25 November 2014

Winston Churchill dan Seorang Sopir Taxi

Kesuksesan bukan akhir, kegagalan bukan bencana - Winston Churchill.

Saya tidak ingat lagi di mana cerita berikut ini saya baca. Saya tidak tahu apakah cerita ini benar adanya atau hanya humor belaka. [kalau ada di antara pembaca yang tahu di mana cerita ini ditulis, saya mohon sudi kiranya membagi referensi tersebut dengan saya]. Tapi, itu sama sekali tak penting, karena pelajaran dari cerita ini saya kira yang penting direnungkan, bagaimana sosok paling populer di Inggris [juga dunia] sewaktu Perang Dunia II begitu rendah diri, dan mau bernegosiasi dengan seorang sopir. Saya pikir, beginilah seharusnya seorang pemimpin, tanpa membanggakan lakab jabatan demi memenuhi ambisinya.

Nama lengkapnya Winston Spencer Churchill. Pria flamboyant kelahiran 30 November 1874 di Istana Blenhiem, Oxfordshire, Inggris ini adalah pahlawan Inggris yang mengalahkan fasisme Eropa di Perang Dunia II. Sosok yang disapa Winnie oleh pengikutnya ini merupakan tokoh yang mengalahkan ambisi besar Hitler menguasai seluruh daratan Eropa. Namanya begitu dielu-elukan oleh rakyat Inggris. Pidato-pidatonya mampu membakar semangat massa untuk berperang mempertahankan tanah Inggris dari invasi tentara Hitler.

Suatu hari, dia keluar dari rumahnya. Dia hendak ke kantor untuk memberikan sebuah pidato. Pidato yang begitu ditunggu. Tapi kondisi saat itu lagi hujan. Dia tak yakin bakal tiba cepat di kantor. Seperti biasanya, selalu ada taxi yang lewat di jalan depan rumahnya, bahkan beberapa di antaranya sering mangkal tak jauh dari situ. Winston lebih sering menggunakan taxi untuk bepergian. Selain nyaman juga dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa diganggu dengan obrolan politik. Kesempatan di dalam taxi digunakan untuk membaca dan melupakan politik sejenak.

Winston menghampiri taxi yang berhenti tak jauh dari tempat tinggalnya. Wajahnya belum begitu familiar waktu itu, bisa jadi karena penampilannya yang sederhana. Sehingga tak ada kehebohan begitu dia mendekati sopir taxi. Si sopir pun tidak sadar bahwa yang mengajaknya bicara adalah Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill.

"Saya tidak mengantar penumpang hari ini," kata si Sopir seperti tahu keinginan Winnie.
"Saya butuh taxi untuk mengantar saya ke Street Downing," jawab Churchill.
"Saya sudah bilang tidak mengantar penumpang," si Sopir masih bersikap cuek.
"Kenapa?" Churchill penasaran.
"Sebentar lagi Winston Churchill akan menyampaikan pidato," jawabnya.
"Kita bisa mendengarnya di perjalanan," Churchill memberi saran.
"Tidak fokus kalau mendengar sambil mengendarai taxi," sopir mencoba berkilah.

Winston tak kehabisan akal. Tawar-menawar pun terjadi.

"Bagaimana kalau saya membayar dua kali lipat dari biasanya?"
"Hari ini, berapa pun mau anda bayar saya tak peduli. Saya tak mau kehilangan kesempatan mendengar pidato Winston Churchill," sopir masih mencoba menolak.
"Kalau saya bayar 20 Pound, bagaimana?" Churchill coba melipatgandakan bayaran.
"Tidak bisa," jawabnya singkat.

Si Sopir masih tetap pada pendiriannya, tidak mau mengantar. Dia masih menganggap lebih bagus mendengar pidato Churchill daripada mengantar penumpang. Tawar-menawar pun hampir gagal mencapai kesepakatan. Churchill bahkan hampir menyerah. Tapi karena dia buru-buru ingin tiba di tempat dia akan menyampaikan pidato, dia tak peduli berapa pun harus membayar ongkos taxi.

"Bagaimana kalau saya bayar 50 pound? Saya pikir ini bayaran paling besar yang anda terima dengan jarak sekian." Sekali lagi Churchill merayu si Sopir. Si sopir sempat berpikir sejenak. Ada senyum di wajahnya. Dia pun meminta Churchill bergegas masuk ke dalam taxinya.

"Persetan dengan pidato Winston Churchill! Saya tak bisa mendapatkan Pound hanya dengan mendengar pidatonya. Ayo kita berangkat!" Taxi pun melaju kencang. Churchill duduk terdiam di dalamnya.

Kisah hidup bangsawan Inggris ini sangat menarik ditelusuri. Pada 1895 dia pergi ke Perang Kuba dalam perjuangan melepaskan diri dari Spanyol. Ketika bertugas di Kuba, dia bekerja sebagai reporter untuk Harian London Graphic. Ya, dia memang menyukai dunia tulis menulis. Bahkan ketika kehilangan posisi di pemerintahan ketika partainya, Partai Konservatif kalah dia memilih kembali ke dunia tulis-menulis sembari memantau situasi Jerman di bawah Adolf Hitler. Dia mampu menyelesaikan menulis buku sejarah berjudul A History of the English-Speaking Peoples. Buku yang mengungkapkan banyak kisah di balik kehidupannya.

Winston Churchill | BBC
Melihat sepakterjangnya dalam "The Battle of Britain" tak berlebihan jika Majalah TIME dua kali menobatkannya sebagai tokoh tahun ini: tahun 1940 dan 1949. Pada 10 Mei ketika ditunjuk sebagai Perdana Menteri pemerintahan perang koalisi untuk pertama kalinya, dia menyatakan dengan optimis akan meraih kemenangan dalam setiap perang yang diikutinya. "Tak ada yang bisa kutawarkan kecuali darah, kerja keras, air mata, dan keringat," katanya dalam pidato pertamanya sebagai Perdana Menteri.

Dia pun memimpin perang melawan Jerman dengan mengandalkan pasukan Royal Air Force (RAF) yang dia bentuk pada 1935 untuk Perjuangan Inggris (The Battle of Britain). Sekali pun memiliki jumlah terbatas, pasukan berani mati RAF terus menerus menghujani Jerman dengan bom dan berhasil memaksa Hitler menunda "Operasi Sealion" atau invasi terhadap Inggris melalui laut.

"Dia benar-benar telah memberikan janjinya kepada negara: darah, kerja keras, air mata, keringat dan satu lagi: keberanian yang tak terhingga," tulis Majalah TIME ketika menobatkannya sebagai tokoh tahun 1940.

Dunia memang berhutang budi kepada sosok yang dinobatkan sebagai 'the Greatest Living Briton' oleh Ratu Elizabeth dan Parlemen Inggris, sebab "jika pasukan Inggris dan Winston tak meraih 'waktu terbaik' di bulan terakhir tahun 1940 melawan invasi Adolf Hitler, dunia akan menjadi berbeda.

Tapi, kita juga tak boleh melupakan sisi gelap Winston Churchill, terutama soal kebijakannya terhadap India, pengeboman di kota-kota Jerman dalam Perang Dunia II yang menewaskan ribuan rakyat tak berdosa, kudeta di Iran, kontribusinya terhadap pengembangan persenjataan nuklir serta dukungannya terhadap negara Israel.

Saya kembali teringat pada sosok ini saat menonton film Free Fall. Ada satu kata-kata dia dikutip film tersebut seperti saya kutip di awal tulisan: Kesuksesan bukan akhir, kegagalan bukan bencana. [diolah dari beberapa sumber]

Artikel Terkait