13 September 2010

Mutasi Ala Preman di Biro Isra

Kepala Biro Keistimewaan Aceh dan Kesra (Biro Isra) Setda Aceh Drs Syaiba Ibrahim dan dua pejabat lainnya, masing-masing eselon 3 dan 4, Senin (6/9) dimutasi oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Syaiba digantikan Drs Bukhari sebagai Karo Isra yang baru.

Informasi yang diperoleh Harian Aceh dari sumber di Pemerintah Aceh menyebutkan, mutasi Karo Isra tersebut dilakukan secara mendadak. Malah, Drs Bukhari yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial Aceh disebut-sebut tidak tahu menahu soal pengangkatan dirinya. 

“Pak Bukhari mengaku tidak siap, karena proses penunjukan dirinya dilakukan secara mendadak,” ujar sumber Harian Aceh yang minta namanya tidak ditulis. 

Sumber itu menyebutkan, mutasi Syaiba Ibrahim dilakukan tanpa alasan yang jelas dan terkesan dipaksakan. “Kita melihat proses mutasi Pak Syaiba seperti dipaksakan. Ini mutasi ala preman,” ujarnya.

Informasi yang diterima Harian Aceh juga menyebutkan, pergantian Syaiba dari Karo Isra sarat konspirasi internal. Pergantian Syaiba disebut-sebut karena digembosi dari dalam. 

“Setelah menjadi Karo Isra menggantikan Saifuddin Harun, Syaiba Ibrahim langsung membriefing para stafnya termasuk menegur para bawahannya agar tidak lagi berpacaran dan berbuat maksiat di Biro Isra,” sebut sumber Harian Aceh.

Pasalnya, lanjut sumber tadi, Syaiba menerima informasi bahwa di Biro yang dipimpinnya beberapa pejabat terlibat maksiat seperti free sex. Syaiba kemudian mengusulkan agar beberapa pejabat tersebut dimutasi. 

“Namun, sebelum usulan itu terjadi, informasi tersebut sudah bocor keluar dan diketahui oleh pejabat yang diusulkan mutasi itu,” sambungnya.

Kemudian, muncullah selebaran gelap yang berjudul ‘13 Dosa Syaiba Ibrahim’. Merasa terusik dengan selebaran itu, Syaiba kemudian melaporkan hal itu ke Gubernur, Wagub dan Sekda selaku atasannya. Pihak yang tidak senang dengan Syaiba, sebut sumber tadi, rupanya tidak cukup sekedar mengeluarkan selebaran melainkan juga bergerilya ke Gubernur, Istri Gubernur dan keluarga Gubernur. “Kita menduga mutasi itu dilakukan karena desakan beberapa orang,” simpul sumber yang lagi-lagi minta namanya dirahasiakan.

Harian Aceh yang mencoba mengonfirmasi ke Syaiba Ibrahim ke Hpnya terkait hal itu, beberapa kali ditelp tidak diangkat dan Hpnya selalu sibuk.

Sementara itu seorang pejabat di Biro Isra, Saharuddin, yang dihubungi Harian Aceh mengaku tidak tahu pasti soal mutasi itu. Dia mengaku hanya menerima SMS ada
beberapa orang yang dimutasi di Biro Isra. “Saya tidak tahu pasti soal adanya
mutasi itu, tapi SMS yang saya terima memang ada mutasi,” sebutnya.

Saat disinggung Harian Aceh, apakah mutasi itu terkait desakan beberapa pejabat di Biro Isra yang tidak senang dengan Syaiba? Sumber tadi menjawab tidak tahu menahu. 

“Memang beberapa waktu lalu berkembang isu adanya usulan untuk mutasi beberapa pejabat di Biro Isra. Sejak itu suasana kerja di Biro Isra tidak harmonis lagi,” kata seorang Kabag di Biro Isra ini yang mengaku sedang tugas di luar kota.

Terkait isu yang berkembang bahwa beberapa pejabat di Biro Isra terlibat maksiat, sumber ini juga membantahnya. “Tidak ada itu. Sudah lama isu itu dihembuskan. Saya berani sumpah tidak ada seperti yang diisukan itu,” katanya. Menurutnya, jika memang diduga ada sejumlah pejabat terlibat maksiat antar sesama, pimpinan seharusnya bisa memanggil dan menanyakan halitu. 

“Kalau perlu dipanggil keluarga dan dibicarakan baik-baik apakah terjadi seperti dituduhkan itu?” ujarnya sembari mengaku setahunya tidak pernah ada pejabat di Biro Isra yang melakukan kerja keluar daerah berbarengan lelaki dan perempuan.***

------sumber Harian Aceh, Rabu 090910

Artikel Terkait