17 June 2011

Kampung Saya Tak Terisolir, Kok!

Perjalanan melalui L300 sering menjadi sumber ilham dan inspirasi. Sepanjang perjalanan, tak terhitung ide atau inspirasi yang merangsang saya untuk segera menuliskannya. Namun, lebih sering ide atau inspirasi itu hilang begitu saja, karena begitu tak kuasanya saya melawan rasa malas sekedar mencatatkannya. Padahal, rentang waktu 2,5 jam perjalanan dari Banda Aceh-Sigli atau sebaliknya Sigli-Banda Aceh justru menjadi arus dahsyat munculnya ide. Rasa kantuk dan malas justru menghiraukannya.

Sering ketika mau tidur, saya mencoba mengingat-ingat ide yang sempat muncul itu, tapi ia tak kunjung datang lagi. Sering membuat saya pusing dan bimbang, seperti orang kehilangan harta karun. Saat mengalami kondisi begini, dalam hati selalu kembali terbersit janji: besok-besok begitu muncul ide, saya pasti lekas mencatatnya. Janji ini, lebih sering hanya penyesalan sesaat, sebab selepas itu seringkali kejadiannya terulang.

Jika dalam kondisi beruntung, satu-dua-tiga ide masih mampu saya ingat dan rekam (meski hanya potongan-potongan saja) dalam ingatan. Jika beruntung lagi, saya lekas-lekas menuliskannya, meski hanya singkat. Tapi, kondisi yang sering terjadi justru bukan beruntung, melainkan sial.

Baiklah, saya ingin menuliskan saja soal yang kebetulan masih terekam di ingatan. Ingatan saya kembali ke masa saat saya masih kecil (masih duduk di bangku MIN, antara kelas 3-5). Saat itu, setiap hari Minggu, selalu ada mobil labi-labi (sudako) dari Pasar Lueng Putu, pulang pergi (dari pagi sampai sore/magrib). Jumlahnya, bukan satu-dua, melainkan bisa lima sampai sepuluh. Kenapa bisa demikian? Karena saat itu, Pasar Lueng Putu yang hari peukan-nya Minggu masih menjadi primadona.

Warga Desa Kumbang, Ukee, Palong, Garot (Glumpang Baro) sampai Pulo Rheing, Pulo Puep, Nyong (Bandar Baru) dan sepanjang jalur ke Pasar Lueng Putu, atau warga Lancok, Pusong sering berbelanja segala keperluan ke Keude Lueng Putu. Hari Minggu cukup ramai dan semarak. Hampir semua sudut di Pasar itu penuh, baik penjual permanen maupun penjual musiman. Saat itu dan hingga hari ini, orang-orang di kampung saya dan tetangga masih menyebut hari peukan Lueng Putu dengan Aleuhat, seperti tercermin dalam dialog: “Pue tajak bak Aleuhat?” (Aleuhat di sini merujuk pada hari Ahad (Arab) atau Minggu dalam kalender masehi).

Dulu, jalan belum teraspal semuanya. Namun, kondisinya cukup bagus, di beberapa bagian masih jalan pracetak. Labi-labi lalu lalang dengan nyaman. Sebagian labi-labi itu kadang produksi tahun tua, bentuk depannya masih petak-petak. Tapi, setiap trek, tak pernah kosong. Pasti terisi.

Saya sendiri pernah punya pengalaman cukup berani. Saat itu, kalau tak salah, saya masih duduk di kelas 4 atau 5 di MIN Cot Glumpang. Sebagai anak kampung, belum pernah sekali pun pergi ke Lueng Putu atau pergi jauh. Saya tak tahu apa keperluan saya saat itu, apakah membeli sepatu sekolah atau baju, saya tak ingat. Dengan tanpa takut, saya menunggu mobil labi-labi lewat di depan lorong masuk ke rumah saya. Tak perlu menunggu lama, mobil itu pun datang, dan saya segera menaikinya dan memilih tempat duduk agak ke pojok. Di dalamnya sudah ada beberapa orang kampung yang duluan naik.

Jadilah, saya berangkat ke Lueng Putu. Soal ongkos saya juga tak ingat, apakah 500 atau 800 perak. Yang pasti, saya pun kemudian tiba di Lueng Putu. Mobil itu parkir di seputaran simpang tiga atau dekat dengan meunasah. Sekarang, jalur itu sudah dibuat tembus ke jalan Negara (dulu jalan ke Keude Lueng Putu harus melewati jembatan yang berbatasan langsung dengan deretan toko yang menjual aneka barang, ditambah pedagang makanan ringan).

Karena baru pertama kali ke Lueng Putu, saya menandai lokasi di sekeliling, memperhatikan orang lalu lalang, dan melihat-lihat apakah ada orang kampung saya. Saat itu  memang tak sulit menemukan orang kampung, apalagi pada hari Minggu. Setelah saya yakin bahwa saya tak akan tersesat, saya pun ikut orang-orang berbelanja ke pasar Lueng Putu dan menikmati suasana pasar.

Oya, dulu pun kalau ada orang kampung mau berpergian ke tempat jauh, ke Medan, Langsa, Lhokseumawe atau Banda Aceh, sering menunggu bus di pasar Lueng Putu ini. Begitu juga kalau ada orang pulang dari rantau, turunnya pasti di Lueng Putu, atau Glumpang Minyeuk sesekali. Saat itu belum trend yang namanya L300 (atau mobil Flamboyant). Masyarakat biasa memanfaatkan jasa Bus Kurnia, Pelangi atau Anugerah, atau lebih sering menggunakan jasa Bireuen Ekspress atau Cenderawasih.

Namun apa yang terjadi sejak 10 tahun terakhir? Tak ada lagi labi-labi yang masuk kampung. Sangat jarang, kecuali satu-dua-tiga, warga di kampung saya yang masih suka berbelanja ke Lueng Putu pada hari Minggu. Apalagi, hari Minggu juga tak lagi seramai dulu. Penyebabnya, yak arena konflik berkepanjangan. Gara-gara konflik, aktivitas perekonomian masyarakat berantakan. Saya tak tahu apakah ada perintah khusus dari Kecamatan agar mobil labi-labi tak lagi masuk kampung atau memang ada tekanan dari awak nanggroe. Hanya, selintas saya dengar, orang-orang nanggroe melarang mobil dari Lueng Putu masuk ke kampung seperti dulu. Menurut mereka, orang Lueng Putu ini banyak yang tak senang dengan perjuangan, dan ada beberapa orang yang menjadi cuak kejam di Rumoh Geudong. Selain itu, mobil labi-labi dari Lueng Putu ini sering dianggap jadi tumpangan intel untuk memantau aktivitas GAM di kampung-kampung.

Saat itu, GAM baru mulai berkembang lagi. Di setiap kampung ada tiga pemuda yang dipilih untuk dilatih menjadi tentara GAM. Setelah latihan, mereka kembali ke kampung dan memberi penerangan kepada masyarakat untuk membantu perjuangan. Masyarakat juga banyak yang tertarik menjadi anggota GAM atau punya hubungan dekat dengan orang GAM. (Kondisi ini persis sama seperti saat Daerah Operasi Militer (DOM) di mana masyarakat berlomba-lomba dekat dengan TNI—kondisi yang kemudian terulang saat Darurat Militer).

Tentu saja masyarakat sangat antusias dan tertelan euphoria perjuangan. Sehingga di balai-balai jaga, ada masyarakat dengan penuh gagah-gagahan memegang HT dan mendengarkan informasi. Pemandangan ini terjadi hampir setiap hari, termasuk hari Minggu, dan sering jadi perhatian awak labi-labi. Mereka tak sadar bahwa tampil terlalu vulgar tak baik dan bisa mengundang tentara masuk kampung. Benar, besok-besoknya tentara sudah mulai sering masuk kampung dan melakukan sweeping. Sebagian awak nanggroe atau awak pungo juet keu GAM, menganggap itu ulah sopir labi-labi atau intel yang menumpang labi-labi yang membuat laporan ke tentara. Sejak itu, tak pernah lagi labi-labi masuk kampung, bahkan hingga kini.

Belakangan ini, warga kampung saya lebih sering berbelanja ke Kembang Tanjong, sekitar 15-20 menit perjalanan dengan sepeda motor. Pasar Kembang Tanjong, meski kecil, cukup menggeliat, terutama hari Kamis, sebagai hari pekan pasar itu.[]

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far