01 June 2013

Media, Tubuh Telanjang dan Gitar

Saya ingin ajukan dua pertanyaan saja: Pertama, Apakah anda sering menonton infotainment? Wajah siapakah yang paling sering anda lihat belakangan ini di TV? Saya yakin, kita akan serentak menjawab: Arya Wiguna! Ya…salah satu ‘murid’ Eyang Subur ini belakangan menggantikan gurunya dalam hal tampil di infotainment. Dari pagi sampai pagi lagi ya wajah-wajah dia terus yang kita lihat. Anda bosan, bukan?

Kedua, Apakah anda pernah menonton Mata Najwa atau program televisi yang mencerahkan lainnya, seperti Indonesian Lawyer Clubs, Dialog di TVRI? Jawabannya pasti beragam: ada yang menonton, ada yang tidak. Apa yang membedakan program-program acara ini dengan berita infotainment tentang Arya Wiguna? Yang pertama mungkin kita menjadi bosan, sementara yang kedua kita merasa memperoleh manfaat dan tak sabar menanti tema-tema menarik lainnya, bukan?

Saya teringat dengan perumpamaan yang ditulis Bill Kovach dan Tom Rosentiel, penulis The Element of Journalism dan Blur. Mereka membuat perumpamaan tentang media yang mencerahkan dan media yang suka melebih-lebihkan serta kerap membuat sensasi. Mereka menyebutnya dengan prinsip Tubuh Telanjang dan Gitar.

Jika anda ingin menarik audiens, anda bisa pergi ke ujung jalan, copot pakaian, dan bertelanjanglah. Persoalannya kemudian, kata Kovach, bagaimana kita akan mempertahankan audiens ini?

Saya yakin, orang-orang akan berbondong-bondong menonton aksi telanjang ini. Pelakunya pasti dicap sebagai orang yang tak bermoral, atau kurang waras.

Bandingkan, misalnya, tulis Kovach, dengan orang yang bermain gitar. Pergi ke ujung jalan yang sama dan mainkan gitar. Awalnya mungkin yang mendengar anda tidak seberapa. Di hari pertama orang yang menonton pasti membuat anda kecewa, tapi di hari kedua pasti akan bertambah, ini juga sangat bergantung pada seberapa bagus anda memainkan gitar dan lagu-lagu yang anda bawakan.

Jika anda bermain cantik dan lagu anda menarik, penonton akan semakin bertambah, tidak pernah berkurang. Kita juga tak perlu repot mencari penonton baru untuk menggantikan penonton yang bosan.

Kondisi ini pasti kita rasakan. Saat teknologi semakin canggih, media pun bertambah, tapi pembaca terus menyusut. Ada yang serius, ada yang setengah hati. Ada yang mengusung liputan mendalam, tak sedikit pula yang mengeksploitasi sensualitas perempuan. Pertanyaan yang patut diajukan kemudian, seperti kata Bill Kovach, bagaimana media mempertahankan pembacanya?

Kita tahu, banyak media-media mapan di luar negeri banyak berguguran, termasuk Newsweek akhir tahun lalu, karena tak mampu menjaga oplah yang terus menyusut, selain pendapatan dari iklan terus berkurang. Media-media yang tak siap menghadapi kondisi ini, ya akan terpuruk dan tenggelam. Hanya sedikit yang bakal selamat.

Kita patut mengajukan lagi pertanyaan penting ini: apa yang dicari seorang pembaca? Ini perlu dikaji oleh media. Masing-masing audiens memiliki minat yang berbeda-beda terhadap berita. Ada yang meminati berita politik, ada yang meminati ekonomi, hukum dan kriminal. Ada yang menyukai berita olahraga, teknologi dan otomotif. Bagaimana media memuaskan minat orang-orang seperti ini?

Ada yang cepat belajar dari kondisi yang berubah ini. Mereka segera berusaha menyajikan informasi dengan penyajian menarik, di antaranya dengan penulisan narasi dan features. Jika media online memanfaatkan kecepatan, maka media cetak berusaha menjadi lebih mendalam. Untuk menarik penonton atau pembaca, ada yang memanfaatkan cara instan dengan mengumbar gosip murahan; ada yang mementingkan informasi yang menarik dan diminati.

Namun, perumpamaan Tubuh Telanjang dan Gitar itu patut direnungkan, yaitu bagaimana kita mempertahankan pembaca? Ini yang lebih penting, saya kira. []

Artikel Terkait