13 February 2015

Mojok dan Sertifikat Nakalnya

Sudah cukup lama saya menulis di blog ini. Setidaknya, sudah lebih 600-an artikel saya posting di sini. Tulisan-tulisan tersebut ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang terlampau serius. Saya menulisnya di kala senang maupun di kala susah. Ada yang memenangkan lomba menulis, banyak juga yang tidak memenangkan apa-apa. Tapi ada banyak tulisan yang saya tulis bukan karena lomba, melainkan murni panggilan jiwa. Apapun keuntungan yang saya terima, semuanya saya anggap bonus.

Dan, pada tahun 2015 ini, blog JUMPUENG mendapat predikat 10 blog paling Mojok banget: sedikit nakal banyak akal. Saya bersyukur kalau tulisan-tulisan saya di blog ini bisa menginspirasi orang lain, karena untuk tujuan itulah saya menulis. Memang, tak selamanya tulisan kita mampu menginspirasi orang, karena ada juga tulisan-tulisan kita yang justru membuat orang marah. Kita harus selalu siap menerima apapun penilaian orang.

Banyak orang pasti bertanya-tanya, kenapa saya selalu konsisten menulis blog? Padahal, banyak orang mengeluh, menulis blog sama sekali tidak memiliki prospek dan terkesan hanya buang-buang waktu. Semua terpulang pada kita. Saya selalu percaya bahwa tak ada hal sia-sia jika kita mengerjakannya dengan segenap jiwa. Orang bijak pernah berkata, "kesuksesan sangat ditentukan oleh seberapa seriusnya kita melakukan sesuatu." Di luar itu, saya memang sudah sejak dulu senang menulis (apa saja), sekali pun saya tidak mendapatkan bayaran untuk itu. Ada kepuasan yang saya dapatkan begitu tulisan sudah mulai tayang di blog, di mana kepuasan itu tak bisa ditukar dengan uang. Saya pikir kepuasan itu hanya bisa dinikmati oleh para blogger yang sudah sampai pada taraf 'makrifat' [ini terlalu berlebihan mungkin]

Banyak blogger pemula ketika menggeluti dunia blogging memasang target muluk-muluk dengan menjadi blogger sukses dalam semalam. Apalagi, blogger sudah menjadi semacam profesi. Tapi, banyak dari blogger pemula itu berakhir kecewa, karena apa yang dibayangkan itu tak selalu sesuai dengan kenyataan. Memang banyak blogger sukses yang mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan juta rupiah dari hasil menulis blog, tapi tak sedikit pula yang tidak mendapatkan apa-apa. Semua sangat tergantung pada tujuan awal kita menulis blog. Saya sendiri belum boleh dibilang sebagai blogger sukses, karena belum mampu menghasilkan uang dari blog ini, kecuali uang recehan: dari iklan per klik atau hasil memenangkan lomba. Kalau dipikir-pikir, jumlah tersebut tak seberapa. Kalau tujuan awal saya menulis blog untuk mendapatkan uang, pasti saya sudah menyerah sekarang ketika mendapati fakta bahwa blog saya belum mampu menjadi tambang uang. Tapi, saya menulis blog semata-mata untuk merawat ingatan, dan blog menjadi tempat saya menyimpan pikiran-pikiran saya.

Kalau boleh jujur, sudah banyak keuntungan yang saya peroleh dari blog JUMPUENG ini: ada dalam bentuk uang, ada dalam bentuk barang. Dalam bentuk uang, misalnya, saya menerima pembayaran dari pemasangan iklan per klik, dari jobs review, dari uang hadiah lomba menulis. Dalam bentuk barang, misalnya, saya menerima gadget, baju dan buku. Tapi, di luar itu, ada sesuatu yang saya peroleh dan sama sekali tak bisa diukur dengan uang maupun barang. Apakah itu? Orang sering menyebutnya: personal branding. Saya selalu meyakini nama kita adalah sebuah merek. Baik-buruk nama kita sangat tergantung bagaimana kita melakukan pemasaran. Dan melalui blog inilah saya menjual nama saya. Inilah yang sudah saya dapatkan, sekali pun belum maksimal.

Oh ya, setelah blog JUMPUENG ini masuk dalam 10 besar blog paling MOJOK banget, saya menerima kiriman dua buku bagus: What the Dog Saw karya Malcolm Gladwell dan Mengantar dari Luar karya Puthut EA. Selain buku, saya juga dikirim sticker Mojok dan satu sertifikat. Saya senang bukan main. Sebelumnya saya tak begitu peduli dengan sertifikat. Tapi karena ada rencana ingin mendaftar beasiswa, saya jadi senang mengumpulkan sertifikat. Pasalnya, sertifikat atau penghargaan jadi semacam portofolio untuk menaikkan nilai-tambah kita. Saya begitu sedih mendapati diri saya tak punya penghargaan apapun, sekali pun sering menerima penghargaan dalam bentuk sertifikat.

Jadi, dengan kiriman sertifikat dari MOJOK.co, sebuah situs yang belakangan sangat digandrungi pembaca karena isinya menggelitik, nyeleneh dan usil atau sesuai tagline-nya: sedikit nakal banyak akal. Saya sampai berpikir, kalau nanti jadi memasukkan aplikasi beasiswa, saya akan memasukkan sertifikat dari MOJOK.co, sebagai sebuah penghargaan yang pernah saya terima. Tapi, sialnya, begitu saya memandang lagi sertifikat yang saya taruh di atas kulkas, saya terkejut bukan main. Pasalnya, sertifikat itu lahir prematur: tanggal yang tertera di sertifikat masih jauh, 27 Desember 2015. Padahal, penghargaan itu diberikan akhir 2014 atau awal 2015. Selain itu, tak seperti sertifikat lain yang ada tanda-tangan si pemberi, sertifikat yang diberikan oleh MOJOK.co tak ada tanda-tangan pemimpin redaksinya, sekali pun ada namanya. Ruang di tempat yang seharusnya ditandatangani, dibiarkan kosong. Saya jadi berpikir, jangan-jangan ini sertifikat kawe-kawean.

Hanya satu komentar yang keluar dari mulut saya: Mojok.co benar-benar sedikit nakal banyak akal. Tapi, saya berterima kasih banget untuk kru MOJOK.co atas penghargaan dan hadiah yang luar biasa tersebut. Mudah-mudahan, buku kirimannya segera selesai saya baca. [] 

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak