08 October 2011

Jelang Batas Akhir Pendaftaran

Saya tiba di kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh selepas Magrib. Puluhan personil polisi terlihat sudah siaga di kantor beralamat di Jalan T Nyak Arief itu. Sebagian mereka asyik ngobrol di warung kopi di sebelah kiri kantor, sebagian lagi lalu lalang sambil menenteng senjata. Ada juga yang mengendap dalam gelap.

“Ada apa sampai harus bawa-bawa senjata segala,” gumam saya dalam hati. Spontan saya bertanya-tanya, apakah ini ada kaitannya dengan keputusan Partai Aceh yang tak jadi mendaftar ke KIP karena menganggap tahapan Pilkada tak sesuai MoU dan UUPA.

Setelah memarkir sepeda motor, saya masuk ke kantor KIP lewat pintu samping. Sepi. Hanya ada satu-dua orang yang saya lihat lalu lalang. “Anda dari mana?” seorang Satpam menghampiri saya dan bertanya dengan sopan setelah melihat saya membaca beberapa informasi di papan pengumuman.

“Saya dapat informasi malam ini ada balon Gubernur yang akan mendaftar,” saya menjawab singkat, sambil terus memelototi beberapa informasi di papan tersebut.

“Oh, itu saya kurang tahu. Coba saja ke Media Center, itu di belakang,” jawabnya menunjuk ke belakang sambil memperlihatkan arah menuju Media Center.

“Iya, terima kasih.” Dia sudah berlalu mendahului saya.

Lima menit kemudian, saya pun keluar dari kantor KIP. Satpam tadi yang sedang duduk bersama personil polisi kembali menunjukkan arah Media Center.

***
Di Media Center sudah ada Fakhrurradzie, Ansari, Haris ST dan beberapa wartawan lain. Radzie—sapaan akrab lelaki Keumala, Pidie ini baru saja selesai makan malam. Ansari dari Serambi Indonesia sedang membuka-buka internet. Di sebelahnya, Hidayatullah dari The Globe Journal lagi asyik membalas chatting di Facebook. Sementara Haris ST dari Harian Aceh baru selesai mencuci tangan. Dia berdiri di pintu mengobrol bersama temannya. Di tangannya terselip rokok Sampoerna Mild. Dia belum menyulutnya.

“Oi…apa kabar, makin sehat saja,” dia menyapa sambil tmengangkat tangan begitu melihat saya. Saya membalas.

“Bagaimana, pukul berapa pak Wagub (Muhammad Nazar, redmendaftar,” dia bertanya kemudian. Saya menggeleng. Serius, saya sendiri belum dapat kabar kapan pentolan SIRA itu akan mendaftar.

Saya mengeluarkan rokok dan menyulutnya.

“Pinjam korek dulu,” pintanya.

Tak lama, Radzie keluar, bergabung bersama kami. Pria yang bekerja di Media Center KIP ini bukan perokok. Kami kemudian terlibat pembicaraan. Dari soal situs berita hingga balon gubernur.

Waktu hampir menjelang pukul 21.00. Satu per satu teman-teman wartawan mulai menyambangi Media Center KIP. Mereka sedang memburu berita.

Banyak sekali beredar informasi soal pasangan yang akan mendaftar ke KIP menjelang batas akhir penerimaan pendaftaran. Namun, informasi tersebut sulit diverifikasi. Soalnya, pengirimnya tak jelas.

Beredar SMS, Partai Aceh memastikan akan tetap mendaftar, meski sudah mengeluarkan pernyataan tak akan ikut tahapan Pilkada yang sedang dijalankan KIP.

“Ini ada SMS bahwa Partai Aceh sudah menyiapkan berkas, tinggal mendaftar saja,” Misdarul Ihsan memperlihatkan pesan yang diterimanya. Misdarul Ihsan adalah wartawan mungil bekerja sebagai kontributor RCTI.

“Tak tahu siapa yang mengirim, jangan-jangan ini hanya ulah pihak yang anti PA,” jawab yang lain.

Sebagian wartawan yang mencoba mengecek kebenaran informasi tersebut harus gigit jari. Tak ada petinggi GAM yang mau memberi keterangan.

Fokus wartawan kini ke sosok Muhammad Nazar. Menurut orang dekatnya, Wakil Gubernur Aceh tersebut akan mendaftar menjelang batas akhir penerimaan pendaftaran calon.

“Pukul 22.00 beliau akan mendaftar ke KIP,” jawab orang dekatnya.

Dalam beberapa pernyataan, tokoh pejuang Referendum ini sudah memastikan akan maju lewat partai politik. Tapi, hingga pukul 20.20 belum ada keterangan pasti dia maju dari partai apa. Saya beberapa kali mengontak menanyakan kebenaran kabar yang beredar bahwa dirinya akan dipasang dengan Ir Nova Iriansyah, kader Demokrat yang duduk di DPR RI.

“Teungoh tapreh SK dari Demokrat,” jawabnya singkat.

Sepuluh menit kemudian, masuk pesan singkat. Pengirimnya, Faisal Ridha, Ketua Muhammad Nazar Center (MNC), lembaga kampanye pemenangan Muhammad Nazar yang diinisiasi oleh kawan-kawan Partai SIRA.

“Insya Allah kita diberi kesempatan untuk menyelamatkan, mencerdaskan dan mensejahterakan Aceh,” tulis pengurus Partai SIRA sembari mengabarkan bahwa sudah ada kepastian Demokrat akan berkoalisi dengan PPP untuk mengusung bekas pejuang referendum itu sebagai bakal calon gubernur. Informasi kepastian tersebut diterima pihaknya pukul 20.00 WIB.

Tak lama, masuk juga kabar bahwa Partai Golkar-PAN memastikan mengusung Tarmizi A Karim dan Sulaiman Abda sebagai bakal calon Gubernur dai Wakil Gubernur. Mereka juga akan mendaftar menjelang penutupan batas pendaftaran. Namun, Sulaiman Abda, tak membalas pesan singkat ketika saya konfirmasi soal kebenaran informasi tersebut. Ketika dihubungi, handphonenya dalam kondisi menunggu. Saat dihubungi kembali, Sulaiman tak mengangkat handphonenya.

***
Waktu menunjukkan pukul 22.45 WIB. Wartawan yang berkumpul di kantor KIP mulai gelisah. Sebagian dari mereka lalu lalang, antara pintu masuk kantor KIP dan Media Center. Sebentar-sebentar mereka membuka handphone, sibuk mengirim SMS ke sana-ke mari.

Mereka terus menghubungi para calon dan tim sukses, sekedar menanyakan kepastian tiba di KIP.

Tapi calon yang ditunggu belum ada tanda-tanda merapat ke KIP. Tiap ada mobil yang masuk ke pelataran kantor KIP, para wartawan ini sudah sigap mencegat dengan kamera dalam posisi menyala.

Satu jam lagi, batas akhir pendaftaran bakal calon Gubernur ditutup. Wartawan masih tetap setia menunggu.

“Mereka mengatakan jam 22.00 tiba di KIP, apa tidak jadi?” Fakharurradzie seperti bertanya pada diri sendiri.

“Jangan-jangan saat kita sedang menunggu, Partai Aceh sudah mendaftarkan calonnya,” Ihsan setengah bercanda. Ihsan dan beberapa temannya sedang mengobrol di ruang konferensi pers, Media Center.

Mereka yang memburu deadline mulai pasrah. Sebentar-sebentar melihat jam di tangan.

“Sudah pukul 1 lebih,” teriak Anshari dari sebelah. Ternyata Anshari hanya bercanda. Memang, jarum jam di dinding kantor Media Center menunjuk pada angka 1 lewat 10 menit. Ketika dipelototi, jarumnya tak bergerak. Jam itu mati. [Fiek]

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far