10 March 2015

Atjehpost, Kaum Kepentingan, dan Penari Telanjang

Kalau saya samakan Atjehpost.co dengan Sokrates, saya akan dicap mengada-ada. Kalau saya ibaratkan Atjehpost.co dengan penari telanjang, saya akan dicap kurang-ajar. Pilihan amannya, saya memilih menarik benang merahnya saja.

Sebagai pekerja media (lebih tepatnya blogger), saya terbilang terlambat tahu cerita ‘pamitnya’ atjehpost.co dari jagad persilatan media online di Aceh. Ketidaktahuan ini saya anggap wajar, karena atjehpost.co tak termasuk dalam situs berita yang wajib saya akses setiap hari. Saya lebih memilih Detiksport atau KompasTekno dan Twitter sebagai situs yang menggoda untuk saya buka tiap mengakses internet.

‘Pamitnya atjehpost.co’ saya tahu secara offline, dari cerita kawan-kawan saat pesta kuah beulangong di kawasan Angsa23. Awalnya setengah tak percaya. Bagaimana mungkin media yang sudah pernah mengumumkan tidak lagi terbit—kemudian kembali terbit—lagi-lagi membuat pengumuman serupa. Ini jelas tak masuk dalam akal sehat kita. Mengapa harakiri menjadi solusi terakhir bagi media online yang diklaim terbesar di Aceh ini terutama karena bermasalah dengan hukum?

Ada yang membuat saya lebih terkejut lagi. Seorang wartawan memberitahu saya, ada aparat Sat Reskrim bertanya padanya, kenapa para wartawan tidak demo atas masalah yang menimpa atjehpost, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya. “Biasanya, kalau terkait masalah media dan wartawan, kalian pasti akan langsung gelar demo. Tapi ini kenapa adem-adem saja?” kata si wartawan menirukan pertanyaan Sat Reskrim. Kawan saya ini memilih tak menjawab.

Di satu sisi kita prihatin dengan kasus yang menimpa atjehpost.co ini. Sebab ini akan jadi preseden buruk untuk media online lainnya. Para penguasa yang ingin membungkam media, cukup melaporkan media tersebut ke polisi, lalu media itu tutup dengan sendirinya. Setidaknya, kesan ini yang saya tangkap dari pesan yang ditulis awak atjehpost, “... kali ini atjehpost.co pamit untuk selamanya dari news portal online Aceh...”. Namun, di sisi lain, kita juga dapat belajar banyak hal dari masalah tersebut, terutama menjadi lebih dewasa, seperti ditulis dalam salam ‘pamit’ atjehpost, bahwa “perpisahan mungkin terdengar menakutkan, tetapi sebenarnya perpisahan akan mengajarkan banyak hal pada kita yang mengalaminya, bukan hanya tentang bagaimana menghargai keberadaan sesuatu sebelum hal tersebut menghilang melainkan juga tentang bagaimana menjadi dewasa.”

Jurnalisme itu tak semata-mata keahlian menulis dan mengolah berita serta berani menyiarkannya, karena jurnalisme juga menuntut kita berhati-hati memperlakukan informasi dan menggunakan sumber anonim dalam berita. Deborah Howell, redaktur Washington untuk jaringan suratkabar Newhouse, mengingatkan kita, bahwa dua aturan menggunakan sumber anonim. Pertama, jangan pernah menggunakan sumber anonim untuk memberi opini terhadap orang lain. Kedua, jangan pernah menggunakan sumber anonim sebagai kutipan pertama dalam tulisan. Inilah prinsip kehati-hatian yang perlu dipegang para wartawan dan jurnalis.

Kita akui, atjehpost memang tergolong berani terutama dalam menghajar Gubernur Zaini Abdullah, terlepas akurat-tidaknya pemberitaan mereka. Kita salut pada keberanian mereka untuk bersikap berbeda. Tapi, bagi saya ada pertanyaan yang belum terjawab. Apakah sikap atjehpost menyerang gubernur benar-benar berangkat dari keyakinan mereka sendiri (pilihan) atau yang mereka lakukan hanya menyuarakan kepentingan pihak lain? Bukan rahasia lagi, hubungan yang memburuk antara Gubenur Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakkir Manaf akhir-akhir ini berpengaruh besar pada sisi pemberitaan atjehpost, bahkan dalam beberapa kasus, pemberitaan atjehpost justru menambah runcing hubungan itu.

Ini sebenarnya lucu. Pasalnya, atjehpost merupakan media di balik suksesnya Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf menduduki tampuk kekuasaan di Aceh. Dalam kampanye Pilkada 2012 dan Pemilu 2014, kita hampir sulit mendapati berita yang menyerang Gubernur Zaini Abdullah secara vulgar. Malah, pemberitaan terkait mantan Menteri Luar Negeri GAM itu semuanya positif. Orang pun pasti bertanya-tanya, kenapa begitu cepat opini atjehpost terhadap Zaini berubah?

Mantan Gubernur Irwandi Yusuf dalam salah satu status facebook-nya sempat menyinggung soal kecenderungan pemberitaan atjehpost dalam menghajar gubernur Zaini. Irwandi mempertanyakan, kenapa atjehpost hampir tak pernah menyerang Mualem (Muzakkir Manaf). Cut Farah Meutia, juga pernah menyinggung hal serupa.

Kalau memang apa yang dilakukan awak atjehpost dalam menghajar zaini berangkat dari keyakinan mereka sendiri, menurut saya, lebih elok jika mereka memilih terus melawan dan mempertahankan apa yang mereka yakini benar itu sampai di ruang pengadilan. Jika nanti vonis hakim menyatakan mereka bersalah, mereka perlu tetap pada pendiriannya, seperti prinsip Socrates. Filsuf Yunani itu memilih meminum racun daripada mengubah pendirian. Kalau atjehpost memilih harakiri dalam kondisi begini, efek dramatisnya pasti luar biasa.

Kaum kepentingan
Kita hidup di zaman tsunami informasi. Informasi menyerbu kita melalui berbagai saluran. Belum selesai berita yang satu kita lahap, mata kita sudah melihat berita lain. Semua datang berbarengan, kita sampai tak sempat tarik nafas. Jika tak pandai-pandai, sungguh kita akan menjadi korban. Sebab, di zaman tsunami informasi begini, bukan perkara mudah membedakan antara fakta dan fitnah, antara berita dan iklan, serta antara yang benar-benar berita dengan sekadar hoax belaka.

Menjalani hidup dalam kondisi begitu, ada baiknya kita mendengar lagi peringatan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang mereka tulis dalam Blur, sehingga kita menjadi lebih berhati-hati. Sebab, tak selamanya informasi yang kita baca, kita lihat dan dengar adalah semata-mata informasi/berita, melainkan banyak di antaranya hanya informasi berkedok. Jangan-jangan yang kita sangka berita sebenarnya hanya propaganda, iklan terselubung, semata-mata hiburan atau informasi mentah yang belum terkonfirmasi dan wartawan/penulis cukup bersembunyi di bawah kalimat, “telepon tidak diangkat”, “pesan singkah tidak dibalas”, atau “handphonenya tidak aktif”, dan banyak lagi.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel mengingatkan kita untuk lebih mengenali konten seperti apa yang ingin kita lahap di era tsunami informasi begini, di tengah kultur media yang terbuka dan campur-aduk, karena “label informasi seringkali menipu ketimbang mencerahkan.”

Mereka mengindentifikasi, ada empat model jurnalisme yang sering kita temui belakangan ini. Pertama, jurnalisme verifikasi. Ini adalah model tradisional yang menempatkan nilai tertinggi pada akurasi dan konteks. Soal ini, kita harus belajar pada sosok Rick Meyer dari Los Angeles Times. Dia selalu memisahkan fakta dan wawancara ke dalam kertas kecil yang mirip kartu catatan dan mengaturnya di lantai. Inilah yang oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam Element of Journalism disebut sebagai contoh dari disiplin verifikasi.

Atau kita dapat belajar dari Tom French dari St. Petersburg Times. Pemenang hadih pulitzer 1999 untuk penulisan feature tentang orang yang mengidap HIV/AIDS ini dikenal dengan warna pencilnya yang berbeda-beda dalam memverifikasi fakta yang ada dalam setiap tulisannya. Sebelum menyerahkan tulisannya ke editor, Tom French mengambil salinan tercetak dan meneliti tulisan itu baris per baris dengan pencil berwarna, menorehkan tanda centang pada tiap fakta dan pernyataan di dalam tulisan. Ini akan mengingatkan dia untuk memeriksa ulang setiap fakta dan pernyataan.

Kedua, jurnalisme pernyataan. Ini model lebih baru yang meletakkan nilai tertinggi  pada kecepatan dan volume, dan karenanya cenderung jadi kanal informasi pasif.

Ketiga, jurnalisme pengukuhan. Ini sebuah media politik baru yang membangun loyalitas bukan pada akurasi, kelengkapan atau verifikasi melainkan mengafirmasi apa yang diyakini audiens, sehingga cenderung menjadi informasi menjemput bola demi tujuan itu.

Keempat, jurnalisme kaum kepentingan. Dalam model ini mencakup situs web atau karya, seringkali investigasi, yang biasanya didanai pihak khusus yang berkepentingan, dan bukan oleh institusi media, dan dikemas menyerupai media.

Cara menandai jurnalisme kaum kepentingan ini sangat gampang. Menurut Kovach dan Rosenstiel, dalam jurnalisme kaum kepentingan, berita yang disajikan bermuara satu titik atau kesimpulan sama yang diulang-ulang. “Jika semua beritanya mengatakan hal yang sama, maka berhati-hatilah,” kata Kovach mengingatkan.

Saat menulis posting ini, saya menyempatkan diri membaca berita atjehpost terkait Zaini Abdullah. Kesan yang saya tangkap, berita mereka bermuara pada satu titik: Zaini Abdullah diposisikan bersalah. Ini terlihat dalam beberapa berita, sekali pun menggunakan narasumber berbeda. Jangan-jangan, atjehpost belakangan ini sudah masuk dalam model jurnalisme kaum kepentingan! Saya berharap kesimpulan saya ini salah.

Penari telanjang
Pembaca atjehpost pasti kecewa saat mendapati portal kebanggaannya tak lagi terupdate dan memilih pamit untuk selamanya. Mereka yang termasuk dalam kategori pembaca berita-berita sensasional, pasti berharap atjehpost dapat muncul dalam nama lain. Ini sangat wajar, karena sebagai media yang pernah berhenti terbit dua kali, pasti suatu saat akan terbit lagi, mungkin dengan nama berbeda.

Saya terkesan dengan perumpamaan Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam The Element of Journalism tentang media yang mencerahkan dan media yang suka melebih-lebihkan serta kerap membuat sensasi. Mereka menyebutnya dengan prinsip Penari Telanjang dan Pemain Gitar.

Katanya, jika anda ingin menarik audiens, anda bisa pergi ke ujung jalan, copot pakaian, dan bertelanjanglah. Orang-orang pasti akan berbondong-bondong menonton aksi telanjang ini. Namun, lama-lama orang akan bosan, karena hanya melihat aksi itu-itu saja. Penarinya akan dicap orang tak bermoral atau kurang waras.

Bandingkan, misalnya, tulis Kovach, dengan orang yang bermain gitar. Pergi ke ujung jalan yang sama dan mainkan gitar. Awalnya mungkin yang mendengar anda tidak seberapa. Di hari pertama orang yang menonton pasti membuat anda kecewa, tapi di hari kedua pasti akan bertambah, ini juga sangat bergantung pada seberapa bagus anda memainkan gitar dan lagu-lagu yang anda bawakan. Jika anda bermain cantik dan lagu anda menarik, penonton akan semakin bertambah, tidak pernah berkurang. Kita juga tak perlu repot mencari penonton baru untuk menggantikan penonton yang bosan.

Diakui atau tidak, beberapa pemberitaan atjehpost lebih mirip prinsip penari telanjang, terutama terkait berita Gubernur Zaini Abdullah. Ini tak seluruhnya salah. Di era new media, banyak media online sudah ‘menuhankan’ trafik. Isi berita boleh biasa-biasa saja, tetapi judulnya harus menggoda. Trafik bagi media online kerap dikapitalisasi dengan perolehan dollar. Ah, sudah terlalu panjang saya mengoceh.

Sekali pun saya tak peduli dengan pemberitaan atjehpost, dan beberapa di antaranya tak sesuai dengan prinsip yang saya anut, sebagai blogger saya bersimpati kepada mereka. Seberat apapun masalah yang mereka hadapi, harakiri bukanlah solusi final.

Bacaan
1. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, Blur: Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi (Dewan Pers dan Pantau, 2012)
2. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, Sembilan Elemen Jurnalisme: Apa yang Seharusnya Diketahui Wartawan dan Diharapkan Publik (Pantau, 2006) 

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak