06 July 2013

Gaya Komunikasi Orang Amerika

Amerika Serikat baru saja merayakan hari kemerdekaannya (yang ke berapa ya?) pada 4 Juli lalu. Jadi, tak ada salahnya jika saya berbagi sedikit tipe komunikasi orang Amerika. Menurut saya, mereka cenderung berbicara to the point (berterus-terang dan langsung ke inti masalah). 

Sebelumnya saya mau cerita dulu kisah yang saya peroleh dari pidato pengukuhan Prof Dr Darni Daud sebagai guru besar Fakultas Kejuruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah, 30 Januari 2010 silam. Kisahnya saya kira menarik. Yuk, simak dulu:

Pada tahun 1989, cerita Darni, dia dan bersama teman-teman untuk pertama kali menginjak kaki di negeri kanguru, Australia, sebagai karyasiswa di University of Sydney. Suatu ketika, kata Darni, seorang profesor mengundang sekitar 30-an mahasiswa Indonesia, dan Thailand untuk dinner (makan malam) bersama di rumahnya. Malam itu kebetulan cuaca cukup dingin dan gerimis. Namun, ketika acara makan yang cukup santai itu dimulai, tiba-tiba salah seorang teman dari Indonesia mengacungkan tangan sambil berucap dalam Bahasa Inggris yang berdialek kaku (mungkin karena belum begitu fasih), “Excuse me sir, I want to go to the back.”

Di luar negeri, seperti kita lihat di film-film, tuan rumah sering bertindak menjadi pelayan yang ramah. Jika saat bersantap makan di meja makan, jika sang tamu tiba-tiba berdiri, tuan rumah pasti akan langsung berdiri. Ini mungkin dimaksudkan untuk menghargai sang tamu atau mencoba bersikap sopan-santun kepada tamu.

Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Profesor tadi. Meski raut muka penuh keheranan langsung mengantar si tamu itu ke halaman belakang. Entah apa yang terjadi dengan sang tamu di belakang rumah, tak ada yang tahu. Setelah beberapa menit, sang tuan rumah kemudian kembali untuk bergabung kembali dengan tamu yang lain dan melanjutkan makan bersama. Kemudian, beberapa di antara para undangan itu memberi tahun sang Profesor bahwa yang dimaksud teman tadi bukan mau ke halaman belakang, melainkan ke toilet.

Si teman tadi, mungkin menerjemahkan bahasa Inggris itu dari kalimat “Maaf, saya mau ke belakang,” yang dalam konteks budaya kita dimaksudkan untuk bersikap sopan, daripada mengatakan, “Maaf, saya mau buang air kecil.” Mereka pun tertawa geli. (jak lom)

Komunikasi antar budaya itu penting. Sebab, salah-salah dalam komunikasi bisa memicu perang. Makanya, kita harus memahami dan mempelajari budaya orang lain, sehingga tak muncul kesalahpahaman, terutama dalam hal-hal sepele. Saya ingin tunjukkan satu lagi contoh bagaimana posisi komunikasi antarbudaya. Contoh bisa anda temukan di buku Komunikasi Antar Budaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda Budaya (Deddy Mulyana, Jalaluddin Rakhmat (ed), 1996). Berikut cuplikannya:

Dikisahkan, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dan Presiden Meksiko Adolf Lopez Meteos bertemu di Meksiko tahun 1962. Ketika mengendarai mobil Kennedy memperhatikan jam tangan Presiden Meksiko. Kennedy pun memuji Lopez: “Betapa indahnya jam tangan Anda.” Lopez segera memberikan arlojinya kepada Presiden Amerika seraya berkata, “Jam tangan ini milik Anda sekarang.”

Kennedy merasa malu karena pemberian itu. Ia berusaha menolaknya, namun Presiden Meksiko menjelaskan bahwa di negerinya ketika seseorang menyukai sesuatu, sesuatu itu harus diberikan kepadanya—Kepemilikan adalah masalah perasaan dan kebutuhan manusia bukan milik pribadi. Kennedy terkesan karena penjelasan itu dan menerima arloji itu dengan rendah hati. Tak lama kemudian, Presiden Lopez berpaling kepada Presiden Amerika dan berkata: “Aduh, betapa cantiknya istri Anda.” Dijawab oleh Kennedy: “Silakan ambil kembali jam tangan anda.”


Bayangkan bagaimana rumitnya sebuah komunikasi dengan orang dari budaya yang berbeda. Mungkin yang dimaksud Presiden Kennedy benar-benar memuji jam tangan, tak bermaksud lain. Tapi, namanya komunikasi dengan orang berbeda budaya, sangat rawan terjadinya salah pengertian. Di negara kita saja yang memiliki suku bangsa berbeda-beda, kesalahpahaman sangat sering terjadi. Sehingga untuk memahami budaya suatu daerah sangatlah mutlak kita harus berinteraksi dengan orang dari kebudayaan itu dalam rentang waktu cukup lama. Tak bisa hanya ketika mendekati musim pemilu saja.

Oh ya, sudah melebar kemana-mana. Yang mau saya sampaikan, kita harus salut dengan gaya komunikasi orang Amerika. Mereka sangat terbuka dan berterus terang. Saya sih belum pernah pergi ke Amerika (mungkin suatu saat saya akan pergi), tetapi saya pernah berinteraksi dengan mereka ketika sempat terlibat dalam proyek mereka di Aceh. Saya perhatikan, mereka maunya berterus terang dan tidak suka dengan alasan yang bertele-tele.

Saya membaca dalam sebuah buku, Secret of Power Negotiating (Rahasia Sukses Seorang Negosiator Ulung), Roger Dawson, menulis bahwa orang Amerika itu sangat terus-terang. Menurutnya, orang-orang Amerika dapat mengatakan dalam beberapa kata apa yang oleh negara lain, terutama orang Inggris, memerlukan banyak kata untuk menyatakannya. Orang Inggris mungkin berjalan ke luar pintu depan pada suatu pagi hari dan berkata, “Sungguh hari yang luar biasa! Saya gembira karena keindahan pagi ini!”. Sebaliknya orang Amerika akan berkata, “Hari yang luar biasa!” dan ini mempunyai arti yang sama dengan yang dimaksud oleh orang Inggris.

Dawson juga bercerita saat mengikuti sebuah briefing pers selama perang Teluk. Pegawai kantor informasi Inggris mengumumkan kepada pers seperti ini: “Saya merasa sangat senang melaporkan bahwa kita tengah membahas rencana pertempuran kita dan jika boleh saya katakan, kita sedikit lebih cepat dari yang direncanakan. Lagipula saya tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa saya percaya kita akan tetap lebih cepat dari rencana.” Sementara pegawai kantor informasi Amerika akan berdiri dan dengan seringai di wajahnya ia akan berkata, “We are kicking butt” (Kita unggul). Kalau diperhatikan maksud dari kedua pernyataan di atas memiliki arti yang sama. Selamat merayakan kemerdekaan 4 Juli. Semoga makin bijak!

Artikel Terkait