30 October 2010

Off of Politics 'Mumang'

Tahapan Pilkada Aceh baru dimulai pada April 2011 nanti. Tapi aromanya sudah sudah mulai berhembus, sejak jauh-jauh hari. Jika kita perhatikan, semua kandidat (tentunya yang berniat bertarung memperebutkan kursi Aceh 1) sudah mulai tebar pesona dan juga jala. Semua media dimanfaatkan, apakah itu melalui simpatisan atau orang-orang yang sekedar membuat survey diam-diam untuk menjaring calon yang benar-benar memiliki elektabilitas tinggi.



Saya sendiri sebenarnya tidak begitu peduli dengan hiruk pikuk politik tersebut, karena bisa membuat kita ‘mumang’ (bingung). Apalagi kita juga belum tentu berniat memilih saat Pemilukada nanti. Semua mereka hanya jago jual kecap (basi). Tak layak dipilih.

Tapi ada perkembangan terakhir yang menurut saya perlu dikomentari, sehingga tidak membuat kita ‘mumang’. Jika belum tahu perkembangannya seperti apa, baca saja di Waspada Online, Kamis (28/10). Dalam berita tersebut, Partai Aceh melalui anggotanya Adnan Beuransyah membuat pernyataan, yang menurut saya, membingungkan. Katanya, keputusan Partai Aceh untuk tidak lagi mencalonkan Irwandi Yusuf sebagai Gubernur Aceh dalam Pilkada 2011 nanti. Pertanyaannya, apakah dulu PA mencalonkan Irwandi?

Setahu saya (jika tidak salah), Partai Aceh lahir justru setelah Irwandi-Nazar menjabat sebagai Gubernur-Wakil Gubernur Aceh. Pasangan Irwandi-Nazar saat bertarung dalam Pilkada 11 Desember 2006 silam tidak pernah dicalonkan oleh GAM secara institusi. Soalnya suara GAM saat itu pecah. Perpecahan ini terjadi setelah kandidat yang diusung elite GAM, Hasbi-Humam (dalam Rapat Ban Sigom Donja di Gedung Dayan Dawood) kalah telak. Saat itu peserta rapat serentak memilih Nashiruddin bin Ahmad-Muhammad Nazar sebagai kandidat Gubernur-Wakil Gubernur.

Hasil ini tentu saja tidak memuaskan bagi elite GAM. Sehingga mereka membuat manuver, hingga berakhir pada pengunduran diri Teungku Nashiruddin bin Ahmad. Setelah itu, GAM secara institusi membuat keputusan: GAM tidak mencalonkan kadernya dalam Pilkada 2006. Jika ada kandidat GAM yang maju, itu atas nama pribadi. GAM ingin focus ke Pemilu legislative 2009.

Nyatanya, elite GAM kemudian secara terang-terangan membuat manuver lagi dengan mendekati Partai Persatuan Pembabungan. Sehingga kemudian lahir paket Humam-Hasbi Oke (H2O)—hasil kompromi, sehingga Tgk Hasbi dari posisi Gubernur menjadi Wakil Gubernur.

Akibat plin-plannya elite GAM, para panglima wilayah membuat perlawanan dan menentang duet tersebut. Tidak kurang dari 15 Panglima Wilayah GAM mendukung Irwandi-Nazar, kandidat yang diusung GAM (dari kalangan muda) dan Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA).

Hasilnya, saat Pilkada 11 Desember 2006, pasangan Irwandi-Nazar yang dikenal dengan IRNA, memenangkan pemilu dan berhak atas kursi Aceh-1 dan Aceh-2.

Jadi, terasa aneh saat saya membaca pernyataan Tgk Adnan Beuransyah, bahwa PA tidak mengusung lagi Irwandi Yusuf. Soalnya, PA lahirnya kapan, Pilkada Aceh 2006 digelar kapan? Han ek takhem. Semoga yang saya tulis di atas tidak salah. Mohon pencerahan?

Oya, menurut anda, siapa kira-kira sosok yang layak memimpin Aceh dari nama-nama berikut ini? Mohon masukannya ya.

Muhammad Nazar
Irwandi Yusuf
Malik Mahmud
Zaini Abdullah
Darni M Daud
Tarmizi Karim
Abdullah Puteh

Artikel Terkait

3 comments

Begitulh ketika politik menjadi segalanya

saya kurang mengerti politik dan hampir tidak pernah mengikuti perkembangan politik di aceh.. karena itu jadi susah utk memilih siapa yg layak jadi pemimpin Aceh nantinya..

@mawardi: mending kita ngeblog aja dan menulis hal2 ringan sehingga kita bisa menertawakan diri sendiri, agar tak stress.
@tapi minimal kan sempat baca2 di blog atau media online...sesekali memang kita harus mengikuti juga perkembangan agar tak jadi korban...


EmoticonEmoticon