17 March 2010

Latah Gara-gara ‘Teroris’

Hampir sebulan terakhir, kondisi Aceh cukup mencekam setelah aparat keamanan melakukan perburuan terhadap kelompok yang diduga teroris. Namun, isu terorisme Aceh ini tenggelam di tengah perhatian besar publik nasional dan media terhadap Skandal Bank Century.

Publik Aceh berada pada posisi yang cukup dilematis, antara percaya dan tidak atas kebenaran isu terorisme tersebut. Soalnya, baru belakangan isu teroris hangat dibicarakan di Aceh, mengalahkan kasus Century. Media di Aceh juga tak henti-hentinya memberitakan soal perburuan kelompok yang diduga terkait dengan Jaringan Jamiah Islamiah (JI). 

Pertanyaannya kemudian, apakah ini bagian dari skenario untuk mengembalikan Aceh ke wilayah perang? Tapi kenapa harus menggunakan isu teroris?  Padahal sebelumnya, saat konflik, Aceh sama sekali tak menjadi target teroris. Meski julukan teroris pernah dicoba labelkan kepada GAM, tak juga berhasil.

Apa sebenarnya sedang terjadi?
Pertanyaan di atas kini menjadi tanda tanya di masyarakat Aceh. Meski operasi perburuan teroris sudah berlangsung selama sepekan, publik Aceh belum juga mendapatkan gambaran, siapa yang disebut teroris itu? Sejumlah orang yang tewas dan ditangkap dalam operasi tersebut juga masih misterius dan tidak diumumkan ke publik.
Sementara di sejumlah tempat, polisi menggelar razia secara ketat dan memeriksa identitas warga. Jika dicurigai mereka langsung dibawa bersama petugas. Polisi dibantu Densus 88 Antiteror juga menggelar operasi di wilayah-wilayah yang disinyalir menjadi kawasan latihan militer kelompok teroris. Terakhir dalam pengepungan di Lamkabue, Seulimuem, Aceh Besar, Sabtu (6/3) sejumlah petugas dilaporkan tertembak, tiga di antaranya dinyatakan tewas.

Teka-teki soal kebenaran adanya aktivitas teroris di Aceh sedikit terungkap setelah muncul blog yang menyatakan diri 'Tandzim Al Qoidah Indonesia Serambi Makkah'. Di blog tersebut mereka mengakui masih bertahan melakukan jihad meski sudah dikepung selama 10 hari, dan ada sejumlah anggota mereka yang syahid dan ditangkap. Apakah ini sebagai petunjuk bahwa Al Qaeda pimpinan Osama Bin Laden mulai beraktivitas di Aceh?
Terlalu dini untuk meyakini kebenaran tersebut. Jika Al Qaeda ingin membangun jaringan hingga ke Aceh, semestinya sudah sejak dulu dilakukan, saat Aceh dibalut konflik. Saat itu, Al Qaeda akan menemukan relevansi jihad melawan pemerintahan yang disebut mereka zalim. Tapi tak juga dilakukan.

Kita juga sulit menerima jika disebut kelompok yang diduga teroris tersebut sedang merencanakan sesuatu terkait kedatangan Obama di Indonesia pada akhir Maret. Setelah sejumlah penggerebekan dilakukan di pulau Jawa, Aceh dianggap sebagai lokasi aman. Kita belum bisa memahami logika yang digunakan kelompok tersebut memilih Aceh? Soalnya Aceh cukup jauh dari ibukota Negara, terlalu sulit membangun sebuah rencana penyerangan.

Kita dibuat terkejut perburuan polisi terhadap kelompok teroris yang dilakukan secara tiba-tiba dan sepi dari perhatian media nasional. Padahal, laiknya sebuah operasi digelar setelah terjadi sebuah insiden, seperti pengepungan Temanggung, Jawa Tengah, pascapengeboman Hotel JW Marriot dan Ritz Charlton. Soal perburuan teroris (jika benar) di Aceh, kita patut memberi apresiasi kepada polisi. Artinya, baru kali ini aparat keamanan kita mampu melakukan antisipasi dini, sebelum terjadinya insiden.

Sikapi secara bijak
Pun demikian, kita perlu menyikapi secara bijak perburuan teroris yang gencar dilakukan. Apalagi usia perdamaian Aceh juga masih muda, tentu memiliki risiko. Masyarakat Aceh masih belum siap kembali hidup seperti saat konflik: razia dimana-mana, penggeledahan, penangkapan paksa dan ada saja yang tewas setiap hari.

Pihak keamanan sudah sepatutnya membuka ke publik apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kelompok yang diburu tersebut benar-benar kelompok teroris atau hanyalah kelompok pengajian yang belakangan memang sedang marak di Aceh? Kecuali itu, kita juga menginginkan keterbukaan, jangan sampai perburuan teroris itu hanyalah alasan untuk kembali menggelar operasi di Aceh.
Kita juga menangkap kesan, ada konspirasi menutup Aceh dari dunia luar, seperti terbaca dari pengesahan Qanun Jinayah yang memasukkan hukum rajam, dan kini melalui kelompok teroris. Kesan ini semakin kuat setelah sebelumnya sempat muncul teror terhadap warga asing, seperti penembakan Kepala Palang Merah Jerman, Enhard Bauer, penggranatan kantor Perwakilan Uni Eropa, dan penembakan rumah warga Amerika. Kita takutkan semua konspirasi itu (isu terorisme) dimaksudkan untuk mengucilkan Aceh sehingga pembangunan terhambat.

Setidaknya, ada dua hal kenapa isu terorisme jadi aktual dimunculkan di Aceh. Pertama, kita tahu, pascaperistiwa World Trade Center (WTC) di New York pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai “September Kelabu”, memakan 3000 korban, Amerika cukup kencang mengampanyekan perang melawan terorisme. Amerika juga membantu negara-negara lain yang menabuh perang melawan terorisme, seperti Pakistan, Afghanistan, Filipina, dan lain-lain.  

Pemerintah berharap, kedatangan Presiden Obama pada akhir Maret nanti bukan sekedar kunjungan melepas rindu. Obama diharapkan datang dengan sejumlah paket kerja sama bantuan, ekonomi dan militer. Harapan itu menjadi cepat tercapai jika ‘dirangsang’ dengan isu terorisme. 

Kedua, terorisme Aceh dimunculkan untuk mengalihkan isu Skandal Bank Century. Century dipercaya bisa memicu munculnya perpecahan di tingkat elite, sehingga perlu diciptakan musuh bersama. Sebagai daerah yang baru lepas dari konflik, Aceh masih tetap 'layak' dijual untuk mempersatukan tokoh-tokoh nasional. Sementara bagi Aceh, isu terorisme menjadikannya terkucil. Perhatian yang cukup besar seperti pascatsunami, menjadi barang mahal. Label terorisme bisa menjadikan Aceh masuk perangkap: musuh bersama!

Taufik Al Mubarak, pemilik blog http://jumpueng.blogspot.com

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon