07 December 2010

Masyarakat Aceh di Denmark Peringati Milad GAM

Fjerritslev - Masyarakat Aceh yang bermukim di Denmark dan di sejumlah Negara Eropa menggelar peringatan hari deklarasi Gerakan Aceh Merdeka (Milad GAM) ke-34, Sabtu (4/12) dengan doa bersama, pengibaran bendera bintang bulan serta penyampaian amanat dari Ketua Masyarakat Aceh Denmark.“Warga Aceh di Denmark dan di sejumlah Negara lain merasa terpanggil menyambut hari bersejarah, 4 Desember. Kita patut mengenang atas banyaknya masyarakat yang menjadi korban di Aceh dalam memperjuangkan hak-haknya,” tulis Nek Hasan, ketua panitia palaksana peringatan Milad GAM ke-34 di Denmark kepada Harian Aceh, Sabtu (4/12) waktu setempat.

Menurut Nek Hasan, peringatan Milad digelar di Fjerritslev Scole-Borups Alle 8, 9690 Fjerritslev-Region Nordjylland, Denmark.

“Acara ini kita gelar secara sederhana, dimulai dengan membaca ayat suci Al-Quran, diteruskan dengan pengibaran bendera, pidato Ketua Masyarakat Aceh Denmark, berdoa kepada para syuhada, dan kemudian para jamaah yang hadir turut berkesempatan menyampaikan berbagai aspirasi terhadap situasi di Aceh pasca MoU di Helsinki,” tulis Nek Hasan.

Nek Hasan menjelaskan, melalui peringatan Milad ke-34 ini masyarakat Aceh Denmark berharap semua poin-poin MoU dijalankan dengan baik, tidak terkecuali dengan pengibaran bendera Aceh,” sebutnya.
Pesan Geuchik Don
Sementara Ketua Masyarakat Aceh Denmark, Zulkifli Yahya, dalam pidatonya, berpesan kepada Aceh agar tidak melupakan 4 Desember, sebagai hari di mana sejarah baru Aceh dimulai.

“4 Desember bukan hanya sekedar tanggal dan hari, tapi adalah moment ketika Aceh mengikrarkan dirinya kepada dunia bahwa Aceh masih ada. Kita hadir disini untuk terus mejaga amanah sejarah bahwa perjuangan ini belum berhenti. Bahwa perjuangan ini belum berakhir. Bahwa cita cita 4 desember masih belum terwujud,” ujar Zulkifli Yahya yang akrab disapa Geuchik Don.

Geuchik Don menjelaskan, perjanjian damai Helsinki pada tahun 2005 bukanlah akhir dari perjuangan, tetapi awal baru untuk kita berjuang dengan cara-cara damai.

“Janganlah kita menganggap bahwa self government akan secara otomatis membawa kejayaan. Tidak! jalan masih panjang. Kita tidak boleh lalai dengan uang receh (peng griek), kita tidak boleh lalai dengan jabatan-jabatan, kita tidak boleh lalai dengan politik yang dapat membuat perpecahan. Kondisi Aceh masih lah jauh dari sejahtera. Rakyat Aceh masih hidup dengan makan nasi dan garam, anak anak Aceh masih banyak yang bersekolah tanpa sepatu, tanpa seragam, tanpa buku, bahkan tanpa ruang relajar,” tegasnya yang disambut applusan dari ratusan masyarakat yang hadir.

Melalui peringatan Milad, Geuchik Don berpesan agar masyarakat Aceh tetap bersatu dan menghilangkan permusuhan di antara sesama.

“Jangan jadikan teman sebagi musuh hanya karena perbedaan pendapat karena 1 orang musuh adalah terlalu banyak, dan 1000 orang sahabat masih terlalu sedikit. Insya Allah, jika kita bersama, jalan kita akan lebih mudah, beban kita akan lebih ringan. Karena Aceh adalah milik kita bersama dan amanah dari cucu kita untuk dijaga,” pesannya.[]



Sumber: Harian Aceh, Senin 6 Desember 2010
Foto: Zulkifli Yahya (tengah) seusai menyampaikan  pesan pada Milad GAM ke-34. Foto WAA 

Artikel Terkait

1 comments so far