31 August 2013

[7 Wonders] Nuansa Aceh di Dusun Sade

Saya belum pernah berkunjung ke Dusun Sade, Desa Rambitan, Pujut, Lombok Tengah. Dusun yang berada di tepi jalan raya Praya-Kuta itu berjarak 30 kilometer dari Kota Mataram. Informasi yang saya peroleh, Sade merupakan perkampungan suku Sasak, suku asli Lombok, yang memegang teguh budaya asli, termasuk dalam hal mendirikan bangunan.

Dusun ini sangat mudah dikenali, terutama oleh wisatawan asing, karena kontruksi bangunannya yang khas, yaitu rumah adat berjejer yang sering disebut Bale Tani, yaitu rumah dengan 2 lantai yang berdinding ayaman bambu, beratap alang-alang, tiang penyangga dari bambu. Agar pondasi bangunan lebih kuat, mereka mencampur bahan material pembuat lantai dengan kotoran sapi atau kerbau.

Uniknya, semua rumah di dusun ini hanya memiliki satu pintu, yaitu pintu muka, satu-satunya jalur keluar-masuk rumah. Bagi mereka ini bermakna, hidup memiliki aturan tunggal yang tak boleh dilanggar. Selain itu, pintu dan rumah mereka juga dibuat rendah, setinggi dada orang dewasa. Siapa pun tamu yang ingin masuk ke dalam rumah dia harus menunduk, sebagai bentuk penghormatan terhadap pemilik rumah.

Ini mengingatkan kita pada bentuk rumah tradisional Aceh yang pintunya dibuat rendah. Untuk bisa mencapai pintu, tamu yang ingin masuk ke dalam rumah orang Aceh harus melewati tangga yang rata-rata memiliki 6 anak tangga. Ini melambangkan, siapa pun yang ingin menaklukkan orang Aceh tidak mudah, harus melewati kerja keras. Begitu mencapai pintu, dia harus masuk dengan kepala menunduk, saking rendahnya bentuk pintu.

Sementara di rumah suku Sasak juga ada tangganya. Dulu, jumlah anak tangganya tiga, sesuai kepercayaan nenek moyang mereka, Welu Telu, yang bermakna hidup manusia melalui tiga tahapan: lahir, berkembang, dan mati. Ketika Islam masuk ke Sade, Welu Telu itu sering dimaknai sebagai waktu Salat yang hanya tiga kali sehari, atau disebut juga Islam Welu Telu, yaitu ajaran Islam yang telah berasimiliasi dengan keyakinan Hindu dan animisme nenek moyang Sasak. Belakangan, seiring pemahaman terhadap Islam yang semakin terbuka, mereka menambahkan anak tangga menjadi lima, melambangkan Salat lima waktu. Namun, anak tangga keempat dan kelima pun bukan langsung ditambahkan, melainkan setelah diberi lantai kecil. Konon, untuk menghormati adat leluhur.

Dari sisi pembagian rumah pun, orang Sasak mirip dengan orang Aceh. Rumah mereka dibagi dua, yakni bale dalam dan bale luar. Ruangan bale dalam adalah ruang yang lebih pivat, dilengkapi amben untuk tidur dan dapur berisi perlengkapan alat-alat memasak, sedangkan bale luar adalah ruang tamu dengan pintu bergeser. Ini hampir mirip dengan kontruksi rumah Aceh, ada seuramoe, rambat dan rumoh inong. Bagi para tamu biasanya hanya bisa menempati seuramoe, sementara rumoh inong khusus untuk pemilik rumah, ruang yang tak boleh dilanggar.

Fakta-fakta tersebut membuat saya bertanya-tanya, apakah ada hubungannya antara orang Sasak dengan orang Aceh? Memang jika dibuka lembaran sejarah, ada orang Sasak yang dibuang ke Aceh, yaitu Guru Alim, Said Alkadri, Guru Alkalimin dari Paek dan Mamiq Ormat dari Jerowaru. Mereka dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di Jerowaru dan anti Belanda.

Dalam Babat Perang Praya, disebutkan Belanda menganggap mereka sebagai sosok berbahaya dan berpotensi mengobarkan perang Jerowaru melawan kekuasaan Belanda. Belanda pun memilih menangkap mereka, yaitu Guru Alim, Guru Alkalimin, dan Mamiq Ormat. Ketiganya kemudian diasingkan ke Batavia sekitar akhir tahun 1896, dan selanjutnya dikirim ke Aceh. Sementara Said Alkadri berhasil lolos dari upaya penangkapan, dengan berangkat ke Sumbawa menyamar sebagai penjual rotan.

Di Aceh para tawanan ini digunakan sebagai tameng Belanda melawan orang Aceh. Karena tahu yang mereka hadapi adalah pejuang Aceh yang juga beragama Islam, mereka pun memilih tidak ikut dalam penyerangan. Bahkan, Mamiq Ormat, belakangan bergabung dengan pejuang Aceh. Dia akhirnya tewas tertembak oleh pasukan Belanda, dan dikuburkan di Aceh. Di Aceh, namanya dikenal dengan sebutan Pemban Ilang Aceh.

Mungkin inilah fakta sejarah yang bisa jadi ada hubungan historis antara Aceh dengan kampung Sade di Lombok. Apalagi, kata ‘Bale’ yang dikenal sebagai rumah di Sade, juga merupakan sebuah suku kata di Aceh, yaitu Bale untuk menyebut balai. Bisa juga kosa kata itu pengaruh Bali, yang juga rada-rada mirip dengan logat Aceh. Tak percaya? Dengarkan cara pengucapan orang Bali atau Aceh terhadap kata yang ada huruf 'T'nya. Senang rasanya bila suatu saat bisa berkunjung ke Sade. [dari berbagai sumber]

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far