa menjaminnya. Kita hanya diharuskan ACTION…ACTION…ACTION dan ACTION. Biarlah hasil yang ingin kita peroleh ditentukan seberapa serius kita dalam beraksi atau melakukan ACTION

Read More......

Peutuah

Sunday, June 21, 2009

Ketika kita terjaga, kita berbagi satu semesta bersama, tetapi ketika kita tidur kita berpaling ke dunia masing-masing—Heraklitus.


Saya ingin mengajak agar anda mendengar impian-impian anda, bukan impian orang lain. Meski kita yakini, terutama kita orang Aceh, selalu diajak bermimpi dengan mimpi orang lain. Kita tak henti-hentinya ditawari angin syurga, yang sebenarnya kita tak pernah tahu bagaimana. Tapi itulah kita, mudah tergoda dan terpedaya. Sehingga membuat kita gampang percaya, dan menjadi tidak kreatif. Padahal, seperti kita tahu, ketika bermimpi, kita bisa menentukan nasib kita sendiri, tanpa perlu meminta bantu sama orang lain.

Lalu, kenapa ketika terjaga kita begitu mudah lupa dan malah terpedaya dengan orang lain. Kenapa kita menggantungkan nasib kita sama orang lain, padahal kita bisa mengubah nasib kita sendiri. Meski di dunia nyata, tapi kita menamsilkan diri kita hidup di dunia maya. Sesuatu yang tidak pasti, tapi kita lupa menyadarinya.

Kondisi ini, bukan pembenaran bahwa saya lebih senang bermimpi sekarang. Tetapi, saya mempelajari kisah-kisah orang besar, mereka selalu memulai dengan sebuah impian, dan ketika itu orang menertawakannya. Tapi itulah risiko yang harus kita hadapi. Memulai itu selalu lebih sulit, tapi yakinlah, ketika permulaan itu mengasyikkan, bakal banyak orang tak berniat mengakhirinya.

‘Anjing menggonggong pada apa yang tidak dipahaminya’ begitulah salah satu petuah kreatif Heraklitus, yang patut kita renungi.

Ketika kita mengutarakan kritik, kita akan mendapatkan jawaban seperti ungkapan tersebut. Seolah-olah kita hanya sekedar mengeluarkan kritik tanpa mengetahui duduk persoalannya. Padahal, apa yang disampaikan tersebut sebenarnya adalah masukan berharga, tetapi mereka lupa merenungkannya. Itulah buah kesombongan besar. Kita tak bisa memadamkan kesombongan, karena itu meruntuhkan ego.

Saya begitu senang dan sekaligus terenyuh, melihat cara kawan-kawan (jikapun saya masih boleh menyebutnya kawan) saya berpolitik. Saya yakini mereka berpolitik secara benar—bahwa dalam berpolitik kita tidak boleh kaku. Karena dalam berpolitik, kita haruslah jadi orang yang plin-plan dan boleh pragmatis apalagi oportunis. Makanya, mereka bisa menjadi tim sukses capres ini dan itu, meski mereka tak menjadikan capres itu sebagai ‘tuhannya’.

Kawan-kawan saya tadi sedang membangun mimpi, entah untuk ke sekian kali. Kekalahan dan nasib buruk saat pemilu legislatif kemarin yang meruntuhkan kesombongan dan ego, tak sedikitpun membuat mereka kapok dan menyerah. Seolah-olah terjun dalam politik adalah garis nasib yang harus diikuti dengan serius. Dan kini garis nasib itu pula yang membuat mereka berbeda dalam mendukung. Pertanyaan kita, apa yang sebenarnya mereka cari? Popularitaskah atau sebagai pundi-pundi rupiah? Kita tak tahu pasti.

Hanya saja, saya pernah mendengar cerita kawan saya, bahwa seorang tokoh partai dan sudah terlalu tua dalam dunia politik berujar, “kita mendukung dia bukan untuk gotong royong dan karena keikhlasan. Jika kita ikhlas dan sekadar gotong royong, mending kita tidak berada di sini, tempat kita di Meunasah atau Mesjid”. Duh…bukankah pernyataan itu menunjukkan bahwa dalam politik praktis tak pernah mengikutsertakan prinsip dan ideologi. Orang akan melulu berbicara, “apa yang bisa kita dapatkan dengan mendukung dia”. Ukuran yang kita gunakan adalah kalkulasi material. Makanya, politik tak semata-mata bicara soal bagaimana meraih kekuasaan semata, melainkan juga bagaimana dukungan kita diukur dengan berapa harga yang harus dibayar. Cocok jika ada yang mengatakan, bahwa politik sebenarnya berbicara, “siapa mendapatkan apa dan bagaimana mendapatkannya”. Tapi keikutsertaan kawan-kawan saya dalam politik, bisa jadi tak seperti ungkapan ‘anjing menggonggong pada apa yang tidak dipahaminya’.

Karena, ketika berpolitik, mereka sudah sangat paham dengan pilihan yang dipilihnya, dan sangat sadar. Mereka pasti sudah membuat kalkusi keuntungan apa yang akan mereka peroleh nantinya? Tapi, mungkin mereka lupa dengan Epigram Heraklitus seperti yang saya kutip di atas, ‘Ketika kita terjaga, kita berbagi satu semesta bersama, tetapi ketika kita tidur kita berpaling ke dunia masing-masing’. Mudah-mudahan mereka mengingatnya. Karena, bisa jadi sekarang mereka berjalan bersama-sama, kampanye bersama, dan memenangkan sang kandidat bersama-sama, tapi bagaimana setelah kandidat itu menang? Apakah mereka masih bersama? Atau mereka seperti kembali ke alam mimpi, dan sibuk dengan dunia masing-masing: ada mimpi indah, ada mimpi buruk. Namanya juga mimpi, tak bisa direkayasa. Homhai. (HA 220609)

Read More......

Penjajah Profesional

Thursday, June 11, 2009

Dulu, saya sering mendengar ungkapan begini, ‘nasib Negara kita tak seperti ini jika dijajah oleh Inggris’ atau ‘kita seperti ini tak maju-maju karena dijajah Belanda’, atau ungkapan serupa, betapa nasib bangsa terjajah tak pernah lebih baik.


Saya sendiri bertanya, apakah kemajuan suatu Negara dipengaruhi oleh penjajahnya? Sulit untuk menjawabnya. Meski, sejumlah contoh diperlihatkan kepada kita, nasib yang lebih baik dari negara terjajah, yang kebetulan dijajah oleh penjajah profesional, katakanlah Inggris, seperti Malaysia, Singapore, Australia, India, dan banyak lagi yang tak mungkin kita sebutkan satu per satu.

Pokoknya, banyak orang menggugat kenapa bangsa kita tidak dijajah oleh si penjajah ini saja, atau penjajah itu saja. Kita selalu mengumpat masa silam, seolah-olah nasib kita hari ini akibat dari mendapat penjajah yang berbeda. Padahal, seperti kita tahu, yang namanya rakyat terjajah tak pernah bernasib baik. Seharusnya kita harus jadi bangsa yang tak pernah dijajah, seperti Thailand. Banyak hal negatif dirasakan jika kita masih terjajah, yaitu kita memiliki tuan. Sementara kita sendiri tetap sebagai rakyat terjajah. Sebagai rakyat terjajah, dan kemudian merdeka, kita harus mengikuti sistem penjajah, seperti yang terjadi di Negara kita, di mana hukum masih menggunakan hukum produk penjajah, dan sama sekali tak cocok dengan budaya atau jiwa bangsa kita. Dan untuk mengubahnya, kita kekurangan pakar yang bisa mendesain produk hukum yang mencakup semua hal. Makanya, hingga kini KUHP tak pernah diubah, dan masih menggunakan produk Belanda. Kita tidak tahu, apakah ini ada hubungannya bahwa Negara kita sebenarnya masih terjajah?

Oya, sebenarnya bukan itu yang hendak saya sampaikan. Saya hanya ingin membagi sebuah berita pendek, bahwa Italia akan memberikan kompensasi sebanyak 3,5 miliar euro kepada Libya, karena pernah menjajah Negara tersebut, saat pemimpin Libya Moammar Khadafy mengunjungi negara itu. Jumlah itu akan dibayar hingga 25 tahun mendatang. Dengan kebijakan tersebut, Italia menjelmakan dirinya sebagai penjajah profesional; mengaku pernah berbuat salah di masa silam, dan menebus kesalahan itu dengan membayar kompensasi.

Kita tak perlu terkejut dengan uang 3,5 miliar euro tersebut, karena memang sangat banyak. Yang jelas uang sejumlah itu lebih dari cukup untuk sekedar membeli keperluan rumah tangga, atau bisa membuat penjual cendol meninggal sambil membungkus cendolnya. Jika dirupiahkan, jumlah tersebut lebih kurang sama dengan Rp50 triliun atau lima kali jumlah APBA kita.

Kita sebenarnya boleh juga berandai-andai. Andai saja Belanda dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia mau membayar kompensasi bukan berbentuk utang, tentu dana tersebut bisa digunakan untuk program menyejahterakan rakyat yang hingga kini masih hidup morat-marit dan phang-phoe tan soe pakoe. Karena kita tahu, Belanda menjajah Indonesia dalam waktu yang cukup lama, 350 tahun. Sementara Jepang lebih singkat hanya 3,5 tahun. Namun, dari berbagai cerita yang kita dengar, kekerasan dan kekejaman masa Jepang melebihi yang dilakukan Belanda. Tentu biaya kompensasi melebihi apa yang diberikan oleh Italia kepada Libya.

Jika kita mencoba berbicara dalam ranah lokal, Aceh, tentu banyak hal yang harus kita persoalkan. Seperti kita tahu, hingga kini Belanda belum mencabut maklumat perang atas Aceh yang pernah dimaklumkan 137 tahun silam. Jika Belanda mengaku dirinya bangsa bermoral dan penjajah profesional, tentu sudah jauh hari mempertanyakan kembali kebijakannya yang hingga ini ikut memberi andil runyamnya kondisi Aceh.
Namun, Belanda memilih menjadi penjajah tak profesional dan tak mau mengakui apalagi mencabut maklumat perang tersebut. Sebab jika itu dilakukan, tak hanya meruntuhkan moral Belanda di mata internasional, melainkan juga harus membayar semua kerugian yang diakibatkan oleh perang dan juga oleh kebijakannya yang salah tersebut.

Andai Belanda baik hati dan mau membayar akibat kerugian dari kebijakannya, meski tak seperti jumlah yang dibayarkan Italia kepada Libya, misalnya saja sebesar Rp30 triliun, kita bisa tersenyum. Para koruptor juga akan tersenyum, karena banyak yang bisa dikorupsi. Dengan uang itu kita bisa membuat Aceh menjadi lebih baik, jauh melebihi apa yang sudah dilakukan lembaga yang mengurusi rehab-rekons Aceh, yang sudah pergi itu. Tapi, apa boleh buat, Belanda memilih tetap bermusuhan dengan Aceh, entah sampai kapan. Kita hanya tahu pasti, yang namanya penjajah, ya…tak pernah punya niat berbuat baik. Entahlah!

Read More......