02 June 2015

Game of Thrones di Banda Aceh

Saya masih setia menunggu serial televisi Game of Thrones. Tidak biasanya saya begitu tergila-gila pada film yang rilisnya seperti air kran di Banda Aceh itu yang tersendat-sendat: satu episode setiap minggu. Kali ini saya terpaksa mengingkari prinsip sendiri. Padahal, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menonton film yang dicicil, karena hanya buang-buang umur saja, seperti halnya menonton sinetron yang episode-nya mencapai ratusan.

Untuk Game of Thrones, saya membuat pengecualian. Film yang diangkat dari cerita fantasi dalam novel best-seller berjudul asli “A Song of Ice dan Fire” (Game of Thrones, salah satu bagian dari novel itu) karya George R.R. Martin itu merangsang adrenalin kita untuk menunggu tiap episodenya. Kegilaan saya pada film ini bukan kepura-puraan semata. Menunggu rilis Session 5 (sudah rilis awal April lalu), saya memilih menonton untuk kedua kalinya session 1-4 (tidak semua film mendapatkan kehormatan dari saya menonton dua kali) . Hal ini saya lakukan, agar begitu Session 5 rilis, saya tidak kehilangan cerita sebelumnya, yang alurnya rumit, sulit ditebak, serta perubahan-perubahan karakter tokoh: dari jahat jadi baik; dari musuh jadi teman; dan seterusnya.

Bagi saya sendiri, kisah dalam Game of Thrones itu menyerupai dunia yang sedang kita jalani di Banda Aceh ini. Saya bukan peng-khutbah moral, bukan ulama bersurban, dan bukan pula orang-orang punya ‘kekuasaan’ mengubah persepsi dan opini orang melalui tulisan. Sungguh, setiap apapun yang saya tulis adalah bentuk pengulangan atas pengetahuan yang saya dapat dan saya jaga dalam bentuk arsip tulisan, karena sering-kali saya akan membutuhkannya lagi. Bagi saya, menulis itu adalah ziarah pengetahuan, karena kita tak pernah tahu kapan pengetahuan baru yang kita dapatkan itu menghilang dalam ingatan.

Karena itu, saya tak pernah menyesal jika ada orang-orang yang tidak setuju dengan apa yang saya tulis, sebab pembaca itu bukan robot yang dapat digerakkan dengan tombol “ON” dan “OFF”. Pembaca adalah manusia merdeka yang memiliki pengetahuan dan pemikiran sendiri, dan bbiasanya keputusan mereka membaca tulisan kita murni bukan karena setuju terhadap apa yang kita tulis, melainkan karena mereka butuh iklan, seperti halnya menonton film di layar kaca: ada jeda iklan. Kita pun kadang-kala menulis karena memang haus akan hiburan, setidaknya bagi saya: menulis adalah hiburan itu sendiri.

Ingatan saya kembali ke sebuah obrolan santai di warung kopi Blackjack (saya dan teman-teman lebih sering menyebutkan “markas ronin”). Saya lupa mencatat hari apa, yang pasti obrolan itu terjadi saat cuaca di Banda Aceh begitu teriknya. Saya tidak begitu mengenal sang pelayan kota: Hj Illiza Sa’aduddin Djamal, hingga seseorang memberi tahu saya, bahwa Bunda Eli (begitu para netizen menyapanya) adalah anak seorang ulama. Saya tak begitu ingat konteks obrolan itu, tapi yang pasti, penyebutan anak ulama itu diawali karena kebijakan yang bersangkutan tetap membebaskan para pegawai di kota yang dipimpinnya itu untuk tidak masuk kantor, pada 3 hari setelah Idul Adha. Padahal, hari libur nasional berdasarkan kalender pemerintah, pada hari kedua Idul Adha pegawai negeri sudah wajib masuk kantor. Apakah sejak obrolan itu, saya menjadi kagum pada kualitas keulamaan Bunda Eli?

Jika menjawab “Ya”, saya pasti sedang membohongi diri sendiri. Seingat saya, saya mulai mengenal sosok Bunda yang di beberapa baliho berjilbab hijau itu saat musim kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada) 2006 silam. Sekali pun gambar dirinya bersama (alm) Mawardy Nurdin begitu mudah ditemui di Banda Aceh saat itu, tak sedikit pun menggoda saya untuk melihatnya lekat-lekat, hingga seseorang memberitahu saya, bahwa dia akan memilih perempuan cantik itu untuk kursi Wakil Walikota Banda Aceh. “Sep lagak Bu Eli, paih munyoe gobnyan terpilih ngon Pak Mawardy.” Lebih kurang begitulah testimoni kawan saya itu. Sejak itulah saya jadi sering memandang baliho yang ada gambar perempuan berjilbab itu, tiap berhenti di lampu merah.

Saya pikir, bahkan, hingga kini pun saya masih tetap kagum pada bunda Eli. Setelah satu periode memimpin Banda Aceh bersama (alm) Mawardy, kejelian dan kejeniusan kalkulasi politiknya demikian terasah. Tanpa bikin survei (apalagi survei abal-abal) pun, saya kira kita dapat mengukur dan membaca kecerdasan berpolitik Bunda Eli. Lima tahun bersama Pak Mawady mengurus kota, dia sudah punya bayangan, bahwa suatu saat dia akan memimpin kota. Padahal kita tahu, di beberapa kabupaten/kota, bahkan, di tingkat provinsi pun, pasangan yang maju di Pilkada 2006 bercerai satu persatu, dan memilih maju sendiri dengan menggandeng calon lain pada Pilkada 2012, tapi tidak demikian di Banda Aceh. Mawardy Nurdin dan Illiza tetap kompak maju bareng, menghadang mantan Direktur Bank Aceh, Aminullah Usman dan anak mantan Ketua DPRD Aceh HT Djohan, Irwan Djohan.

Illiza bukan tidak tahu kalau dirinya sudah punya cukup modal populer dan membuatnya begitu dikenal di Banda Aceh, dan bisa mendapatkan calon wakil walikota untuk berpasangan dengannya. Tapi, kejeniusan membaca dan nalar politiknya mengatakan sebaliknya. Saya pikir, atas dasar itu kita pun harus belajar tentang tahu diri dari sosok Bunda Eli ini. Dia tahu, kalau berpisah dengan Mawardy peluangnya memenangi kursi Walikota cukup kecil. Mawardy hampir tak punya cacat dalam menakhodai kota yang memiliki banyak nama itu, dan banyak orang meramalkan hanya keajaiban yang membuat Mawardy tak terpilih lagi. Belakangan, pemberian gelar Bapak Pembangunan Banda Aceh mengonfirmasi betapa tidak cacatnya sang Walikota yang berasal dari Kampung Asan, Pidie, itu.

Lima tahun memerintah kota bersama-sama, Bunda Eli pasti tahu kekuatan dan kelemahan tandemnya itu. Lagi pula, saat itu, Bunda tak punya nyali mengkhianati Partai Demokrat, yang diakui atau tidak, telah ikut membesarkan namanya. Karena itulah, berkat pembacaan dan nalar politik tadi, dia melawan godaan yang mendorongnya maju sendirian dan ikut menantang Mawardy. Dia memilih mengabaikan godaan itu, karena sangat yakin, angin barat sedang berpihak padanya. Akhirnya, pada Pilkada 2012, bersama Mawardy, Bunda Eli kembali terpilih dan memimpin Kutaraja lima tahun lagi. Sejak Mawardy mulai sakit-sakitan, Bunda Eli semakin yakin, hanya perlu menunggu waktu saja dia akan memimpin Banda Aceh, dan ikut menentukan siapa yang berhak mendampinginya, sebagai Wakil Walikota. Dalam hal ini pun, sekali lagi, kita harus mengakui kehebatan dan kejeniusan berpolitiknya: menyingkirkan kandidat Demokrat, Yudi Kurnia, secara halus.

Menyimak sepak terjangnya tersebut, saya jadi ragu sendiri. Jangan-jangan Walikota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal, adalah penggemar berat Game of Thrones. Dia pasti hafal kutipan menarik dari Cersei Lannister, "when you play the game of thrones, you win or you die. There is no middle ground (Ketika anda memainkan permainan tahta, anda menang atau mati. Tidak ada jalan tengah)." Karenanya dia pun sadar dengan risiko yang bakal didapatnya dalam permainan kekuasaan itu.

Tapi, sebagai warga Banda Aceh, saya mengingatkan Bunda Eli, agar terus berhati-hati, terutama dalam permainan kekuasaan. Bunda harus hati-hati dalam mengeluarkan kebijakan, mengangkat para pembantunya, serta dalam bersiasat memilih teman dan lawan. Karena dalam Game of Thrones, kawan dan lawan hanya peduli pada keuntungan politik dan ekonomi: siapa yang menguntungkan dan memberikan lebih banyak. Jika tak hati-hati, Bunda akan tergilas oleh kebijakannya sendiri.

Karena Bunda Eli sedang sibuk dan mungkin saja tak sempat menonton Game of Thrones Session 5 (terutama episode ke-6 dan 7), saya akan coba mereview sedikit, lagi-lagi karena saya adalah warga kota yang baik. Kita tahu dengan agenda Bunda yang cukup padat, terutama dalam memperbaiki dan menjaga moral warganya, beliau pasti tak punya waktu menunggu rilis Game of Thrones yang seperti air PDAM di Banda Aceh belakangan ini.

Di session 5 episode 6, Cersei Lannister, yang begitu semangat menjatuhkan istri dari anaknya Tommen (King Tommen), Maargery, memanfaatkan tangan High Septon, penjaga keyakinan ajaran agama di Wasteros. Perilaku tercela Sir Loras sebagai pecinta sesama jenis adalah senjata untuk menghabisi pengaruh Ratu Maargery yang dianggap berpotensi mengendalikan Raja Tommen. Dalam sebuah sidang tak resmi, Loras dihukum bersalah karena berbohong: mengaku tak pernah berhubungan dengan Renly Baratheon, begitu juga Maargery, karena bersumpah palsu: mengaku tidak tahu perilaku adiknya, Loras. Keduanya dipenjara sambil menunggu sidang pengadilan. 

Itulah awal petaka untuk Cersei Lannister. Seperti kita tahu dari Session-session sebelumnya, Cersei juga terlibat incest dengan Jamie Lannister, kakaknya, hingga melahirkan anak, termasuk Raja Jofrey dan Tommen. Seusai menjenguk Maargery di penjara, Cersei menghadap High Septon dan mendengar ceramahnya tentang rumah ibadah di King’s Landing, tentang perhiasan keluarga Tyrells yang akan dilucuti dan kebohongan mereka akan terungkap. “Isi hati mereka akan ditelanjangi agar semua orang melihatnya. Dan hati kita juga akan diperlakukan seperti itu. Bangsawan dan orang biasa akan diperlakukan sama.” Septon mengatakan itu dengan mimik serius, termasuk ketika bertanya pada Cersei, “apa yang akan kami temukan ketika kami melucuti perhiasanmu?” Cersei jelas tak mengira akan ditanya begitu, dan dia pun mulai tak nyaman. Ada ketakutan di wajahnya, terutama setelah Septon mengatakan ada anak muda yang banyak bercerita tentang dirinya. Setelah melihat wajah pemuda itu, Cersei cepat-cepat ingin menyingkir dari Septon, tapi petugas perempuan menghalangi dan menangkapnya. Dia pun dijebloskan ke penjara.

Kisah itu memang hanya ada di film dan cuma fantasi penulis novel Game of Thrones. Mudah-mudahan pelbagai kebohongan dan kemunafikan para tokohnya, tidak terjadi di kota madani kita tercinta ini. Upaya Bunda memperbaiki dan menjaga moral warganya, agar masuk surga nantinya di akhirat, mudah-mudahan benar-benar bukan pencitraan. Sekali lagi, karena kita tahu, Bunda Eli adalah anak seorang ulama. Apa yang dilakukannya, termasuk dengan memberlakukan jam malam, demi kebaikan kita bersama. Karena itu, dalam tulisan terdahulu saya, saya berani mengatakan bahwa Bunda Eli adalah walikota jempolan. Ya, kita harus memberi jempol untuk Bunda Eli, yang sukses melarang perayaan malam tahun baru masehi 2015 lalu, sekali pun kita tahu, peringatan ulang tahunnya masih menggunakan tahun masehi, demikian pula peringatan hari lahir Kota Banda Aceh. Bunda tak perlu takut, karena hal itu, tak mengurangi rasa kagum saya pada dirinya. 

Tapi, siapa pun yang pernah menonton serial Game of Thrones tak akan pernah lupa dengan frasa “Winter is coming”. Kalau dikonstekstualisasikan dalam dunia kita di Banda Aceh, kira-kira akan berbunyi begini: musim politik segera datang! Berhati-hatilah. [] 

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak