10 October 2013

Kantor Pos yang Terlupakan

Siapa yang masih ingat kapan terakhir kali ke kantor pos? Pasti pada lupa kan. Iya lah, sejak era SMS, pager, email hingga facebook dan twitter dewasa ini, kita menjadi lupa dengan kantor pos. Padahal, sebelumnya, saat dunia surat-menyurat masih jadi trend, kita nyaris saban hari ke kantor pos. Kita pun selalu menanti tukang pos, apakah ada surat terbaru untuk kita atau tidak? Saat itu, alamat adalah sesuatu yang amat sangat penting, yang belakangan ini perannya digantikan oleh alamat email, akun facebook atau twitter. Ketergantungan kita pada pos berangsur-angsur berkurang, kecuali jika ada urusan maha penting, yang mengharuskan kita berurusan dengan pos.

Masing-masing kita tentu saja memiliki pengalaman berbeda dalam berurusan dengan kantor pos. Ada yang berhubungan langsung ke kantor atau melalui kotak pos. Saya masih ingat, dulunya, di tiap sekolah tersedia sebuah kotak pos yang posisinya di dekat pagar masuk sekolah. Setiap siswa yang mau mengirimkan suratnya, bisa langsung memasukkan dalam kotak tersebut. Syaratnya, surat yang hendak dikirimkan sudah harus ditempeli peranko. Jika tidak ada perangko, surat kita akan dikembalikan ke alamat seperti tertera di surat.

Saya termasuk paling sering menggunakan jasa kantor pos. Sejak di bangku sekolah menengah atas, saya memanfaatkan jasa pos untuk mengirim puisi dancerpen ke kantor media. Maklum, dulu belum booming email. Komputer saja masih menjadi barang mewah. Jadi, segala kepentingan surat menyurat, terpaksa menggunakan jasa pos. Jika ingin puisi atau cerpen kita yang tak dimuat dikirim balik, kita harus mengirimkan perangko balasan bersama isi kiriman kita. Soalnya, dulu kita masih menggunakan mesin tik untuk mengetik cerpen atau puisi, dan tidak ada pertinggalnya (kecuali kita foto-copy). Jika tak dimuat, hilanglah karya kita, tanpa pertinggalnya, kecuali kita melampirkan perangko agar karya kita dikembalikan.

Selain untuk kepentingan mengirim tulisan ke media, saya memanfaatkan jasa pos untuk tujuan korespondensi dengan teman-teman lain di seluruh Indonesia, yang sering disebut dengan Sahabat Pena. Tak sulit menemukan teman baru, karena di setiap buku Lembar Kerja Siswa (LKS) di sampul belakangnya biasanya ada daftar sahabat pena lengkap dengan alamatnya. Dulu mencari teman baru itu sangat susah, beda dengan sekarang, di mana teman baru sangat mudah didapat berkat Facebook atau Twitter. Berkirim surat dengan sahabat pena saat itu adalah aktivitas yang menyenangkan.

Banyak manfaat yang kita dapatkan. Misalnya, kita berlatih mengungkapkan pendapat melalui tulisan, bagaimana menulis pesan secara efektif yang mudah dipahami, juga berlatih menulis tangan dengan bagus. Malu kalau mengirim surat dengan tulisan tangan mirip cakar ayam. Alhamdulillah, baru sekarang saya mendapatkan manfaat dari aktivitas yang dulu hanya sekedar iseng belaka, mungkin.

Nah, beberapa pengalaman itu yang kembali teringat saat tahu bahwa hari ini, Rabu (9/10) diperingati sebagai Hari Pos Internasional. Terus terang, saya merasakan banyak sekali manfaat dari keberadaan kantor. Selain beberapa pengalaman yang saya tulis di atas, saya juga sering menerima kiriman wesel melalui pos. Tiap mendapat kiriman wesel, saya selalu ke kantor pos untuk mencairkannya. Bagi siswa seperti saya, itulah moment yang paling membahagiakan.

Bagaimana dengan sekarang? Terus terang, sebulan sekali belum tentu saya sempat ke kantor pos. Segala aktivitas saya saat masih duduk di bangku sekolah sekarang sudah digantikan oleh facebook, twitter dan email. Saya juga baru sekali mencairkan kiriman uang via Western Union di kantor pos. Saat masih berlangganan TV Kabel tiap bulan saya ke kantor pos untuk melakukan pembayaran. Itu pun sudah lama sekali.

Lalu, kenapa tanggal 9 Oktober diperingati sebagai Hari Pos Internasional? Setidaknya, ada dua moment, kenapa tanggal tersebut diperingati sebagai hari pos internasional. Pertama, pada 9 Oktober 1974, di Bern, ibukota Swiss berdiri Universal Postal Union (APU). Kedua, APU mengadakan kongres di Tokyo, Jepang pada 1969. Dalam kongres tersebut, menghasilkan sebuah rekomendasi penting: menetapkan 9 Oktober (tanggal kelahiran APU) sebagai Hari Pos Internasional.

Bagaimana dengan Indonesia? Kapan pertama kalinya berdiri kantor pos? Untuk urusan ini, sekali lagi kita harus berterima kasih pada Kolonial Belanda (VOC). Adalah Gubernur Jenderal GW Baron van Imhoff yang pertama kali mendirikan kantor pos di Indonesia yang dulu masih bernama Hindia Belanda, yaitu pada 26 Agustus 1746. Selain untuk kepentingan surat-menyurat pejabat kolonial, keberadaan kantor pos saat itu juga bertujuan untuk menjamin keamanan surat-surat penduduk (termasuk melakukan kontroling atas isi surat, tentunya).

Selamat memperingati Hari Pos Internasional, semoga keberadaan kantor pos semakin bermanfaat di tengah kehidupan yang kian berubah. Semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan kembali jasa kantor pos. []

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak