12 April 2010

Peumate Lampu Nikmat!

Pemadaman listrik merupakan kebiasaan buruk. Sangat tidak manusiawi. Zalim kepada masyarakat pelanggan, terutama yang sudah setia membayar rekening listrik, meski harus antri berjam-jam.
Tapi, PLN ternyata bisa lebih buruk, tidak manusiawi dan zalim lagi. Karena, sudah tahu kebiasaan buruk, tidak manusiawi, dan zalim, tapi masih terus dipelihara. Tak terhitung caci maki, sumpah serapah, dan segala teunak (sejenis ucapan kasar yang sebenarnya tak layak diucapkan) tak henti dialamatkan ke perusahaan milik Negara itu. Tapi, dasar sudah klo prip (sindiran untuk orang yang punya telinga tapi tak mau mendengar, atau krueh utak), PLN tetap pada kebiasaan buruknya: memadamkan listrik! 

Salahkah kita mencaci PLN? Ada yang bilang kita harus jaga ucapan kita. Ucapan buruk, sering dianggap tak baik. Tapi, rasanya, kita tak perlu mendengar kuliah etika atau moralitas. Saat kekecewaan sudah memuncak, caci maki tetap sah diucapkan, apalagi untuk PLN, yang tak pernah memperbaiki kebiasaan buruknya.

PLN itu, jika meminjam narit endatu, sudah batat teungang. Banyak yang protes, baik di media cetak, di facebook atau di mana saja, termasuk penyebaran SMS yang berisi kecaman terhadap PLN, namun perusahaan Negara itu tetap hana didungo tuet (silakan terjemah sendiri). “Sep icaih kee, tiep malam mate lampu, pue hana buet laen awak PLN nyan?” gerutu kawan-kawan saya di kantor. Wajar mereka marah dan icaih (sebangsa kecewa, tetapi tingkatannya lebih di atas kecewa sedikit—demikian yang bisa saya jelaskan), karena setiap kali membuat dan mengedit berita, tiba-tiba tanpa aba-aba PLN langsung mematikan lampu. Kawan-kawan saya terpaksa kerja dari awal lagi.

Bagi yang icaih sudah ke ubun-ubun, mereka memilih pulang dan tak jadi menyelesaikan beritanya. Kawan-kawan saya tentu saja menganggap mati lampu itu sebagai ‘tsunami’ kecil. 

Tapi siapa tahu, bagi awak PLN (atau orang-orang yang bekerja di sana) mematikan lampu sebagai bentuk euphoria: kemenangan. Mereka sama sekali tak merasa rugi karena orang-orang ternyata masih sangat tergantung sama mereka (PLN). Jadi, Peumate Lampu Nikmat (PLN) bagi mereka (awak PLN), dan laknat bagi kita (pemakai jasa PLN). Maka wajar jika kita berdoa, terkutuklah wahai PLN! Semoga doa kita diterima.[]

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

3 comments