22 October 2010

Catatan dari Mini Pesta Blogger Aceh

Saya baru saja all in main poker di kantor saat Fauzan Matang mengajak ikut Mini Pesta Blogger Aceh 2010 di Tower Coffee. 

“Tanggung zan, ini baru saja all in,” jawab saya singkat. 
“Alah…chipnya disimpan saja buat nanti,” katanya. Saya langsung mengiyakan. 
“Oke ini all in terakhir,” sambil berdiri membereskan meja kerja dan mengambil ransel yang saya taruh di belakang. Saya tak peduli, kalah dan menang tetap saya sign out. Nyatanya all in terakhir itu justru menang. “Pemain lain pasti marah, abis menang langsung kabur,” gumam saya. Hehehe.

Laptop ASUS butut langsung saya masukkan dalam tas, biar aman. 

“Ayo berangkat,” ucap saya sambil keluar dari ruang kerja yang letaknya agak di sudut. Sambil berlalu kami sempat mengajak Iskandar Norman, blogger dan jurnalis yang suka menulis sejarah. 
“Han ek kee…nyoe kupakek luwue puntong,” katanya sambil berdiri. Tak lupa Iskandar menunjuk kalender yang sudah ditandai soal agenda mini pesta blogger. Rayuan ‘pulau kelapa’ ternyata tak mempan. Dia lebih memilih melanjutkan menulis novel yang sudah sampai beberapa BAB itu.

Terus terang saya penasaran juga mau lihat-lihat dari dekat bagaimana sih Mini Pesta Blogger, maklum belum pernah ikut pesta blogger nasional. Soalnya, saya termasuk ‘blogger’ yang jarang kumpul-kumpul. Bawaan suka malas. Untung saja kerjaan sudah beres dan juga sudah diingatkan soal pesta blogger itu sama Fauzan. Kalau tidak, pesta itu akan terlewatkan juga.

Tak sampai 15 menit, kami berdua sudah tiba di Tower Coffee. Ternyata sudah ramai dengan para pecandu kopi. Di luar tempat parkir sudah penuh. Saya dan Fauzan kemudian memilih untuk parkir sepeda motor di dalam. Untung saja masih ada tempat. Dengan semangatnya kami pun melangkah. Wow…acara sudah dimulai rupanya. Di depan, Muhammad Riza, jurnalis Vivanews.com sedang cangpanah layaknya presenter kawakan. Kami memilih duduk agak di belakang, karena semua kursi di depan sudah terisi. Lagi pula kami sengaja memilih di belakang karena di antara peserta yang hadir belum ada yang kami kenal.

Daripada meurahueng dan meusangak-sangak, ya lebih nyaman duduk di belakang. Logikanya, orang yang duduk di depan pasti jarang melihat ke belakang. Karena mereka akan fokus menyimak acara demi acara. Sementara kami yang duduk di belakang, sudah pasti bisa meneliti satu persatu peserta yang di depan. Semua tingkah polah orang di depan bisa dipantau.

Belum jap pantat di kursi, saya sudah melihat beberapa teman yang saya kenal. Saya melihat ada Radzie, Maimun Saleh, dan beberapa temannya. Tak jauh dari kami, persis di meja samping, sudah ada Liza Fathia, blogger muda Aceh yang sangat berbakat, duduk satu meja dengan Dewi, jurnalis Serambi. Sementara di depan, Maimun Saleh sudah duduk di meja paling depan, menghadap ke semua peserta yang hadir, dan siap-siap memandu diskusi soal penulisan sejarah. Di sampingnya sudah ada Bapak Prof Mohd Harun, Mpd, yang didaulat sebagai pembicara.

Satu per satu kata-kata terucap. Suasana cukup gaduh. Sesekali pekerja di Tower Coffee bikin ulah dengan teriak-teriak. Semua orang yang duduk di depan berbalik. Sempat beberapa kali suara kegaduhan itu terjadi. Selebihnya, memang suasana di Tower bising. Namanya saja warung kopi, ya gaduh lah. Praktis tak ada pembicaraan menarik yang saya tangkap dari pembicara. Dia asyik bicara sendiri, peserta juga asyik sendiri. Benar-benar seperti pesta. Hehehe.

Hanya sedikit yang saya tangkap dari pembicara, yaitu soal ajakannya untuk menulis sejarah warung kopi di Aceh, kenapa orang Aceh suka minum kopi dan siapa yang pernah minum kopi di Aceh. Ajakannya cukup menantang juga. Sebagai sejarawan, Mohd Harun memaparkan sedikit soal sejarah warung kopi tersebut. Katanya, dulu di masa perang dengan Belanda, orang Aceh sering berkumpul untuk membicarakan strategi perang atau berdiskusi. Jadi, sambil minum kopi, juga mengatur siasat perang. Kopi yang diminum itu, katanya, dimasak dulu, sehingga segala kuman hilang. Entahlah, apakah benar demikian, saya tak tahu. Sejarah kan bisa dikonstruksi sesuai keinginan atau perkembangan. Karena belakangan orang yang minum kopi sering berdiskusi, dari soal ringan hingga yang serius. Kondisi seperti ini tinggal didramatisasi saja untuk menggambarkan kondisi di masa lalu.

Brief Encounter
Saya hampir lupa, padahal ada ‘pertemuan singkat’ yang tak boleh dilupakan. Di Mini Pesta Blogger Aceh itu hadir Bapak Blogger Indonesia. Namanya tak asing lagi bagi para blogger, yaitu Enda Nasution. Saya baru pertama melihat orangnya langsung. Sebelumnya hanya melihat di blog atau foto dari acara Pesta Blogger. Orangnya cukup ramah. Saya sempat berbicara dengannya sebentar saat acara berlangsung. Karena kebetulan dia sempat ke belakang.

Setelah acara selesai, saya, Radzie dan Chaideer, terlibat pembicaraan semi-santai dengan Bapak Blogger Indonesia itu. Saya sebut semi-santai karena kami berbicara dalam kondisi berdiri. Saya sendiri sebenarnya tak kuat berdiri lama-lama, karena kaki masih sakit gara-gara main futsal bareng anak-anak Jeumala Amal, yang rutin main setiap Selasa malam. Tapi karena jarang bisa berbicara langsung dengan tokoh Blogger Indonesia, rasa sakit itu sama sekali tak terasa. Belum lagi tema pembicaraan juga menarik, entah kemana-mana larinya. Dari soal new media, facebook, twitter hingga konflik. Kami secara bergantian berbicara. Sangat demokratis, karena tak ada yang mendominasi pembicaraan.

Enda sangat optimis akan masa depan blogger Indonesia. Potensi itu, katanya, harus tetap dijaga. Blogger muda adalah harapan akan masa depan Indonesia. Dia merasa senang karena pesta blogger bisa berlangsung setiap tahun, yang didukung oleh kedutaan Amerika. 

“Jarang-jarang mereka mau mendanai langsung acara seperti ini, biasanya pasti melalui USAID. Mereka ingin berdiskusi dengan para blogger muda,” jelasnya yang baru sekali menginjak kaki di Aceh.

Di akhir pembicaraan, kami sempat bertanya, “bagaimana ceritanya sampai diberi gelar Bapak Blogger Indonesia?”. Setengah tertawa, Enda menjawab itu mula-mula dari penyebutan yang dilakukan media secara berulang-ulang. “Setiap posting saya di blog sering dikutip media. Media menyebut saya blogger Indonesia, lama-lama melekat jadi Bapak Blogger Indonesia,” ceritanya.

Sudah dulu ya, dah ngantuk berat (dan juga sedih karena nama saya sudah dihilangkan dari blog Acehblogger.org). Kalau ada cerita yang masih kurang, bisa ditambahi lagi oleh Fauzan, Radzie atau Chaideer.

---ini beberapa dari facebook Radzie dan twit @Iloveaceh









Artikel Terkait

6 comments