07 July 2014

Mendamaikan Masa Lalu

(Resensi Novel Napoleon dari Tanah Rencong)

Sejarah sering tak boleh memilih tafsirnya sendiri. Sebuah ungkapan klasik yang cukup terkenal menyebutkan: the history written by the general winning. Sejarah ditulis oleh jenderal yang menang perang. Tak berlebihan kalau disebutkan, penulisan sejarah amat sangat rawan untuk diselewengkan. Ia mengikuti kehendak si penulis yang sering kali mencoba memahami sejarah menurut sudut pandang dirinya sendiri.

Ini hampir terjadi pada sejarah tokoh mana pun. Adolf Hitler yang berkuasa di Jerman selama Perang Dunia II begitu didewakan oleh pengikut dan pengagumnya. Hanya tiga tahun berkuasa, Ia hampir menaklukkan seluruh daratan Eropa andai tak melakukan kesalahan kecil: menyerang Uni Sovyet. Kesalahan itu harus dibayar mahal, membuatnya menjadi pesakitan dan pecundang di masa-masa setelah itu. Musuh-musuhnya menganggap Hitler tak lebih sebagai sosok pemimpin yang gila.
Judul: Napoleon dari Tanah Rencong
Pengarang: Akmal Nasery Basral
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan Pertama: Juni 2013
Tebal: xx+514 halaman
ISBN:978-979-22-9620-4
Napoleon Bonaparte boleh saja dipandang sebagai pahlawan oleh orang Perancis karena keberhasilannya menguasai daratan Eropa, tetapi bagi penduduk daerah taklukannya, Napoleon hanyalah seorang agresor kejam. Begitu pula dengan Genghis Khan, penakluk terhebat sepanjang sejarah. Di masa hidupnya, pemilik nama Temuchin ini sangat diagungkan oleh para pengikutnya. Tapi apa yang terjadi? Genghis Khan tenggelam dalam sejarah dan dianggap sebagai seorang penakluk bengis yang pernah ada.

Novel Napoleon dari Tanah Rencong
Demikianlah sejarah. Seseorang yang dipandang terhormat dan pahlawan oleh suatu kelompok/negara, sering kali dianggap sebagai musuh oleh kelompok lain. Seorang tokoh besar yang disebut pahlawan dalam masa-masa tertentu boleh jadi hanya menjadi pesakitan dan pecundang pada masa sesudahnya. Akibatnya, pahlawan dan pecundang sering bertukar tempat, tergantung dari sudut mana sosok tersebut dipandang. Begitulah siklus kehidupan.

Ini juga terjadi dalam sejarah Aceh. Sebagai daerah dengan perjalanan sejarah yang panjang, Aceh memiliki banyak pahlawan dan pecundang sekaligus. Teuku Umar mungkin akan selamanya dianggap sebagai pengkhianat oleh Belanda. Namun, bagi rakyat Aceh dan Indonesia umumnya, Teuku Umar adalah pahlawan. Ia melawan dan sukses menipu Belanda. Sultan Iskandar Muda bisa saja dipandang sebagai agresor oleh penduduk di semenanjung Melayu serta beberapa wilayah di Sumatera, tetapi bagi masyarakat Aceh, Iskandar Muda adalah seorang sultan agung dan terhebat yang pernah memerintah kerajaan Aceh.

Sosok pahlawan dan pecundang (bahkan pengkhianat) juga segera kita temui dalam sejarah Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh dengan aktor utama Teungku Mohammad Daud Beureu’eh dan Hasan Saleh cs. Percikan-percikan pertengkaran antara pengikut Daud Beureu’eh dan Hasan Saleh masih terasa hingga sekarang. Hal ini misalnya mewujud pada politik labeling terhadap Hasan Saleh dan pengikutnya sebagai pengkhianat atau pihak yang mengkhianati perjuangan Teungku Daud Beureu’eh. Langkah Hasan Saleh itu dipandang sebagai pintu yang mengakhiri pemberontakan DI/TII di Aceh.

Sejak itu (bahkan hingga sekarang) nama Hasan Saleh ini sering diasosiasikan dengan pengkhianatan. Label ini muncul mulai akhir era DI/TII dan terus menggelinding hingga Dr Hasan Muhammad di Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 1976. Pelabelan sebagai Hasan Saleh (baca: pengkhianat) dilakukan setiap pengikut gerakan ini kepada siapa pun yang melakukan desersi, menyerah atau membantu musuh GAM.

Hubungan Hasan Saleh dan Hasan Tiro memang tak pernah mesra. Ketika Hasan Tiro masih belajar di Amerika Serikat, Hasan Saleh terus menerus mendesak Daud Beureu’eh agar tidak terlalu percaya dengan omongan-omongan Hasan Tiro yang terus meminta dana untuk proses pembelian senjata di luar negeri, sementara dalam kenyataannya senjata-senjata tersebut tak pernah dikirimkan.

Hasan Saleh yang diperintah oleh Wali Negara DI/TII Daud Beureu’eh untuk menjemput senjata yang dikirim oleh Hasan Tiro melalui sebuah pelabuhan nelayan di Aceh Timur dipandang hanya bohong belaka. Hasan Saleh yang menunggui kapal pembawa senjata  bersama pasukannya harus pulang dengan tangan kosong. Peristiwa kedua, saat Hasan Tiro menjanjikan pengiriman senjata melalui pesawat udara. Ini juga tidak pernah terjadi. Senjata yang dijanjikan dikirim oleh Hasan Tiro tak pernah sampai kepada gerilyawan DI/TII di Aceh.

Kejadian-kejadian tersebut semakin membuat Hasan Saleh tak memercayai cucu pahlawan Teungku Chik di Tiro tersebut. Menurutnya, Hasan Tiro hanya seorang pembual. Pengalaman-pengalaman tersebut ditulis Hasan Saleh dalam buku Mengapa Aceh Bergolak terbitan Grafiti Press (1992). Peristiwa dan kisah-kisah perjuangan Hasan Saleh dalam buku tersebut, kemudian dapat kita temui dalam novel Napoleon dari Tanah Rencong dengan versi yang lebih panjang. Boleh dibilang, novel Napoleon dari Tanah Rencong lebih menyerupai versi fiksi buku Mengapa Aceh Bergolak.

Terkait label pengkhianat, ada beberapa nama yang tak bisa dipulihkan dari noda sejarah Aceh, seperti Panglima Tibang dan Habib Abdurrahman Az Zahir. Selamanya orang-orang ini akan disebut sebagai pengkhianat Kesultanan Aceh dalam buku-buku sejarah yang ditulis di kemudian hari. Label ini pula yang sepertinya hendak disematkan pada sosok Hasan Saleh oleh orang-orang yang membencinya.

Saya kira perbedaan sudut pandang dalam melihat sosok Hasan Saleh itu pula yang membuat sang penulis novel Napoleon dari Tanah Rencong, Akmal Nasery Basral, agak sedikit berhati-hati. Ia pun kemudian harus mencari banyak referensi lain termasuk riset lapangan ketika menulis novel tersebut. Pasalnya, peristiwa DI/TII Aceh sudah banyak diulas para penulis, di antaranya Pemberontakan Kaum Repulik: Kasus Darul Islam karya Nazaruddin Sjamsuddin, Kemelut Demokrasi Liberal karya Boyd R. Compton, juga Daud Beureu’eh dan Peranannya dalam Pemborantakan Aceh karya M Nur El Ibrahimy.

Untuk mendapatkan gambaran yang lengkap, penulis yang sudah banyak menghasilkan novel tersebut, harus mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan mewancarai sejumlah narasumber yang dianggap mengetahui sejarah seputar DI/TII Aceh. Langkah itu, diakuinya, terpaksa dilakukan karena pandangan rakyat Aceh terhadap Hasan Saleh terbelah. Ada yang melihatnya sebagai pahlawan, karena rakyat Aceh sudah lelah dan menderita dengan pertempuran di lapangan yang tak seimbang melawan pasukan TNI. Namun ada pula yang yang melihat sikap Hasan Saleh itu sebagai bentuk pengkhianatan, terutama dari pendukung setia Teungku Daud Beureu’eh. (xvii).

Bagi yang sudah pernah membaca buku Mengapa Aceh Bergolak, segera akan tersadar bahwa novel sejarah Napoleon dari Tanah Rencong ini bisa menjadi pelengkap buku tersebut. Sekilas tak ada sesuatu yang berbeda dari novel ini, kecuali beberapa kisah masa kecil Hasan Saleh sebagai bumbu pemikat cerita. Novel yang ditulis Akmal ini tak ubahnya seperti buku sejarah. Karena data-data yang ditulis dalam buku tersebut merupakan dokumen sejarah dan didapatkan dari riset mendalam, termasuk hasil wawancara dengan banyak pelaku sejarah. Praktis, jika tak ada kata ‘novelisasi’ di sampul depan, maka kita seperti membaca sebuah buku sejarah. Akmal sadar, dan secara sengaja menulis buku ini dalam format novel, karena beberapa pertimbangan. Pertama, diakuinya otoritas untuk menguji peristiwa sejarah tetap di tangan sejarawan yang memiliki kredibilitas teruji dan sudah diakui kepakarannya di dunia akademik.

Kedua, kisah hidup Hasan Saleh tak hanya menarik ditilik dari pengalaman tempurnya belaka. Kehidupannya sejak kecil dengan dua kakak dan seorang adik yang semuanya laki-laki dari tiga ayah berbeda yang dibesarkan seorang ibu, diakui Akmal juga sangat menarik dikaji (xix). Format novel, sebutnya, memiliki keluasaan ruang yang lebih memadai untuk menggambarkan Hasan Saleh dan pasang surut hubungannya dengan tokoh utama DI/TII Dauh Beureu’eh. Selain itu, unsur dramatis masih bisa ditambahkan dalam novel, sesuatu yang tak lazim ditulis dalam buku Biografi (xx).

Dewan Revolusi
Seperti disinggung di atas, sejarah kerap kali diselewengkan tergantung keinginan si penulis. Suatu peristiwa tak hanya melulu berdasarkan satu sudut pandang saja, melainkan ada cukup banyak sudut pandang, apalagi jika tersedia banyak tulisan tentang peristiwa-peristiwa tersebut. Dan salah satu masalah krusial yang meruncingkan pertentangan antara Daud Beureu’eh adalah seputar penyelesaian masalah DI/TII Aceh yang ditandai dengan lahirnya Dewan Revolusi.

Munculnya Dewan Revolusi ditanggapi beragam oleh pengikut dua kubu tersebut. Bagi pengikut Hasan Saleh dan teman-temannya seperti Hasan Aly, Ayah Gani dan Amir Husin Al Mujahid, apa yang dilakukan oleh Dewan Revolusi adalah upaya penyelamatan dan menghindarkan Aceh dari kehancuran total. Sementara bagi pengikut Daud Beureu’eh dan kemudian pengikut Hasan Tiro, apa yang dilakukan oleh Hasan Saleh dkk adalah pengkhianatan.

Munculnya Dewan Revolusi tak terlepas dari hubungan pertemanan antara Hasan Saleh dan Sjamaun Gaharu. Keduanya sama-sama pernah mengikuti pendidikan militer semasa pendudukan Jepang. Namun, sewaktu DI/TII meletus keduanya berada dalam sisi yang bertentangan. Hasan Saleh memilih desertir dan menjadi bagian dari DI/TII, sementara Sjamaun Gaharu menjadi Panglima Komando Militer untuk menumpas pemberontakan DI/TII pimpinan Daud Bereue’eh.

Bagi M Nur El Ibrahimy, apa yang dilakukan oleh Hasan Saleh merupakan bentuk pengkhianatan. El Ibrahimy dalam bukunya “Daud Beureu’eh dan Peranannya dalam Pergolakan Aceh” tak setuju jika langkah yang ditempuh oleh Hasan Saleh dipandang sebagai kudeta terhadap Daud Beureue’eh. M Nur El Ibrahimy berpendapat, selepas konspirasi pembentukan Dewan Revolusi, kekuasaan Daud Beureue’eh masih cukup besar dan terus memimpin pemberontakan. Menurutnya, langkah politik Hasan Saleh itu tak layak disebut kudeta.

Sementara Nazaruddin Sjamsuddin, menulis apa yang dilakukan oleh Hasan Saleh dkk merupakan bentuk antisipasi terhadap munculnya tanda-tanda bahwa Daud Beureue’eh mau menyerah. Sebagai seorang desertir, tentu tak mudah menghadapi penyerahan itu karena akan berhadapan dengan pengadilan militer. Hasan Saleh yang sadar posisinya bisa terancam seandainya Daud Beureu’eh menyerah, memilih jalan lain, merampas kewenangan mantan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo tersebut.

Percobaan Pembunuhan
Terlepas bagaimana masing-masing pihak memandang lahirnya Dewan Revolusi, tetapi di Aceh wacana yang dibangun oleh pengikut Daud Beure’eh lebih menguat. Malah, saat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dipimpin Hasan Tiro diproklamirkan, Hasan Saleh menjadi musuh yang harus dilenyapkan. Hasan Saleh dipandang sebagai sosok yang bisa menggagalkan keinginan Hasan Tiro tersebut, apalagi Hasan Saleh sangat mengenalnya dan mengetahui siapa saja tokoh DI/TII yang mendukung GAM. Pengetahuan yang dimiliki Hasan Saleh diyakini akan memudahkan pemerintah memburu Gerakan yang hendak memerdekakan Aceh tersebut.

Pengikut Hasan Tiro kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Hasan Saleh. Upaya pembunuhan itu gagal dilakukan, karena hanya mengenai kaki Hasan Saleh dan tidak sampai merenggut nyawanya. Namun, langkah memburu Hasan Saleh tak berhenti di situ. Berbagai upaya dilakukan, termasuk pembunuhan karakter. Siapa pun yang tak mendukung Gerakan Aceh Merdeka akan dicap sebagai pengikut Hasan Saleh. Padah tahap selanjutnya, upaya-upaya pembusukan terhadap tokoh GAM akan diberi label sebagai ‘lagee Hasan Saleh’ (seperti Hasan Saleh), sebuah ungkapan yang bukan dimaksudkan sebagai pujian.

Soal klaim siapa yang benar, itu bukan tugas kita memperdebatkannya. Hanya saja, memang sejarah selalu ditulis oleh pihak yang menang perang. Keberhasilan kelompok Hasan Saleh memperjuangkan kembali Provinsi Aceh melalui Ikrar Lamteh tentu saja dipandang secara positif. Hasan Saleh dielu-elukan sebagai pejuang. Sementara Daud Beureue’eh dan kelompoknya dianggap sebagai pihak yang kalah. Meskipun di kemudian hari, Ikrar Lamteh juga dianggap hanya sebagai pepesan kosong belaka.

Begitulah sejarah Aceh terus berulang bahkan hingga sekarang. Penandatanganan MoU Helsinki, misalnya, dianggap sebagai tonggak penting sejarah karena berhasil mengakhiri konflik Aceh yang sudah 30 tahun lamanya. Tetapi, bukan tidak mungkin bahwa di masa mendatang, MoU Helsinki juga akan dipandang sebagai bentuk pengkhianatan dan sebuah kecelakaan sejarah. Suara-suara ke arah itu mulai terdengar sekarang dengan munculnya kelompok sempalan Gerakan Aceh Merdeka serta pihak-pihak yang kecewa dengan gaya kepemimpinan GAM di Aceh.

Kehadiran novel Napoleon dari Tanah Rencong setidaknya sudah menambah daftar bacaan tentang Aceh, terutama yang diangkat dari dokumen sejarah. Kita patut memberi apresiasi terhadap penulis karena sudah berupaya mendamaikan masa lalu para tokoh yang pernah berseberangan, termasuk mencoba ‘memperbaiki’ cacat sejarah aktor utama, Hasan Saleh.

Terakhir, seandainya penulisan novel ini secara tersirat dimaksudkan untuk memulihkan nama baik Hasan Saleh dalam sejarah Aceh, Saya kira, sebagian besar tujuan tersebut boleh dibilang berhasil. Dan Akmal, sang penulis, sukses melakukannya. []
Note: resensi ini saya tulis setahun yang lalu, dan rencana hendak dikirim ke media, tapi karena terlalu panjang jadi malas saya edit lagi. Dan saya posting saja di blog ini biar jadi bacaan bersama (dan untuk arsip)

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak