02 November 2012

Semalam di Singapore (1)

Sebagai salah seorang pendukung, wajar Aku shock saat MU menjadi bulan-bulanan Barcelona dalam laga final Liga Champions di Olimpico, Roma, Kamis (28/05/2009) dinihari. Malah, sejak MU kalah 1-0 pada babak pertama, Aku terlihat bengong dan tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Tak bersemangat. Rokok A Mild tak henti-hentinya Aku hisap, sampai-sampai kawan di sampingku ngomel, “Cerutu pun tak enak lagi kalo dihisap.” Aku tetap diam.

Pulang dari nonton bola tersebut, Aku jatuh sakit. Badanku panas dan langsung tertidur. Ketika bangun sudah agak sore, kepalaku pusing, dan meminta seorang kawan memberitahu ke kantor bahwa Aku tak masuk kerja. Aku jatuh sakit. Seorang kawan di kantor, bahkan sampai menulis posting di blognya.

Daripada tidak melakukan apa-apa, aku kemudian menulis kisah saat pergi ke Singapore, beberapa waktu lalu menggunakan Handphone. Apalagi belakangan Aku jarang menulis, sehingga blog ini sudah beberapa hari dibiarkan kosong tak terisi.

Tanggal 1 Mei 2009, Aku dan seorang teman, Teuku Irwani, pergi ke Singapore. Teuku Irwani atau biasa kami panggil Popon, sedang mengambil kuliah di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Pun demikian, dia belum sekali pun pergi ke Singapore, meski hasrat untuk berangkat sudah lama tertanam. Jadi, bagi kami berdua, kepergian ke negeri Singa tersebut merupakan yang pertama kali.

Niat kami sudah bulat, ingin berlibur dan melihat dari dekat negeri Singa.

Aku sendiri sudah jauh hari merencanakannya jika sudah tiba di Malaysia, selain ke Thailand, tentunya. Setelah menyiapkan segala keperluan jadilah kami berangkat, dengan pengetahuan tentang Singapore yang sama-sama nol.

Sejak tanggal 29 April 2009 kami memesan tiket kereta api di stasiun KL Sentral. Sengaja kami memilih kereta api, bukan bus atau pesawat, karena ingin menikmati perjalanan, termasuk melihat suasana di sepanjang jalur kereta api. Selain itu harga tiket juga murah, hanya RM 66 untuk pulang-pergi. Namun, semua kursi sudah penuh, akhirnya kami dapat jatah berangkat tanggal 1 Mei, pukul 14.40.

Pukul 13 lewat kami sudah berada di Stasiun Kajang. Di tiket tertera kami berangkat pukul14.40. Karena masih lama, kami memilih mengisi perut dulu di warung milik orang India, tak jauh dari stasiun.

Karena dari pagi Aku tak makan, Aku juga memesan makanan, meski tak begitu suka dengan makanan mereka. Oh ya, selama di Malaysia Aku lebih sering makan Tomyam, yang cita rasanya sama dengan kuah asam keueng di Aceh. Selesai mengisi perut di situ, kami kembali ke stasiun, dan menunggu kereta yang akan membawa kami ke Singapore.

Bersantai di kawasan Esplanade
Tepat pukul 14.40, kereta yang ditunggu pun tiba. Aku dan Popon mencari tempat duduk seperti tertera di tiket.

"Tanyoe ka jadeh tajak u Singapore," Popon membuka pembicaraan. Aku sendiri larut dalam bayangan tentang kota Singapore.

"Kita belum ke Singapore. Setelah paspor kita ada cap Singapore baru boleh kita bilang sudah ke Singapore." Aku menjawab singkat.

Di dalam kereta api itu, kami larut dalam pikiran masing-masing. Sesekali Aku tersenyum bercampur heran.

"Benarkah aku ke singapore?" gumamku dalam hati. Sesekali Aku mencubit lengan sendiri, untuk membuktikan bahwa Aku sedang tak bermimpi.

Lengan yang kucubit terasa sakit, berarti benar Aku sedang tak bermimpi. Aku juga meminta sang kawan untuk mencubitnya, dan memang benar ada rasa sakit.

Sepanjang perjalanan, Aku hanya melihat perkebunan sawit yang membentang luas. Sepintas jalur kereta api itu mirip dengan jalan di Tamiang yang dipenuhi kebun sawit. Ternyata, masih banyak areal perkampungan dan minim penghuni di negeri yang mengklaim Asia yang sebenarnya. Di sebagian tempat Aku lihat sedang berbenah, dan sejumlah bangunan pencakar langit sedang dibangun.

Aku sangat menikmati perjalanan selama 9 jam ke Singapore tersebut. Banyak daerah yang bisa dilihat meski hanya melalui jendela kereta api. Tapi di situlah letak indahnya. Setiap tiba di stasiun, kereta selalu berhenti. Ada yang turun dan banyak penumpang baru yang naik. Kondisi tersebut mengingatkan saya pada perjalanan dari stasiun Pasar Turi, Surabaya ke Jakarta yang juga via kereta pada 2002 silam. Bedanya, jika di kereta api dari Surabaya setiap berhenti tak hanya penumpang baru yang bertambah, melainkan juga pedagang. Selain itu, karena penumpang yang selalu bertukar, bau di dalam kereta juga bervariasi. Umumnya memang tak sedap. Kita tak bisa melakukan protes, karena salah sendiri pesan tiket kelas ekonomi.

Ketika tiba di Johor sekitar pukul 21.00 lewat, kereta yang membawa kami berhenti, karena ada pemeriksaan imigrasi dari Malaysia. Hatiku sempat gelisah dan deg-degan juga.

Imigrasi adalah tempat yang paling Aku benci setiap kali bepergian. Mereka suka bertanya aneh-aneh, dan merasa bahwa Negara mereka adalah hebat. Dan menganggap pendatang seperti budak yang mencari pekerjaan di negeri mereka. Namun, rasa deg-degan langsung hilang, karena yang memeriksa parporku adalah seorang cewek Melayu. Dia berkerudung, kulitnya hitam manis. Suaranya juga lembut dan sopan. Sambil dia membolak-bolak paspor, Aku asyik memandang wajah anggunnya. Duh betapa cantiknya anak melayu itu.

“Kartu imigrasi mana?” tanyanya kemudian. Aku bengong. “Kartu imigrasi apalagi?” tanyaku dalam hati. Namun, dalam sekejab, Aku teringat, bahwa ada kartu yang sudah Aku pisahkan dari paspor. Kebetulan saja, kartu itu masih ada di tas, kalau tidak ada pasti jadi masalah. Pemeriksaan itu tak berlangsung lama. Mereka juga tak memberi cap di paspor, hanya menggunakan tulisan tangan.

Setelah selesai semuanya, kereta api kemudian melanjutkan perjalanan. Namun, menurut petugas di kereta api, 10 menit lagi, kereta akan berhenti karena ada pemeriksaan dari imigrasi Singapore.

Tak lama kemudian, kereta api pun berhenti di stasiun Johor Bahru. Semua penumpang turun dan masuk ke imigrasi Singapore. Aku mencari loket untuk pasport internasional dan mencari yang ada ceweknya. Karena biasanya mereka lebih manusiawi dan sopan serta tak banyak ulah.

Sambil menunggu antrian, Aku sempat berbisik sama kawan, bahwa perasaanku tak enak. Dia diam saja. --->Bersambung

NOTE: Posting ini awalnya berjudul Menguji Mr. P. Karena pertimbangan etika dan kepantasan, serta menghindari teguran dari mbah Google, saya terpaksa mengganti dan memposting ulang tulisan lawas ini dengan memberi judul baru Semalam di Singapore.

Artikel Terkait