09 February 2010

Masih Ada Orang Jujur

Suatu kali, seusai mengikuti pelatihan kode etik jurnalistik yang digelar LPDS Jakarta bekerjasama dengan Kedutaan Norway, 13-16 Desember 2009, saya memutuskan menginap semalam di perwakilan Aceh di kawasan Menteng. Soalnya, esok pagi-pagi sudah harus ke bandara balik ke Aceh. Malamnya saya menemui kejadian langka, bahwa di dunia ini ternyata masih banyak orang baik hati.

Kisah ini kembali terbayang saat menyaksikan pemberitaan soal pembobolan rekening atau ATM. Apalagi disebut-sebut melibatkan orang dalam. Duh, negeri ini makin tak jelas saja. Masalah muncul bertubi-tubi, tapi jarang yang punya titik terang.
Malam itu, jam baru menunjukkan pukul 23.30 malam. Karena lapar saya bergegas keluar mencari makan, setelah sebelumnya menanyakan jam berapa kantor Perwakilan Aceh tutup sama security. Setelah diberitahu bahwa pintu pagar masih dibuka hingga pukul 24.00, saya langsung bilang mau cari makan tak jauh di dekat hotel Formula One. Kira-kira hanya 20 menit saya di tempat makan tersebut, saya mencari Mesin ATM yang kebetulan tak jauh dari lokasi saya makan. Tapi  begitu saya masuk ke dalam, ada kertas yang bertulisan bahwa mesin ATM sedang rusak tak bisa dipergunakan.

Karena sisa duit di kantong tak cukup untuk ke Bandara esok paginya, saya bergegas mencari mesin ATM di tempat lain. Setelah bertanya pada seorang Satpam di pintu masuk hotel F1, dan katanya di dalam hotel ada Mesin ATM, saya langsung masuk ke dalam. Tapi betapa kecewanya saya, karena berkali-kali ATM saya ditolak meski saya melihat ada logo ATM Bersama di mesin tersebut. Malah, setelah saya masukkan nomor PIN, muncul pesan agar saya menghubungi kantor Bank yang mengeluarkan ATM saya. Dengan kesal saya keluar dari hotel tersebut sambil dalam hati berharap di seberang jalan masih ada mesin ATM. Malah saya sudah siap jika besok harus menarik uang di mesin ATM yang ada di bandara.

Begitu saya memotong jalan di depan Hotel, HP saya berdering. Dalam hati berfikir juga siapa malam-malam nelpon, apakah security perwakilan? Tapi tak mungkin karena saya tak meninggalkan nomor HP sama dia. Saya rogoh kantong celana mengambil HP, setelah saya lihat ternyata yang telp Wakil Bupati Aceh Timur. "Pue haba, fik? Pat posisi nyoe (Apa kabar, fik? Dimana posisinya sekarang)?". Saya menjawab sambil jalan, bahwa saya di Jakarta (Karena dalam hati saya berfikir dia mau ke Banda Aceh). Tapi kemudia dia meminta saya balik badan dan kembali masuk ke dalam hotel, katanya dia duduk tak jauh dari security Hotel. Setengah tak percaya tapi saya tetap kembali masuk dalam hotel, setelah lihat kiri-kanan, ternyata teman aku sang Wakil Bupati itu duduk lebih pojok di cafe hotel bersama temannya. Saya pun bergabung dengan mereka, dan memesan teh Irak.

Sekitar satu jam lebih di sana, sambil cerita kabar dan keperluan masing-masing ke Jakarta, saya meminta izin balik ke perwakilan. (Dia dan temannya nginap di hotel itu). Saya kembali menyeberang jalan, dan melihat di sebelah kiri ada Mesin ATM. Saya pun bergegas ke sana, ternyata punya BCA, tapi ada logo ATM Bersama, jadi saya masih bisa mengambil duit pakai mesin itu.

Tapi mesin itu berbeda dengan mesin yang biasa saya gunakan untuk menarik duit, karena mesin ini menggunakan layar sentuh. Setelah memasukkan kartu, kita diminta mengisi nomor PIN, langsung muncul menu. Sementara kartu ATM kita langsung keluar, seperti layaknya setelah selesai bertransaksi. Saya menggunakan jari sambil memilih transaksi yang ingin saya pergunakan. Selesai mengambil duit yang saya yakin cukup untuk biaya perjalanan besok, saya bergegas mau keluar. Namun, satpam yang berjaga di pintu menegur bahwa saya belum melakukan sign out. Katanya, jika ada orang lain masuk bisa mengambil isi di rekening kita, karena yang terbaca di layar masih account kita.

Saya balik dan mencari menu keluar, sambil tak lupa berterima kasih sama Satpam itu. Duh, di tengah malam sekitar hampir jam setengah dua malam masih ada orang baik dan tak tergiur memanfaatkan kesempatan kelengahan kita untuk menguras isi rekening kita. Saya sempat tertegun dan malah sambil jalan kembali ke kantor perwakilan masih heran dan tak yakin.

Artikel Terkait

3 comments

yang baik hati itu yang memberi tumpangan nginap ya? Maaf, soalnya kurang detail ceritanya

maaf, ceritanya terpotong kemarin, karena saya nulis pake hp dan saya setting schedule agar tak muncul dulu namun kemudian saya lupa menyelesaikan tulisan tersebut, sehingga ketika tiba tanggal tayang, langsung muncul di blog.

ternyata memang masih ada orang yang baik ya dizaman sekarang


EmoticonEmoticon